Ya, memang tidak salah jika saya katakan bahwa bulan ini adalah ‘musim kawin’. Bagaimana tidak, hampir setiap akhir minggu selalu saja ada undangan pernikahan dari kawan-kawan. Bahkan karena seringnya mengatakan: Weekend-ini-mau-ke-undangan. Ada-kawinan, seorang teman mengejek mengatakan bahwa datang ke kawinan adalah side job saya.

Sabtu ini, dua orang kawan saya juga melepas masa lajang. Selasa kemarin, seorang sahabat mengumumkan bahwa ia akan segera menikah. Saya tak tahu apakah ini ada hubungannya dengan euforia dari film Sex & The City, sehingga tiba-tiba saja semua orang memutuskan untuk menikah.

Hari ini pun, percakapan mengenai pernikahan berlangsung di sofa ruang tengah dan juga di pojokan bawah tangga–di sela-sela santapan sore berupa gorengan (tahu dan cakue) juga semangkok besar es cendol ๐Ÿ˜€ Beberapa petikan percakapan lepasnya, yang sama sekali tidak berhubungan satu sama lain, kira-kira seperti ini:

Satu,

X: Gue pengen kawin sama cowok bule, terus pergi dari Indonesia, tinggal di Paris… tapi gue sayang sama pacar gue yang orang Indonesia. Gimana, dong? Masa kampung halaman gue jadi di Bandung?

Y: Lah, Bandung juga Paris, kan? Paris van Java…

X: *mutung*

Dua,

A: Cinta itu kan butuh pengorbanan…

B: Tapi kenapa selalu GUE yang harus berkorban?

Tiga,

A: Yah, kalo lo kawin, siapa lagi dong saingan gua menggaet cowok?

B: Lah, dia (menunjuk ke arah saya seseorang) belum punya cowok, tuh.

A: Yah, dia (menunjuk ke arah saya seseorang) sih hidupnya lurus-lurus aja. Nggak bisa dijadiin saingan. Hihihi.

B: Nah, mending cariin dia (menunjuk ke arah saya seseorang) cowok aja.

Empat,

A: Umur lo berapa, sih? Masih 25, kan? Masih ada sih, 2-3 tahun lagi. Tapi gue punya temen cowok, wangi banget orangnya. Gue suka cowok wangi! Baik lagi. Ntar gue kenalin, ya!

Lima,

B: Lo mendingan cari cowok yang udah mapan, deh. Udah cukup lo kerja capek-capek. Setidaknya dia bisa support lo dan anak-anak kalian nanti…

*catatan: ternyata tidak belum ada kata CINTA dalam kalimat di atas ๐Ÿ˜€

Enam,

Sebuah lagu terdengar samar-samar di latar belakang. Just the two of us. We can make it if we try…

C: Oh, my favorite song… we can make it if we try…

D: Yes, but we can’t make it if I am the only one who tries! *mutung*

Ah. Hari yang aneh. Dan posting ini pun akan saya tutup dengan sebuah kutipan dari buku kecil seorang kawan:

“If a man could be crossed with a cat, it would improve man but it would deteriorate the cat.”

-Mark Twain-

Sambil menyantap sebutir jeruk, saya pun berharap agar musim kawin ini segera berlalu…

……………

Gambar dipinjam dari sini.

hanny

26 Responses

  1. berasa kayak kucing aja, mpe ada musim kawin…iya nih parah…wanita2 seusia q bahkan lebih muda pun yang ada di lingkungan t4 tinggal pada dah bawa bayi…. dan aq teteup dengan tenangnya wara wiri sendirian tanpa ada tanda2 undangan pernikahan…
    hehehehe namanya juga masih pengen sendiri.. ๐Ÿ˜€

  2. @taliguci: hwahahaha. pertanda apa? ๐Ÿ˜‰

    @dnial: kepastian dilamar? ๐Ÿ˜€

    @linda: ayo kita rayakan sajahhh !!! *bisa ngelaba sepuasnya* hihihi ๐Ÿ˜€ *culas*

    @mahendra: maksudnya di percakapan nomor lima ๐Ÿ˜€ bulan baik untuk nikah? hmm… entahlah. yang pasti baik buat yang menikah ๐Ÿ™‚

  3. musim kawin?!? musim nikah kali?!? ๐Ÿ˜€
    setuju ama komen diatas, musim kawin berarti doku menipis dgn cepat ๐Ÿ˜›

    kawin duluan, nikah belakangan? atau sebaliknya? heheheh

  4. pagi ini, belum duduk sudah ada teriakan kenapa aku belum/ tidak menikah. aku jawab teriakan itu, “menikah sekarang sudah ga tren”. ๐Ÿ™‚

    “menikah itu menjadikan laki-laki dari seorang ksatria menjadi sudra” (ayu utami, bilangan fu)

    dan menjadikan perempuan dari seorang cinderella menjadi upik abu

  5. Hmm .. Bulan baik … musim kawin …
    Ya betul juga ya …
    kadang saking penuhnya kadang satu hari bisa 2 atau 3 perayaan yang harus dikunjungi …
    yang tentu saja sedia amplopnya pun …

    ya begitulah …

    nah, mari kita balik tradisi. jadi orang yang nikahlah yang bagi2 amplop ke orang yang menghadiri undangan. hehehehe ๐Ÿ˜€ konsepnya: berbagi kebahagiaan! ๐Ÿ˜€

  6. hehehehehheheheheheh..

    yang jelas menikah itu bukan prestasi..
    it’s a gift! ๐Ÿ˜‰

    *wink*

    gift |gift| noun 1 a thing given willingly to someone without payment; a present โ€ข an act of giving something as a present โ€ข informal a very easy task or unmissable opportunity 2 a natural ability or talent.

  7. selamat menempuh hidup baru..
    semoga jadi keluarga yang mawaddah warahmah..

    *salaman, lalu ngeloyor ke meja nyari makanan*

    wooo, ayam gepreknya di sebelah sanaaaa. zam salah arah. hehehe.

  8. hihihi.. mana tau di kawinan ketemu jodoh han.. arena mejeng sekalian ngecengin laki laki berbalut baju formal.. (lbh manglingi-sekalian maling hati) hehe ๐Ÿ™‚ ud ga jaman ngeceng di mall han, terlalu banyak saingan daun-daun yg lebih muda.. hahahah!

  9. tapi memang bulan Juni-Juli bulan yang bagus buat kawinan.. kayaknya ni udah trademark bulan kawinannya manusia pada umumnya, orang jawa pada khususnya..

    :))

  10. @finnie: hehehe, baik. gue tunggu di nikahan lo! ๐Ÿ˜€

    @ARS: hehehe ;p

    @handy: wow, jadwal kawinan dipadatkan dalam 2 bulan, ya ๐Ÿ˜€

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long runโ€”even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeโ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO