:: email dari kawan lama

Han,

Lo tau gak sih? Hidup tuh bener-bener pelawak yang gak lucu. Jayus!!! Maksud gue, ini kayak lelucon April Mop gitu, yang bikin lo shock, kaget, dan pas lo tau semuanya, lo pengen ketawa ngakak tapi lo cuma bisa nyengir bego. Ngerti maksud gue? Ketawa garing, gitu. Karena semuanya tiba-tiba jadi gak lucu abisss!

Terus lo mulai nanya,”Kenapa mesti gue? Kenapa begini? What the hell was this?”–dan jadi gila karena lo nggak tau mesti ketawa apa nangis.

Tapi gue juga tau, Han. Semua ini cuma lelucon besar. Yang gak lucu. Orang-orang aja yang suka nanggepinnya terlalu serius, pake bunuh diri segala, depresi-lah (ngecek stok mushroom bwahahahaha. oh, masih cukup buat malam ini).

Damn, gue mulai ngaco.

Tapi you got the point, kan, Han? Gila, kita mesti ketemu. I have so many stories to tell you. We need to catch up soon. Udah lama banget.

Lo gimana? I hope you’re doing great, as usual.

XX


:: ayo, ‘ndeso’kan jakarta!

Ya, itulah yang sempat diutarakan Mas Bahtiar dari BHI yang tadi malam (24/10) datang untuk ikut meramaikan pembukaan wetiga (Warung Wedangan Wi-Fi) yang berlokasi tepat di depan kantor dagdigdug.com (Rumah ‘Singgah’ Blogger Indonesia) di Jl. Langsat 1/3 A, Kebayoran Baru. Acara yang dihadiri seratusan blogger (dan plurker) ini juga digelar untuk merayakan Hari Blogger Nasional yang akan jatuh pada hari Senin, 27 Oktober mendatang.

ngangkring sambil browsing, blogging, plurking, chatting, flirting, sampai pagi. gambar dipinjam dari wetiga.com.

TENTANG WETIGA

Dengan slogan 4 Sehat, 5 Sempurna, 6 Internet, wetiga menawarkan konsep angkringan berkoneksi Wi-Fi—sehingga selagi Anda menikmati berbagai wedangan macam susu jahe gepuk, es jeruk, atau teh kental Jawa, serta hidangan macam nasi kucing dan sate kikil, Anda juga bisa nge-blog, nge-plurk, dan browsing Internet sesuka hati di laptop masing-masing. Mungkin ini adalah sebuah pemandangan yang agak jarang bisa Anda temukan di angkringan-angkringan lain; yang belakangan ini (entah mengapa) mulai bermunculan di beberapa sudut kota Jakarta.

Lagipula, angkringan mana lagi yang punya blog resmi; khusus untuk memuat kisah-kisah para ‘angkringers‘ (istilah yang aneh, jangan dipakai), selain wetiga? :)

‘NDESO’ ITU ROMANTIS?

Kembali pada ucapan Mas Bahtiar kemarin malam, yang dengan lantang berujar: “Ayo, ‘ndeso’kan Jakarta!”, saya jadi teringat ucapan seorang kawan yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ‘ndeso’ itu romantis (dan tepat pada saat ini tiba-tiba saja saya teringat Tukul Arwana).

Di kota metropolitan macam Jakarta ini, ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri, di mana orang-orang yang berdesakan di lift gedung-gedung tinggi tak lagi bertukar sapa atau senyum dan malah memandang ke langit-langit… pastilah selalu ada orang-orang yang merasa terasing dengan semua itu, lantas merasa kangen dengan suasana ‘ndeso’ yang ramah. Yang murah meriah. Yang sumringah. Bersahaja tapi tak mengurangi makna.

laptop terbuka, remang-remang cahaya, tikabanget malam-malam menjelajahi dunia maya dari sebuah gerobak angkringan di salah satu sudut ibukota. gambar dipinjam dari blog juragan wetiga.

Nongkrong-nongkrong memandangi sawah sambil mengusir nyamuk (yang singgah untuk mengisap darah) dan ngobrol ngalor-ngidul sambil menikmati kopi tubruk, juga bisa ditemukan tiap Jumat malam di Bundaran Hotel Indonesia (BHI), tepatnya di pelataran sebuah plaza mentereng di tengah kota.

Ya, di sanalah biasanya para blogger BHI berkumpul. Bukan memandangi sawah, tapi memandangi lampu-lampu jalan yang berwarna-warni, sambil minum kopi ditemani jagung bakar atau ‘kletikan’ berupa kacang kulit hingga kuaci. Mengobrol dan tertawa sampai dini hari. Tak ada dress code. Bersepatu, bersandal jepit, atau bertelanjang kaki, semuanya sah-sah saja.

Tadi malam, suasana yang nyaris serupa bisa ditemukan di wetiga—mungkin karena Juragan pemilik angkringan Wi-Fi ini juga tergabung dalam komunitas blogger yang sama seperti yang saya sebutkan di atas.

Gerobak sederhana berisi aneka wedangan dan penganan khas Jawa, dengan lampu yang remang-remang dan akses Internet yang kencang, ternyata berhasil menyatukan para blogger, ibu-ibu kantoran (yang sempat bertanya, “Ini makanan apa, sih? Sudah matang atau belum?“), anak muda, orang tua, orang-orang bersepatu rapi, orang-orang bersandal jepit, berkemeja, berkaos oblong… ke pojokan Jalan Langsat.

Saya rasa, kita memang selalu kangen pada masa lalu dan mencoba menghadirkannya lagi sebagai suatu bentuk romantisme baru. Jika batik yang dahulu dianggap ‘ndeso’ kembali menjadi tren di ibukota akhir-akhir ini, siapa tahu dalam beberapa bulan ke depan, warung merakyat berkonsep angkringan juga jadi semakin menjamur?

CO-OPTITION vs COMPETITION

Sambil menggado kerupuk kampung, menyeruput segelas kopi instan, dan mengetik semua ini, terlintas dalam benak saya, inilah humas alias pi-ar ‘ndeso’, dari mereka yang hendak menghadirkan suasana ‘ndeso’ di Jakarta; tanpa menghilangkan elemen kehidupan kota. Internet yang lekat dengan gaya hidup serba instan ala kota besar, bukan dijadikan sebagai musuh—tetapi sebagai nilai tambah alias added value untuk suasana ‘ndeso’ yang dihadirkan sebuah angkringan.

Wetiga memilih semangat co-optition, alih-alih competition.

warung wedangan kok wi-fi? lho, mengapa tidak? gambar diambil dari wetiga.com.

Secara humas, wetiga juga bisa dilihat dari (bahasa kerennya), berbagai news angle: usaha menghadirkan romantisme ‘ndeso’ di kota yang semakin tak pedulian, usaha seorang Juragan muda menekuni bisnis angkringan, sejarah angkringan sebagai salah satu ikon warung rakyat di Jawa, koneksi Internet gratis yang bukan lagi monopoli kafe-kafe mahal di pusat-pusat perbelanjaan, sampai kampanye membangkitkan sektor riil dengan menghidupkan warung-warung kecil.

Ah, dengan amunisi sebanyak ini, saya yakin, para pembawa romantisme ‘ndeso’ akan menjadikan segala sesuatu yang ‘ndeso’ menjadi tren di ibukota—dalam hitungan waktu yang tidak terlalu lama.

Jika demikian, saya juga mau ikut me-‘ndeso’kan Jakarta! :D Melu, ra?*

—-

*ikut, nggak?

PS: malam tadi, salah satu lagu favorit saya, Time After Time-nya Cindy Lauper juga dibawakan dengan manis sekali oleh duet Erda dan Rosa :)


:: melepaskan cinta

Perempuan itu tak berkeberatan seandainya si lelaki hendak meninggalkannya.

Buatnya, cinta itu seperti udara yang bisa dihirup dan dihembuskan lagi oleh siapa saja, secara cuma-cuma. Udara yang dikemas dalam sebuah tabung oksigen malah menunjukkan bahwa orang yang tengah menghirupnya tentu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Perempuan itu tahu, cinta bisa datang dan pergi seperti udara. Ketika datang, nikmatilah semuanya dan reguk sebanyaknya selagi ada, dan ketika pergi, syukurilah semua kenangan yang pernah singgah dan selalu bisa kau putar ulang jika kau menginginkannya.

Perempuan itu tahu, cinta tak bisa dipaksa. Dan tak bisa memaksa. Karena cinta adalah rasa. Dan kau tak akan pernah bisa mengendalikan rasa; meski kau bisa mengendalikan raga—dan menulis skenario mengenai apa yang bisa kau perbuat untuk meluapkan atau meredam rasa. Tetapi isi hati memang tak akan pernah bisa dipungkiri oleh dirimu sendiri.

Bahkan kau tahu itu.

Perempuan itu juga tahu, bahwa cinta tak dapat diikat dalam sebentuk cincin 24 karat, atau dimampatkan dalam huruf-huruf yang tertera di atas selembar surat. Untuknya, semua itu hanya prasyarat; simbol; sesuatu yang penting tetapi bukan yang terpenting, karena cinta itu cair, dan cinta tak akan pernah bisa kau genggam.

Ya, sekarang juga, pergilah ke bak mandi dan ambillah segenggam air. Genggam kuat-kuat, dan apa yang terjadi ketika semuanya mengalir pergi meninggalkan telapak tanganmu dan menetes dari sela-sela jemarimu? Hanya sensasi rasa basah yang tersisa, yang akan mengering sendiri ketika tertiup angin atau ketika kau gesekkan ke atas permukaan kain.

Perempuan itu tahu, cinta tak bisa diberi tali. Cinta, yang tak pernah mengenal kata harus dalam kamus, datang dan pergi sesuka hati. Ketika cinta datang menghampiri dua insan pada waktu yang bersamaan, mereka berjalan bersisian. Ketika cinta pergi diam-diam meninggalkan salah satu—atau keduanya, mereka berpisah di persimpangan.

Hidup ini adalah serangkaian pertemuan dan perpisahan yang tak ada habisnya. Bahkan kematian pun tak bisa menghentikannya, dan jasad terus menggemburkan tanah yang kemudian merekahkan bunga-bunga berwarna-warni indah.

Perempuan itu tidak akan mengatakan ‘tidak’ seandainya lelaki itu hendak pergi. Karena kehilangan telah mengajarinya bahwa tak ada sesuatu pun di dunia ini yang sungguh-sungguh ia miliki. Jadi, perempuan itu siap melepaskan semua ketika waktunya tiba, dan mereguk bahagia selama kurun waktu yang masih tersisa (entah untuk berapa lama), seraya menyesap secangkir kopi hangat ditemani alunan Reamonn yang terbawa derai hujan:

I know we cared of everything
Some times we’re holding on by strings
But what we have where we deserved
That’s you and me against the world
That’s what I believe

And promises are made to keep
Let’s find the words before we sleep
There’s nothing left for you and me
Nothing left to hide

And when the ceilings come crashing through
Be standing there me and you
And the ceilings come crashing through
Then they’ll see you and me,
you and me, you and me…

Siapkah kau melepaskan cinta jika waktunya tiba?


:: warung

Gara-gara membaca tulisan Ada Apa dengan Krisis?-nya Mas Iman, ketika sampai pada paragraf-paragraf terakhir di mana beliau berhenti untuk menyantap semangkuk mie rebus di depan RS Pertamina, saya jadi teringat tulisan salah seorang kawan saya, yang berjudul Ayo Makan di Warung!

Setelah membuat saya diserang lapar akibat ulasannya mengenai warung-warung kecil yang menjual aneka makanan lezat, kawan saya itu pun menulis:

Kadang-kadang saya berpikir, bahwa inilah real economy kita. Inilah tulang punggung ekonomi kita. Ratusan, jutaan, hingga miliaran warung dan kedai yang tersebar di Indonesia-lah yang sesungguhnya menghidupi dan yang menjalankan ekonomi Indonesia. Ini yang menjadi salah satu elemen kokohnya ekonomi kita. Karena uang yang diperoleh si penjual akan sepenuhnya dibelanjakan lagi di dalam negeri. Perputaran uang terjadi di dalam negeri.

Berbeda jika kita makan di gerai asing. Ada franchise fee yang mahal yang harus dibayarkan setiap bulan oleh pemilik toko di sini. Ada uang kita yang mengalir keluar negeri. Menguntungkan negara maju.

Jika begini, nampaknya harus ada gerakan baru: Ayo makan di warung!

Kemudian saya teringat pada Warung Ciamis di sebuah bangunan kecil yang terletak di depan Plaza Jambu Dua, di Warung Jambu, Bogor–yang biasa menjadi tempat tongkrongan supir-supir angkot dan karyawan pabrik di sekitar. Masakannya enak-enak: mulai dari telur dadar tebal dengan daun bawang dan irisan cabe merah, perkedel kentang, tumis pare, sampai remis… semua dibumbui dengan nyaris sempurna. Rasanya pas. Harganya murah.

Terakhir kali saya datang ke sana, Ibu yang berjualan justru menanyakan apakah saya tahu sekiranya ada orang yang berniat untuk membeli Warung Ciamis ini. Karena si Ibu sudah lelah memasak terus dan hendak pulang ke kampung. Tabungannya dari membuka warung selama ini sudah cukup untuk membiayai anak-anaknya, sehingga ia juga bisa pensiun dan hidup nyaman di kampung…

Sudah lama saya tidak mampir ke sana. Kabarnya warung itu sudah tutup.

Hei, apakah Anda tahu sebuah warung kecil yang menyediakan makanan enak tapi jarang diketahui orang karena letaknya nyempil di sebuah gang kecil, atau berada persis di pinggir kali (seperti warung ayam bakar yang terletak di dekat kantor saya–yang karena lokasi tempatnya berada biasa kami sapa dengan panggilan ‘riverside‘?)

Coba bagikan di sini, agar saya bisa berwisata kuliner ke sana lain kali :)


:: what are you doing the rest of your life?

Semuanya terjadi begitu saja. Bahkan perempuan itu sendiri pun tak tahu bagaimana segalanya bermula, dan tak dapat memberikan penjelasan apa-apa ketika lelaki dengan hati yang tak lagi utuh itu memutuskan untuk melangkah pergi dan menggelandangkan diri dalam sunyi di sebuah kota yang jauh. Kota di mana para bidadari jatuh.

Perempuan itu tahu, segalanya tak lagi sama seperti sebelumnya. Dulu ia bahagia dengan hujan, dengan embun, dengan pagi, dengan kabut, dengan musim panas, dengan wangi daun-daun kemangi… dengan segenap cinta yang ditaburkan lelaki itu di atas hati merah jambunya.

Tetapi ketika pada suatu malam yang cerah perempuan itu melihat bintang, perempuan itu pun tahu bahwa ternyata, selama ini, ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya—sesuatu yang ia tak pernah tahu apa.

Dan kini, ia temukan sesuatu yang hilang itu di langit. Pada bintang yang bersinar terang.

Sesungguhnya perempuan itu ingin mengajak lelaki itu duduk-duduk bersamanya di luasnya padang musim panas, beralaskan rerumputan yang sesekali bergoyang ketika angin bertiup sedikit kencang, berpegangan tangan memandangi bintang seraya menyesap Moscato d’Asti dalam gelas-gelas tinggi, sementara alunan nada What Are You Doing The Rest of Your Life-nya Chris Botti dan Sting terbawa angin dari kejauhan.

What are you doing the rest of your life
North and south and east and west of your life
I have only one request of your life
That you spend it all with me

All the seasons and the time of your days
All the nicles and dimes of your days
Let reasons and the rhymes of your days
All begin and end with me …

Tetapi ternyata lelaki itu tak mau berbagi dengan bintang. Tak sanggup kiranya ia melihat perempuan itu menengadah ke langit, memandangi bintang yang bisa mengisi jiwa perempuan itu dengan semacam kehangatan yang tak pernah bisa lelaki itu berikan.

Dan ia cemburu.

Karena bahkan gelas anggurnya memantulkan bintang; yang cahaya terangnya mampu membingkai wajah perempuan itu dalam sejenis kecantikan yang belum pernah lelaki itu lihat sebelumnya, bahkan tidak ketika ia dan perempuan itu tengah berdekapan dalam hujan.

Jadi, malam itu, sebelum memutuskan untuk pergi ke kota di mana para bidadari jatuh, lelaki itu bertanya kepada perempuan yang sedang memandangi bintang bersamanya itu:

What are you doing the rest of your life?”

Loving you.”

Demikian jawab perempuan itu. Tetapi, dalam beningnya bola mata perempuan itu, si lelaki tak melihat pantulan dirinya. Lelaki itu hanya melihat bintang.

Maka, dengan hati remuk, lelaki itu memutuskan untuk pergi meninggalkan perempuan itu bersama bintangnya. Karena ia tahu, ia tak akan pernah sanggup melengkapi jiwa perempuan itu, sekeras apapun ia berupaya.

Hati perempuan itu pernah berlubang suatu masa lalu, dan dulu, lelaki itu mengira bahwa ia bisa memberikan hatinya untuk menutup lubang yang melukai hati perempuan itu. Tetapi malam itu, ia melihat ke dalam hatinya, dan mendapatkan bahwa hatinya berbentuk bulan sabit—sementara lubang di hati perempuan itu berbentuk bintang.

Lama setelah lelaki itu pergi, perempuan itu masih suka memandangi bintang. Karena bersama bintang, luka yang menganga di hatinya tertutup sempurna oleh cinta. Hangat. Menenangkan. Nyaman. Bahkan dalam diam.

Namun, terkadang—mungkin lelaki itu tak tahu, ingatan perempuan itu masih sering melayang pada sosok lelaki itu ketika mencium aroma Marlboro Lights Menthol dalam kabut yang menyelimuti bintang dari pandangannya pada hari-hari yang dingin dan sedikit berhujan.

Perempuan itu pun kemudian bertanya-tanya, di mana lelaki itu berada, baik-baik sajakah ia, apakah ia bisa bertahan di kota yang begitu suram dan sepi, kota yang begitu depresi hingga bidadari-bidadari pun jatuh dari langit dengan sayap-sayap retak.

Ketika langit malam berganti kemerahan, pagi datang, dan bintang menghilang, perempuan itu bahkan masih dapat mendengar lamat-lamat Laura Jane bernyanyi dengan suaranya yang sengau, ” … summer time in the city, and the moon so bright … and the winter so far away…”


:: yang tersisa dari libur lebaran…

… adalah SMS yang terus-menerus masuk dan sebagian tak sempat terbalas (maafkan), kue-kue dan puding di dalam kulkas, timbangan yang kembali naik 1 kilo setelah sempat turun 2 kilo selama Ramadhan (karena terlalu lahap menyantap berbagai hidangan Lebaran sepertinya), juga satu stoples kastengel untuk menemani saya minum teh hangat di malam hari.

Tersisa juga pertemuan tak sengaja di sebuah kedai kopi dengan kawan sebangku semasa SMA (yang kebetulan juga kawan SD dan SMP), bergelas-gelas kopi dan teh hangat peppermint yang disesap di bawah kerindangan pepohonan berhiaskan lampu-lampu kecil berwarna jingga terang, juga perjalanan berkeliling kota pada suatu senja, di bawah langit mendung, berakhir dengan satu episode memandangi hujan berteman segelas teh manis hangat di teras rumah hingga larut malam.

Oh, libur Lebaran juga menyisakan demam dan batuk-batuk berkepanjangan (alhamdulillah, sudah berangsur sembuh kini)–tetapi saya tak berkeberatan, karena secara keseluruhan, libur Lebaran kemarin berakhir menyenangkan.

Bagaimana liburanmu? :)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,044 other followers