Ya, 60 kilometer jarak yang memisahkan antara Bogor dan Jakarta memang bisa diterjemahkan secara beragam: 45 menit, 1 jam, 1.5 jam, sampai 2 jam–tergantung padat atau lengangnya arus lalu-lintas. Dan pada beberapa kesempatan ketika saya harus pulang larut malam, saya pun menempuh jarak 60 kilometer itu dengan armada taksi yang satu ini.

Karena beberapa bulan terakhir ini saya agak kerap ‘menumpang’ burung-burung biru ini untuk pulang, saya pun mulai memilah-milah dan me-rating pengalaman saya selama perjalanan, dari bangku belakang taksi-taksi yang saya tumpangi.

Ternyata, meskipun mereka bernaung di bawah perusahaan yang sama, dengan pengemudi yang berbeda-beda, saya tetap saja memiliki pengalaman yang berbeda-beda; yang saya urutkan mulai dari yang paling ‘menyenangkan’ sampai yang paling menyebalkan:

Di peringkat pertama dalam daftar favorit saya adalah ketika mendapatkan pengemudi yang ramah dan bisa menyetir dengan mulus sepanjang perjalanan; kemudian dia berkata dengan penuh pengertian,”Mbak, kalau ngantuk istirahat saja, lho. Nanti saya beri tahu kalau sudah dekat Bogor.”

Wah, dan saya pun akan langsung menatap keluar dari jendela di sisi kiri wajah saya, melamun, berpikir, menulis dan menabur aksara dalam benak yang diterangi lampu-lampu rem merah menyala dan ilusi gelap-terang gelap-terang yang menyirami wajah saya ketika tengah melaju di jalan bebas hambatan. Waktu untuk berpikir dan berkontemplasi selalu menjadi keistimewaan tersendiri bagi saya. Terima kasih karena sudah mengerti, Pak Pengemudi! 🙂

Di peringkat kedua adalah ketika mendapatkan pengemudi yang ramah, bisa menyetir dengan mulus sepanjang perjalanan, dan kami akan mengobrol terus tentang berbagai hal hingga taksi berhenti di depan pagar rumah. Yang paling mengagumkan adalah jika mendengar pengemudi-pengemudi yang sudah 10, bahkan 17 tahun bekerja di perusahaan taksi yang sama.

Menarik sekali mendengar bagaimana mereka bercerita tentang perusahaan mereka, kebijakannya, orang-orangnya, maintenance untuk taksi-taksi mereka, keamanan, kenyamanan, dan sebagainya. Saya selalu menemukan topik ini menarik, karena si pengemudi dengan asyik bercerita dan saya bisa mendengarkan sayup-sayup sampai 🙂

Perjalanan jauh pun tidak terasa karena kami terus berbincang. Mereka punya bakat natural menjadi juru bicara perusahaan!

Di peringkat ketiga adalah ketika mendapatkan pengemudi yang ramah, bisa menyetir dengan mulus sepanjang perjalanan, dan ia akan mulai bercerita mengenai kehidupan pribadinya. Saya tahu kisah perantauannya, kisah cinta, masalah rumah tangga, anak-anaknya, sampai orangtuanya [Duh, too much information…]

Kemudian ia bertanya:
“Maaf, kalau Mbak sudah menikah?”

Kemudian saya jawab,”Belum.”

Dan saya mulai sebal ketika ia berkata,”Mbak, sih, mungkin terlalu pilih-pilih…” dan mulai ‘menceramahi’ saya, “Iya, memang sekarang ini perempuan kebanyakan mau berkarir, tidak memikirkan pernikahan. Padahal…”

Huh. Dan saya pun, berkata,”Maaf, Pak. Ada telepon…” dan pura-pura berbicara di telepon dengan teman yang tidak ada di line seberang 🙂 [Maaf, Pak, that issue you brought up is too personal…]

Tapi yang berada di peringkat terakhir adalah ketika mendapatkan pengemudi yang tidak komunikatif sama sekali, sekaligus menyetir dengan cara yang membuat saya khawatir. Rem-gas-rem-gas dan menyalip dengan manuver yang tidak meyakinkan. Serba salah. Terbangun saya bosan, tertidur merasa tidak aman.

Jadilah saya duduk tegak di jok belakang, menatap jalanan dan mobil-mobil yang lalu-lalang, sambil berdoa sekaligus misuh-misuh dalam hati.

Di luar keempat kasus itu, saya juga menemukan pengemudi yang ‘jujur’:
“Mbak, mohon maaf sebelumnya. Saya baru 2 hari bawa taksi ini. Jadi saya belum tahu jalan, maaf sekali.”

Karena kebetulan saya tahu jalan, tidak masalah bagi saya, hingga kemudian kami tiba di depan Plaza Bapindo dan berhenti beberapa lama di depan entrance. Akhirnya saya jengukkan kepala ke depan. Ada apa, ya… dan si pengemudi pun menoleh ke belakang.

“Mbak ini kok karcisnya nggak keluar…”
“Oh, harus ditekan dulu, Pak, tombol yang itu…”

Dan si pengemudi tersenyum malu-malu,”Oh, begitu. Maaf, Mbak, baru sekali ke gedung ini.”

Kali lain, saya masuk ke dalam taksi dan duduk di jok belakang, ketika si pengemudi menoleh dan menawarkan sekotak permen pedas dan sekantong keripik. “Silakan, Mbak. Mau?”

Saya terkejut.
“Oh, ya, terima kasih, Pak. Saya sedang makan permen juga, kok.”

Lalu Bapak di depan menjulurkan dua botol air mineral.
“Mbak, kalau haus silakan minum, lho.”

Saya makin terkejut; hingga Bapak pengemudi mengulurkan beberapa majalah.
“Kalau mau baca-baca, silakan…”

Keterkejutan saya pun mencapai puncaknya. “Es kelapa ada, Pak?” saya bertanya, untung-untungan. “Wah, sejak kapan armada ini menyediakan layanan ini, Pak?”

“Nggak, ini cuma di taksi saya saja, Mbak. Biar beda,” jawab si Bapak sambil tertawa.

Wah, canggih juga.

Rupanya Bapak ini ingin mengikuti salah satu waralaba ayam goreng, yang punya gerai eksklusif di Kemang–berbeda dengan gerai di tempat-tempat lainnya.

hanny

14 Responses

  1. ada yang ngajak ngobrol soal blog gak? sapa tahu ada sopir taksi yg blogger juga. bisa diajak ikut pesta blogger tuh, hihihi …

  2. seringkali dalam dalam perjalanan jauh semisal dgn kereta api,momen terindah adalah saat saya menatap keluar jendela, dan saat itulah seolah layar buram warna warni mulai diputar..kisah sedih, senang, angan-angan..semuanya terulang sampai2 sumtime saya harus menitikkan airmata melihatnya…

    hmm dipikir2 lagi saya aneh yaa..huehehehe

  3. windry–hehehe; ada-ada saja, ya.

    ndoro–hihihi belum tau, ndoro, belum pernah tanya ;p tapiii sebagai SEKJEN PESTA BLOGGER job description saya tidak termasuk merekrut peserta!!! hwahhahahaaha *tengil mode on* ;p

    gies–saya juga begituuu walau gak sampai menitikkan air mata, sih hehehe, malu sama orang yang duduk di sebelah ;p ah, biarlah, saya juga suka menjadi orang ‘aneh’ 🙂

  4. Aneh-aneh aja si itu pak taksi. ta gapapa. harusnya nanyanya, ada dvd portable ga? lumayan buat nonton satu film.

    betewe, bloak balik jakarta-bogor naek taksi?
    Boross….

  5. mbah darmo–iya, ya, jangan-jangan di-charge belakangan. hahahaha 🙂

    iphan–yah, kalo udah malem dan bawa gembolan berat… naik apa, dong… hehehe, ga setiap bulan inilah, lagian kan bisa reimburse ke kantor ;p

    tika–hiii enakan pengemudi taksinya dong bisa mijet2 saya hihihihi 😉

  6. ikutan kasih komentar ya…
    pengalaman kamu lucu-lucu…
    saya juga suka tuh ngebanding-bandingin supir taksi.
    tapi sayangnya sampai sekarang belum pernah ketemu sama yang nawarin minuman dan makanan hehe…
    salam kenal ya…

  7. lain kali saya tgu ulasan tentang taksi2 yang lain. soalnya banyak yg bilang kalau taksinya bukan si “burung biru” ngeri naiknya. apa betul begitu? tanya ken apa?
    Salam kenal ya Hann… 😀

  8. wah mbake gajine gede yo, numpak taksi terus..nek kere koyo aku ki. meh bengi opo isuk yo tetepo ng bis. bar nongkrong nang bunderan hi yo muleh nang bogor yo tetep nge bis. nek nge bis kui penak loh, soyo bengi sing ngameng soyo apik, nek nang taksi kan ga iso krungu ngamen paling2 mp3 thok nek rak 3gp.

    tekan bogor mangan soto sik nang baranang siang berhubung wes jam 3 isuk wartam wes tutup trus ngankot nang merdeka mangan meneh sate padang huahha karo ngombe jahe.

    trus lanjut tekan gunung batu, mlaku nang kostan bar kui OL … karo delok si ndorokakung pasang status’e “semalam sip”

  9. aku numpak taksi ming ora mangan, Mas, hahaha, sampeyan numpak bis iso mangan soto, sate padang… kenduri, yo! 😀 Mulih nang bogor, tho? Aku nek mulih numpak bis seko UKI, Mas. Nek numpak taksi… aku sing ngamen! hehehehe 😀

  10. Wat?
    Sepengetahuan gw, ke bogor dengan burung biru, kalau dari UKI saja itu bisa 100rb lebih. Kalau dengan tarif lama saja, dari Bogor ke Tanahbaru bisa 110rb.
    MMmmhhh… rate salary yg bagus yaa di situ, huhehehehehe….

  11. wah, kayanya kita pernah ketemu pengemudi taksi yang sama tuh..dulu pernah juga di ceramahin karena belum nikah, pakai di tambahin embel2 “jangan ngejar karir terus mbak” hihihi

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Screenshot 2022-12-08 at 12.43.17
This year, I learned to accept the days when I don't feel motivated, tired, or a bit grumpy. I learned to allow myself to sit with this feeling instead of feeling guilty about it and forcing myself to be productive, socialize, or just get things done.
Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO