Tentunya para pengacara bisa dikategorikan dalam kategori orang-orang tersabar di Indonesia. Bagaimana tidak. Jadwal pengadilan tak bisa ditebak. Menunggu selama 3 jam dan bersidang hanya dalam 5 menit. Atau menunggu 2 jam dan bersidang selama 2 jam. Atau bahkan tak sempat menunggu karena sidang yang dijadwalkan jam 1 tiba-tiba maju menjadi jam 12…

Melangkahkan kaki keluar dari Pengadilan Negeri yang pengap, terik matahari siang dan asap knalpot membekap nyali saya dan seorang kawan untuk menyetop taksi. Satu menit. Tiga taksi yang tengah membawa penumpang lewat di depan mata. Dua menit. Dua taksi. Masih berpenumpang. Lima menit. Tak juga nampak tanda-tanda taksi yang bisa ditumpangi. Kulit terasa panas. Sepatu tak terlalu efektif menahan hangatnya aspal yang tengah dipijak.

“Ayo kita jalan ke mall sebelah. Pasti ada taksi di sana. Dan lebih teduh menunggunya,” saya menyarankan.

“Yakin di sana ada taksi? Jalannya lumayan juga… di sini biasanya lewat taksi, kok,” teman saya menyahut.

“Tapi pastinya lebih besar kemungkinan taksi berhenti di depan mall dan menurunkan penumpang daripada taksi berhenti di depan pengadilan dan menurunkan penumpang…”

“Hmm, gimana ya…”

“Jalan ke mall, nggak?”

“Menurut insting lo gimana?”

Hmm. Saya terdiam selama sepersekian detik sebelum menjawab: “Jalan ke mall. Ada taksi di sana.”

Maka dua perempuan ini pun berjalan cepat-cepat menuju mall dekat situ, dan tertawa terbahak-bahak melihat antrian 3 sampai 4 taksi kosong di sana.

Insting.

Apakah ini sebuah pengingat? Kapan terakhir kali saya melakukan sesuatu berdasarkan insting?

Masuk ke dalam taksi dan bergerak menuju salah satu hotel di kawasan Gatot Subroto–kami terperangkap kemacetan selama beberapa waktu.

“Mbak, ada yang mahir Bahasa Inggris tidak?” tanya Pak Pengemudi berinisial I tiba-tiba.

“Memang kenapa, Pak?”

“Ini, saya mau minta bantuannya. Saya punya SMS, dalam Bahasa Inggris. Saya tidak tahu artinya…”

Pak Pengemudi pun menyodorkan telepon genggamnya dan memberikan SMS yang dimaksud. Kira-kira bunyinya dalam Bahasa Indonesia seperti ini:

Bahkan ketika saya bahagia, saya masih merasa kesepian. Saya harap kamu baik-baik saja. Cobalah untuk tidur.

Dan satu lagi:

Kamu tahu saya sedang tidak ada di Jakarta. Tapi saya akan kembali minggu depan.

Pak Pengemudi pun bercerita bahwa SMS itu ia temukan di dalam telepon genggam mantan kekasihnya. Mantan–karena sang kekasih memutuskan untuk pindah ke lain hati. Ke pelukan pria asing. Maka Pak Pengemudi pun menyimpan beberapa SMS antara si mantan kekasih dan pria asing itu; yang ditulis dalam Bahasa Inggris, untuk mencari tahu apa artinya.

“Salah nggak sih, saya?” tanya Pak Pengemudi. “Melepaskan kekasih saya untuk pria lain? Tapi saya hanya ingin dia bahagia. Saya ikhlas. Tapi tak rela…”

Ikhlas. Tapi tak rela. Bisa, ya?

Setelah masalah insting itu, apakah ikhlas tapi tak rela ini juga sebuah pengingat untuk saya? πŸ™‚

hanny

12 Responses

  1. huwaaa…been there!! atau still there ya haha…

    memang sulit melepaskan sesuatu yang menurut kita berat… 😐

  2. sebenarnya itu bukan “ikhlas tapi tak rela”.
    mestinya..
    “apa boleh buat? tai kucing bulat-bulat..”
    jadi tak ada lagi yg bisa kita perbuat selain pasrah πŸ™‚

    1. Aq juga gitu dlm masalah aq, Aq Iklas, tapi tak rela, karena aq Mncintainya. . . . .
      Aq mau dia hidup dan mnjalani cinta ini hnya dengan Dia. . . .
      Demi Allah, aq tak rela !

  3. ikhlas tak rela.. di satu sisi ingin melupakan, di sisi lain nggak mau kehilangan, benar-benar pilihan sulit..
    ikhlas rela.. mungkin kalau sudah dapat penggantinya πŸ™‚

  4. wah, sedih. kl saya lihat nih berarti pak supir belum ikhlas yah.. mungkin menuju ikhlas. krn kadang ikhlas itu butuh proses juga. nah untuk menuju ikhlas itu kita perlu bersabar dan menyadari bahwa semua perlu proses πŸ˜‰

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeβ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB