:: dunia maya itu (tidak) ada?

Hari Sabtu kemarin, seorang kawan melepas masa lajang. Setelah hampir 5 tahun pacaran dan menabung untuk membelikan rumah bagi sang calon pengantin, kawan saya itu pun memutuskan untuk resmi naik ke pelaminan.

Yang istimewa dari pernikahan ini adalah kenyataan bahwa kawan saya dan calon istrinya saling berkenalan lewat Internet. Ya, mereka mengenal satu sama lain melalui ruang chatting, sebelum akhirnya memutuskan untuk bertemu, berpacaran, lalu menikah.

Saya jadi ingat percakapan saya dengan Nadine (Nadine Freischlad, bukan Nadine Chandrawinata), cewek cantik (dan asyik) yang tengah melakukan riset tentang Blogs, Culture and Identity in Indonesia itu, ketika kami ngobrol-ngobrol sambil menyantap semangkuk es krim di Hรคagen-Dazsยฎ Plaza Senayan beberapa bulan lalu.

Bahwa pada dasarnya, Internet bukannya membatasi interaksi sosial antar manusia, tapi justru membuka peluang itu. Berkenalan di Internet, lalu membuat janji temu di dunia nyata. Berkawan melalui blog, lalu ramai-ramai ikut kopdar. Internet justru menjadi semacam medium yang bisa membantu terjadinya interaksi sosial di dunia nyata.

Seperti kawan saya itu. Yang menemukan cinta nyata di dunia yang katanya maya ๐Ÿ™‚ Semoga keduanya hidup berbahagia ๐Ÿ˜€

—-

*) untuk pasangan yang tengah mesra-mesranya, Hendy & Devy: awali pagi hari dengan secangkir fresh-brewed coffee dan percakapan tentang cinta ๐Ÿ˜‰ Devy, semoga kamu bisa menggunakan coffee-maker itu. Hehehe ๐Ÿ˜€

:: tentang SMS

Sudah lama saya tidak main-main ke blog-nya Marianne. Kemarin, ketika mampir ke sana, saya menemukan posting-an yang menurut saya lucu, sekaligus romantis.

Kemudian, komentar mengenai posting itu membuat saya senyum-senyum sendiri; yang sebenarnya sering sekali saya lakukan (senyum-senyum sendiri, maksudnya) ๐Ÿ˜€

Hmm. Jadi ingat. Sepertinya SMS macam ‘tiba-tiba kangen kamu’ belakangan ini memang sudah basi. Overused. Tapi, mungkin tergantung juga pada siapa yang diharapkan mengirimkan SMS tersebut ๐Ÿ˜€

:: kenapa namanya blackberry?

Saya ndak tahu apakah nona ini sudah pernah mendengar mengapa alat komunikasinya yang baru itu dinamai BlackBerry, bukan StrawBerry misalnya (seperti alat komunikasi saya)–atau BlueBerry (seperti alat komunikasi Chika).

Katanya, sebenarnya nama itu diambil dari buah strawberry–salah satu buah favorit saya, yang sebenarnya lebih suka saya pandangi dan pajang di atas kulkas daripada saya makan (tapi kalau di-jus enak sekali, saya suka) ๐Ÿ˜€

RIM settled on the name “BlackBerry” only after weeks of work by Lexicon Branding Inc., the Sausalito, California-based firm that named Intel Corp.โ€™s Pentium microprocessor and Appleโ€™s PowerBook. One of the naming experts at Lexicon thought the miniature buttons on RIMโ€™s product looked “like the tiny seeds in a strawberry,” Lexicon founder David Placek says. “A linguist at the firm thought straw was too slow sounding. Someone else suggested blackberry. RIM went for it.”[8] Previously the device was called LeapFrog, alluding to the technology leaping over the current competition, and its placeholder name during brainstorm was the PocketLink. The plural form of “BlackBerry” is “BlackBerrys.” [Wikipedia]

Oh, begitu…

:: the beat, the memories

Peachy acoustic walls. The amplifier and the cheap drum stick. The strange smell of the studio’s carpet. An empty cassette case and a SONY Walkman. Rewind. Side One. Song number 4*. The less-favorite electric guitar; it felt cold in my trembling hands. You said, “Let’s give it a try,” and took the lead on a Fender. I read your fingers carefully as you played along: C G Am E7 F / G C Am G / F Fm C …

“Excellent. Now we’re ready to play,” you winked.

The melody. The drum. The bass. I strummed my guitar. You grabbed the microphone, sang aloud, and I fell for you.

…………………………………………

*) Don’t Look Back in Anger, OASIS, from the album (What’s The Story) Morning Glory?

:: kabar duka N73

Update (22/07/08): tips mengatasi masalah ini sudah bisa Anda lihat di sini.

—–

Ya, Nokia N73 saya kembali diserang bug memory low delete some data. Sampai tidak bisa dipakai sama sekali. Tak bisa menerima telepon apalagi mengirim SMS. Lupakan memotret. Tak bisa saya berpose narsis lagi. Tak bisa meletakkan skrinsyut di blog. Sedihnya.

Padahal saya ingin memotret KTP-nya Gage, yang di kolom nama hanya terdiri dari 4 huruf. Ya. Hanya G-A-G-E. Itu saja. Kalau tak percaya, yah, pinjam saja KTP-nya Gage, karena saya tak bisa berikan skrinsyut-nya sebagai bukti. Dan mengenai mengapa saya bisa mendapatkan KTP-nya Gage, itu cerita lain lagi hehehe ๐Ÿ˜€

Jadi singkatnya, di layar handphone N73 saya itu tertera bahwa memori yang saya pakai adalah 44 MB, dan memori yang tersisa hanya tinggal 150-an kB lagi. Padahal kenyataannya, memori yang terpakai hanya 13 MB.

Insiden yang sama pernah terjadi juga setahun lalu. Waktu itu saya sempat menghubungi pihak manajemen Nokia, dan dengan berbaik hati mereka memperbaiki telepon saya. Gratis. Dan saya sangat berterima kasih atas layanan yang memuaskan itu.

Masalahnya, setelah perbaikan tersebut, sekitar beberapa bulan kemudian, bug yang sama memang muncul lagi. Dan memory low delete some data itu datang lagi. Karena merasa sudah pernah ‘terbantu’ oleh Nokia waktu itu, saya juga tak mau dicap sebagai user yang komplain terus-menerus ๐Ÿ˜€ Jadi saya pun mencoba mencari solusinya sendiri via Internet. Namun tak ada jawaban yang memuaskan.

Sampai akhirnya, secara tak sengaja, saya menemukan cara sendiri ๐Ÿ˜€

Ternyata, dengan mematikan telepon, mencabut batere, dan mengeluarkan SIM card lalu memasangnya kembali 3-4 kali, atau mematikan telepon selama 1 atau 2 hari penuh, bisa menghilangkan bug itu dan membuat catatan memori saya kembali normal.

Tetapi baru-baru ini, N73 saya kembali berulah. Dan bug itu bertahan membandel meski telepon saya sudah mati hampir seminggu penuh. Ini menyebalkan. Kalau saya tahu ada bug tersebut dalam Nokia N73 ini, lebih baik dulu saya memilih model lainnya saja. Adalah sesuatu yang sangat mengganggu ketika telepon harus mati selama satu atau dua hari–terutama pada hari kerja. Kalau tak ada handphone cadangan, bayangkan betapa repotnya.

Hari Jumat kemarin, saya sudah melayangkan email ke Nokia. Dan sementara waktu, saya tuangkan saja dulu kesedihan saya di sini seraya memandangi si N73 yang membujur kaku di atas meja, sementara menunggu balasan email dari bapak-bapak yang baik hati di Nokia…

Update: sampai hari ini masih belum ada jawaban. 29/06/08: Horeee, memori N73 saya sudah kembali normal setelah mati lebih dari seminggu ๐Ÿ˜€ 32 MB tersisa, 13 MB terpakai. Asyik, bisa foto-foto lagi!!! ๐Ÿ˜€