An Abnormally Perfect Fall.

Aku masih saja dibuat takjub akan sekian pertemuan yang nyaris terlewatkan–tetapi tidak. Seperti malam itu; ketika aku merasa nyaris putus asa dan tak lagi berharap akan menemukan (si)apa-(si)apa–kemudian langkahku memotong langkahmu secara tak sengaja dan kita bersua, begitu saja, seperti sudah seharusnya.

Candles

Kau merupa segala yang kuimpikan dan lebih. Terkadang membuatku takut, ketika hal-hal yang sudah lama kuangankan diam-diam kau jatuhkan tepat di atas pangkuanku, satu-satu: seperti jawaban atas doa-doa yang bahkan tak berani kuucapkan keras-keras. Jujur, terkadang aku meragu. Juga menunggu kapan semua ini akan berhenti pelan-pelan. Sudah lebih dari 100.000 kata kini, dan kita masih saja terhubung pada saat-saat yang bertepatan, seperti hari ketika aku berdiri di tepi pantai di Uluwatu dan mengirimkan sebongkah rindu pada ombak yang bergulung-gulung pergi; dan malam harinya, hujan turun di atasmu, 16.849 kilometer jauhnya dari sini. Kau katakan padaku saat itu bahwa kau bisa merasakan hatiku dalam setiap rintik yang menetesi kepalamu. Malam itu, kau sengaja membasahi dirimu meskipun biasanya kau lebih suka menikmati hujan dari dalam ruangan.

Lalu aku teringat malam ketika kita duduk di beranda untuk yang terakhir kali. Pada saatnya, aku luluh dalam tatapmu–dan tiba-tiba saja kata-kata menghilang dari kepalaku. Jadi kita terdiam berhadapan, lama. Rasanya tak seperti jeda yang harus diisi apa-apa. Kita tersenyum. Tertawa. Memandang ke arah yang sama.

Sepertinya kita bercakap dalam diam malam itu–tetapi entah bagaimana, kau membuat hatiku merasa bahwa untuk pertama kalinya, aku tak perlu ragu membiarkan diriku jatuh.

Screen Shot 2016-04-03 at 7.01.55 PM

Leave your traces here. I want to hear :)