Cokelat itu berbentuk bola; dengan diameter sekitar 5 sentimeter. Terbungkus dalam selembar kertas kaca berwarna merah muda. Di atas kertas pembungkusnya, tulisan STRAWBERRY SPLASH tercetak halus dengan tinta putih keperakan. Saya membuka pembungkusnya dan melemparkan bola cokelat itu ke dalam mulut. Membiarkan lapisan cokelatnya meleleh di atas lidah.

Rasa cokelatnya tidak terlalu pekat. Dan tidak terlalu manis. Ketika saya menggigitnya, bola cokelat itu pecah seketika. Menyemburkan cairan strawberry kental yang langsung memenuhi rongga mulut dengan kejutan rasa asam menyegarkan.

June 1, 2001

Tepat pukul tujuh malam nanti, saya akan pergi ke Prom Nite!
Tetapi hujan lebat terus turun sejak pukul 6 sore. Menambah kegugupan saya yang tengah bersusah payah menyapukan make-up sambil mencontoh dandanan seorang model dalam halaman kecantikan sebuah majalah remaja; dan menyemprotkan sebanyak mungkin hairspray untuk membuat rambut saya tidak kelihatan terlalu menyedihkan. Actually, a stylist had put some make-ups on me, but somehow, it just … didn’t … fit. So, I was trying to “fix” it—hell, I didn’t know what I was doing!

Sebenarnya, apa sih yang begitu exciting dari Prom Nite? (Did Dawson’s Creek contribute this whole Prom-Nite-excitement?)

Hmm, excitement pertama: mungkin karena pada acara itu semua cewek (dan cowok) akan berdandan habis-habisan—dengan gaun malam dan setelan jas, hairspray dan gel, sepatu hak tinggi dan pantofel; sampai-sampai ketika kita berpapasan dengan teman sekelas kita di lobby, kita akan mengerutkan kening sambil bertanya-tanya,”Itu siapa, ya? Rasanya gue kenal, deh …” (kalimat hiperbolis).

Excitement kedua: karena … pada acara Prom Nite ini kita bisa berdansa dengan cowok-cowok. Dan bukan cuma jingkrak-jingkrak sampai rambut kita awut-awutan atau mandi keringat hingga make-up kita luntur. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah: kita akan ber-slow dance dengan cowok-cowok! Question: Apa yang BISA terjadi di tengah slow dance? Dua tubuh yang berdekatan, lagu yang melankolis, kegelapan yang romantis? Hey … don’t (I mean, let’s) imagine something nasty! Hehehehe … :p

Excitement ketiga: karena pada saat inilah untuk terakhir kalinya (another hyperbolic sentence) kita bisa berkumpul dengan teman-teman semasa SMU sebelum terpencar-pencar di berbagai perguruan tinggi yang berbeda. Saat untuk saling memaafkan dan mengakui perasaan-perasaan yang terpendam selama 3 tahun belakangan. Saat untuk berpelukan dan menangis, hingga maskara dan eye liner kita meluntur membentuk kontur mengerikan dari bawah mata hingga ke dagu (another Dawson’s Creek impact).

Kisah tentang Prom Nite saya?

That night, I saw a guy I had a crush on since junior high, tengah berpelukan di lantai dansa dengan salah satu mantan ceweknya. Ber-slow dance. Berciuman. Entah cuma butterfly kiss atau malah french kiss, saya tidak terlalu (ingin) memperhatikan. It didn’t really matter, anyway. Soalnya sampai detik ini pun bibir saya belum merasakan keduanya :p

Rasanya … menyedihkan.

Cowok itu akan melanjutkan kuliah di luar negeri selepas SMA. Dan malam ini mungkin akan menjadi malam terakhir saya melihat dia, berbicara dengan dia. Saya ingin menjadikan malam ini malam yang patut dikenang. Tetapi apa yang bisa saya kenang? Keintiman dia dengan mantan ceweknya? (catatan: dia berintim-intim dengan mantan ceweknya karena cewek resminya tengah berintim-intim dengan cowok lain. Pertarungan ego. Mereka main “panas-panasan”. Saling memanasi. Apa cinta perlu dipanasi? Memangnya sayur?)

Malam itu berakhir dengan saya mendekatinya pada akhir acara, ketika semua orang tengah menangis dalam duka perpisahan teriring lagu Graduation-nya Vitamin C. Ketika rambut saya sudah kembali mengempis (I won’t trust that “long-lasting” claim written over a hairspray bottle) dan maskara saya sudah meluntur demikian hebatnya; membuat saya kelihatan seperti seekor rakun dengan lingkaran hitam di bawah matanya.

Ketika kami berdiri berhadap-hadapan, saya hanya berujar kaku dan melemparkan senyum yang sedikit dipaksakan: “Sukses, ya”. Dan menjabat tangannya erat. Shit. Saya ingin bicara lebih banyak; saya ingin berbuat lebih banyak. Tetapi apa yang bisa saya lakukan? Mantan ceweknya menjulang anggun di sampingnya, bergayut manja di lengan kirinya—cantik berkilauan bagaikan seorang supermodel. Sementara saya hanyalah seorang gadis bermata rakun dengan rambut yang tidak mengembang.

Tetapi … seperti semburan strawberry cair yang menyegarkan di tengah rasa cokelat yang membosankan, ada hal-hal di luar dugaan yang bisa terjadi. Miracle does happen. I believe in that now. Karena tiba-tiba saja, tak sampai sedetik setelah saya berpaling meninggalkan cowok itu, dia menarik pergelangan tangan saya, dan dalam sepersekian detik saja, the last thing I knew, dia sudah mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi saya.

Ia mendekatkan wajahnya (begitu dekat hingga saya bisa merasakan hembusan nafasnya), dan berbisik … “Thanks for the friendship … all these years,” katanya seraya menatap mata saya dalam-dalam, seakan-akan dia bisa melihat ke dalam jiwa saya (the third hyperbolic sentence).

Shit, that was freakin’ cool!

Saat itu, di kepala saya meledak sejuta kembang api, lagu-lagu romantis, bunyi mercon. Di dalam sini, saya adalah seorang gadis yang tengah melonjak-lonjak kegirangan. Over-excited. Dalam kenyataan, I have to stay cool. Tersenyum seolah kecupan itu tidak berarti banyak buat saya, dan hanya mematung menatap punggungnya ketika ia beranjak pergi beberapa detik kemudian. Meninggalkan saya, si pecundang ini, dengan perasaan-perasaan yang tak bisa dijelaskan.
Perasaan berbunga-bunga. Seperti cinta pertama …

Di sinilah saya sekarang … hampir 4 tahun kemudian, masih mengingat detail-detail manis itu sejelas kejadian yang baru kemarin lewat. Sementara untuk cowok itu, nama saya pun mungkin sudah mulai terlupakan dari ingatannya. Bagi seorang cowok yang sudah berulang kali mengeksplorasi bagian-bagian tubuh mantan ceweknya yang cantik jelita, sebuah kecupan sekilas di pipi seorang gadis rakun tentu bukanlah hal yang istimewa.

Tetapi untuk saya, kecupan itu menjadi salah satu momen paling magis dalam masa SMU saya yang sudah lama berlalu. Though I have managed to overcome my feelings for this guy, kecupan itu tetap menandakan satu momen yang mengubah kehidupan saya selamanya. Sesuatu yang mendorong saya untuk menjadi saya yang sekarang ini. Sesuatu yang membuat saya memandang cinta dengan persepsi lain; yang sering dianggap terlalu bodoh, utopis, dan naif oleh orang lain. Mungkin saya memang terlalu norak. Terlalu romantis. Terlalu picisan. Atau terlalu menyedihkan.

I don’t give a damn. Really.

Saya yakin, kalian semua pernah mengubah kehidupan seseorang, tanpa kalian sadari. That’s just the most beautiful thing, ever! Ketika kalian melakukan satu kebaikan untuk orang lain, tanpa menyadari bahwa apa yang kalian lakukan adalah sebuah kebaikan.

Karena sekarang saya tahu, apa-apa yang tidak terlalu berarti bagi seseorang, kadang-kadang bisa sangat berarti bagi orang lain.

hanny

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO