[Di salon sore tadi, sambil melihat-lihat model rambut dan menunggu waktu berbuka puasa, saya asyik mendengarkan percakapan tiga orang ibu-ibu yang tengah mempercantik diri dan duduk berjajar dalam satu barisan…]

Ibu X: Lho, Ibu piara anjing, toh? Saya sih piara kucing… soalnya… anjing kan haram. Lagipula, kucing itu binatang kesayangan Nabi.

Ibu Y: Oh, saya juga Muslim, Bu. Kalau saya tidak salah, dalam agama kita ada kisah tentang seorang pelacur yang memberi minum seekor anjing yang kehausan; dan pelacur tadi malah diangkat masuk ke surga. Bukankah anjing juga ciptaan Tuhan, Bu? Ayo, lebih baik mana, memelihara anjing atau korupsi? Kalau memberangkatkan orang tua naik haji dengan uang hasil korupsi, haram tidak? Atau lebih baik memelihara dan memberi makan anjing dengan uang halal?

[Saya tersenyum-senyum sendiri sambil menimbang-nimbang apakah akan meng-highlight rambut saya atau tidak.]

Ibu Z: Eh, eh, kalau poligami bagaimana? Memang diperbolehkan, ya, di agama situ?

Ibu X: Oh, iya, Nabi juga kan berpoligami. Poligami itu mengangkat harkat para janda.

Ibu Y: Lho, kenapa mau mengangkat harkat saja harus berpoligami? Memangnya kalau ada janda yang bisa meraih sukses dan berdiri di atas kaki sendiri itu tidak terhormat? Masak mau mengangkat harkat saja harus berpoligami dan menikah dengan suami orang? Kalau saya sih, emoh.

Ibu Z: Cuma dalih laki-laki saja itu sih, ya, Bu?

[Saya beringsut-ingsut menuju ruang sebelah untuk mencuci rambut, namun suara mereka masih terdengar nyaring di telinga…]

Ibu Y: Yah, memang lelaki, kalau ditanya tentang poligami, pasti berdalih karena ingin mengikuti teladan Nabi. Lha, kucing itu kan binatang peliharaan Nabi; binatang kesayangan Nabi. Kok di jalanan banyak kucing terlantar, terus ditendang-tendang, dilempar batu. Gimana, ini? Kan terbalik-balik, toh. Meneladaninya milih-milih; pilihan favoritnya poligami.

Ibu Z: Iya, ya, Bu. Benar, benar. Saya setuju itu.

Ibu Y: Mana, mana, kebersihan juga katanya sebagian dari iman. Lha, harusnya Indonesia ini jadi negara paling bersih, dong. Katanya penduduk Muslim-nya paling banyak di dunia… nyatanya, mana? Sama Singapura saja jauh kemana-mana…

[Syurrr. Keran dinyalakan. Sementara rambut saya mulai dicuci, rambut ibu-ibu tadi mulai di-blow. Di tengah deru hair dryer yang begitu kencang, saya tidak bisa lagi mendengar kelanjutan percakapan menarik itu. Tetapi ketika saya kembali dari mencuci rambut, Ibu X tadi sudah tak kelihatan lagi batang hidungnya–dan yang tertinggal hanyalah sisa-sisa rambut ikalnya.]

hanny

6 Responses

  1. lah…jadinya potong rambut gaya apa? ataw jadi di highlight warna apa?

    posting fotonya yak..hasil disalonnya ^_^

  2. mpie–hehehe, jadinya potong pendek… gak jadi di-highlight karena takut udah beduk duluan hehehe, foto hasil di salon? hmm… ntar yah, foto-foto dulu kalo gitu ;p

    ndoro–sebenarnya, saya suka ‘nguping’, ndoro hihihihi ;p

  3. saya juga tadi sore baru dari salon (yaiks…mentel banget kedengerannya)

    dan mbak-mbak yang motong rambut saya lagi ngegosipin gaji dan THR plus uang tips nya…

    saya ini potong rambut kurang dari 10 menit dan mereka gosip-gosipan dari saya ngantri sampe saya bayar.

    yang bikin dongkol, rambut saya ini hancurrr….

    tidaaakk,,,,

    *besok perbaikin rambut ini disalon laen*

  4. gies–hehehe 🙂 ntar kita gitu juga gak kalo udah jadi ibu-ibu ;p

    otakiphan–hwaaaaaa *turut berduka cita* gue tau gimana BT-nya kalo pulang dari salon tapi rambut hancur. semoga rambutmu lekas membaik…

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

The view from De Klok
I took another digital detox this weekend—I limited myself to a 5-minute screen time on Saturday and Sunday to quickly check my business account. I closed my social media account for the rest of the days.
Unsplash
We tend to shape our memories of them based on the limited time we spend with them—and our memories of them, over time, will be replaced with one single word, one single interaction, or one single feeling.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO