:: anomali

Kalau kamu kebetulan melewati daerah Senopati dan ingin mencari tempat yang nyaman untuk ngopi-ngopi, datanglah ke Anomali.

Yup, kedai kopi mungil yang satu ini belakangan menjadi semacam oase tersendiri bagi saya, terutama di kala tak ada tempat lain yang dapat disinggahi dengan tak sampai 5 menit berjalan kaki.

Keramahan sebuah dunia mungil selalu bisa dirasakan di sini; ketika segalanya nyaris berada dalam jarak pandangmu, dan kamu pun merasa bahwa dunia ternyata penuh dengan mereka yang tidak jauh berbeda dari dirimu—mereka yang berusaha mencari kenyamanan dan persahabatan dalam secangkir kopi dan bercakap-cakap dengan seluruh dunia dari balik layar-layar komputer portabel mereka dengan memanfaatkan fasilitas Wi-Fi.

Mungkin suatu hari kita akan bertemu di sini. Jika saat itu tiba, I’ll buy you a cup of coffee :)


:: the seen & the unseen

Dalam hidup ini, ada beberapa hal yang telah diimpi-impikan setelah sekian lama, dan baru terwujud setelah kita tak lagi begitu menginginkannya. Ada juga impian yang jadi kenyataan setelah lebih dari 10 tahun berlalu.

Namun ada juga hal-hal yang telah lama menjadi angan-angan; dan sudah siap untuk diwujudkan dalam beberapa pekan… tetapi harus kandas juga di tengah jalan, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.

Setelah sibuk mencari tiket pesawat, menelepon teman-teman untuk mencocokkan jadwal, memeriksa penginapan yang masih menyediakan kamar, meneliti daftar acara yang disediakan dan merencanakan workshop mana yang akan dihadiri dan penulis mana yang akan ‘disinggahi’…
kenyataan berkata lain.

Toh, saya tidak ada di sana, melainkan di sini. Sibuk sendiri dengan berbagai aktivitas yang seakan tiada henti, seraya menyimak berita-berita terkait pembukaan Ubud Writers & Readers Festival 2007 yang akan berlangsung di Lotus Stage, Puri Saraswati, Bali, dari balik layar komputer saya.

Ouch. So close, yet it slipped away.

Yah, tidak apa-apalah. Mungkin memang belum tiba saatnya…


:: noir

Mungkin saya berada di awal—atau di penghujung depresi.

Apa yang harus kamu lakukan ketika kehidupan memaksamu untuk berubah menjadi pribadi yang kamu benci? Ketika kamu tidak bisa lagi berpaling pada satu kalimat sakti itu: You cannot please everybody—dan kamu tidak bisa lagi merasa bahwa tidak apa-apa menjadi tidak sempurna.

Menatap lampu-lampu jalan yang tak lagi berwarna-warni, saya ingin menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan. Berupaya bersikap seolah segalanya baik-baik saja, karena mungkin dengan begitu semuanya akan sungguh baik-baik saja. Tetapi semakin lama saya semakin tidak yakin.

Tekanan itu semakin besar dan begitu banyak hal-hal kecil yang menjadi semakin menjengkelkan ketika udara begitu hitam dan kamu merasa kamu tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu sampai selesai.

Rasanya sedikit sesak di sini.

Bahkan ketika tengah berlari mengasingkan diri, hitam itu selalu bisa menyelinap bahkan di tengah-tengah pagi yang bermandi matahari. Menuliskan ini saja membuat saya ingin menangis lagi. Mungkin saya sedikit frustrasi. Atau saya cuma lelah menahan diri.

Tiba-tiba semua menjadi terlalu… demanding.

Lalu terlintas dalam benak saya yang penuh sesak itu: saya lupa kapan terakhir kali saya tertawa karena saya benar-benar bahagia.

Duh, ada sesuatu di mata saya yang mendesak-desak ingin keluar. Saya menengadah untuk mencegah butiran-butiran itu berjatuhan; dan di atas sana, langit masih hitam.


:: i will no longer be your crying shoulder

Belakangan ini, pagi-pagi, Mustang FM jadi sering memutar lagu I’ll Be Your Crying Shoulder-nya Edwin McCain.

Saya tidak suka.

Sekarang hampir semua orang mengetahui lagu ini. It’s no longer personal. Dan saya tidak bisa lagi menganggap bahwa saya-lah pemilik ‘sah’ lagu itu. Drat.

Untung saja, beberapa waktu lalu saya sempat menemukan sebuah lagu di dalam iTunes saya. Lagu yang tak pernah saya kira ada, tetapi menyapa saya tiba-tiba dalam sebuah mode shuffle songs.

Dan lagu itu membawa nostalgia yang sama: jatuh cinta dan air mata.

Saya masih sering mendengarkan lagu itu. Mengulangnya selama 1 sampai 2 jam sehari. Dan saya masih menyimpan satu lagu itu sendiri, membaginya hanya dengan orang-orang terdekat yang saya pikir sama-sama membutuhkan sesuatu untuk dimiliki.

Semoga lagu yang satu itu tidak cepat menjadi konsumsi massa. Karena semua hal terasa kehilangan arti ketika terlalu dieskploitasi.

Seperti kita.


:: selingkuh

Lelaki itu selingkuh.

Alasannya? Perempuan kekasihnya akan dijodohkan dengan lelaki lain; dan si perempuan setuju-setuju saja, pasrah menerima. Si lelaki sakit hati. Dan di tengah kegalauannya, ia berselingkuh dengan perempuan lain yang tiba-tiba hadir lewat perkenalan yang diatur seorang kawan.

Beberapa waktu berselang, si perempuan menyesali keputusannya dan memutuskan untuk tidak menerima perjodohan itu. Ia ingin kembali pada lelakinya. Maka, kini giliran si perempuan yang sakit hati ketika mengetahui bahwa lelakinya telah berselingkuh dengan perempuan lain selain dirinya.

Si lelaki menyesal. Begitu juga si perempuan. Si lelaki ingin kembali, tetapi si perempuan terlalu sakit hati untuk menjalin cinta dari awal lagi.

Setahun berlalu dan si lelaki masih menunggu. Berharap si perempuan memberinya satu kesempatan lagi. Kesempatan yang ditunggunya tak juga datang hingga saat ini. Tetapi setidaknya lelaki itu berjanji untuk tidak selingkuh lagi. Karena jarang sekali sebuah kesempatan hadir dua kali.

Baru-baru ini, si lelaki bertemu dengan perempuan lain yang bisa membuatnya percaya lagi akan cinta. Dan kebimbangan itu hadir kembali; justru di kala sebuah kesempatan datang lagi. Haruskah ia mengambil kesempatan yang satu ini, untuk mencinta lagi? Tetapi bagaimana jika perempuan pujaannya berubah pikiran dan ingin kembali? Akankah ia mengulangi kesalahan yang sama dua kali, kesalahan yang terjadi karena ia terlalu lekas berpaling?

Jadi, apa yang harus ia lakukan sekarang?

Jika ia masih ragu, jawabannya mungkin hanya satu: jangan berpaling dulu. Hidup memang harus terus berjalan, tapi memutuskan sesuatu dengan keragu-raguan bisa berakhir mengecewakan. Menunggu memang bisa menjadi pekerjaan yang menjengkelkan. Apalagi jika kita tidak tahu apakah orang yang kita tunggu akan benar-benar datang; atau justru mangkir tanpa pesan. Jika demikian, apa yang akan kamu lakukan?

Melihat-lihat apakah ada seseorang yang nampak kesepian dan juga tengah menunggu seseorang? Kemudian duduk bersamanya seakan kamu memang berniat menemuinya? Atau kamu akan memutuskan untuk pulang dan mencoba mencari tahu mengapa orang yang kamu tunggu tidak datang?

Pada akhirnya, adilkah jika seseorang terpilih hanya karena tak ada pilihan lain?


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,001 other followers