:: email dari kawan lama
Posted: October 28, 2008 Filed under: Life | Tags: email 22 Comments »Han,
Lo tau gak sih? Hidup tuh bener-bener pelawak yang gak lucu. Jayus!!! Maksud gue, ini kayak lelucon April Mop gitu, yang bikin lo shock, kaget, dan pas lo tau semuanya, lo pengen ketawa ngakak tapi lo cuma bisa nyengir bego. Ngerti maksud gue? Ketawa garing, gitu. Karena semuanya tiba-tiba jadi gak lucu abisss!
Terus lo mulai nanya,”Kenapa mesti gue? Kenapa begini? What the hell was this?”–dan jadi gila karena lo nggak tau mesti ketawa apa nangis.
Tapi gue juga tau, Han. Semua ini cuma lelucon besar. Yang gak lucu. Orang-orang aja yang suka nanggepinnya terlalu serius, pake bunuh diri segala, depresi-lah (ngecek stok mushroom bwahahahaha. oh, masih cukup buat malam ini).
Damn, gue mulai ngaco.
Tapi you got the point, kan, Han? Gila, kita mesti ketemu. I have so many stories to tell you. We need to catch up soon. Udah lama banget.
Lo gimana? I hope you’re doing great, as usual.
XX
:: ayo, ‘ndeso’kan jakarta!
Posted: October 25, 2008 Filed under: Life, Love | Tags: angkringan, angkringan wi-fi, dagdigdug, jakarta, juragan, nasi kucing, wedangan, wetiga, wi-fi gratis 53 Comments »Ya, itulah yang sempat diutarakan Mas Bahtiar dari BHI yang tadi malam (24/10) datang untuk ikut meramaikan pembukaan wetiga (Warung Wedangan Wi-Fi) yang berlokasi tepat di depan kantor dagdigdug.com (Rumah ‘Singgah’ Blogger Indonesia) di Jl. Langsat 1/3 A, Kebayoran Baru. Acara yang dihadiri seratusan blogger (dan plurker) ini juga digelar untuk merayakan Hari Blogger Nasional yang akan jatuh pada hari Senin, 27 Oktober mendatang.

ngangkring sambil browsing, blogging, plurking, chatting, flirting, sampai pagi. gambar dipinjam dari wetiga.com.
TENTANG WETIGA
Dengan slogan 4 Sehat, 5 Sempurna, 6 Internet, wetiga menawarkan konsep angkringan berkoneksi Wi-Fi—sehingga selagi Anda menikmati berbagai wedangan macam susu jahe gepuk, es jeruk, atau teh kental Jawa, serta hidangan macam nasi kucing dan sate kikil, Anda juga bisa nge-blog, nge-plurk, dan browsing Internet sesuka hati di laptop masing-masing. Mungkin ini adalah sebuah pemandangan yang agak jarang bisa Anda temukan di angkringan-angkringan lain; yang belakangan ini (entah mengapa) mulai bermunculan di beberapa sudut kota Jakarta.
Lagipula, angkringan mana lagi yang punya blog resmi; khusus untuk memuat kisah-kisah para ‘angkringers‘ (istilah yang aneh, jangan dipakai), selain wetiga? :)
‘NDESO’ ITU ROMANTIS?
Kembali pada ucapan Mas Bahtiar kemarin malam, yang dengan lantang berujar: “Ayo, ‘ndeso’kan Jakarta!”, saya jadi teringat ucapan seorang kawan yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ‘ndeso’ itu romantis (dan tepat pada saat ini tiba-tiba saja saya teringat Tukul Arwana).
Di kota metropolitan macam Jakarta ini, ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri, di mana orang-orang yang berdesakan di lift gedung-gedung tinggi tak lagi bertukar sapa atau senyum dan malah memandang ke langit-langit… pastilah selalu ada orang-orang yang merasa terasing dengan semua itu, lantas merasa kangen dengan suasana ‘ndeso’ yang ramah. Yang murah meriah. Yang sumringah. Bersahaja tapi tak mengurangi makna.

laptop terbuka, remang-remang cahaya, tikabanget malam-malam menjelajahi dunia maya dari sebuah gerobak angkringan di salah satu sudut ibukota. gambar dipinjam dari blog juragan wetiga.
Nongkrong-nongkrong memandangi sawah sambil mengusir nyamuk (yang singgah untuk mengisap darah) dan ngobrol ngalor-ngidul sambil menikmati kopi tubruk, juga bisa ditemukan tiap Jumat malam di Bundaran Hotel Indonesia (BHI), tepatnya di pelataran sebuah plaza mentereng di tengah kota.
Ya, di sanalah biasanya para blogger BHI berkumpul. Bukan memandangi sawah, tapi memandangi lampu-lampu jalan yang berwarna-warni, sambil minum kopi ditemani jagung bakar atau ‘kletikan’ berupa kacang kulit hingga kuaci. Mengobrol dan tertawa sampai dini hari. Tak ada dress code. Bersepatu, bersandal jepit, atau bertelanjang kaki, semuanya sah-sah saja.
Tadi malam, suasana yang nyaris serupa bisa ditemukan di wetiga—mungkin karena Juragan pemilik angkringan Wi-Fi ini juga tergabung dalam komunitas blogger yang sama seperti yang saya sebutkan di atas.
Gerobak sederhana berisi aneka wedangan dan penganan khas Jawa, dengan lampu yang remang-remang dan akses Internet yang kencang, ternyata berhasil menyatukan para blogger, ibu-ibu kantoran (yang sempat bertanya, “Ini makanan apa, sih? Sudah matang atau belum?“), anak muda, orang tua, orang-orang bersepatu rapi, orang-orang bersandal jepit, berkemeja, berkaos oblong… ke pojokan Jalan Langsat.
Saya rasa, kita memang selalu kangen pada masa lalu dan mencoba menghadirkannya lagi sebagai suatu bentuk romantisme baru. Jika batik yang dahulu dianggap ‘ndeso’ kembali menjadi tren di ibukota akhir-akhir ini, siapa tahu dalam beberapa bulan ke depan, warung merakyat berkonsep angkringan juga jadi semakin menjamur?
CO-OPTITION vs COMPETITION
Sambil menggado kerupuk kampung, menyeruput segelas kopi instan, dan mengetik semua ini, terlintas dalam benak saya, inilah humas alias pi-ar ‘ndeso’, dari mereka yang hendak menghadirkan suasana ‘ndeso’ di Jakarta; tanpa menghilangkan elemen kehidupan kota. Internet yang lekat dengan gaya hidup serba instan ala kota besar, bukan dijadikan sebagai musuh—tetapi sebagai nilai tambah alias added value untuk suasana ‘ndeso’ yang dihadirkan sebuah angkringan.
Wetiga memilih semangat co-optition, alih-alih competition.
Secara humas, wetiga juga bisa dilihat dari (bahasa kerennya), berbagai news angle: usaha menghadirkan romantisme ‘ndeso’ di kota yang semakin tak pedulian, usaha seorang Juragan muda menekuni bisnis angkringan, sejarah angkringan sebagai salah satu ikon warung rakyat di Jawa, koneksi Internet gratis yang bukan lagi monopoli kafe-kafe mahal di pusat-pusat perbelanjaan, sampai kampanye membangkitkan sektor riil dengan menghidupkan warung-warung kecil.
Ah, dengan amunisi sebanyak ini, saya yakin, para pembawa romantisme ‘ndeso’ akan menjadikan segala sesuatu yang ‘ndeso’ menjadi tren di ibukota—dalam hitungan waktu yang tidak terlalu lama.
Jika demikian, saya juga mau ikut me-’ndeso’kan Jakarta! :D Melu, ra?*
—-
*ikut, nggak?
PS: malam tadi, salah satu lagu favorit saya, Time After Time-nya Cindy Lauper juga dibawakan dengan manis sekali oleh duet Erda dan Rosa :)
:: warung
Posted: October 15, 2008 Filed under: Life | Tags: ekonomi, kuliner, makan, warung 31 Comments »Gara-gara membaca tulisan Ada Apa dengan Krisis?-nya Mas Iman, ketika sampai pada paragraf-paragraf terakhir di mana beliau berhenti untuk menyantap semangkuk mie rebus di depan RS Pertamina, saya jadi teringat tulisan salah seorang kawan saya, yang berjudul Ayo Makan di Warung!
Setelah membuat saya diserang lapar akibat ulasannya mengenai warung-warung kecil yang menjual aneka makanan lezat, kawan saya itu pun menulis:
Kadang-kadang saya berpikir, bahwa inilah real economy kita. Inilah tulang punggung ekonomi kita. Ratusan, jutaan, hingga miliaran warung dan kedai yang tersebar di Indonesia-lah yang sesungguhnya menghidupi dan yang menjalankan ekonomi Indonesia. Ini yang menjadi salah satu elemen kokohnya ekonomi kita. Karena uang yang diperoleh si penjual akan sepenuhnya dibelanjakan lagi di dalam negeri. Perputaran uang terjadi di dalam negeri.
Berbeda jika kita makan di gerai asing. Ada franchise fee yang mahal yang harus dibayarkan setiap bulan oleh pemilik toko di sini. Ada uang kita yang mengalir keluar negeri. Menguntungkan negara maju.
Jika begini, nampaknya harus ada gerakan baru: Ayo makan di warung!
Kemudian saya teringat pada Warung Ciamis di sebuah bangunan kecil yang terletak di depan Plaza Jambu Dua, di Warung Jambu, Bogor–yang biasa menjadi tempat tongkrongan supir-supir angkot dan karyawan pabrik di sekitar. Masakannya enak-enak: mulai dari telur dadar tebal dengan daun bawang dan irisan cabe merah, perkedel kentang, tumis pare, sampai remis… semua dibumbui dengan nyaris sempurna. Rasanya pas. Harganya murah.
Terakhir kali saya datang ke sana, Ibu yang berjualan justru menanyakan apakah saya tahu sekiranya ada orang yang berniat untuk membeli Warung Ciamis ini. Karena si Ibu sudah lelah memasak terus dan hendak pulang ke kampung. Tabungannya dari membuka warung selama ini sudah cukup untuk membiayai anak-anaknya, sehingga ia juga bisa pensiun dan hidup nyaman di kampung…
Sudah lama saya tidak mampir ke sana. Kabarnya warung itu sudah tutup.
Hei, apakah Anda tahu sebuah warung kecil yang menyediakan makanan enak tapi jarang diketahui orang karena letaknya nyempil di sebuah gang kecil, atau berada persis di pinggir kali (seperti warung ayam bakar yang terletak di dekat kantor saya–yang karena lokasi tempatnya berada biasa kami sapa dengan panggilan ‘riverside‘?)
Coba bagikan di sini, agar saya bisa berwisata kuliner ke sana lain kali :)



