Malam ini, sahabat lama saya itu pergi. Lagi. Kali ini ia bertolak dari Abu Dhabi menuju Beijing, untuk kemudian melanjutkan perjalanan berjam-jam lamanya menuju sebuah rig yang terpencil dari peradaban dan perempuan 😀

Beberapa minggu yang lalu, saat kami hendak berkomplot menyusun rencana untuk menjodohkan seorang kawan di sebuah restoran Vietnam, ia mengutarakan kekhawatiran-kekhawatirannya. Tentang kepergiannya yang dipercepat dari jadwal semula, kesanggupannya bertahan di lingkungan yang sama sekali asing baginya, dan tentang sepenggal cintanya. Yang tinggal menyisakan lara dan kenangan yang tak pernah bisa ia prediksikan pasang-surutnya.

Saya berkata bahwa ia akan baik-baik saja. Dulu, ia pernah juga mengutarakan kekhawatiran yang sama ketika berada di Amerika dan menyadari bahwa negara itu ternyata tidaklah seindah bayangannya semula. Euphoria semalam yang berubah menjadi depresi dalam bergelas-gelas minuman yang diisi lagi, dan lagi, ternyata hanya menghabiskan biaya hidup sebulan dan rasa mual di pagi hari.

Tetapi ia mampu bertahan dan bisa melalui semuanya setelah beberapa lama. Jadi saya yakin bahwa kali ini, ia juga akan baik-baik saja.

Mungkin memang baru kemarin itu ia menemukan cinta terakhirnya, yang terpaksa harus dilepasnya meski ia tak tahu mengapa hubungan mereka tak bisa berjalan seperti harapannya. Kini ia tahu rasanya mencintai seseorang sebegitu dalam hingga tak mampu lagi membenci perempuan itu, meski perempuan itu telah menyakitinya. Rasa sakit dan manis dari semua kenangan itu bermain dalam benaknya, dan ia suka memutarnya kembali hanya untuk menikmati sensasi rasa yang tak pernah bisa ia dapatkan ketika memutar kenangan dengan mantan-mantan kekasihnya yang lain.

Ia berkata bahwa mungkin, kali ini ia benar-benar jatuh cinta.

“Saya mampu bertahan di Amerika karena saya ingin memberikan masa depan yang terbaik untuk perempuan itu,” ia berkata. “Saya punya tujuan ketika itu.”

Ya, ada begitu banyak versi tentang masa depan keduanya, yang telah mereka rancang bersama—tanpa pernah menduga bahwa akan datang suatu hari ketika mereka justru terdampar pada sebuah masa depan yang sama sekali berbeda. Masa depan di mana mereka tak lagi bersama.

Jadi, ia kumpulkan semua kenangan itu dalam sebuah album foto, juga pesan-pesan singkat dalam telepon genggamnya. Semua menjadi semacam tanda mata dari masa lalu. Museum kecilnya yang menyimpan semua artefak tentang perempuan itu. Ia ingin menikmati saja semua rasa sakit itu dulu. Saat ini memang lebih baik begitu. Ia tak mau mengambil keputusan yang salah lagi dan menyakiti perempuan lain yang tak sungguh-sungguh ia cintai, hanya karena ingin mencari tempat memuntahkan sakit hati.

Maka pergilah sahabat saya itu. Tanpa setumpuk buku Coelho yang sudah saya siapkan untuknya.

Beberapa waktu lalu, tiba-tiba saja ia mengatakan pada saya bahwa ia ingin memesrai Coelho sejenak. Sesuatu yang membuat saya terkejut sekaligus takjub. Selama 14 tahun bersahabat dengannya, ia tak pernah terlalu gemar membaca sastra.

The Alchemist. By The River Piedra I Sat Down and Wept. Brida. The Zahir. Veronika Decides to Die. Eleven Minutes. The Witch of Portobello…

Semuanya sudah bertumpuk rapi di rak buku saya. Tetapi kami tak sempat bertemu sebelum ia pergi. Ia minta maaf karena tak sempat berpamitan, saya juga minta maaf karena tak sempat memberikan buku-buku Coelho itu.

Tapi tak apa.

Ketika ia pulang beberapa bulan mendatang, akan saya berikan buku-buku itu untuknya. Agar ketika ia pergi lagi dan tengah berada di lautan, ia tak perlu terlalu sering memutar kenangan-kenangan usang itu untuk mengisi waktu senggang. Agak berbahaya jika kita menjadi terbiasa dan mulai menikmati rasa sakit itu, lantas kecanduan untuk selalu menghidupkan kembali layar yang sudah berubah hitam dengan terus menekan tombol rewind.

Saya tahu persis betapa sulitnya lepas dari kecanduan itu.

hanny

7 Responses

  1. i used to love that kind of feelings. Perhaps its not good at all, but somehow i feel alive knowing that i still have had a love.
    and i remember the words..” what makes you happy ” ?

    X: What makes you happy? Y: Romancing the pain… (Halahhhh hehehe)

  2. eh the witch of portobello??? aku udah baca. keren sekali ya? 🙂

    iya. bikin berkhayal, deh. hehehe. jadi pingin mengajar tentang sesuatu yang tidak kita ketahui 🙂

  3. hanya untuk menikmati sensasi rasa…ya…sepertinya begitu, hanya untuk menikmati sensasi rasa. tapi sekarang udah jarang tekan2 tombol rewind lagi kok ;p

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO