Perempuan itu duduk di bawah kehangatan sinar matahari; menjemur kulitnya yang terasa dingin setelah diterpa air conditioner selama beberapa jam, sementara lagu itu berputar-putar dalam benaknya yang mengantuk. Better Together-nya Jack Johnson. Dan kalimat yang sama merayap di sela-sela kerikil abu-abu yang tergilas sepatu haknya:

Yeah, we’ll look at the stars when we’re together.
Well, it’s always better when we’re together.

Ia menggilas lebih banyak kerikil lagi dengan ujung-ujung sepatunya, membuat suara-suara berkeletik dan bergemeretak yang terasa nyaman di telinganya. Suara yang bergema dari sudut-sudut kaca yang mengelilinginya. Masa lalu selalu menjadi candu dalam hidupnya.

Maka ia pun berusaha menghentikan suara-suara kerikil itu dengan segelas ice lemon tea. Namun suara kerikil lain mengisi dasar gelasnya dan terperangkap di sana selama beberapa waktu:


“KEHIDUPANKU terbiasa melalui jalan setapak yang lurus—dengan semak-semak berbunga yang menyenangkan untuk dilihat di sepanjang jalan. Tetapi sejak kamu hadir, jalan itu mendadak dipenuhi kerikil dan batu-batu besar, juga sedikit lubang, yang menyebabkan aku sering terantuk ketika tengah tidak siap, atau jatuh tersandung ketika tengah begitu terburu-buru mengejarmu di lain waktu.

Itulah sebabnya aku membutuhkan seseorang tempat aku berpegangan jika aku nyaris jatuh. Seseorang yang dapat berjalan di sisiku; sehingga ada dua bayangan yang tercipta di atas tanah yang kupijak. Tidak menyenangkan jika aku hanya punya satu bayangan, sementara kamu yang berjalan beberapa meter di depanku, selalu memiliki dua bayangan. Bayangan yang begitu berdekatan.

Maka aku memutuskan untuk mencari satu bayangan lagi yang akan membuatku merasa diinginkan. Agar aku tak selalu merasa ditinggalkan ketika kamu berjalan bersisian dengan kekasihmu. Dan agar kamu tahu bahwa ada orang lain yang menginginkanku—meskipun orang itu bukan kamu.

Tetapi ternyata bayangan itu hadir dalam dirinya.

Dia, yang begitu berbeda denganmu; karena dia putih, seperti aku. Kami begitu mirip satu sama lain. Ketertarikanku padanya begitu platonis, meski ia sangat romantis. Tetapi ledakan-ledakan yang kurasakan saat aku bersamamu tak bisa kurasakan dengannya, sekeras apapun aku mencoba. Tak ada kupu-kupu yang beterbangan dalam perutku; tak ada getar-getar itu; tak ada letupan kecil ketika tak sengaja tangan kami bersentuhan. Tak ada percikan kembang api itu ketika aku menatap matanya.

Kemudian kusadari bahwa semakin keras aku mencoba mencari dirimu di dalam dirinya, semakin aku tak menemukanmu; dan semakin aku kehilangannya…”

hanny

2 Responses

  1. Girl, cant help to give comment on this. I’ve read ur blogs b4, but never intrigued to leave notes. Now, the topic lil bit diff. Yeah, sometime, we got caught up on finding “the butterfly”. But dont u know it’s just part of game played by some brain chemical? That soon will vanish like wind blow the dusk on windy day? Being near to skeptical, but i prefer calling it “Logical”, in order to PICK, we shouldnt waste time waiting for “butterfly”; coz it could grow the same meaning as it could not last; so pick the best on logical thinking. Understand the character by looking at their heart. Seek deep beneath hidden smile in his eyes. Otherwise: we cried by the phrase left on our ear: LOVE IS SO BLIND, SO WE KEEP HITTING IT!

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Unsplash
We tend to shape our memories of them based on the limited time we spend with them—and our memories of them, over time, will be replaced with one single word, one single interaction, or one single feeling.
Beradadisini Love Letter to Self
I took up a personal journaling project this week: writing a love letter to myself before bed. I work on a thin A6-size handmade paper journal I got from a paper artist, Els. The journal is thin and small enough, so it doesn't overwhelm me. It feels like I am only going to work on a small project.
annie-spratt-YF8NTmQyhdg-unsplash
Standing up for yourself does not have to look aggressive. It does not have to feel like a fight. It's not always about convincing others or explaining yourself and your decisions with the hope that everyone else understands or accepts your choice.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO