Setelah membaca ratusan karya dalam waktu 3 hari saja, kini masih tertinggal 215 karya lagi yang harus dicermati. Dan proses seleksi menjadi lebih sulit karena memilih yang terbaik di antara yang terbaik bukanlah perkara mudah.

Belum lagi ditambah dengan kesempurnaan dan ketidaksempurnaan yang berbaur dalam setiap cerita. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Lantas bagaimana memilah kekuatan mana yang lebih tinggi dari kekuatan lainnya; atau kelemahan mana yang lebih patut tereliminasi dibandingkan kelemahan lainnya?

Menghadapi 215 karya yang tersisa membuat saya diliputi perasaan bersalah; karena saya tidak ingin memilih yang satu dan mengeliminasi yang lain–tetapi harus. Dihadapkan pada subjektivitas yang mau tak mau selalu ada ketika kita menilai sesuatu secara kualitatif juga tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Tetapi… mungkin dalam hidup ini, sadar atau tidak, kita selalu menilai. Menyisihkan yang satu dan merangkul yang lain. Lebih kerap, pilihan kita bukan didasarkan pada baik-buruknya sesuatu secara fisik–maupun non-fisik. Tetapi didasarkan pada seberapa jernih pilihan itu mencerminkan diri kita.

Diri kita yang tidak sempurna…

PS: Untuk seluruh panitia kumcer, selamat bekerja! Tetap semangat!

hanny

2 Responses

  1. Menulis adalah menilai. Membaca adalah menilai. Tapi membaca dan menulis bisa juga bukan untuk itu. Bukan untuk membuat makalah. Membaca dan menulis bisa juga untuk sepaket pelarian menuju ketiadaan. Menulis dan membaca bisa pula, jika diniatkan, menyehatkan jiwa. pendapat terakhir ini saya dapat dari Anice K Kiecolt, seorang ahli psikologi klinis dan suaminya, Ronald Glaser, seorang ahli imunilogi di Universitas Ohio AS. Keduanya membuka sebuah penelitian di jalur baru bahwa pengalaman yang sangat menekan dan mencekam berpengaruh sangat signifikan merusak sistem kekebalan tubuh.

    Dan menulis, tulis James P. Panebakker (2002), adalah salah satu obat menurunkan tensi ketegangan itu.

    Dalam penelitiannya Panebakker mengungkap bahwa 80 persen subjek yang diteliti menyatakan positif atas terapi mental dengan menulis. Awalnya memang menyakitkan. Tapi seiring dengan jalannya waktu, pembuangan perasaan lewat kegiatan menulis perlahan-lahan mengendurkan ketegangan urat syaraf dan berangsur-angsur menyembuhkan ingatan luka masa lalu.

    Jadi menulis bisa untuk apa saja. Terus berada di lajur ini.

    ::gus pengasap
    http://www.akubuku.blogspot.com

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Screenshot 2022-12-08 at 12.43.17
This year, I learned to accept the days when I don't feel motivated, tired, or a bit grumpy. I learned to allow myself to sit with this feeling instead of feeling guilty about it and forcing myself to be productive, socialize, or just get things done.
Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO