Tidak lama setelah saya mem-publish blog berjudul The Prom, The Racoon Girl, and A Strawberry Splash, sebuah pesan bernada menggoda masuk ke dalam inbox saya. Dari teman saya semasa SMU yang mengawali pesannya dengan basa-basi serupa ‘apa kabar, udah lama nggak kelihatan main-main di d****o’, kemudian berlanjut ke pokok permasalahan: “Cie, cie, siapa sihhh cowok yang di blog itu … hehehehe”.

Pada jam makan siang, tepat setelah beef teriyaki saya disajikan, handphone saya berdering. Nomor yang tidak saya kenal berkedip-kedip di layar. Saya mengangkatnya dengan sedikit segan. Dan suara yang tidak saya kenal itu membuat saya semakin penasaran. Apalagi setelah dia mengatakan namanya Randy Simatupang. What the heck?!! Kemudian dia tertawa dan bilang, “Han, ini gue lagi.”

Dan saya pun sempat terbengong sejenak, sebelum kemudian mengeluarkan teriakan “Sialaaaann” panjang. Ternyata dia. Teman semasa SMU yang mengirimkan pesan ke inbox FS saya. Saya sudah cukup lama tidak ngobrol dengan cowok gila ini. Beberapa kali kita berpapasan di tempat bilyar. Atau mengirimkan sms hari raya atau tahun baru. Jadi banyak cerita yang terlontar siang itu. Termasuk niatnya mengejar seorang cewek–dan keinginannya supaya saya membantu memuluskan jalannya.

Anyway,
Percakapan itu pun berlanjut ke arena YM alias Yahoo Messenger. Dan kami pun mengobrol panjang mengenai kisah-kisah masa lalu. Apalagi kalau bukan tentang masalah satu itu. Yang masih saja berupa rumus yang terlalu sukar untuk dimengerti: cinta.

Dan saya pun sempat terkejut ketika bercakap-cakap dengan dia. Dulu, dia benar-benar tipe cowok hura-hura yang hanya memikirkan mengenai cewek cantik dan bersenang-senang. Tetapi sekarang, jalan pikirannya sudah jauh berbeda. Jauuuh sekali. Dan saya pun sedih. Kenapa dia bisa bertambah dewasa sedangkan cowok-cowok yang saya harapkan bertambah dewasa sepertinya semakin childish, ya? Hehehehe.

Di sore hari yang mendung dan berhujan itu, akhirnya dia mengungkapkan adanya beberapa pelajaran yang bisa dia ambil dari hubungan-hubungannya yang terdahulu. Dan apa yang dia ungkapkan sore itu … anehnya, merupakan hal-hal yang sepertinya ditujukan untuk saya. Untuk catatan, cowok ini adalah cowok yang saya pikir akan selamanya menjadi player (hehehehe), seseorang yang hidup buat hari ini saja dan tidak memikirkan masa depan. Seseorang yang mengencani cewek-cewek cantik sebatas untuk bersenang-senang (oh, sorry, bro … hehehe).

1. Jangan liat cewek/cowok dari fisik aja. Itu bisa menipu. Lebih liat personality aja (Oh, saya tahu sekali tentang yang satu ini!!! Pengalaman pahit. Seumur hidup, saya nggak pernah melihat cowok dari fisiknya. Tetapi sekitar tahun 2000, saya tertarik dengan seorang cowok kece, dan beberapa bulan kemudian saya baru tahu bahwa ternyata cowok itu brengsek!)

2. Kalo emang udah nggak cocok dari awal, misalnya agama, sifat dasar, pergaulan … jangan dipaksain. Jangan sampai nyesel nantinya. (Hmm, jujur, buat saya agama nggak menjadi masalah. Tetapi sifat dasar dan pergaulan … hmm, saya sempat memaksakan hal ini. I fall in love with a guy who believes in free sex. I don’t. Hmm, bayangkan seperti apa serunya pertentangan batin yang terjadi. Hehehehe)

3. Kalo loe sampe jadian sama orang yang loe impi-impikan selama ini, jangan pernah kasih hati loe sepenuhnya sama dia. Karena ntar loe nggak punya hati lagi. Dan loe bakal ngelakuin hal-hal yang sebenernya nggak pengen dan nggak bakal loe lakuin. Tapi akhirnya akan loe lakuin. Bisa fatal. Pasangan loe bakal meminta apaaa aja yang dia inginkan. Di saat loe udah nggak mampu memenuhi, akibatnya bisa fatal. (Aduh, saya pernah melakukan apa saja ya untuk dia? Berbohong buat dia. Begadang semalaman untuk mengerjakan tugas sekolah dia. Menutupi semua jejak perselingkuhannya. Saya menjadi orang yang sama sekali tidak saya sukai ketika saya sedang bersamanya. Saya bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani saya. Dan yang paling parah: saya tetap mencintainya!!!)

4. Jadilah diri sendiri. Jangan memaksakan diri untuk jadi orang lain hanya untuk membuat orang itu suka sama loe. (Kalau saya menjadi diri sendiri, dia nggak akan jatuh cinta sama saya. The saddest thing is: ketika saya sudah berubah menjadi orang lain pun, dia tidak jatuh cinta pada saya. Hehehe. Menyedihkan. Pelajaran pahit)

5. Pas PDKT, jangan ngelakuin hal-hal yang sebenernya nggak perlu dan nggak berhak loe lakuin, karena itu bisa bikin pasangan loe besar kepala atau ilfeel sekaligus. (Saya rasa, cowok itu sedang besar kepala saat ini, karena merasa bahwa akhir-akhir ini saya begitu intens membahas dia. Saya melakukan ini karena saya ingin melupakannya. Dengan setiap kata yang saya tulis, saya ingin menyingkirkan semua kenangan tentang dia. Saya rasa … cara ini tidak berhasil :p)

6. Kalo emang loe akhirnya jadian sama orang yang bener-bener loe suka, jangan pernah ngekang dia. Karena dikekang tuh nggak enak. Pacar tuh bukan suami/istri. Kalo loe yakin sama dia, kenapa mesti takut? (Saya rasa saya bukan tipe cewek pengekang atau pencemburu. Yang menjadi masalah, saya rasa ada cowok-cowok yang ingin dikekang dan dicemburui. Dan ketika saya memberikan kepercayaan penuh padanya, dia justru merasa saya tidak sungguh-sungguh menyayanginya. Hiks)

Saya menghela napas dalam-dalam. Bisakah kita sungguh-sungguh belajar dari pengalaman pahit tentang cinta dan tidak mengulanginya lagi di masa depan? Karena saya sepertinya terjatuh kembali; berulang kali, ke lubang yang sama. Mencintai seseorang yang menurut logika tidak (atau kurang) patut untuk dicintai.
But that’s the greatest thing about loving someone. Kadang-kadang kamu hanya mencintainya saja. Tanpa perlu sederet penjelasan dan jawaban atas serangkaian pertanyaan “Kenapa”.

Orang-orang yang jatuh cinta adalah orang-orang bodoh, that’s what they say. Well, kalau memang demikian … what the heck, saya rela menjadi orang bodoh!!! 🙂

hanny

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB