Lelaki itu selingkuh.

Alasannya? Perempuan kekasihnya akan dijodohkan dengan lelaki lain; dan si perempuan setuju-setuju saja, pasrah menerima. Si lelaki sakit hati. Dan di tengah kegalauannya, ia berselingkuh dengan perempuan lain yang tiba-tiba hadir lewat perkenalan yang diatur seorang kawan.

Beberapa waktu berselang, si perempuan menyesali keputusannya dan memutuskan untuk tidak menerima perjodohan itu. Ia ingin kembali pada lelakinya. Maka, kini giliran si perempuan yang sakit hati ketika mengetahui bahwa lelakinya telah berselingkuh dengan perempuan lain selain dirinya.

Si lelaki menyesal. Begitu juga si perempuan. Si lelaki ingin kembali, tetapi si perempuan terlalu sakit hati untuk menjalin cinta dari awal lagi.

Setahun berlalu dan si lelaki masih menunggu. Berharap si perempuan memberinya satu kesempatan lagi. Kesempatan yang ditunggunya tak juga datang hingga saat ini. Tetapi setidaknya lelaki itu berjanji untuk tidak selingkuh lagi. Karena jarang sekali sebuah kesempatan hadir dua kali.

Baru-baru ini, si lelaki bertemu dengan perempuan lain yang bisa membuatnya percaya lagi akan cinta. Dan kebimbangan itu hadir kembali; justru di kala sebuah kesempatan datang lagi. Haruskah ia mengambil kesempatan yang satu ini, untuk mencinta lagi? Tetapi bagaimana jika perempuan pujaannya berubah pikiran dan ingin kembali? Akankah ia mengulangi kesalahan yang sama dua kali, kesalahan yang terjadi karena ia terlalu lekas berpaling?

Jadi, apa yang harus ia lakukan sekarang?

Jika ia masih ragu, jawabannya mungkin hanya satu: jangan berpaling dulu. Hidup memang harus terus berjalan, tapi memutuskan sesuatu dengan keragu-raguan bisa berakhir mengecewakan. Menunggu memang bisa menjadi pekerjaan yang menjengkelkan. Apalagi jika kita tidak tahu apakah orang yang kita tunggu akan benar-benar datang; atau justru mangkir tanpa pesan. Jika demikian, apa yang akan kamu lakukan?

Melihat-lihat apakah ada seseorang yang nampak kesepian dan juga tengah menunggu seseorang? Kemudian duduk bersamanya seakan kamu memang berniat menemuinya? Atau kamu akan memutuskan untuk pulang dan mencoba mencari tahu mengapa orang yang kamu tunggu tidak datang?

Pada akhirnya, adilkah jika seseorang terpilih hanya karena tak ada pilihan lain?

hanny

4 Responses

  1. Bila si laki-laki masih menaruh hati pada perempuan lain, akan sangat tidak adil, kalo ia dalam keadaan “menanti” menjalani secara coba-coba dengan perempuan baru. Atau kalo pun, memang itu rencananya, setidaknya, jadilah pria jantan yang mengakui hal tersebut pada perempuan barunya. Dan biarkan perempuan barunya memilah sendiri kesanggupan dirinya dan seberapa berharga pria itu utknya, untuk mengambil keputusan terus atau tidaknya hubungan mereka…

    Tapi saranku, yang merasa tertipu ini, JANGAN AMBIL RESIKO PEREMPUAN! U DESERVE TO HAVE ONE FULL HEART!

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO