Pukul 8 pagi ketika saya berdiri di depan wastafel, menyikat gigi. Hari Sabtu pagi itu diawali dengan langit sedikit mendung dan sekotak jus jeruk. Sebentar lagi, perjalanan yang padat akan segera dimulai kembali. Setelah berganti pakaian, saya pun naik lift menuju lantai 3, menuju kamar Chika dan Nia.

Seraya menunggu Chika dan Nia bersiap-siap, saya berdiri di depan jendela kamar mereka yang menghadap langsung ke klenteng dan Chinatown. Pemandangan yang menyenangkan!

picture-4

Saya, Chika, dan Nia sama-sama melewatkan sarapan karena lebih memilih untuk memperpanjang waktu tidur daripada memenuhi perut. Sekitar pukul setengah sepuluh pagi, kami pun bersiap menuju bis yang akan membawa kami berkeliling. Tak lupa, sebelumya berfoto dulu di jalanan yang masih agak lengang.

picture-6

Hari Sabtu ini, seharian, kami akan ditemani oleh Nila—sahabat saya, sekaligus juga blogger yang ditugaskan oleh STB dan Singasik.com untuk meliput perjalanan kami di Singapura. Maka bis kami pun menuju kediaman Nila terlebih dahulu di sebuah daerah yang cukup jauh dari pusat kota. Karena masih mengantuk, kami pun leyeh-leyeh saja di mobil sambil tidur-tidur ayam.

Sekitar 40 menit kemudian, sampailah kami di apartemen Nila, dan Nila pun naik ke dalam bis. Terjadilah reuni kecil di sana, karena Nila, Dimas, dan Nia sama-sama pernah bekerja di kantor yang sama dengan saya; meski dalam kurun waktu yang berbeda-beda. Nila juga pernah bertemu Dimas dan Chika. Sementara Nila pernah juga bertemu dengan Hawe di beberapa konferensi pers sewaktu Hawe masih bekerja sebagai jurnalis di salah satu majalah marketing & advertising.

Begitu naik ke atas bis, Nila langsung menyerahkan sekaleng uang koin Singapura. “Untuk Coin A Chance!,” katanya. Ah, terima kasih, Nila!

Dari apartemen Nila, kami pun bertolak menuju Malay Heritage Center atau Kampung Jawa. Pusat perhatian yang utama tentunya adalah istana kesultanan Melayu dan masjid yang megah tak jauh dari situ.

picture-10

picture-9

picture-8

Di sepanjang jalan, banyak sekali restoran-restoran kecil yang menjual masakan Melayu serta toko-toko suvenir yang menjual berbagai jenis pakaian, seledang, topi… juga satu toko khusus yang menjual beraneka ragam Teddy Bear!

Dari sini, kami lanjut berjalan-jalan menyusuri Haji Lane. Walau namanya Haji Lane, jangan harap Anda menemukan toko-toko berbau Timur Tengah yang menjual sajadah, mukena, atau tasbih. Sebaliknya, di tempat ini banyak sekali terdapat toko-toko lucu dengan desain unik yang mengingatkan saya pada distro-distro di Bandung atau jajaran toko di Kemang. Ternyata Haji Lane memang merupakan daerah tongkrongan anak-anak kreatif Singapura, baik mereka yang suka desain, skateboarding, atau grafiti. “Pokoknya yang nongkrong di sini hip banget!” begitu kata Nila.

Di Haji Lane inilah kemudian saya banyak mengambil foto-foto dari bangunan-bangunan yang ada, sebagaimana yang sempat saya lakukan sewaktu plesiran menjelajah Bandung Tempo Doeloe beberapa waktu lalu. I do like this place! Sayang pagi itu toko-toko di Haji Lane belum dibuka. Menurut Nila, toko-toko di sini memang baru buka sekitar pukul 2 siang.

picture-11

picture-15

picture-18

picture-21

picture-16

picture-22

Dari Haji Lane kami berjalan lagi menuju Bugis Village, yang kira-kira mendekati Melawai keadaannya. Sepanjang perjalanan, karena kami melewatkan sarapan, kami juga membeli berbagai kudapan (lumpia, bakso goreng, dan semacam otak-otak) dan minuman. Di lantai dasar Bugis Village banyak sekali kaos-kaos suvenir yang dijual dengan harga cukup murah, rata-rata seharga SIN $ 10-20 untuk sekitar 3,4, atau 5 buah kaos—tergantung pada bahan dan model kaosnya. Sementara di tingkat atas, terdapat berbagai toko yang menjual pakaian dan juga tas-tas, sepatu, atau aksesori.

Di sinilah kami berpencar cepat dan sibuk berbelanja. Bahkan Dimas sempat tersesat karena terpencar terlalu jauh dari rombongan. Tentunya, di sini kami banyak membeli berbagai oleh-oleh seperti kaos, magnet kulkas, atau pin. Dan ini jugalah yang sempat dikomentari oleh tour guide kami Mr. Basir.

“Orang Indonesia itu memang kaya-kaya,” seloroh beliau. “Lihat saja, setiap bepergian yang duluan dicari adalah oleh-oleh buat orang lain, bukan untuk diri sendiri.”

Aha! Perkataan itu sempat membuat saya berpikir. Benar juga, ya? Mengapa sebagai orang Indonesia (ataukah di negara lain juga demikian) kita merasa berkewajiban untuk membawakan oleh-oleh bagi orang lain ketika bepergian? Dan mengapakah kita juga merasa berhak meminta oleh-oleh dari orang yang pulang bepergian?

Saya jadi teringat kepada para jamaah haji yang juga tak kalah sibuk berbelanja membelikan oleh-oleh bagi sanak-saudara dan handai-taulan mereka, sampai-sampai ada toko-toko di dalam negeri yang sengaja menjual oleh-oleh Haji semacam tasbih atau mukena, sajadah, atau kurma yang diimpor dari Saudi, saking melegendanya kebiasan membeli ‘oleh-oleh’ ini.

Selepas dari Bugis Village, kami pergi untuk makan siang di restoran India bernama PotPourri. Hidangan lezat yang keluar berturut-turut sebenarnya lezat sekali (terutama Naan-nya—alias roti tipis semacam roti pita yang biasa dicelupkan ke dalam kari). Namun sayangnya, karena kami sibuk mengudap berbagai cemilan di Bugis Village, kami sudah sangat kenyang, sehingga tak bisa makan dengan rakus.

Di akhir ‘jamuan makan siang’ itu, kami pun mendapatkan dessert semacam Chocolate Mousse yang luar biasa lezatnya! Kami pun diberi tahu bahwa hidangan pencuci mulut ini belum diberi nama karena baru saja diciptakan oleh restoran tersebut, dan kami adalah pencicip pertama dessert ini! Yaaay! Mungkin nantinya hidangan itu akan diberi nama Wacky Weekend Chocolate untuk menghormati kedatangan kami? Hihihi *narsis*!

Dari PotPourri, kami pun beranjak menuju daerah Tanjung Pagar untuk pergi ke Chocolate Gallery. Ya, sebenarnya toko cokelat ini tak ada dalam jadwal kami, tapi memang sangat menyenangkan karena dalam perjalanan Wacky Weekend bersama STB ini kami boleh mengusulkan akan pergi ke mana, atau ingin mengunjungi tempat apa—meski tempat tersebut tidak ada di dalam jadwal. Dengan fleksibilitas semacam ini, otomatis keinginan dari masing-masing peserta bisa terpenuhi. Chocolate Gallery ini sendiri merupakan permintaan Chika dan Hawe, yang memang ingin mencari oleh-oleh cokelat.

Begitu tiba di Chocolate Gallery, kami langsung disuguhi minuman berupa cokelat dingin! Nyam!

picture-23

Dan di tempat ini, Anda bisa langsung kenyang melahap cokelat, karena penjaga toko berkeliaran dengan sampel cokelat di dalam wadah, siap menawari Anda untuk mencoba berbagai rasa cokelat. Di sini memang ada cokelat yang biasa seperti cokelat almond, atau mint, atau rum, tapi ada juga cokelat rasa buah seperti cokelat mangga atau cokelat durian! Nah, kalau ingin tahu seperti apa rasanya, Anda tinggal icip-icip saja sampel cokelat yang disodorkan tanpa henti oleh penjaga toko. Walau saat itu kami sudah sangat kenyang, tapi kami tak tega menolak potongan-potongan cokelat yang disodorkan, “It’s okay, just try it, come on, only a small piece of chocolate, try it, this is nice…

😀

picture-25

Puas berbelanja cokelat, saatnya bertolak ke Orchard Road! Ya, meski tak ada jadwal berbelanja di Orchard, seperti sudah dikatakan tadi, jadwal sangat fleksibel, dan Mr. Basir sebagai tour guide sangat akomodatif. Mengingat Dimas dan Hawe mati-matian ingin ke Orchard, maka jadilah Orchard tujuan selanjutnya.

Saya kebetulan tak ikut jalan-jalan di Orchard karena janjian bertemu dengan teman saya di Borders—toko buku besar yang terletak di dekat Wheelock Place & Orchard. Jadi ketika bis berhenti di sana, saya turun dan menjumpai kawan saya di kafe outdoor di depan Borders untuk  ngopi-ngopi, sementara kawan-kawan yang lain berjalan menyusuri Orchard untuk berbelanja hingga mendekati maghrib—lalu kembali menghampiri saya untuk… berfoto di depan Borders tentunya!

picture-26

Sepulang dari Borders, kami kembali ke hotel The Scarlet yang menyenangkan itu, dan berganti pakaian. Tujuan selanjutnya adalah makan malam di Secret Garden, sebuah restoran yang terletak tak jauh dari PotPourri. Mengapa disebut Secret Garden? Karena restoran ini terletak di sebuah taman, dan taman ini terletak di belakang sebuah bangunan museum seni!

Di bagian belakang museum inilah kami akhirnya menemukan tempat sempurna untuk berfoto gila, sampai lupa waktu. Pelayan restoran bahkan harus menghampiri kami di belakang dan berkata, “Sorry to interrupt, but your meal is ready…

picture-31

picture-301

Setelah makan malam di Secret Garden, kami pun menuju SupperClub di Odeon Plaza, sebuah klub yang seluruh tempat duduknya berupa kasur-kasur! Saya dan Dimas yang agak mengantuk pun langsung leyeh-leyeh di sana. Di sinilah kami berpamitan dengan Kendra—staff STB di Singapura, sambil menunjukkan foto-foto gila yang kami ambil sepanjang perjalanan, yang membuat Kendra tertawa terbahak-bahak.

picture-27

Oh ya, satu catatan lagi tentang SupperClub, toilet di sini Unisex! Jadi saya dan Chika sempat terkejut sewaktu masuk ke toilet dan berpapasan dengan cowok-cowok. Sempat mengira salah masuk toilet (doh!). Ternyata memang toiletnya ‘nyampur’. Karena agak risih, saya pun sempat menjengukkan kepala dulu ke lorong sebelum ngacir keluar dari toilet.

Sudah hampir pukul 12 lewat ketika kami meninggalkan SupperClub, namun rasanya kaki masih gatal untuk berbelanja di Mustafa! Jadi tengah malam itu pun kami berjalan menyusuri trotoar Singapura untuk mencari taksi. Dan saya pun iri pada pejalan kaki Singapura, yang bisa menikmati trotoar yang luas, lapang, bersih, dan tak berlubang. Sungguh, Anda bisa berjalan sambil melamun karena tak takut terperosok lubang atau terciprat air becek, atau takut jika hak sepatu nyangkut di sela-sela batuan, atau terserempet motor yang nakal naik ke atas trotoar.

picture-28

Bukannya tak ada pedagang atau pengamen di trotoar Singapura. Banyak! Anda bisa menemukan tukang minuman hingga es potong atau orang bermain kecapi di sepanjang Orchard. Tetapi mereka ditempatkan berjauhan, dalam jarak yang nyaman. Mereka tidak menyampah. Banyak tempat sampah di pinggir jalan. Ada bangku-bangku jika orang hendak beristirahat dan duduk-duduk sehingga mereka tak perlu menggeletak di atas trotoar. Ah, seandainya trotoar di sini semenyenangkan itu! Karena saya suka berjalan kaki!

Dan berhubung mendekati Pemilu, saya ingin berkata: “Pemimpin yang baik dilihat dari caranya menghargai dan memperlakukan pejalan kaki!”

😀

Kembali ke Mustafa: toko besar ini menjual hampir segala sesuatu, mulai dari kebutuhan sehari-hari, pakaian, peralatan masak, elektronik, parfum, sampai DVD. Kebanyakan sih kami membeli cokelat di sini, lagi-lagi: untuk oleh-oleh!

Hampir pukul setengah empat pagi ketika kami meninggalkan Mustafa untuk kembali ke hotel. Tenaga sudah hampir habis! Padahal keesokan harinya kami sudah harus siap pergi ke bandara pagi-pagi untuk pulang ke Jakarta, dan kami masih harus packing, karena koper membludak karena belanjaan kami yang besar-besar kardusnya.

Soal perjalanan pulang kami ke Jakarta pada hari Minggunya? Bisa Anda baca di sini: tragedi mengenai bagaimana Dimas membuang tiket pulangnya ke tempat sampah di hotel.

picture-29

Ah, selesai juga episode liburan gila di Singapura ini. Thanks untuk Singapore Tourism Board dan Wacky Weekend Contest di Singasik.com! Anda mau ikutan kuis ini? Siapa tahu Anda yang jadi pemenangnya! Kalau iya, jangan lupa ajak saya, ya! Hehehe.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Siang itu, kami menuju restoran Palm Beach Seafood di One Fullerton Road, yang terletak persis berdampingan dengan Merlion—patung singa dengan air yang memancar keluar dari mulutnya. Iya, Merlion. Monas-nya Singapura. Ada orang yang bilang, belum sah rasanya ke Singapura jika belum ke Orchard dan belum mengambil foto-foto di Merlion.

Di Palm Beach Seafood, kami sudah ditunggu oleh staff STB, Kendra Wong–yang masih seusia juga dengan kami. Udara siang itu agak mendung, angin bertiup pelan, dan cuacanya memang sangat menyenangkan untuk menyantap seafood di luar. Iya, meja kami terletak di luar, di bawah tenda putih, menghadap langsung ke Singapore River yang bersih.

picture-3

Dengan ramah, Kendra langsung mengajak kami mengobrol. Karena sikapnya yang bersahabat, maka kami (yang sudah melirik Merlion sejak awal) pun tak malu-malu berkata,”Kendra, sambil nunggu makanan, kita mau foto-foto di Merlion dulu, ya?”

Kendra langsung mengiyakan. Maka kami pun berlari menuju patung Merlion, bersenjatakan kamera di tangan. Menjadi turis sehari, kami pun langsung asyik mengambil pose di depan patung Merlion dengan gaya andalan masing-masing—sampai akhirnya kami menyadari bahwa makanan kami telah siap terhidang di atas meja.

picture-2

Saat itu memang sudah sekitar pukul setengah dua siang, maka kami pun segera menyantap berbagai hidangan yang tersedia. Chika sudah memberikan laporan lengkapnya di sini. Yang jelas, semua hidangan yang berbaris rapi itu tak lepas dari jepretan kamera sebelum disantap.

“Sorry, Kendra. This is for our blog!” kami terkekeh, karena Kendra terpaksa menunggu beberapa saat sebelum bisa mencicipi makanan yang ada, berhubung kami masih sibuk memotret.

Tetapi hidangan yang paling menakjubkan di Palm Beach Seafood memang tak lain dan tak bukan: Chilli Crab-nya—yang besar dan gurih, dan lezat, dan sangat spicy. Meskipun awalnya kami masih berusaha sopan dengan menggunakan berbagai peralatan penakluk kepiting, tetapi ketika Kendra juga berkata,”Just use our hands!”—kami pun langsung menyerbu si kepiting dengan barbar.

Kepiting yang luar biasa besar itu pun tandas dalam waktu singkat. Dan Dimas adalah orang yang berhasil menghabiskan potongan kepiting terakhir, sambil disemangati oleh boneka kepiting Palm Beach, Kendra, dan kami semua. Bahkan Kendra sempat mengambil foto-foto Dimas ketika tengah menyantap kepiting.

picture-8

“Let me take the pictures, I got a better angle from here!” kata Kendra sambil tertawa. Ah, rupanya Kendra sudah tertular dengan kebiasaan kami!

🙂

Begitu selesai makan siang, kami pun kembali mengajak Kendra untuk berfoto bersama kami di depan Merlion.

picture-9

Pada saat inilah, Mr. Basir, tour guide kami, mengatakan bahwa ada satu spot tertentu jika Dimas hendak berpose tengah buang air kecil. Dimas pun diminta berdiri di dekat sebuah tangga, beberapa meter jauhnya dari Merlion.

Benar juga! Setelah dibidik melalui lensa kamera, posisi Dimas memang sangat tepat—seakan-akan ia tengah buang air kecil. Kemudian dimulailah salah satu pose foto gila, di mana saya berpura-pura ‘kehujanan’. Beberapa turis yang lewat rupanya agak heran dengan pose aneh saya dan Dimas, kemudian mereka mencoba membidik kami lewat lensa kamera masing-masing. Rupanya saat itulah mereka sadar apa yang sebenarnya tengah coba kami lakukan, dan mereka pun tertawa terbahak-bahak, lalu ikut memotret.

picture-10

Selepas makan siang, kami pun berjalan-jalan berkeliling kota Singapura dengan bis. Kami juga sempat mampir di kompleks Singapore Flyer, yang juga dipenuhi dengan toko-toko kecil yang menjual beragam suvenir. Sayang memang, kami tidak bisa menaiki bianglala Singapore Flyer yang terkenal itu dan memandang kota Singapura dari ketinggian—karena waktu putarannya cukup lama (setengah jam), sedangkan jadwal kami pada hari itu cukup padat.

picture-11

Hujan gerimis turun di Singapura, lalu berubah menjadi hujan lebat begitu kami mencapai Clarke Quay. Kompleks yang dipenuhi dengan toko-toko, restoran, kafe, dan perkantoran itu terletak di tepian Singapore River. Dan kami menuju tempat ini untuk menaiki Bum Boat Ride, perahu kayu yang disewakan untuk para turis sehingga mereka dapat mengarungi Singapore River dan melihat-lihat pemandangan kota yang terhampar di sepanjang tepiannya.

Hujan tak menghalangi kami untuk bersenang-senang dan menikmati kota Singapura dari atas perahu dengan jendela terbuka yang mengalun pelan di atas Singapore River–melewati Boat Quay, Clarke Quay, Esplanade, dan Merlion Park. Saya pun membayangkan betapa menyenangkannya jika Jakarta memiliki sungai yang bersih dan bisa diarungi seperti ini, di mana kita bisa melihat pemandangan kota tanpa harus menutup hidung karena bau sampah yang menusuk.

Ketika hujan sudah sedikit mereda, kami pun menuju geladak belakang dan berfoto-foto di udara terbuka, dilatari gedung-gedung yang kami lewati sepanjang sungai.

picture-121

picture-13

Hujan kembali turun ketika perahu kami kembali merapat di Clarke Quay. Meski tidak membawa payung, kami merasa nyaman-nyaman saja berjalan di bawah guyuran hujan menuju ke bis. Baru saya sadari betapa nyamannya kota Singapura ini di kala hujan. Ya, tidak ada debu dan asap dan polusi yang membuat air hujan terasa ‘kotor’. Tidak ada pula genangan air penuh tanah, becek, atau luapan sampah berbau busuk yang tumpah-ruah dari dalam selokan ke atas trotoar.

Saya, si pecinta hujan ini pun, menengadahkan kepala ke langit dan menikmati curahan hujan seraya berjalan kaki dengan ringan dan penuh suka-cita.

Dari Clarke Quay, kami menuju Chinatown—singgah di hotel kami tercinta untuk mandi dan menyegarkan diri. Sebagai pemenang kontes, saya ternyata mendapatkan satu kamar untuk sendiri, di kamar 204. Hal pertama yang saya lakukan begitu tiba di kamar adalah: foto-foto! Ya, saya mengagumi kamar saya yang cantik dan sangat tidak biasa. Bagaimana tidak? Ranjang yang besar dengan kombinasi warna coklat dan biru muda, juga wastafel yang terletak di luar (bukan di dalam kamar mandi).

picture-4

picture-5

picture-6

Begitu selesai mengambil foto-foto, saya pun bergegas mandi dan berganti pakaian. Kami hanya diberikan waktu sekitar 40 menit untuk menyegarkan diri, karena harus menempuh perjalanan yang cukup jauh menuju lokasi makan malam di Ulu Ulu Safari Night Park. Saat itu sudah pukul setengah 7 malam—sedangkan kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam lagi untuk sampai ke Mandai Lake Road, lokasi di mana taman safari malam itu terletak.

Malam itulah (pukul setengah 7 masih cukup terang di Singapura, seperti pukul 5 sore), Chika dan Nia turun agak terlambat ke lobi. Pasalnya? Chika ternyata benar-benar sakaw bandwidth karena tak sempat online seharian, dan sempat mimisan.

“Wah, kalau di film-film Jepang, biasanya cowok mimisan kalau melihat cewek cantik,” saya menyeletuk.

Dan tiba-tiba Chika menjawab,”Iya, tadi gue terlalu lama memandangi cermin…”

Perlu waktu beberapa lama bagi seluruh anggota rombongan untuk menyadari perkataan Chika tadi, sebelum kami semua shock dan berseru: “IYUUUUHHH!”

😀

Dalam perjalanan menuju Ulu Ulu Safari Night Park, kami sempat beristirahat dan tidur-tidur ayam sejenak. Jalanan macet. Rupanya beginilah kondisi jalanan di Singapura setiap Jumat malam. Sama seperti di Jakarta. Jalanan tiba-tiba saja padat.

Akhirnya kami sampai di tujuan sekitar pukul 8 malam, dan langsung menyantap hidangan buffet yang tersedia. Saya ingat berhasil menghabiskan entah berapa potong gurita di meja sushi—yang teramat lezat. Belum lagi es krim vanilla yang tersedia di meja sebelahnya, 3 scoop es krim tersebut langsung berpindah dari wadahnya ke mangkuk saya, lalu ke perut saya. Nyam!

picture-14

Sekitar pukul setengah sepuluh malam, kami pun keluar dari restoran Ulu Ulu dan hendak memulai petualangan safari malam kami di Night Zoo. Sebelumnya, saya pergi ke toilet terlebih dahulu—yang dikelilingi daun-daun di sekelilingnya, sehingga memberi kesan bahwa toilet ini berada di alam terbuka.

Begitu masuk ke bilik toilet, saya terlonjak kaget karena tiba-tiba terdengar suara auman singa. Jantung saya berdegup kencang, apakah saya mendengar suara-suara yang tidak ada? Ataukah itu tadi benar-benar auman singa? Sedekat itukah kandang singa dengan toilet?!!

Tak lama kemudian, saya kembali mendengar auman yang lebih keras. Disusul bunyi ‘terompet’ gajah. Suara monyet-monyet yang nyaring. Menatap ke langit-langit, saya baru sadar bahwa semua itu bunyi-bunyian binatang dari speaker yang sengaja disetel di dalam toilet.

Uh. Menakut-nakuti saja! 🙂

Night Safari sendiri menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Kami naik ke sebuah trem, yang sisi-sisinya terbuka, seperti mobil golf panjang. Trem ini berjalan di sebuah rel, mengelilingi lokasi Night Safari. Sungguh, rasanya seperti berada di dalam film Jurassic Park!

Awalnya, kami agak takut-takut untuk duduk di pinggir, ya, karena memang tidak ada pintu yang membatasi kami dari jalanan yang kami lewati. Bagaimana jika tiba-tiba saja ada macan yang iseng hendak menjengukkan kepala ke dalam trem kami?

Namun kegelisahan kami ternyata tak beralasan. Bodohnya! Hehehe, tentu saja pengelola Night Safari sudah memperhitungkan faktor keamanan. Meskipun hewan-hewan buas nampaknya berada di tempat terbuka, sesungguhnya mereka dikelilingi pagar yang ‘tidak kelihatan’. Ya, karena pagar ini letaknya lebih rendah, dan ditutupi dengan tanaman rambat—sehingga nampak seperti semak-semak belaka.

Hewan-hewan buas berada di bebatuan yang lebih tinggi dari pagar pembatas, sehingga kelihatannya mereka bisa sewaktu-waktu  melompat keluar. Padahal, jika dilihat lebih jeli, terdapat jarak antara bebatuan tinggi dengan pagar pembatas, sehingga tercipta sebuah ceruk curam di antaranya, yang menghalangi hewan dari dalam melompat keluar.

Tetapi efek yang ditimbulkan memang luar biasa. Kami benar-benar merasa seperti tengah berada di dalam hutan tropis. Saya berikan pujian luar biasa kepada siapapun yang telah merancang keseluruhan konsep dan lansekap Night Safari ini!!! Keren! Inilah pengalaman paling mengesankan saya di Singapura. Sayang kami tidak bisa mengambil foto-foto yang bagus di atas trem, karena kami dilarang untuk memotret menggunakan lampu kilat (blitz). Hal ini dikarenakan hewan-hewan tersebut sangat peka terhadap cahaya.

Setelah berkeliling dengan trem dan melihat hewan-hewan eksotis mulai dari landak, hyena, babi rusa, hingga antelope, kami pun turun dan memilih untuk berkeliling dengan berjalan kaki. Ya, di Night Safari tersedia juga walking trail, di mana kita bisa menyusuri kandang-kandang hewan dari sisi sebaliknya—dan di sini kita melihat hewan-hewan tersebut dari balik dinding kaca. Meskipun demikian di sekitar kita tetaplah lansekap terbuka dengan pohon-pohon besar. Langit malam yang dipenuhi bintang dan suara-suara alam membuat suasana menjadi lebih… romantis!

Oh ya, meski kami sangat terkesan dengan Night Safari, Mr. Basir—tour guide kami yang funky itu, ternyata lebih terkesan dengan Taman Safari kita. Mengapa? Ternyata karena di Taman Safari Indonesia, ia bisa berfoto dengan harimau putih yang bersandar di pangkuannya. “Di Indonesia hebat, bisa ada pawangnya, binatang buas pun bisa diajak berfoto bersama pengunjung. Kalau di Singapura sini, tidak ada pawang semacam itu,” katanya.

Wah, bangga juga kita sebagai orang Indonesia, ya! Hidup pawang! 🙂 (bukan cuma pawang binatang buas, di sini sih pawang hujan juga ada, ya?)

Sudah hampir pukul setengah sebelas malam ketika kami kembali ke bis dan berkendara menuju Chinatown untuk kembali ke hotel. Ah, sebelumnya, kami mampir dulu di 7-Eleven, yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari The Scarlet Hotel. Untuk apa? Membeli kartu telepon!

7-Eleven ini ramai sekali dikunjungi para pembeli, meski saat itu sudah hampir pukul setengah dua belas malam. Rupanya, di sekitar Chinatown, terdapat area Club Street yang penuh dengan klub dan kafe-kafe, yang ramai hingga dini hari. Jelas saja 7-Eleven ini selalu saja penuh dengan pembeli, sehingga kami pun harus menunggu cukup lama selagi si empunya toko mendaftarkan nomor GSM kami yang baru sambil mencocokkan data-data dengan paspor.

Menunggu hampir sekitar satu jam, kami pun sudah berbelanja berbagai minuman dan cokelat, lalu melihat-lihat mesin-mesin penjual camilan otomatis di sana. Untuk mengusir bosan, Hawe dan Chika pun sepakat untuk membeli mashed potato dari mesin otomatis. Dengan memasukkan uang 1 dolar, kita bisa mendapatkan mashed potato dengan saos barbecue. Di sinilah saya menyerahkan uang logam 1 dolar kepada Hawe, hasil kalah taruhan karena Hawe berhasil menemukan lokasi The Scarlet di peta.

picture-161

Kembali bosan setelah mencoba mesin camilan otomatis, kami pun mengambil foto ‘anak tiri’. Kebetulan, di dekat pintu masuk 7-Eleven ada sebatang sapu menganggur. Saya pun mengambil sapu itu dan ‘menyapu’ Dimas yang duduk di anak tangga.

picture-15

Setelah puas berfoto, tiba-tiba kami tertegun. Speaker di 7-Eleven melantunkan sebuah lagu yang tidak asing! Lho, ya ampun, itu kan lagu ST12! Saya sendiri tidak hafal apa judul lagunya, tetapi kami dengan bersemangat tertawa-tawa dan berkata,”Ya ampun, lagu ST12 diputar di Singapura!”

Lewat tengah malam, setelah mendapatkan kartu GSM Singapura, kami kembali ke hotel. Bukannya langsung menuju kamar masing-masing, kami berkumpul di kamar para lelaki, Dimas dan Hawe, yang memang terletak di lantai dasar. Untuk apa? Apalagi kalau bukan untuk online, mengecek Facebook, milis, dan Plurk, lalu… foto-foto?

picture-171

picture-181

picture-191

picture-20

Agak sulit dipercaya bahwa kami memang terus berfoto di kamar sambil tertawa-tawa histeris hingga pukul 2 dini hari, sebelum akhirnya menuju kamar masing-masing untuk tidur. Masih akan ada hari baru menunggu. Besok. Hari Sabtu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Akhirnya, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Changi Airport.

Hal pertama yang kami lakukan begitu keluar dari pesawat adalah foto-foto. Saking asyiknya foto-foto, jaring-jaring tas Dimas tersangkut dengan tali tas seorang perempuan–orang Indonesia juga. Maka mereka saling tarik-menarik sebentar sebelum akhirnya saling mendekatkan diri untuk melepaskan “jeratan” cinta.

Teman Mbak yang tersangkut itu kemudian nyeletuk:

“Jodoh, mungkin!”

Hihihi. Ehem. Sayang momen jeratan cinta ini luput dari jepretan kamera karena kami terlalu sibuk tertawa. Jadi tak mengapa jika cerita yang ini kemudian dianggap hoax.

picture-19
mbak-mbak yang berjaga di konter UOB di Changi Airport tertawa terkikik-kikik melihat Dimas berpose seperti di atas. mereka berusaha menahan tawa, padahal sebetulnya tak apa tertawa. Dimas sudah biasa ditertawakan ketika tengah berpose 😀 hehehe

Setelah mampir ke money changer untuk menukarkan uang yang tak jadi melayang untuk membayar fiskal, kami pun keluar dari bandara, mencari-cari penjemput kami. Kabarnya, kami akan dijemput oleh tour guide yang disediakan oleh Singapore Tourism Board (STB), namanya Mr. Basir. Setelah celingukan, kami pun terdampar di bandara, dan saya memberikan nomor telepon Mr. Basir kepada Nia–yang kemudian meneleponnya untuk menanyakan di manakah gerangan ia berada.

Ternyata Mr. Basir berdiri di depan kami, dengan topi koboi-nya, hanya saja kami tidak bisa melihat tulisan nama yang tertera di amplop putih yang dipegangnya.

😀

Maka, bersama Mr. Basir, kami naik ke atas bis besar yang disediakan STB. Padahal kami hanya berlima, lho! Tetapi bis yang lega membuat kami bisa duduk sendiri-sendiri, di dekat jendela.

picture-24

Kami  pun melaju menuju The Scarlet, hotel yang akan menjadi tempat penginapan kami di Singapura. Menurut Mr. Basir, The Scarlet ini adalah hotel kepunyaan orang Indonesia. Konsepnya boutique hotel, terletak di Erskine Road, di daerah Chinatown. Kamarnya didesain dengan nuansa berbeda-beda. Kabarnya, dahulu The Scarlet ini adalah sebuah rumah, yang kemudian disulap menjadi hotel.

picture-27

Mr. Basir (yang fasih berbahasa Indonesia karena kedua orang tuanya berasal dari Jawa, namun kini telah menjadi warga negara Singapura), juga menceritakan bahwa orang-orang terkaya di Singapura sebenarnya adalah orang-orang Indonesia. Bahkan pemilik hotel-hotel termewah di Singapura pun orang yang sama, orang Indonesia yang juga memiliki jaringan bank terkenal…

“Orang Indonesia itu kaya-kaya, bayangkan saja, turis terbesar Singapura adalah orang Indonesia. Banyak di antara mereka datang untuk berbelanja, dan kalau menginap pun mereka menginap di hotel-hotel bagus di sekitar Orchard. Banyak juga yang datang untuk berobat. Rata-rata rumah sakit di Singapura, pasti punya staff yang bisa berbahasa Indonesia, karena memang pasiennya kebanyakan dari Indonesia,” kata Mr. Basir, sembari menunjukkan kepada kami lokasi sebuah grand casino yang akan segera dibangun di Singapura. “Nah, kasino ini nantinya sepertinya juga akan banyak dikunjungi orang-orang Indonesia.”

Ketika bis memasuki Chinatown yang jalan-jalannya sempit, namun bersih dan tertata rapi, kami pun menikmati pemandangan gedung-gedung cantik di kanan-kiri jalan. Tak lama kemudian, kami berhenti di depan The Scarlet yang cantik, terletak di ujung jalan. Karena kami tiba lebih cepat dan belum dapat masuk ke kamar, maka kami hanya check-in sebentar, sebelum berangkat lagi.

Walau demikian, kami sempat berfoto di lobi-nya yang megah 🙂

picture-21

picture-22

Dari hotel, kami langsung menuju Orchard Road–yang terkenal itu. Para lelaki bersama Mr. Basir hendak menunaikan sholat Jumat, jadi kami para perempuan dilepas di Orchard Road untuk berbelanja sebentar, sebelum berkumpul lagi pada sekitar pukul setengah 2 siang.

Dimas sudah hampir merajuk karena membayangkan dirinya akan ditinggal dalam perjalanan menyusuri Orchard–ya, karena di jadwal yang diberikan oleh STB memang tak ada jadwal mengunjungi Orchard Road. Padahal, menurut Dimas, tidak sah rasanya ke Singapura jika belum menjejakkan kaki dan berfoto di bawah plang jalan di Orchard Road. Tetapi Dimas tetap taat menjalankan ibadah dan tahan terhadap godaan…

Begitu dilepas di Orchard Road, saya, Nia, dan Chika, langsung berjalan-jalan menuju Lucky Plaza. Di sini kami memborong benda-benda yang dijual SIN $ 10 untuk 3 barang. Salah satunya, kami membeli Sisterhood Ring, cincin dengan model yang sama, sebagai pengingat perjalanan kami di Singapura…

picture-26

Kami tak lama berada di Orchard Road, karena sudah kembali ditunggu oleh Mr. Basir dan para lelaki di bis. Berikutnya, menurut jadwal, kami akan makan siang–menyantap seafood bersama Kendra Wong, staff STB di Singapura. Lapar! Maka, naiklah kami ke atas bis.

Sepanjang perjalanan, Chika terus terisak karena tak dapat nge-Plurk. Maklum, kami belum membeli SIM Card Singapura. Saya hanya dapat berharap dan berdoa, semoga sakaw bandwidth Chika akan sedikit terobati dengan menyantap hidangan laut. Karena untuk orang seperti Chika, yang selalu membawa laptop dan daring* di mana pun ia berada, saya mengerti betapa beratnya penderitaan yang mesti ditanggung Chika kala itu…

next: CHIKA betulan sakit gara-gara sakaw bandwidth? Dimas ditertawai turis-turis ketika sedang foto-foto di Merlion? Tunggu lanjutan ceritanya, ya!

(bersambung)

*daring = dalam jaringan / online. kering = keluar jaringan / offline. kering adalah istilah yang kami buat sendiri di atas bis.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Dengan tiket dan jadwal perjalanan ke Singapura di tangan (walau masih tak percaya karena menang kontes), saya pun melingkari tanggal di kalender. Ya, tanggal 6-8 Februari, saya akan berada di Singapura bersama kawan-kawan saya untuk menikmati liburan gila kami.

picture-12

Pesawat yang kami tumpangi adalah Sriwijaya Air, yang akan berangkat pukul 9:20. Maka kami sudah bersiap-siap untuk bertemu di bandara sekitar pukul 7 pagi. Oh ya, penerbangan Sriwijaya Air dengan rute Jakarta-Singapura ini sudah dibuka pada Desember lalu. Harganya? Kalau tidak salah sekitar US$150-160, sudah termasuk pajak.

Pagi itu, sekitar pukul setengah 7, saya sudah tiba di bandara dan langsung mencari Dimas di KFC. Dimas sudah duduk manis di sana dengan latop terbuka di atas meja. Rupanya Dimas sudah berada di sana sejak pukul setengah 6 pagi, dan sudah menghabiskan sarapan KFC-nya. Tak lama kemudian, Hawe datang dengan wajah sedikit tegang.

Ya, bukannya apa-apa, beberapa hari sebelum keberangkatan, baik Dimas maupun Hawe memang sudah berniat mengurus NPWP alias Nomor Pokok Wajib Pajak. Karena mulai tahun 2009, bagi mereka yang telah memiliki NPWP akan dibebaskan dari kewajiban membayar fiskal jika hendak pergi ke luar negeri. Dulu biaya fiskal ini adalah 1 juta rupiah, namun kini bagi yang tak memiliki NPWP, biayanya memuncak menjadi 2.5 juta rupiah.

Malam sebelumnya, Hawe sudah ketar-ketir, karena mendengar isu bahwa hanya mereka yang sudah mengurus NPWP sebulan sebelum tanggal keberangkatan-lah yang bisa dibebaskan dari kewajiban membayar fiskal. Dimas pun nampaknya sudah mendengar desas-desus serupa, sehingga kedua lelaki itu sempat nampak gundah. Yah, 2.5 juta rupiah memang bukan jumlah yang sedikit.

“Tapi tak apalah, hitung-hitung biaya liburan,” ujar Hawe, walau saya tahu ia tetap tidak rela 😀

Sambil menunggu kedatangan Chika dan Nia, kami pun melihat-lihat buku panduan yang diberikan oleh Singapore Tourism Board (STB). Di bagian belakangnya terdapat peta Singapura.

“Ayo, cari hotel kita! Apa namanya? The Scarlet, ya? Di Erskine Road?” ujar saya sembari mulai menelusuri garis-garis berwarna-warni di atas peta. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Nyaris setengah jam berlalu, dan The Scarlet masih belum bisa ditemui di atas peta.

“Kok nggak ada, ya?” Hawe merutuk.

“Mungkin ini peta tahun berapa, gitu…” ujar Dimas yang masih sibuk dengan laptopnya.

Saya pun menyerah, menutup peta, kemudian menantang Hawe. “Ayo, kalo lo bisa nemuin hotel kita itu, gue kasih 1 dolar!”

“Bener, ya?” Hawe pun membuka kembali petanya dan menelusuri garis-garisnya selama sekitar… 10 detik, sebelum berkata,”Nah, ini dia The Scarlet!”

Oh, selamat tinggal, 1 dolar 🙁

Sekitar pukul 7:15, Chika menampakkan batang hidungnya. Maka rombongan kami pun lengkap, kecuali Nia. Saya pun mengirimkan SMS kepadanya, bertanya (untuk yang ketiga kalinya), sudah berada di manakah dia saat itu. SMS balasan yang saya terima mengerikan: “Udah, deh. Jangan ngerecokin gue dulu. Kalo telat gue ditinggal aja. Ini gue lagi menuju ke bandara, tapi taksi gue gila. Nanti gue cerita.”

Hiii. Dan saya pun berhenti mengirim SMS dan bertanya di mana Nia berada 😀

Ternyata, ada kisah mengerikan, mengharukan, sekaligus menggelikan dari tragedi perjalanan Nia menuju bandara pagi itu. Seperti apa ceritanya? Ah, saya pikir lebih baik Nia saja yang bercerita di blog sebelah.

Maka, saya, Chika, Dimas, dan Hawe pun sepakat untuk check-in duluan dan (sesuai perintah) tidak menunggu hingga Nia datang. Setelah mengecek tiket, dengan berdebar, kami pun berjalan menuju pos pengurusan fiskal, dan mengumpulkan keempat kartu NPWP kami untuk diserahkan kepada petugas.

Dimas dan Hawe sudah harap-harap cemas. Mereka sudah menyiapkan berbagai skenario jawaban jika ditanya perihal kartu NPWP mereka yang belum ada satu bulan. Mulai dari “tidak tahu” sampai “tidak membawa uang”. Kartu-kartu NPWP dan paspor kami kini sudah berada di tangan petugas. Semenit. Dua menit.

Tidak sampai lima menit kemudian, petugas menyerahkan SEMUA kartu dan paspor kepada kami, disertai cap bebas fiskal. Sudah. Selesai. Pengurusan fiskal selesai. Tanpa ada pertanyaan, pemeriksaan, atau keharusan mengisi formulir. Mudah, cepat, dan singkat.

Berjingkat-jingkat beberapa langkah dari pos pembayaran fiskal, barulah kami berteriak lega sambil tertawa-tawa. “Udah? Gitu doang? Bebas fiskal?”

Tapi Hawe masih enggan bersenang-senang. “Ini belum. Mungkin nanti masih bisa dikejar di imigrasi, siapa tahu mereka baru nge-cek, kartu yang ini belum satu bulan. Lalu diberhentikan di imigrasi. Jangan senang dulu.”

Dimas yang sudah tersenyum-senyum pun kembali tegang ketika kami berjalan menuju pos imigrasi.

Di bagian imigrasi, kami pun duduk-duduk di lantai sambil mengisi formulir imigrasi. Tidak lupa, seraya foto-foto. Dan saat inilah Nia datang dengan wajah aneh, antara mau tertawa dan marah. Lalu ikut mendamparkan diri di lantai bandara bersama kami, dan berkisah mengenai tragedi paginya di dalam taksi. Mendengarkan cerita Nia, kami pun terbengong-bengong dan tertawa ngakak, kemudian lanjut menimpali dengan obrolan ramai.

Kira-kira 40 menit kemudian, ketika antrian di bagian imigrasi mulai surut, kami pun mengantri di sana. Petugas yang melayani kami, perempuan, yang mungkin melihat kami duduk-duduk sambil mengobrol riuh, kemudian berkata,”Nggak sekalian ngopi-ngopi aja tuh, tadi?”

“Wah, kalau bisa ngopi-ngopi sih mungkin lanjut  ngopi, Mbak,” saya menimpali pelan sambil tertawa.

Lolos dari bagian imigrasi ini, Chika pun berbisik kepada saya,”Itu Mbak-nya sebenarnya sarkastis atau memang mau melucu, ya?”

“Ah, anggap saja memang mau melucu, Chik…” ujar saya 🙂

Akhirnya kami berlima pun berjalan menuju gerbang keberangkatan, dengan Dimas dan Hawe yang masih menengok-nengok ke belakang, khawatir kalau-kalau petugas di loket fiskal masih mengejar mereka hingga ke titik keberangkatan. Paranoid, sungguh!

Begitu sudah naik ke atas pesawat, dengan jadwal keberangkatan yang tepat waktu, dan pesawat lepas landas, barulah kedua lelaki itu agak tenang. Aksi belanja-belanja pertama pun sudah terjadi di atas pesawat, bahkan sebelum kami sampai di Singapura. Adalah Dimas, yang membeli portable charger yang ditawarkan oleh Sriwijaya Air.

Meski demikian, kami tetap menakut-nakuti Dimas dan Hawe, mengatakan jangan-jangan petugas fiskal telah menunggu di Changi Airport, Singapura, untuk memberitahukan bahwa mereka tetap harus membayar fiskal karena NPWP-nya belum berumur satu bulan.

(bersambung)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya tidak pernah merasa menjadi orang yang beruntung—terutama jika dikaitkan dengan acara undian atau doorprize.

Pengalaman mengajarkan bahwa saya tak perlu takut pulang duluan sebelum acara usai, tanpa harus menunggu doorprize. Toh, saya memang tidak pernah memenangkan sesuatu yang lebih dari sekadar buku catatan, mug, atau kaos. Itu pun frekuensinya sangat jarang dan bisa dihitung dengan jari.

Ya, bayangkan, seumur hidup saya, tak lebih dari 7 kali saya memenangkan doorprize atau undian. Tentu, ini ironis sekali jika dibandingkan dengan Pitra yang kabarnya sering sekali memenangkan doorprize, bahkan di acara yang digagasnya sendiri.

Karena itulah, saya benar-benar terkejut ketika mendapatkan sebuah email dari Singapore Tourism Board, yang menyatakan bahwa saya terpilih menjadi pemenang Wacky Weekend Contest. Hadiahnya? Menghabiskan akhir pekan di Singapura dengan seluruh biaya ditanggung Singapore Tourism Board. Dan gilanya lagi, saya diijinkan untuk mengajak 4 orang teman ikut serta dalam liburan akhir pekan ini!

Begitu mendapatkan email ini, saya sempat ragu sejenak. Takut jika-jika ini tipuan. Saya lihat kembali alamat si pengirim email. Ah, alamat emailnya di @stb.gov.sg. Bukan email Yahoo! atau Gmail. Nampaknya bukan tipuan. Inilah kewaspadaan (atau skeptisisme?) orang yang tinggal di Indonesia dan sudah lelah menerima email atau SMS menang undian.

Waktu saya katakan pada salah seorang sahabat saya bahwa saya memenangkan kontes ini, hal pertama yang dia tanyakan adalah: “Lo yakin, itu beneran? Bukan orang iseng?” 😀

Ah, nyatanya, saya benar-benar memenangkan kontes itu!

Setelah yakin benar saya tidak tertipu, berikutnya saya kembali sakit kepala memikirkan siapa saja 4 orang kawan yang dapat saya ajak ke Singapura, melewati liburan gila bersama saya. Nama-nama dan wajah-wajah berkelebatan (hiperbola), tetapi akhirnya ada 4 nama yang muncul. Mereka adalah orang-orang yang paling banyak membantu saya melewati tahun 2008 🙂

Dimas Novriandi, yang bahu-membahu saling menguatkan bersama saya hingga dini hari kala mempersiapkan Pesta Blogger 2008, ketika kelopak mata sudah hampir terpejam sementara masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kantuk yang tidak hilang berhari-hari—euh, seminggu, tepatnya. Dimas, yang membuat stress saya hilang dengan kelakuannya yang aneh …

Chika Nadya, yang sebetulnya baru mulai saya kenal pada persiapan acara Pesta Blogger 2008, tetapi kami lantas menjadi begitu dekat. Chika, yang sabar mendengarkan semua unek-unek saya dan menghibur saya di kala saya membombardirnya dengan telepon dan SMS pada suatu sore yang menggila dan depresif dengan mata bengkak.

Hawe, yang awalnya sebatas saya kenal karena ia adalah wartawan dan saya adalah seorang humas. Tetapi manusia platonis itu selama beberapa tahun terakhir telah menjadi teman baik untuk mengobrolkan hal-hal aneh (baca: cinta yang tak pernah ada atau membahas premis “Nothing is everything“) over a cup of poci tea and coffee untuk saling merekomendasikan buku-buku terbaru, dan memperbincangkan tulisan serta cerita-cerita pendek yang tidak pernah selesai.

Nia, yang membantu saya si melankolis ini tetap seimbang. Karena Nia, si pemikir praktis itu, selalu bisa membuat saya menertawakan melankoli dan menjadi biasa-biasa kembali. Dia juga yang memulai gerakan Coin A Chance! bersama saya, orang pertama yang langsung menyambut ide mengumpulkan koin ini dengan aksi nyata.

picture-18

Am so blessed to have you around, guys! (cozy) 😀

Jadilah pada suatu sore di hari Jumat, saya secara resmi mampir ke kantor Singapore Tourism Board (STB) untuk menerima tiket-tiket pesawat dan jadwal acara jalan-jalan di Singapura untuk tanggal 6-8 Februari 2009. Dan sempat berfoto-foto bersama teman-teman di sana: Farhana, Dewi Astuti, Siska, dan Abdul Rahman bin Mohideen. Juga bersama maskot orang utan bernama Ameng 🙂

picture-16

Yang lebih gila lagi, saya tercengang melihat nama Nila Tanzil tertulis di dalam jadwal sebagai anggota rombongan. “Ya, Nila itu blogger yang kami minta untuk meliput acara jalan-jalan kalian di Singapura,” jelas Siska dari STB. Nah, lho! What a coincidence! Karena Nila adalah sahabat baik saya–yang apartemennya biasa saya inapi jika tengah main ke Singapura (gratisan, gratisan, hehehe).

Pada perjalanan pulang dari STB, menggenggam sekantong tiket, brosur, dan jadwal perjalanan, saya menemukan hujan deras telah turun di luar. Dengan angin kencang yang membuat ranting-ranting pohon berserakan di sepanjang trotoar. Jalanan macet total.

Kebetulan, setelah serangkaian pesan SMS, saya mengetahui bahwa Nia tengah melewati depan gedung STB dengan sebuah taksi. Saya pun mengeluarkan payung dan berlari menuju trotoar, hendak mencegat taksi yang tengah ditumpangi Nia. Hujan deras dan angin kencang membuat saya mati-matian memegangi payung saya agar tidak terbang.

Sia-sia.

Dalam beberapa detik, payung saya terbalik, melayang di udara sebentar sebelum bisa saya tangkap kembali. Deras hujan mengguyur membasahi tubuh saya. Yak, di sanalah dia, seorang perempuan dengan kantong di tangan dan payung terbalik diterbangkan hujan. Basah kuyup di pinggir trotoar, memanyunkan bibir pada kemacetan… tetapi tak mengapa. Perempuan itu selalu suka hujan 🙂

Dan lagi, sebentar lagi ia akan menikmati liburan!!!

(bersambung)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

— sneak preview —

Tiga hari kemarin, saya bersama Chika, Nia, Dimas, dan Hawe berlibur ke suatu tempat. Berhubung begitu masuk kantor saya dicecar dengan serentetan pekerjaan, maka saya putuskan untuk memasang satu foto yang sukses membuat saya terpingkal-pingkal baik saat mengambil foto sampai ketika memperlihatkan pada teman-teman. Saya belum sempat menulis postingan tentang liburan kemarin.

Gila! Liburan kemarin benar-benar gila! Foto ini diambil dengan menggunakan kamera BlackBerry-nya Nia, dengan setting-an entahlah. Yang penting kami semua mengambil foto-foto gila selama perjalanan. Laporan perjalanan akan saya tulis setelah saya bisa bernafas lega.

Selamat menikmati foto 😀

Ratapan anak tiri, foto diambil di 7-Eleven Chinatown
Ratapan anak tiri, foto diambil di 7-Eleven Chinatown

Disclaimer: isi posting ini dikopipas langsung dari postingan Chika, tapi fotonya beda 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

:: SLANK

Memang sedikit aneh, tetapi hanya selang beberapa hari setelah saya mengunggah tulisan ini (mengenai sahabat saya yang berkesempatan untuk nongkrong bareng Kaka dan Bimbim Slank di Columbus, Ohio), saya mendapatkan undangan untuk menonton private concert-nya Slank di rumah Dubes Amerika Serikat, Cameron R. Hume. Kabarnya, konser kecil ini dibuat dalam rangka menyambut kembalinya Slank setelah tur mereka di Amerika sana.

Maka, rombongan kecil para blogger yang terdiri dari saya, Dimas, Chika, Dilla, Adit, Iqbal, Goenrock, Ronggur, Ridu, dan Bena pun bertemu di rumah sang Dubes di Taman Suropati—untuk menikmati Slank membawakan beberapa lagu lawas mereka—dalam Bahasa Inggris. Agak aneh juga mendengar mereka menyanyikan lagu “terlalu manis, untuk dilupakan…” yang diterjemahkan mentah-mentah menjadi “too sweet to forget…” 😀

***

:: SEMINYAK

Dua hari setelahnya, pada pukul setengah tiga siang di hari Kamis yang panas membakar, saya tertidur pulas di dalam mobil menuju bandara Soekarno-Hatta.

Penerbangan menuju Denpasar pada pukul lima sore akan membawa saya ke Hotel Santika—tempat di mana saya dan rombongan menginap—untuk memberikan pelatihan komunikasi bagi salah satu organisasi nirlaba di sana pada hari Jumat, di hotel yang sama.

Setelah selesai memberikan pelatihan pada pukul lima sore, saya dan kawan saya bertolak menuju Hotel Mutiara Bali di Seminyak untuk memperpanjang jam ‘kerja’ kami di Bali menjadi hari-hari liburan. Sepanjang perjalanan, saya pun ber-SMS ria dengan Pak Dhe Mbilung, mengatur janji untuk makan malam romantis bersama 😀

mutiarabali
mutiara bali, hotel kecil yang menyenangkan, terletak di belakang jajaran restoran sepanjang seminyak trattoria-mykonos-ultimo, letaknya di jalan kecil di belakang ultimo, tersembunyi dari keramaian. tempat yang cocok untuk mengasingkan diri 🙂

Pak Dhe Mbilung menjemput kami di hotel pada pukul setengah delapan malam, bersama—Dewi! Iya, Dewi, yang dulu punya blog di secret-silence.blogspot.com, yang sudah saya anggap teman sejiwa di blog seperti Atta, yang saya sukai gaya menulisnya, yang saya kunjungi blog-nya secara berkala, hingga akhirnya Dewi menutup blog-nya 🙁

Akhirnya, di lobby hotel, saya bertemu Dewi juga—yang cantik sekali (!), seperti gadis Bali yang ada di foto-foto National Geographic—walaupun Dewi bukanlah orang Bali 😀

mykonos-pakdhedandewi
Pak Dhe Mbilung curi-curi pandang pada Dewi yang secantik bunga mawar di atas meja 😀

Bersama Pak Dhe Mbilung dan Dewi, kami mendamparkan diri di MYKONOS, sebuah restoran Yunani tak jauh dari hotel—menyantap roti pita dan shoarma udang, kemudian membiarkan Pak Dhe Mbilung menikmati 2 gelas lemon tea, 3 scoops es krim dan secangkir kopi, serta mempersilakan beliau menghabiskan dessert yang dipesan kawan saya 😀

Dari MYKONOS, Pak Dhe Mbilung dan Dewi menurukan saya di Hu’u Bar untuk nongkrong-nongkrong sebentar bersama kawan saya sebelum kembali lagi ke hotel. Ah, Hu’u Bar—yang di bagian belakangnya terdapat meja-meja dan bantal-bantal besar di atas rumput, di bawah langit terbuka, diterangi lampu-lampu kecil yang bersinar seperti kunang-kunang. Banyak sekali rombongan keluarga yang hadir malam itu; juga pasangan yang menikmati makanan ditemani sebotol wine. Ah, Hu’u merupakan tempat yang menyenangkan untuk melangsungkan pesta pernikahan kecil-kecilan 😉 *ah, dasar perempuan-perempuan*.

Hari Sabtu siang, saya dan kawan saya yang melewatkan sarapan pagi di hotel, bergegas menuju CAFE BALI untuk makan siang lebih awal. CAFE BALI ini juga masih terletak sejajar dengan MYKONOS, dan bisa dicapai dengan berjalan kaki dari hotel tempat kami menginap. Nasi dan sate ayam serta sate sapi menjadi pilihan, karena perut kami rasanya belum ‘nendang‘ jika belum terisi nasi 😀

cb
restoran yang menyenangkan dan enak untuk nongkrong berlama-lama, menyesal tak bawa laptop, karena ternyata di sini semua orang sibuk berwi-fi 😀

Di restoran inilah kami menemukan buku berjudul My Life in Bali, yang keren sekali, karena mengupas berbagai pertanyaan mengenai Bali. Misalnya mengenai lambang swastika yang bisa ditemukan di mana-mana, kebiasaan mandi bersama di sungai alias communal bathing, penyembuh spiritual atau balian, juga mengenai persembahan/sesajen yang biasa diletakkan di depan rumah… semua ini dijelaskan dengan bahasa anak-anak yang sangat lugas, jujur, dan… membuat orang-orang asing bisa mengetahui berbagai hal mengenai Bali dan kebiasaan-kebiasaan di Pulau Dewata itu; yang mungkin dirasa agak kurang sopan jika ditanyakan langsung secara terus-terang kepada penduduk setempat.

life
buku ini bagus sekali, dan sebenarnya saya ingin membelinya, tetapi harganya mahal, 350ribu rupiah. harga yang pantas sebenarnya, karena bukunya tebal dan lukisannya bagus. selain dalam bahasa inggris, buku ini juga tersedia dalam bahasa perancis.

Buku indah ini ditulis oleh Sandrine Soimoud, seorang asing yang menetap di Bali. Saya sempat mempertanyakan mengapa harus orang asing yang menulis buku bagus semacam ini 🙂 tetapi kemudian teringat oleh saya, terkadang hal-hal paling sederhana mengenai kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari yang patut dipertanyakan, memang akan lebih jelas terlihat oleh orang asing. Kita yang berada di tengah lingkaran kebiasaan itu sudah terlalu terlibat menjadi bagian di dalamnya, sehingga merasa tak perlu lagi mempertanyakan apa-apa.

Begitukah? 🙂

Selepas makan siang, sekitar pukul setengah satu, saya dan kawan saya pun berjalan kaki menyusuri Seminyak—melihat-lihat etalase toko yang berjajar rapi sepanjang jalan, dan sesekali berhenti di tempat-tempat yang kami anggap menarik dan menjanjikan, terutama di tempat-tempat bertuliskan SALE 50% 😀

seminyak
hitakara, toko yang menjual aneka perhiasan lucu hasil karya desainer bali, dan harganya sangat ramah di kantung. di sebelah kanan adalah jacques ruc, yang dipenuhi tas-tas rotan berwarna-warni dan memiliki display serta sofa yang menyenangkan 🙂

Tak terasa, ternyata sudah pukul empat sore. Kami sudah berjalan kaki selama sekitar 3.5 jam—dan mulai dehidrasi 😀 Kembali menuju arah hotel tempat kami menginap, kami pun bersantai sejenak di THE JUNCTION, sebuah kafe kecil tak jauh dari Seminyak Square, memesan lime juice dan pancake pisang cokelat yang ternyata porsinya sangat besar… sebelum kembali ke hotel untuk menyegarkan diri dan tidur-tiduran sebentar.

thejunction
tempat yang ramah, terang, dan berangin, cocok untuk mengistirahatkan kaki sambil membaca-baca majalah. tirai putih bergantungan di the junction akan diganti menjadi tirai merah begitu pukul setengah enam sore untuk memberikan ambience ruangan yang berbeda.

Malam harinya, kami berjalan kaki dari hotel menuju ULTIMO, sebuah restoran Italia—masih di jajaran yang sama dengan MYKONOS dan CAFE BALI. Di sinilah saya merasakan fetucinni terlezat di dunia 😀 Jika Anda berada di Seminyak, saya sarankan mampir ke ULTIMO! Selain suasananya sangat romantis (kenapa kami berada di tempat-tempat romantis terus, ya?), harga makanannya juga bisa dibilang tak terlalu mahal, apalagi jika dibandingkan dengan Jakarta.

ultimo
wajah senang karena perut kenyang, di bawah penerangan lampu remang-remang dan lilin yang benderang...

Dengan 85ribu rupiah saja, Anda sudah bisa mendapatkan full set menu, yang terdiri dari salad, fetucinni tuna, sirloin steak (Australian) dengan mashed potato, serta fruit bowl dengan sorbet. Dan makanannya memang luar biasa enak… pantas saja restoran ini selalu nampak full dari luar, dan Anda harus sabar menunggu selama beberapa menit untuk mendapatkan tempat duduk.

Pukul setengah sepuluh, kami menuju kawasan pantai Double Six tak jauh dari sana untuk menonton DJ Kyau dan Albert dari Jerman yang akan bermain di Magnifisound di DOUBLE SIX CLUB. Tetapi pukul sepuluh malam ternyata masih terbilang ‘pagi’. Double Six Club masih sepi tak berpenghuni. Maka, kami pun mendamparkan diri di BACIO—sebuah klub kecil tak jauh dari situ, dan satu-satunya klub yang sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan 😀

Kami pun duduk di bar, karena meja-meja lain sudah ditempeli tulisan ‘reserved‘—mengobrol sambil nge-plurk dan meng-update status Facebook 😀 Pemandangan yang aneh, mungkin. Dua orang perempuan sibuk mengutak-atik telepon genggam di bar—dan lebih aneh lagi karena saya memesan secangkir kopi! 🙂

Di BACIO inilah, kami melihat DJ Ai—yang rupanya memang akan dijadwalkan main di sana. Saya kemudian berpikir, betapa banyaknya DJ-DJ yang terlihat keren ketika berada di tengah kegelapan klub, dengan lampu-lampu yang terang-redup-terang-redup, di belakang kotak kaca yang memagarinya dari pengunjung di lantai dansa—tetapi ketika pagi datang, masihkah mereka nampak sekeren tadi malam? Entahlah 😀 *tetapi saya setuju bahwa DJ Ai nampak sangat keren malam itu* 😉

Mendekati tengah malam, barulah kami beranjak menuju Double Six Club yang sudah mulai dipenuhi pengunjung. Tetapi kerumunan baru mulai ramai menjelang pukul tiga pagi. Saya dan kawan saya yang awalnya merangsek ke tengah kerumunan untuk bisa lebih dekat melihat Kyau dan Albert, akhirnya menyerah dan menyingkir ke pojok meja bar yang dekat dengan mesin pendingin, karena tak tahan dengan pengapnya asap rokok 😀

Oh ya, sebuah catatan spesial dari Seminyak: saya menemukan sebuah toko furniture dan sebuah spa bernama DI SINI. Ah, apakah ini semacam pertanda? Ataukah semesta hanya ingin bermain-main dengan saya? 😉

disini
Di Sini ada di Bali! 🙂

***

:: LAPTOP HP MUNGIL ITU

Di tengah-tengah perjalanan di Seminyak inilah keinginan saya untuk membeli laptop mungil muncul lagi. Senangnya bisa bepergian membawa-bawa laptop untuk dipakai menulis dan mengetik cerita, tanpa harus terbebani dengan berat dan besarnya laptop yang hendak dibawa.

Beberapa waktu lalu, saya sempat jatuh hati pada ASUS EEE PC yang kecil mungil dan berwarna putih itu, tetapi kawan saya kemudian datang ke kantor membawa HP 2133 Mini Note mungilnya, yang kelihatannya lebih “tidak rapuh” dibandingkan ASUS EEE PC itu. Dan lagi, kemudian saya berpikir, adalah HP yang mensponsori hadiah untuk doorprize Pesta Blogger di saat-saat terakhir. Lantas, apakah ini berarti akan lebih baik kalau saya membeli HP? 😉

hpmininote
uh, dengan dolar yang naik-turun, rasanya harus menunda dulu membeli si mungil ini...

Ada yang berkenan memberikan saran? ASUS EEE PC atau HP 2133 Mini Note? 😀

***

:: BLOGGERSHIP

Kemarin, ketika saya kembali ke kantor setelah liburan singkat di Bali itu, saya menemukan sudah ada puluhan aplikasi dari para blogger untuk mengikuti BLOGGERSHIPscholarship untuk blogger yang diselenggarakan Microsoft.

picture-1

Untuk informasi saja, aplikasi akan ditutup tanggal 15 Desember 2008. Jadi untuk yang belum mengirimkan aplikasinya, ayo kirim segera, dan baca keterangan lengkapnya di sini.

Uh, sayang sekali saya tidak boleh ikut mengirimkan aplikasi— padahal terbuka kesempatan untuk jalan-jalan lagi jika bisa menang Bloggership 🙁

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Bandung adalah perjalanan yang membukakan.


Perjalanan yang dilakukan sendirian, diputuskan secara tiba-tiba. Sedikit impulsif. Sangat berbeda dengan saya yang biasanya. Begitu pula yang dikatakan teman saya, ketika sepulangnya dari Bandung, saya membalas emailnya yang hanya terdiri dari dua kata: “Gimana Bandung?” dengan rentetan cerita panjang.

Senang bahwa pertanyaan dua kata-ku dijawab dengan respon yang ‘sedikit’ lebih dari dua kata. Gak nyangka. Aku bisa merasakan emosimu dan membayangkan ketika kamu menulisnya. Rasanya, aku tidak pernah melihat (tepatnya, membaca)-mu seantusias ini. Kamu itu menarik sekali secara kepribadian. Ada antusiasme dan letupan emosi, celetukan tidak biasa. Tapi lebih sering semua berputar di dalam otak/hati dan semua tercetus dalam bentuk simbol-simbol yang cukup halus.

Asli, waktu baca emailmu itu aku lagi di gym tuh. Walhasil, aku senyum-senyum sendiri (agak-agak terharu sedikit). Setelah itu, perasaanku jadi ikut terangkat. All is going to be ok.

Tapi beneran, aku sebenarnya sudah antusias ketika kamu bilang akan ke Bandung sendirian. Wah, sebuah terobosan. Ini baru pertama kali? Terobosan beneran. Bahkan mungkin lebih dari yang kamu–kita?–sadari.

Tidak banyak orang yang memutuskan untuk pergi sendirian tanpa kenal siapa pun. Itu harus pake rasa pasrah–sikap whatever will be will be. Dan aku yakin seyakin-yakinnya bahwa seorang kamu akan menikmati kesendirian itu. Tidak semua orang bisa, tapi kamu bisa.

Bandung membukakan mata saya akan hal-hal apa saja yang bisa saya lakukan. Hal-hal yang saya cintai. Hal-hal yang saya anggap penting. Lebih penting dibandingkan yang orang lain anggap penting. Apa-apa saja yang menarik dari sudut pandang saya. Kesempatan untuk mencumbui kesendirian pelan-pelan tanpa perlu merasa kesepian. Bukankah itu merupakan suatu kemewahan tersendiri?

Bandung juga membukakan kesempatan bagi saya untuk melihat masa lalu dan masa kini bermain-main dalam bingkai jendela. Dalam perjalanan panjang berlatar gedung-gedung dengan arsitektur art deco itu, saya memotret semuanya. Masa lalu dan masa kini. Juga memberanikan diri untuk mengintip masa depan dari balik jendela.

Bali–Kuta, Legian, Seminyak, Uluwatu, Jimbaran, hingga Dreamland, adalah perjalanan yang membebaskan.

Selalu demikian. Ketika kau merasa berada di ranah tak dikenal, di mana tak seorang pun peduli apa yang kau katakan, apa yang kau kenakan, dan bagaimana kau berpenampilan. Tempat di mana semua yang kau lakukan bisa mendapatkan permakluman atas nama liburan.

Tempat di mana kau merasa begitu kaya hanya dengan sandal jepit, celana pendek, dan kaos oblong, mengubur kaki di dalam pasir di siang bolong, kemudian memasang iPod dan asyik sendiri mendengarkan MIKA menyanyi, tak peduli keadaan sekitar, memandangi ombak di lautan, orang-orang yang berenang dengan bikini berwarna-warni, dan cakrawala di kejauhan.

Juga mengagumi barisan pemuda-pemuda tampan ala boyband yang berjemur di atas pasir pada pukul 2 siang dengan dada telanjang. Seperti berteriak, “Dipilih, dipilih, masih hangat, masih hangat…”

Ah, memandangi mereka semua itu saja sudah bisa memberikan saya kesenangan selama berjam-jam. Terik matahari pun terasa lebih ramah. Semua indah. Panas dan hujan. Semua indah ketika kita merasa bebas untuk menjadi diri sendiri, apa adanya.

Ubud adalah perjalanan yang melepaskan. Melepaskan semua. Pekerjaan dan rutinitas sehari-hari. Pemikiran tentang menulis. Kawan-kawan di ranah maya. Blogwalking. Semua terhenti di Ubud. Semua tergantikan dengan berjalan kaki selama 2-3 jam sehari, menyusuri jalan-jalan, pasar-pasar, sawah-sawah, dan toko-toko kecil… menumpang ojek melewati jalanan macet ketika kaki sudah nyaris lecet.

Memandangi hutan di kejauhan. Tidur dalam desau angin dan gesek dedaunan, suara-suara alam dan gemericik air. Sungai yang mengalir di bawah. Binatang-binatang yang bermunculan dari segala arah. Udara dingin yang menyembur dari pemandangan sawah-sawah pada senja hari. Mengakrabi semuanya membuatmu menggigil, tapi bukan karena dingin. Dan membuatmu tak lagi merasa perlu untuk mempertanyakan segala sesuatu dengan sepotong ‘mengapa’

Langit Ubud selalu penuh dengan bintang-bintang pada malam hari. Terang dalam pekatnya sekitar. Memberikan secercah rasa yang bukannya ingin saya simpan dan nikmati sendiri seperti biasa, tetapi justru ingin saya bagi. Karena bukankah langit selalu terlalu luas untuk dipandangi sendirian? Kita bisa berbagi sepuas-puasnya, dan langit masih tak akan ada habis-habisnya.

Teman saya itu benar. Ubud is such a magical place. Ubud bisa membuat saya takut, kagum, dan jatuh cinta pada saat yang bersamaan. Dan yang sedemikian itu baru bisa kau rasakan jika kau sudah melepaskan semua. Dan rela untuk lebur dalam rasa apa saja yang menggulung dirimu dalam ketiadaan.

~ sebuah suvenir kecil dari Ubud bisa ditemukan di sini ~

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Akhirnya, tercapai juga keinginan untuk ikutan acaranya Sahabat Museum. Sabtu-Minggu kemarin, saya bergabung dengan para pecinta sejarah dan bangunan tua yang terdiri mulai dari anak kecil, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak, sampai oma-oma yang masih fit dan penuh semangat. Lintas generasi sekali, ternyata.

Dalam acara Plesiran Tempo Doeloe (PTD) di Bandung ini, saya dan kawan-kawan Sahabat Museum berkunjung ke Museum Geologi, lalu diceritakan perihal ‘Cekungan Bandung’ oleh geolog ITB, Pak Budi Brahmantyo (yang sempat melakukan penggalian fosil di Gua Pawon dan menemukan kerangka Manusia Pawon!).

Tujuan berikutnya adalah Boscha di Lembang–dan bersama beberapa orang kenalan baru yang ikut PTD hari itu, menyimpulkan bahwa adegan dalam film Petualangan Sherina itu agak misleading. Tak ada perkebunan teh di sepanjang jalan menuju Boscha 🙂

Menariknya, setelah melihat kubah Boscha dibuka-tutup, kami juga sempat melihat langit malam yang “dijepret” via software khusus (“I want that software, hehehe!!!). Kami bisa melihat keadaan langit pada hari itu, Sabtu, 26 April, dan bisa meng-klik titik-titik bintang atau planet untuk memperbesarnya. Ah, menyenangkan!!! More than I can imagine. Soalnya saya sudah cukup senang memandangi langit penuh bintang di boncengan ojek pada malam hari 🙂

Dari Boscha, kami pergi ke Vila Isola–yang dulunya merupakan rumah peristirahatan seorang pengusaha kaya bernama Beretty; salah satu karya arsitektur Wolff Schoemaker yang indah di Bandung. Jadi terbayang film-film cinta kuno terutama adegan pesta dansa di ballroom ketika menjejakkan kaki di dalamnya.

Dari Vila Isola kami menuju Saung Angklung Mang Udjo; disambut pertunjukan yang luar biasa menarik dari anak-anak kecil yang lucu-lucu, juga belajar memainkan angklung. Sayang, beberapa foto yang saya ambil buram. Maklum, masih amatir 🙂

Pagi harinya kami berkunjung ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi–mengikuti sejarah pemberontakan DI/TII. Walaupun sebenarnya koleksi di museum ini luar biasa bagusnya, kondisi museum di sini kurang terawat. Banyak tembok yang lembab dan berlumut, juga sisa-sisa bocor yang mengakibatkan noda di sana-sini; juga merusak lukisan-lukisan yang terpasang di dinding.

Tur berikutnya adalah menyusuri Bandung tempo dulu bersama Pak Her Suganda, yang ternyata pernah menjadi wartawan KOMPAS sejak tahun ’75. Kami mulai dari Sungai Cikapundung…

kemudian menuju Sumur Bandung di dalam Gedung PLN (yang konon airnya bisa membuat kita awet muda dan enteng jodoh “aminnn”–jelas, semua ikut membasuh muka dengan air tersebut).

Dari sana kami berjalan lagi menuju penjara Banceuy, tempat Bung Karno menulis pidato Indonesia Menggugat yang terkenal itu. Kamar penjara ini ternyata sangat kecil dan lumayan gelap. Sedihnya, di pagar-pagar di sekitar monumen, justru banyak digunakan penduduk untuk menjemur pakaian…

Dari sana kami menuju menara Masjid Raya di Alun-Alun,

… kemudian berjalan terus sambil memotret gedung-gedung dan objek-objek yang menurut saya menarik 🙂

Hingga akhirnya kami melewati hotel Savoy-Homann,

dan singgah sebentar di titik 0 Bandung dan mendengarkan kisah Pak Her mengenai titik 0 dan Jalan Raya Pos-nya Daendels.

Museum KAA (Konferensi Asia-Afrika) menjadi tempat kunjungan berikutnya. Kalau dibandingkan dengan Museum Mandala Wangsit, terlihat jelas bahwa Museum KAA memang sangat terawat dan dijaga dengan baik. Semua koleksinya dipelihara dan dipamerkan secara estetis. Ruangannya pun nyaman dan bersih. Mungkin karena museum ini sering dikunjungi tamu-tamu negara?

Setelah selesai berkeliling museum KAA, giliran Pak Djoko Marihandono dari UI yang memaparkan versi lain mengenai Daendels dan Jalan Raya Pos. Pak Djoko kabarnya bukan hanya membuka arsip-arsip Belanda, namun juga arsip-arsip Perancis yang tersimpan di kota Paris. Beliau pun menemukan adanya perbedaan antara kisah Daendels versi Belanda dan versi Perancis, yang dapat digunakan untuk meluruskan persepsi kita mengenai siapa Daendels, dan apakah benar ia adalah Gubernur Jenderal yang kejam, yang menghilangkan nyawa ribuan orang ketika membangun jalan Anyer-Panarukan?

Menurut Pak Djoko, ternyata tidak demikian kisahnya ;p (nah, lho. ending yang menggantung, hehehe, kalau sudah sempat saya ceritakan kisah Daendels versi Pak Djoko, deh).

Oleh-oleh yang paling berkesan dari PTD ke Bandung ini? Selain kesempatan mengunjungi situs-situs budaya dan sejarah, dan bertemu dengan kenalan-kenalan baru, adalah tentunya: the privilege to be on my own and to know who I really am…

Iya, karena saya single fighter, alias mengikuti PTD Bandung ini sendirian, saya bisa menikmati waktu dengan melakukan ini-itu sesuka hati, tanpa perlu berkompromi dengan teman-teman. Tentunya atas nama toleransi, keegoisan semacam itu tidak selalu bisa diterapkan ketika kita pergi dengan kawan-kawan 🙂

Dan saya jadi tahu apa yang menarik untuk saya. Ternyata saya tertarik menjadikan jendela sebagai objek jepretan kamera saya. Entah mengapa. Tadi malam, ketika mentransfer foto-foto, saya baru sadar bahwa ada begitu banyak foto jendela yang saya ambil.

Saya juga sempat menyalin sebuah cerita yang menyentuh tentang Apartheid dari komputer di Museum KAA. Saya rasa orang-orang heran, mengapa saya begitu serius mencatat dan apa sebenarnya yang saya catat 🙂 Esok saya akan berbagi catatan itu…

Sekarang, saya hendak menikmati kebahagiaan akhir minggu itu dulu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP