The supergirl got ill.

Saya jatuh sakit pada akhir pekan. Jenis sakit yang membuat saya menderita. Jika ada yang menyentuh saya, tulang-tulang saya terasa ngilu. Apalagi jika harus terkena tetesan air dingin! Seperti ditusuk-tusuk jarum :(

Bayangkan bagaimana sedihnya saya, karena saya sangat suka mandi …

Saya pun menghabiskan sepanjang akhir pekan berbaring di tempat tidur dengan 3 lapis baju (tank top, kaus lengan panjang, jaket), merangkap celana pendek dengan celana panjang, plus kaus kaki tebal. Bergelung di bawah dua lapis selimut. Seperti tikus mondok.

Hari Senin, masih tersisa pusing yang tidak mau hilang … kemudian saya ingat bahwa saat sahur tadi saya lupa minum obat.

Oh, thank God I’ll be taking my day-off tomorrow.


Au Nom de la Lune

Saya memandangi bulan malam itu dan memikirkan kamu.
Tiba-tiba sebuah pola yang nyaris tak terlihat menggores permukaan bulan, membentuk baris-baris kata yang berbunyi: “I’m not here”.
Bahkan bulan tidak lagi bisa mengkompensasi ketidakhadiran kamu di sini.


Comprends-tu

Sepi ternyata bisa menjadi seribu kali lebih kejam ketika kamu menghujani saya dengan beribu pertanyaan mengenai status FS saya yang berbunyi: “It’s complicated.”

Saya pikir kamu akan mengerti jika saya katakan, “Single but absolutely not available (yet)” atau “Physically single, mentally married, spiritually in love”.

“Ck, serius dong,” demikian kamu selalu menimpali, seolah-olah saya melontarkan pernyataan di atas sambil tersenyum.

Kalau kamu sungguh-sungguh dengan apa yang kamu katakan, that you really care about me and really want to make me happy, seharusnya kamu mengerti, bahwa saya tidak pernah lebih serius lagi dibandingkan saat ini.


Kisah Kecil tentang POJOK

Pagi itu, gambaran dunia meledak dalam benaknya yang menyesak. Such a compact world, pikirnya, sambil mengirimkan SMS ke sebuah nomor yang nyaris hangus dibakar cemburu.

Pertanyaan itu terlontar ketika kopi mereka tinggal menyisakan seonggok ampas di dasar gelas: bagaimana jika dunia ini berbentuk segiempat, dengan empat pojok di setiap sudutnya?


The Coffee Bean & Tea Leaf pagi itu tidak menyediakan apapun selain racikan kopi dingin. Jika dunia ini adalah satu pak kartu Tarot, saya pasti sudah membaca gelagat ini sebagai sebentuk pertanda. Tetapi dengan segelas kopi di tangan, kami pun melewati pintu kaca itu menuju udara terbuka.

“Nggak apa-apa, kan, kalau kita duduk di luar? Saya harus merokok,” kamu berkata.
Dan saya tahu bahwa ternyata kamu memang sedang sungguh-sungguh jatuh cinta.

Utopia mengenai cinta yang membebaskan jelas tidak termasuk dalam satu paket yang kamu ambil ketika kamu memutuskan untuk jatuh cinta padanya. Atau cinta memang serupa kantor pos yang seringkali menyampaikan kiriman paket yang tidak lengkap. Dan kamu merasa tidak lagi utuh, seperti baru menerima sekotak paket yang sudah dibuka separuh.

Kebebasan justru membuat kamu diliputi sejuta keraguan–karena kebebasan bisa berarti bebas terbang kemanapun kamu suka; sekaligus bebas diketapel…

Kebebasan yang kamu cari datang melalui sebuah pojok.
Kebebasan untuk melihat dia sebagaimana kamu ingin melihatnya.
Seperti ketika kamu pertama kali bertemu dia di toko buku yang sama, pada suatu malam.
Dan kamu pun pergi ke toko buku itu lagi, beberapa hari kemudian.

Kisahnya dimulai ketika kamu duduk di sebuah pojok–seharian, berharap dia datang. Menunggu. Bayangannya mengisi rak-rak buku di sekitarmu dengan novel-novel tentang cinta.
Tentang kalian berdua.
Novel-novel yang hanya berisi Bab 1 saja.

Kita pun tertawa.

Mengapa kita berdua memilih mengambil paket cinta di sebuah toko buku?
Apakah kita tertipu oleh stereotype sosok introvert berkacamata yang menghabiskan sepanjang malam di sebuah toko buku yang lengang?
Apakah ini gambaran kita tentang masa depan, cermin dari hal-hal yang kita inginkan—tetapi bagaimana kita tahu cermin itu memantulkan bayangan yang benar?
Bagaimana jika cermin itu cembung?
Atau cekung?

Mengabaikan semua kemungkinan itu, setelah kamu selesai membeli satu pak rokok lagi, kita berjalan menuju toko buku itu. Semacam ziarah cinta: penghormatan terhadap hal-hal yang terlewatkan tanpa kata selesai terucapkan.

Dan kita sama-sama menahan napas ketika melihat sebuah gembok berantai mengelilingi toko buku itu. Kertas-kertas putih membungkus kaca-kacanya yang biasa kita gunakan untuk mengintip cinta di dalamnya.

“It sucks!” kita berteriak dengan level emosi yang tidak akan dimengerti orang-orang yang kebetulan lewat.

Tiba-tiba bayangan itu meledak dalam benak saya.
Gambaran dunia yang berbentuk lingkaran. Bulat sempurna; tanpa pojok-pojok di setiap sudutnya. Akankah kita tercerabut dari akarnya jika dunia menjelma sebuah lingkaran tanpa sudut-sudut yang menenangkan itu?

——————————————
IMG. http://images.splendora.com/reviews/losangeles/coffeebean_030171b.jpg


The Other Side of The Coin

Ternyata kamu tidak baik-baik saja.

Saya selalu berpikir bahwa kamu termasuk salah seorang yang paling beruntung di dunia, tetapi ternyata benar bahwa tak ada orang yang memiliki segalanya.

Bahwa waktu memberikan pelajaran pada saat-saat yang paling tidak disangka-sangka. Bahwa hidup ternyata bisa memutarbalikkan keadaan semudah membalikkan telapak tangan. Bahwa cinta bisa melakukan apa saja, termasuk membuat seseorang rela menukarkan biaya hidup sebulan dengan berbotol-botol minuman pada satu kesempatan.

Ternyata euforia semalam yang dihabiskan bersama kekasih dan kawan-kawan cuma menyisakan perasaan mual berkepanjangan. Kamu terbangun dalam keadaan hangover dan menyadari bahwa kamu masih harus bertahan hidup selama satu bulan–tanpa uang dan pekerjaan.

Kamu berpikir bahwa setidaknya, kamu masih memiliki cinta. Tetapi jika cinta yang kamu maksud adalah cinta yang sama dengan jenis cinta yang membuat kamu kehilangan segalanya…
mungkin kita bicara mengenai cinta dalam pengertian yang berbeda.
Sangat berbeda.

Atau mungkin cinta memiliki seribu wajah di balik sebentuk hati berwarna merah muda yang nampak innocent dan imut-imut itu.

IMG. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/de/f/f2/Absolut-vodka-bottle.jpg


Buat Kamu

Andai kamu tahu, bahwa ketika masa lalu, masa kini, dan masa depan saya digeletakkan di tengah sebuah meja kopi, kamu menjelma dalam secarik kartu dengan lambang ratu dan hati merah.

“Ada cinta yang masih diperjuangkan, satu masalah yang terus mengganggu pikiranmu selama ini…”

Dia bukan seorang peramal–tetapi seorang psikolog yang ahli dalam hipnoterapi klinis; dan kebetulan adalah mantan dosen psikologi saya. “Di Amerika, Tarot sudah mulai masuk ke dalam mata kuliah psikologi,” ujarnya serius. “Makanya saya mempelajarinya.”

Jika dia benar, dalam 6 bulan ke depan, masih tidak ada kamu dalam kehidupan saya.


Dalam perjalanan pulang dari sebuah pernikahan, saya dan seorang teman memutar lagu-lagu romantis dari sebuah CD–yang dia dapatkan dari sebuah acara pernikahan yang lain. Sang teman baru saja menjalin hubungan setelah lama terpuruk dalam ketidakpastian.

Dan saya mengeluarkan satu kalimat sakti itu ketika kami kembali mengenang masa lalu: “Semua indah pada waktunya.”

Kami pun tertawa. Iya, ternyata semua kepahitan itu membawa sesuatu yang indah dalam kehidupan kami sekarang ini. Karena cinta bekerja dengan cara-cara yang tidak kita mengerti, dengan waktu mengalir, cair–di sela-selanya.

Seperti membaca sebuah buku tebal beratus-ratus halaman, yang dibutuhkan adalah sedikit kesabaran ditambah rasa penasaran. Karena mengetahui akhir ceritanya duluan ternyata juga tidak seru-seru amat. Hanya membuat kita kecewa dan tidak ingin melanjutkan membaca. Dan buku itu tersia-sia.

Selama kita masih punya pilihan, kita masih punya harapan ….
Masa depan yang saya harapkan bergantung pada pilihan-pilihan saya sekarang. Dan jika ternyata pilihan saya tidak membuahkan hasil yang diinginkan, mungkin saya harus bersabar lagi sebentar.

Karena semua indah pada waktunya.

IMG. http://www.aeclectic.net/tarot/cards/_img/housewives-03041.jpg


One Lunch, As Promised – Part 2

Tidak sampai 3 minggu setelah saya mem-posting ini, saya bertemu dengan dia. Seharusnya saya bertemu dengan kawannya; yang entah kenapa pada hari itu tidak jadi datang. Mungkin di sana ada campur tangan Tuhan. Akhirnya, hari itu, dia yang menyapa kejemuan saya. Kami bercipika-cipiki, berbasa-basi, ketawa-ketiwi, dan saya bersikap seolah tak pernah ada yang terjadi.

Kemudian tiba-tiba dia berkata,”Hei, gue masih ngutang traktir lo makan siang, ya?”

Saya cuma tertawa dan melambaikan sebelah tangan–seolah-olah ingin mengatakan “Ah, no big deal.”

Andai dia tahu :)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,000 other followers