DISCLAIMER: Beberapa waktu lalu, saya diundang meliput perjalanan dua pemenang kompetisi Go Ahead Challenge dalam gelaran Paris Fashion Week 2014; dengan tiket pesawat, akomodasi, serta uang saku selama perjalanan ditanggung oleh tim penyelenggara. Meskipun demikian, saya berangkat dalam kapasitas sebagai independent blogger yang berhak menuliskan dan melaporkan (ataupun tidak) mengenai apapun yang saya lihat, alami, dan rasakan selama perjalanan tersebut;tanpa sensor maupun suntingan dari pihak penyelenggara. Bagian pertama dari seri ini dapat dibaca di sini dan bagian kedua dapat dibaca di sini.

Pernahkah kau bertanya-tanya tentang apa yang tak kelihatan? Tentang apa yang terjadi ketika lampu dimatikan dan layar diturunkan?

Banyak orang silau dengan gemerlap–sesaat melupakan apa yang dibutuhkan untuk sungguh-sungguh berkilau. Di baliknya, ada serangkaian pemikiran, kerja keras, air mata, perdebatan, juga perasaan nyaris putus asa. Tentang tertidur menjelang dinihari dan kembali terbangun bersama terbitnya matahari–menantang dinginnya angin dan menahan gigil untuk tetap berdiri anggun di tengah suhu yang semakin turun.

Lain kali kau bertemu seseorang yang kau kagumi, tanyakan padanya apa yang terjadi ketika lampu dimatikan dan layar diturunkan. Karena setiap orang, tak peduli seberapa berkilaunya ia, punya perjuangan dan pergulatan sendiri-sendiri; yang mungkin tak pernah kau ketahui. 

***

Area resepsionis di Le Meurice nampaknya jauh lebih besar dibandingkan luas seluruh lantai di hotel tempat saya menginap. Diapit Place de la Concorde dan Museum Louvre yang terkenal itu, Le Meurice memang bukan sembarang hotel. Hotel berbintang lima ini kabarnya sering didatangi para seniman kenamaan dari berbagai belahan dunia. Salvador Dali, misalnya, pernah menjadi salah satu tamu reguler di hotel yang menyuguhkan pemandangan Tuileries Garden itu.

Ketika saya tiba pagi itu, masih dengan wajah mengantuk setelah tidur larut malam sebelumnya, lobi hotel Le Meurice telah disulap menjadi sebuah area showroom. Berbagai brand dari desainer terpilih berkesempatan memajang karya-karya mereka di sini, untuk dipamerkan kepada para buyer yang akan datang menjelang siang. Di ujung showroom itulah saya menghabiskan waktu sepagian.

Di sinilah, beberapa desainer asal Indonesia berkesempatan memperlihatkan rancangan mereka kepada dunia dalam rangkaian Paris Fashion Week 2014. Selain koleksi Tex Saverio, di ujung showroom itu saya juga terkagum-kagum melihat-lihat koleksi dari Peggy Hartanto, Toton, dan MajorMinor, dan sempat mengobrol dengan Toton Januar dan Ari Seputra-nya MajorMinor tentang rancangan mereka yang khusus dibuat untuk pasar Eropa.

Fashion adalah industri yang kompleks,” kata Sophie Gorecki–perempuan ramah yang saya temui di showroom pagi itu. Sosok penting di balik penjualan koleksi Tex Saverio ini bisa berbahasa Indonesia dengan sangat baik. “Dalam industri fashion, pekerjaan tak berhenti ketika kita menghasilkan karya yang indah. Itu baru awal. Selanjutnya, ada rantai distribusi yang panjang dan berbelit, proses produksi yang memakan waktu, sampai kemampuan negosiasi dan membangun jaringan untuk memikat buyers.”

“Di balik keglamorannya, fashion sebagai sebuah industri adalah sekumpulan kerja keras, tekanan, dan disiplin tinggi untuk bisa menghasilkan koleksi yang indah dan diterima masyarakat secara konsisten, tepat waktu, dan berkualitas,” kata Angela Quaintrell. Ketika kami mengobrol, saya baru tahu bahwa ia adalah konsultan dari Centre for Fashion Enterprise (CFE) yang berbasis di London. Dengan asyik, saya mendengarkan Angela bercerita tentang CFE–sebagai sebuah inkubator bisnis khusus untuk para desainer fashion. CFE membina para desainer agar dapat memiliki kepekaan dan kelihaian dalam mengarungi industri dan bisnis fashion internasional. Merekalah yang turut membawa desainer-desainer Indonesia ke pentas dunia seperti Paris Fashion Week ini.

***

Saya bertemu Tex Saverio di ruang bawah tanah sebuah hotel yang tak lagi saya ingat namanya. Lorong-lorong dan anak tangga sempit mengantarkan saya menuju sebuah dunia yang tersembunyi di bawah permukaan: dunia yang dipenuhi model-model berwajah gugup, foto-foto dan sketsa, juga gaun-gaun gemerlap yang berjuntai dari gantungan di sudut-sudut ruangan.

“Kamu mau jadi cacing atau jadi naga?”

Siang itu, Tex–desainer muda yang didaulat dunia sebagai Alexander McQueen-nya Indonesia setelah rancangannya dikenakan oleh Lady Gaga–mengenakan kaca mata besar dengan pinggiran hitam, cardigan warna sampanye, dan celana pendek cokelat muda. Kami duduk-duduk dikelilingi gaun-gaun indahnya di ruang bawah tanah itu, mengobrol tentang fashion dan hal-hal lain yang muncul begitu saja, dalam percakapan santai yang tak sungguh-sungguh punya agenda.

“Kalau ingin menjadi naga, kamu harus siap bekerja keras. Apapun pekerjaanmu, jangan tanggung-tanggung dalam menjalaninya,” ujar Tex. Suara dan pembawaannya tetap tenang selagi ia mengisahkan pergulatannya meyakinkan orang-orang terdekat saat pertama kali hendak memutuskan untuk terjun ke dunia fashion. “Jangan menjadi cacing. Baru ketemu susah sedikit, ngeluh.”

Hal inilah yang selalu diingat Tex sejak ia menentukan jalannya sendiri untuk mengejar impiannya di dunia fashion pada tahun 2001. Saat itu, ia langsung terjun bebas ke industri fashion tanpa sempat belajar banyak dari rumah-rumah mode ternama. Perjalanannya adalah rangkaian percobaan yang sebagian gagal dan sebagian berhasil. Ia tersaruk-saruk sendiri dan mempelajari segalanya secara otodidak. Rancangannya yang dianggap ‘aneh dan ajaib’ pun tak serta-merta diterima dengan baik.

“Penolakan itu, dimana pun, akan selalu ada,” ujarnya seraya merapikan lengan cardingan-nya dan tersenyum. “Yang terpenting adalah seberapa besar kepercayaanmu terhadap karya-karyamu sendiri, dan seberapa besar kesediaanmu untuk juga mendengarkan apa yang diinginkan oleh pasar. Idealisme dan kreativitas saja tidak cukup.”

***

Hari itu, salah satu gaun rancangan Tex yang akan dipamerkan dalam fashion presentation di Paris Fashion Week dalam waktu kurang dari 30 jam, tersampir di lengan Sylvester. Pemuda itu hilir-mudik dengan sigap untuk membantu model-model mengepas gaun-gaun. Wajahnya nampak kencang.

Atmosfir di ruang bawah tanah itu terasa sedikit tegang. Samar-samar bisa terdengar teriakan frustrasi, perdebatan sengit, juga helaan napas panjang. Rupanya, salah satu gaun indah nan ramping yang menjadi pamungkas dalam koleksi Tex tak bisa begitu saja pas pada sembarang model. Belum jelas siapa model yang bisa membawakan gaun itu esok hari. Seharian ini, mereka belum menemukan seseorang dengan ukuran yang pas benar.

Ketegangan itu mengingatkan saya pada sebuah adegan dalam kisah Cinderella, ketika Pangeran berkeliling ke seluruh penjuru negeri untuk menemukan gadis yang kakinya pas dengan ukuran sepatu kaca yang sedang ia cari pemiliknya. Saya tak tahu apakah Tex ikut cemas (atau gemas) dengan persiapan menjelang fashion presentationnya esok hari, karena nyatanya, ia terlihat begitu tenang dan terkendali. Mungkin ia tipe orang yang percaya bahwa everything will eventually falls into place.

“Ketika kamu sungguh-sungguh ingin masuk ke industri ini, kamu tak bisa lagi merancang sesuai suasana hati dan keinginan sendiri,” ujar Tex. “Ya, ketika mood-nya tepat dan inspirasi didapat, rancangan memang bisa dihasilkan dalam waktu yang relatif cepat, tetapi industri tidak bekerja seperti itu. Kamu harus bekerja sesuai jadwal. Dan inspirasi tidak bisa ditunggu hingga datang sendiri. Kita harus menyiapkan setidaknya dua koleksi dalam setahun: spring/summer dan autumn/winter. Ini berarti hanya ada waktu 6 bulan untuk menyiapkan koleksi ready-to-wear: termasuk riset, memilih tema dan warna yang sesuai dengan trend dunia dan permintaan pasar, membuat puluhan rancangan, mencari bahan-bahan, mengawasi seluruh proses produksi, menyiapkan katalog, dan seterusnya. Ini waktu yang sangat singkat. Kalau hanya mengikuti mood, kamu tak akan bisa bertahan. Disiplin, komitmen, dan kerja keras adalah tuntutan yang harus dipenuhi.”

She fits!” seruan itu terdengar tiba-tiba dari ruangan lain yang bersebelahan; seperti pekik kelegaan bercampur kemenangan. Seorang model yang luar biasa tinggi dan kurus, dengan kaki yang juga luar biasa jenjang, melangkah melewati ambang pintu dengan gaun pamungkas Tex–yang ternyata pas dengan ukuran badannya. Sepertinya tatapan semua orang tertuju pada model itu; selagi ia berjalan pelan memeragakan gaun rancangan Tex yang bertema Parametric: perpaduan bentuk-bentuk geometris untuk menciptakan sebuah gaya futuristik yang romantis.

Akhirnya, ketegangan di udara siang itu mencair juga.

***

Saya tak tahu ada apa dengan Tex dan ruang bawah tanah, karena fashion presentation-nya dalam gelaran Paris Fashion Week juga terjadi di bawah permukaan tanah. Menyelinap lewat sebuah pintu di samping Palais de Tokyo, saya menuruni anak tangga demi anak tangga menuju sebuah klub bergaya dungeon dengan dinding-dinding yang dipenuhi grafiti.

Semakin jauh saya menuruni anak tangga, suara musik semakin jelas terdengar. DJ tengah memainkan lagu-lagu dengan irama menghentak, diiringi artwork geometris yang berputar-putar di layar yang teramat besar dari atas panggung. Lampu-lampu sorot membentuk lingkaran-lingkaran cahaya di lantai. Di dalam lingkaran-lingkaran cahaya inilah para model berdiri memamerkan koleksi terbaru Tex Saverio–sementara para penikmat fashion dan buyers dari berbagai belahan dunia berkumpul di luar lingkaran-lingkaran cahaya, mengagumi dan menjepretkan kamera dalam gelap. Salah satunya, nampak penyanyi asal Indonesia yang sudah bermukim di Perancis, Anggun.

“Cratfmanship. Itu satu hal yang membedakan kualitas fashion di Indonesia dengan negara-negara Barat,” kata Tex. “Kita sebenarnya sudah punya craftmanship yang hebat, tapi banyak hal yang harus dibenahi untuk bisa bersaing di dunia internasional. Infrastruktur pendukung untuk industri ini harus diperbaiki, misalnya agar kita tidak perlu selalu sourcing bahan ke luar negeri. Kualitas SDM juga perlu ditingkatkan. Ya, PR kita masih banyak.”

Pada fashion presentation Tex yang berkilauan hari itu, Sylvester dan Bram memang nampak sibuk dengan tugasnya masing-masing–namun satu sosok lagi yang nampak lebih sibuk hari itu adalah Faye Liu. Perempuan berambut lurus itu nampak sigap menyapa, mengobrol, dan menyalami tamu-tamu yang datang, selagi matanya tak lepas mengawasi jalannya acara yang tengah berlangsung. Ia adalah fashion director Tex Saverio, salah satu sosok penting di balik nama besar dan kesuksesan Tex merambah industri fashion dunia.

“Saya bisa mendesain, tapi saya tidak pandai berbisnis,” Tex mengakui dengan rendah hati. “Saya bekerja dengan sekitar 20 orang lainnya, dan mereka berasal dari berbagai negara, bukan hanya dari Indonesia. Merekalah orang-orang yang mengerti hal-hal tentang industri ini yang tidak saya kuasai dengan baik: misalnya strategi bisnis dan harga, riset, membangun jaringan, mengatur distribusi, dan masih banyak lagi. Ketika kamu ingin terjun dan bertahan di industri ini, penting juga bermitra dengan orang-orang yang tepat.”

Kamera-kamera masih dijepretkan dengan bertubi-tubi dan gelas-gelas masih berdenting ketika saya meninggalkan Palais de Tokyo menjelang sore. Paris tak lagi sedingin beberapa hari belakangan–atau mungkin, tubuh saya yang sudah cukup waktu untuk menyesuaikan. Daun-daun di pepohonan yang berjajar sepanjang jalan mulai berubah warna menjadi oranye keemasan, ditingkahi suara rantai sepeda yang samar berdesir-desir.

Seorang model berjalan melewati saya dengan terburu-buru, sambil mengunyah sesuatu. Ia sudah berganti pakaian; mengenakan jeans, kaus lengan panjang, dan scarf yang melilit leher–namun make-up dan tatanan rambutnya yang spektakuler nampaknya belum sempat disingkirkan.

Lalu tiba-tiba saja saya teringat celetukan Faye Liu: “Orang-orang selalu salah kaprah dan berkata bahwa para model tidak pernah makan. Lihat kan, sore ini, bagaimana begitu fashion show selesai mereka langsung menyerbu meja yang dipenuhi sandwich keju dan mengunyahnya lahap sambil berteriak: saya lapaaar!”

Berada di belakang layar Paris Fashion Week mau tak mau memang banyak mengubah pandangan saya yang sebelumnya sedikit sinis terhadap dunia fashionThe glam is just an illusion. Di sisi lain cermin, setiap orang bekerja sama kerasnya di industri ini: mereka sama-sama lelah dan frustrasi, juga sama-sama nyaris putus asa. Namun di balik peluh, air mata, gerutuan, dan kebosanan yang selalu bisa melanda kapan saja, sebagian di antara mereka ternyata juga sama-sama masih saja jatuh cinta pada apa yang mereka kerjakan setiap harinya.

Mungkin perbedaannya terletak pada satu hal itu saja: cinta.

***

Janganlah menjadi terbiasa.

Kagumilah segalanya sebagaimana yang pertama. Temuilah sesuatu yang baru dalam hal-hal yang sudah kau miliki selamanya. Berjalanlah di sekelilingmu dan lihatlah dunia dengan mata kanak-kanak yang selalu ingin tahu. Dekaplah setiap saat yang lewat demi menangkap keajaiban-keajaiban maupun kebijaksanaan-kebijaksanaan kecil di baliknya. Mengertilah bahwa semua hal sesungguhnya begitu cepat berlalu; dan bahwa segalanya adalah terlalu sementara. Jadi reguklah sebanyaknya selagi kau bisa. Kau tak akan pernah kehilangan waktu dengan berhenti sebentar untuk menikmati indahnya matahari terbenam.

Dan orang-orang yang pernah kau cintai itu; ingatkah saat pertama kau melihat mereka, merasakan kepak sayap kupu-kupu dalam perutmu dan jatuh hati? Dan mimpi-mimpi yang pernah kau simpan di bawah bantalmu setiap malam itu; ingatkah kau akan rasa yang meledak dalam setiap pori-porimu ketika kau memutar ulang mimpi-mimpi itu dalam benakmu setiap waktu?

Screen Shot 2016-04-03 at 7.01.55 PM

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Share on whatsapp
Share on email
Share on twitter
Share on pinterest
Share on facebook
Share on linkedin

DISCLAIMER: Beberapa waktu lalu, saya diundang meliput perjalanan dua pemenang kompetisi Go Ahead Challenge dalam gelaran Paris Fashion Week 2014; dengan tiket pesawat, akomodasi, serta uang saku selama perjalanan ditanggung oleh tim penyelenggara. Meskipun demikian, saya berangkat dalam kapasitas sebagai independent blogger yang berhak menuliskan dan melaporkan (ataupun tidak) mengenai apapun yang saya lihat, alami, dan rasakan selama perjalanan tersebut; tanpa sensor maupun suntingan dari pihak penyelenggara. Bagian pertama dari seri ini dapat dibaca di sini.

Ada orang-orang yang nyaris tak kelihatan di balik tiap impian yang jadi kenyataan.

Selagi kau berjajar dengan tawa menggigit dan dompet yang dikempit, di tengah wangi parfum yang menguar samar-samar dan kilat lampu dari kamera-kamera yang gemerlap berkeredap, mereka yang nyaris tak kelihatan mengelap gelas-gelas champagne dengan serbet dan menurunkan krat-krat minuman di tengah angin yang menggigilkan. Mereka yang nyaris tak kelihatan berdiri berjam-jam di ruang sempit dan bekerja sepagian membubuhkan bedak dan perona pipi sesuai takaran yang diharuskan. Beberapa lagi menyeterika tak henti-henti dan mengepel lantai berkali-kali; memastikan semua mengilat sempurna untuk malam paripurna. Ada toilet-toilet yang dibersihkan, puntung-puntung rokok yang dikembalikan ke dalam tempat sampah, dan kaki-kaki yang lelah karena terlalu banyak berjalan lekas-lekas.

Dalam setiap mimpimu yang jadi kenyataan, ada orang-orang yang nyaris tak kelihatan; yang diam-diam memungkinkan mimpimu menjelma seperti yang kau inginkan. Kepada orang-orang yang nyaris tak kelihatan ini; kepada merekalah kau berutang terima kasih.

***

Ketika saya melewati lobi hotel seraya merapatkan overcoat untuk bersiap menyambut dinginnya jalan-jalan kota Paris, saya menemukan barisan perempuan-perempuan tinggi dan ramping memenuhi koridor. Rata-rata, mereka mendekap map portfolio di dada. Seorang gadis keluar dari dalam salah satu ruangan hotel, kemudian mengangkat bahu ketika pandangannya beradu dengan gadis-gadis tinggi-ramping lainnya. “I don’t think I get it,” ujarnya pelan.

Sore itu, lantai bawah hotel kami yang mungil–Eugène en Ville di Rue Buffault–disesaki model-model Perancis yang hendak mengikuti casting. Dari sekitar 35 model yang diundang untuk casting, hanya 2 orang yang akan terpilih untuk dipotret oleh Bram dan tim Michel Dupré: satu model lelaki, dan satu model perempuan. Sayangnya, sore itu saya tak sempat melihat para model lelaki berjajar di lobi. Dalam pemotretan yang akan berlangsung lusa, model lelaki yang terpilih akan mengenakan desain rancangan Sylvester, sementara model perempuan akan mengenakan rancangan Tex Saverio.

Melihat sosok-sosok tinggi-ramping yang berjajar di lobi hotel itu–sebagian nampak tegang dan penuh harap; saya akhirnya mengerti. Mereka, sosok-sosok yang fisiknya selalu saya anggap demikian indah itu, juga tengah bergulat dengan impian-impian, pemikiran-pemikiran, dan perjuangan-perjuangan mereka sendiri: menembus udara Paris yang dingin dan berlari-lari naik-turun tangga stasiun serta berpindah-pindah dari satu jalur metro ke jalur metro lainnya, berjalan kaki cepat-cepat untuk tak terlambat menuju entah casting keberapa pada hari itu.

Sebagian dari mereka mungkin lelah, sebagian lagi mungkin sudah siap untuk menyerah, sebagian lagi berharap banyak karena pekerjaan ini bisa membantu mereka membayar biaya kuliah. Sebagian datang dari tempat-tempat jauh. Sebagian mempertaruhkan rasa percaya. Sebagian mencoba tak mengeluh karena harus berdiri lama.

Di sisi ruangan yang lain, ada Sylvester yang juga tengah mengejar impiannya. Ada banyak harapan dan tanggung jawab melekat padanya untuk mengambil keputusan. Ia harus memilih model terbaik yang akan bekerja dengannya. Model yang akan cocok dengan keseluruhan konsep photoshoot yang sudah disusun Bram dan Michel, juga bisa menonjolkan keindahan desain rancangannya dan Tex. Melihat nasib-nasib yang saling bersilangan dalam jarak yang begitu dekat ini–yang satu seakan menentukan yang lain, saya merasa bahwa kita semua; tak peduli di mana kita berada di dunia; sesungguhnya saling terhubung lewat miliaran helai benang-benang yang tidak kelihatan.

 

***

Persilangan nasib serupa saya temui kembali keesokan malamnya; ketika kami menghadiri fashion presentation Irakli di Centre d’Art et de Danse di Éléphant Paname–daerah yang terkenal sebagai pusat penjualan dan perancangan perhiasan tertua di Paris. Untuk saya, Irakli Nasidzé sendiri merupakan kisah mengejar mimpi yang mungkin juga belum berakhir hingga hari ini.

Ia lahir di Georgia–negara kecil yang berbatasan dengan Rusia, Armenia, Turki, dan Azerbaijan. Di tahun 80-an, jumlah penduduk di negara ini hanya 5 juta orang saja. Setelah lulus dari jurusan fine arts di Universitas Tbilisi, pada usia 23 tahun, Irakli pun menjejakkan mimpinya di Paris. Karirnya diawali dengan menciptakan bahan untuk rumah-rumah couture ternama seperti Christian Lacroix, Jean-Louis Scherrer and François Lesage. Lesage-lah yang akhirnya mensponsori Irakli untuk menciptakan dan memamerkan koleksi adibusana-nya sendiri di Palais Galliera. Baru di tahun 2011, Irakli meluncurkan koleksi ready-to-wear yang dinamainya IRAKLI Paris.

Malam itu, bersama para jurnalis fashion, fashion buyer dari rumah-rumah mode dan toko-toko retail ternama dari seluruh dunia, serta para penikmat fashion di Paris, saya mengagumi koleksi Irakli yang nampak segar, bersih, dan indah–dipresentasikan di ruangan yang berlatar putih dan dipadati dedaunan dan bebungaan. Cantik sekali dipadankan dengan warna-warna desainnya: biru, hijau, dan kuning.

 

“Potongannya bagus sekali! Lihat, dia bisa membentuk siluet seperti itu!” Sylvester berseru. “Susah sekali membuat potongan yang begitu rapi!”

Saya mengangguk saja–karena Sylvester rasanya memang lebih mengerti hal-hal teknis macam itu; dan saya percaya ketika melihat kekaguman yang memancar dari matanya. Sesekali, saya nyaris bertabrakan dengan Bram yang juga sedang sibuk berkeliling ruangan untuk mengambil foto.

Sementara Bram dan Sylvester mempelajari langsung bagaimana sebuah fashion presentation dikemas, mulai dari konsep, musik, pencahayaan, dekorasi, hingga pengaturan letak dan waktu, saya melarikan diri sejenak dari padatnya ruangan ke lobi depan. Di lobi inilah, dua orang pelayan menjaga sebuah meja champagne. Dengan sigap, mereka menyajikan, menuangkan, dan menyingkirkan gelas-gelas, sementara para tamu terus berdatangan.

Ah, bukankah semua orang selalu punya peranan? Buat saya, tak ada pemisahan antara peran kecil atau peran besar. Saya kira, peran kita semua sama besarnya. Yang satu takkan bisa berjalan baik tanpa yang lain bekerja dengan baik. Dan saya percaya, peran kita di dunia juga saling terhubung lewat miliaran helai benang yang tak kelihatan.

***

Saya bersyukur tak menjadi Sylvester dan Bram pagi itu.

Subuh di Paris adalah waktu ketika suhu turun semakin drastis. Yang paling nyaman, tentu saja bergelung dengan selimut di atas tempat tidur. Namun tidak demikian halnya bagi tim pemotretan yang sudah harus bangun pagi-pagi sekali. Para model harus mulai melakukan rias dan pengepasan. Sylvester harus memastikan bahwa riasan dan tata rambut sudah sesuai dengan yang diinginkan. Semuanya dilakukan bersamaan di dalam kamar hotel yang sempit. Di kamar saya saja–yang ditempati sendirian, seringkali saya terantuk kaki kursi, meja, atau koper sendiri. Jadi saya bisa membayangkan tantangan bekerja bersama beberapa orang di dalam sebuah kamar berukuran kecil.

Baru sekitar pukul 9 saya bergabung dengan Sylvester dan Bram untuk menuju Parc de la Villete. Tim pemotretan Michel yang terdiri dari sekitar 8 orang dengan kebangsaan yang berbeda-beda juga sudah bersiap di sana. Rangkaian pemotretan untuk hari itu pun dimulai. Michel banyak membantu Bram dan Sylvester dengan memberikan berbagai masukan selama pengambilan gambar. Sylvester dan Bram pun banyak berdiskusi–dan berkoordinasi mengarahkan anggota tim yang lain. Melihat keduanya bekerja keras hari itu seraya memberikan arahan kepada anggota tim dari Perancis, Rusia, Australia, dan entah mana lagi, ada rasa bangga menyelusup ke dalam hati saya.

“Ah, aku menyesal sekarang. Aku rasanya ingin belajar bahasa Inggris lagi,” ujar Bram, yang merasa bahwa ia bisa mendapatkan pelajaran jauh lebih banyak dan berkomunikasi jauh lebih baik jika saja ia berbahasa Inggris dengan lebih baik. Meskipun demikian, ia nampak baik-baik saja di mata saya ketika mencoba menyampaikan visinya pada tim pemotretan Michel. Bukankah yang kita butuhkan untuk berkomunikasi tak semata bahasa; melainkan lebih kepada upaya untuk saling mengerti?

Pukul satu siang, pemotretan itu belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Seluruh tim itu justru pindah ke lokasi pemotretan berikutnya di sisi lain taman. Saya pun pamit dari sesi itu untuk berjalan kaki di bawah matahari Paris yang mulai bersinar agak cerah–meski udara tetap saja dingin.

Ketika malam harinya saya berkumpul kembali dengan Sylvester dan Bram untuk makan malam, mereka nampak sedikit lelah. Namun wajah keduanya mendadak cerah ketika mengetahui bahwa esok adalah hari bebas. Untuk pertama kalinya sejak menjejakkan kaki di Paris, tak akan ada jadwal apapun bagi mereka esok hari. Sengaja, keduanya diberikan waktu untuk beristirahat, tidur, dan memulihkan stamina–sebab esok lusa, mereka sudah harus berjibaku lagi dengan waktu dalam mempersiapkan fashion presentation Tex Saverio.

“Waktu memang jadi tantangan besar di sini,” kata Bram. “Jadwal di sini ketat sekali. Semua harus on time. Kalau waktu sudah habis, ya, walaupun merasa masih kurang dan masih ingin terus mengulik, ya sudah tidak bisa. Mau tidak mau harus selesai.”

Di Paris, pemotretan memang dilakukan secara disiplin, dengan jadwal yang sudah ditata rapi. Mau tak mau, jika rentang waktu yang disepakati sudah dilewati, pemotretan harus dihentikan. Ada banyak orang yang ambil bagian dalam pemotretan ini–memperpanjang waktu berarti menambah waktu kerja semua yang terlibat. Disiplin waktu ini menjadi salah satu pengalaman berharga bagi Sylvester dan Bram. Mental demikian penting dimiliki oleh mereka yang hendak berkecimpung di industri fashion internasional.

***

Pada jamuan makan malam itu, kami berkenalan dengan Waleed Zaazaa, kawan Michel–yang juga merupakan sebuah kisah perwujudan mimpi yang lain. Baik ZaaZaa dan Michel sama-sama telah mematahkan anggapan saya mengenai bayangan akan orang-orang Perancis yang dingin dan menjaga jarak.

Zaazaa yang gemar bercerita dan tertawa ini adalah seorang desainer asal Perancis yang pernah bekerja dengan brand-brand terkenal semacam Calvin Klein dan DKNY, sebelum akhirnya memutuskan melepaskan kenyamanan dan posisinya yang sudah cukup tinggi untuk mencari tantangan baru. Ia ingin merambah pasar ritel Asia lewat Singapura. Desember mendatang, ia akan meluncurkan concept store-nya, Manifesto, di sana.

“Untuk meluncurkan brand-mu sendiri sangat sulit,” ujar Zaazaa. “Hal itu selalu menjadi impianku sejak dulu–untuk mempunyai line sendiri. Jadi, aku tahu bahwa aku harus mencoba jalan lain. Dengan tetap berada di pekerjaanku yang dulu, rasanya aku tak akan kunjung beranjak untuk mewujudkan mimpiku. Lalu kupikir, aku bisa memulai lewat ritel. Ya, aku tahu, ini mungkin jalan yang tak biasa. Namun dari pengalamanku selama bekerja, aku tahu ada banyak brand yang berupaya keras untuk masuk ke retail store. Aku berpikir, bagaimana jika aku melakukan yang sebaliknya. Aku bisa membuka concept store yang bagus; sehingga nantinya aku bisa memasukkan line-ku di concept store-ku sendiri.”

Saya terpana mendengar penjelasan Zaazaa. Ia begitu berani (dan sedikit nekat) dalam mencari berbagai jalan untuk mewujudkan mimpinya–meski jalan itu jalan yang jarang dilalui orang. Butuh keyakinan sekaligus kepasrahan yang luar biasa untuk meninggalkan kenyamanan di belakang, kemudian mengambil risiko dan mempertaruhkan apa yang dimiliki demi mewujudkan sekeping mimpi yang tak pernah punya jaminan pasti.  Namun, saya yakin keberhasilan selalu menunggu orang-orang yang berani dan sedikit nekat. Orang-orang seperti ZaaZaa. Bukankah mereka bilang, magic happens when you’re expanding your comfort zone?

***

Dalam perjalanan, kau akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak selalu mudah. Namun, ketika kau benar-benar yakin perihal arah yang hendak kau tuju, sesungguhnya kau tak akan tersesat terlalu lama. Sebagaimana keputusan-keputusan yang harus kau buat di tiap persimpangan, kau juga perlu memilah mereka yang akan kau ijinkan berada dalam lingkup mimpimu.

Habiskanlah lebih banyak waktu dengan mereka yang akan jujur bertutur tentang apa yang perlu kau lakukan untuk memenuhi impian-impianmu; mereka yang tak akan mendengarkan khayal dan bualmu, namun selalu ada untuk membantumu melakukan sesuatu; mereka yang akan membawakanmu segelas teh atau secangkir kopi hangat ketika terkadang kau tengah teramat lelah; mereka yang akan duduk diam bersamamu ketika hal-hal tak berjalan sesuai dengan yang kau inginkan; mereka yang akan melompat dan bersorak paling keras di hari ketika mimpimu menjejak tanah.

Jika kau mengenali mereka dalam hidupmu, berikan mereka sebanyak-banyaknya waktu yang kau punya.

Screen Shot 2016-04-03 at 7.01.55 PM

(bersambung…)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Share on whatsapp
Share on email
Share on twitter
Share on pinterest
Share on facebook
Share on linkedin

DISCLAIMER: Beberapa waktu lalu, saya diundang meliput perjalanan dua pemenang kompetisi Go Ahead Challenge dalam gelaran Paris Fashion Week 2014; dengan tiket pesawat, akomodasi, serta uang saku selama perjalanan ditanggung oleh tim penyelenggara. Meskipun demikian, saya berangkat dalam kapasitas sebagai independent blogger yang berhak menuliskan dan melaporkan (ataupun tidak) mengenai apapun yang saya lihat, alami, dan rasakan selama perjalanan tersebut; tanpa sensor maupun suntingan dari pihak penyelenggara.

Passion is overrated. Yang jadi pertanyaan besarnya adalah: seberapa keras kau mau bekerja untuk impian-impianmu? Relakah kau tak tidur bermalam-malam demi terus menyempurnakan apa yang sedang kau ciptakan; absen bertemu kawan-kawan demi menyelesaikan sebuah karya yang selalu kau impi-impikan; menghemat lembar demi lembar rupiah demi kesempatan-kesempatan menghadirkan buah pemikiranmu jadi kenyataan? Seberapa tebal kulitmu untuk menerima penolakan demi penolakan, cibiran dan hinaan, atau pandangan sebelah mata ketika kau dianggap masih bukan siapa-siapa?

***

Pagi itu, Paris berwarna ungu dan abu-abu. Angin bertiup dingin, membawa gerimis yang berhenti sebentar-bentar, sebelum kemudian menderas kembali. Hari Minggu. Kota ini berdenyut terlalu pelan di bawah hujan: jalanan lengang, dan toko-toko yang kebanyakan tutup hanya memperbolehkan kami mengintip gelapnya ruangan di balik jendela pajang. Bersama Sylvester dan Bram, saya menyusuri trotoar Paris yang basah dan becek perlahan-lahan, mencoba mengusir rasa kantuk dan penat setelah penerbangan panjang dari Jakarta demi secangkir kopi dan sarapan hangat.

Seraya memasang topi Totoro saya untuk melindungi kepala dari rintik halus hujan yang terbawa angin, saya bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya tengah berkecamuk dalam benak kedua lelaki yang kini telah menjejak Paris itu. Sylvester Basssang desainer, dan Ignatius Bramantya–sang fotografer. Keduanya baru saja menapaki awal karir setelah merampungkan studi; dan kini tiba-tiba saja, menemukan diri mereka berada di Paris untuk bekerja di belakang layar sebuah perhelatan internasional sekelas Paris Fashion Week.

Saya teringat kebahagiaan yang memuncak ketika dulu sekali, untuk yang pertama kali (tepat sehari setelah ulang tahun saya), salah satu tulisan blog saya difitur dalam kolom Freshly Pressed oleh WordPress. Atau ketika cerita pendek saya untuk pertama kalinya diterbitkan dalam sebuah omnibus dan bisa didapatkan di toko-toko buku. Jadi, saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sylvester dan Bram saat itu. Dari 30 ribu (ya, 30 ribu!) karya dari seluruh Indonesia yang masuk dalam ajang Go Ahead Challenge–kompetisi kreatif yang mereka ikuti–karya keduanya berhasil keluar sebagai pemenang. Dan kini mereka dapat bekerja langsung bersama figur-figur internasional dalam dunia fashion di Paris.

***

“Keluargaku memang suka memotret,” kata Bram–yang baru saja memulai karirnya sebagai fotografer di sebuah perusahaan media. “Ayahku sempat bekerja di industri media pada tahun 90an. Kami tiga bersaudara. Kakakku yang pertama bekerja di perusahaan periklanan di Jerman, sedangkan kakakku yang kedua bekerja di sebuah harian sebagai wartawan daerah di Jawa Tengah. Melihat mereka berproses, aku belajar banyak hal. Pendidikanku di film juga erat kaitannya dengan fotografi. Dengan fotografi, aku bisa mengisahkan sesuatu kepada orang lain.”

Malam itu, setelah hujan pergi tertiup angin dan hanya menyisakan dingin yang menggigit, kami berkumpul berdesakan di lantai atas sebuah restoran di salah satu sudut kota Paris bersama Michel Dupré. Ia fotografer fashion asal Perancis dengan bahasa tubuh yang hangat, mata yang jenaka, dan senyum yang mengembang. Melihatnya, saya langsung teringat pada tipikal wajah lelaki Perancis yang biasa saya lihat di komik-komik Eropa–lengkap dengan kumis dan rambut ikal sebahu.  Di sela-sela makan malam ala Perancis (yang bisa berlangsung selama 3 jam), Sylvester, Bram, dan Michel larut mendiskusikan konsep pemotretan, rencana scouting lokasi, casting model yang akan dilakukan esok hari, serta waktu terbaik untuk mendapatkan cahaya natural yang mereka inginkan selama pemotretan.

Ya, malam pertama di Paris sudah langsung mereka habiskan untuk mendiskusikan pekerjaan. Beberapa hari lagi, di bawah arahan langsung Michel dan timnya, Bram akan melakukan photo shoot di Paris untuk koleksi rancangan desainer muda Indonesia, Tex Saverio, yang akan disandingkan dengan koleksi Sylvester.

“Aku sangat terinspirasi dengan budaya Timur Tengah,” kata Sylvester. “Suatu hari, aku menonton tayangan televisi mengenai Islam, Timur Tengah, dan terorisme. Aku merasa ada sesuatu yang salah di sana. Aku melihat bahwa budaya Timur Tengah adalah budaya yang indah. Mereka yang berpakaian dengan gaya Timur Tengah bukan berarti teroris. Di sinilah aku merasa ingin menyampaikan sesuatu lewat rancanganku. Aku ingin mengangkat keindahan budaya Timur Tengah dengan menciptakan busana yang indah. Aku tak ingin orang-orang melihat Timur Tengah untuk hal-hal yang negatif saja.”

Saya tak bisa menahan diri untuk tersenyum ketika mendengar penjelasannya yang berapi-api. Terus terang, saya bukan tipe perempuan yang terlalu kerap mengikuti perkembangan dunia fashion. Seringkali, saya hanya melihat dunia fashion lewat sisi konsumerisme, kesinisan, dan keglamorannya–yang kerap dipertontonkan lewat media cetak dan elektronik. Mendengar Sylvester bertutur mengenai kisah di balik rancangannya, dan bersentuhan langsung dengan keramahan dan kehangatan seorang fotografer fashion sekelas Michel Dupré, saya merasa mulai memiliki pandangan berbeda tentang dunia fashion; dan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Maybe it’s not such a bitter industry, after all. Mungkin saya memang sekadar perlu menambah referensi.

Keesokan harinya, ketika kami berkunjung ke Museum Louvre–dan hanya punya waktu dua jam untuk dihabiskan di sana (sesuatu yang menurut saya nyaris mustahil, mengingat betapa besar, luas, dan banyaknya koleksi museum itu); saya memutuskan untuk menggunakan sebagian besar waktu yang saya miliki untuk menelusuri satu sayap saja.

Tidak, saya tidak mencari Mona Lisa yang termashyur itu. Saya lebih memilih untuk tersesat dalam lorong-lorong yang menampilkan seni dan sejarah Islam. Rasanya tak terlalu kebetulan ketika kemudian saya dan Sylvester tiba-tiba saja berpapasan di lorong Egyptian Art.

***

Menelusuri kota Paris seraya merapatkan overcoat untuk mengusir dingin yang sesekali mampir, saya mulai dapat melihat kota ini dari sisi berbeda. Paris tidaklah selalu seglamor dan seromantis yang dibayangkan orang-orang. Kau masih bisa menemukan puntung-puntung rokok yang seenaknya saja dibuang di pinggir jalan, para pengemis yang mengerut kedinginan di trotoar dengan selimut koyak dan tulisan J’ai Faim (saya lapar) yang dicoretkan di atas kertas kardus, tuna wisma yang duduk di depan toko-toko besar dengan tas-tas plastik berisi pakaian bekas dan sisa-sisa makanan seraya memeluk anjing mereka, gelandangan yang berkeliaran di stasiun metro dan mendatangi orang-orang untuk minta uang–kemudian memaki-maki ketika tak diberi, anak-anak muda yang mabuk dan mengganggu orang-orang yang lalu-lalang di jalan, kakek-kakek dan nenek-nenek yang mengomel atau bicara sendiri keras-keras di tempat umum, serta bau pesing yang menguar di udara ketika kau berlari melewati lorong-lorong kecil.

Di sisi lain, kau juga tetap bisa mendengar sayup-sayup lagu tema dari film Amélie yang dimainkan pemusik jalanan selagi kau menapaki jalan-jalan berbatu di seputaran Montmartre, mencium manis dan renyahnya Nutella crepe yang tengah mendesis hangat di atas wajan, menepuk-nepuk kucing-kucing gemuk yang bekeliaran dari sudut-sudut yang nyaris tak kelihatan, tersipu memandangi mereka yang tengah bergandengan tangan dan melepaskan ciuman di sepanjang kanal Saint Martin, berpikinik di taman-taman kota dengan sebotol anggur, roti, dan aneka jenis keju ketika matahari sedang hangat, atau mengagumi gereja-gereja seperti Notre Dame dan Sacre Coeur yang dipenuhi burung-burung dan tersenyum pada dentang lonceng serta gita puja yang mengalun megah dalam keramaian.

Segala yang ada di sekelilingmu, sekecil apapun itu, bisa menjelma gangguan yang menyebalkan; atau inspirasi yang mengilhami. Orang-orang yang kau temui setiap hari bisa kau abaikan; atau kau sapa dengan penuh keingintahuan. Kau bisa selalu merasa punya jawaban atas segala sesuatu; atau punya pertanyaan akan segala sesuatu. Karena kau bukan hanya tentang mimpimu–kau juga bagian dari mimpi orang-orang di sekitarmu. Apa hal kecil sederhana yang bisa kau lakukan untuk membantu mereka yang kau sayangi mengejar impian-impian mereka?

***

“Aku nggak bisa menggambar,” kata Sylvester suatu hari. “Ini yang awalnya membuatku merasa tidak percaya diri untuk sekolah fashion. Tapi, lama-lama, aku belajar–dan memang tidak pernah hebat dalam menggambar, tapi setidaknya sekarang aku bisa membuat sketsa rancangan. Untungnya, kedua orangtuaku mendukung keputusanku untuk masuk sekolah fashion, bahkan mereka yang menyuruhku melakukannya. Awalnya, aku ingin sekolah kuliner dan menjadi chef. Lalu orangtuaku berkata, Kamu ingin sekolah kuliner? Masuk dapur saja tidak pernah,” ia tertawa.

“Awalnya, kupikir fotografi tidak akan bisa menghidupiku. Aku hanya senang bikin gambar saja, kok, dan tidak berpikir komersial,” ujar Bram. “Beberapa karya fotoku juga susah dimengerti oleh orang lain. Aku banyak berangkat dari kegelisahan pribadi manusia dan lingkungannya. Dalam perjalanan, aku mengerti bahwa pasar pun butuh seseorang yang bisa berpikir luas. Karena saat ini fotografi tidak lagi bicara hanya perihal teknis, tapi juga ide dan gagasan. Foto nge-blur pun sekarang menjadi hal yang sah. Bahkan aku pernah diminta Jakarta Fashion Week untuk membuat foto nge-blur dan absurd dari sisi art. Itu pengalaman yang menyenangkan.”

***

Sore itu, ketika Bram dan Sylvester memutuskan mendaki ke puncak menara Eiffel, saya memilih berpiknik di taman seraya menyesap cokelat hangat dalam gelas kertas; memandangi ikon kota Paris yang dari rerumputan terlihat seperti silang-silang rumit berwarna abu-abu gelap yang menanjak terus ke langit.

Ketika pembangunan menara ini berlangsung di Champs de Marts, sekitar 300 seniman, pemahat, penulis, dan arsitek, mengirimkan petisi kepada komisioner Paris Exposition. Mereka menuntut agar pembangunan menara ini dihentikan. Menurut mereka, menara itu menggelikan; dan akan membuat Paris terlihat seperti tumpukan jelaga raksasa. Namun, Gustave Eiffel tak peduli dengan banjir protes itu, dan kini Menara Eiffel dinilai sebagai salah satu seni struktural yang paling menakjubkan di dunia.

***

Seberapa besar nyalimu untuk meninggalkan penilaian orang-orang di belakang, lalu mengejar apa yang selama ini selalu kau inginkan? Seberapa tangguh kau menghadapi orang-orang yang berkata bahwa kau akan menyakiti orang-orang kau sayangi jika kau mengejar hal-hal yang membuatmu bahagia? Seberapa sabar kau menapaki langkah demi langkah yang bahkan kau sendiri tak tahu akan membawamu ke mana? Kau hanya tahu bahwa inilah yang selalu kau inginkan dalam hidupmu–dan inilah hal yang terpenting bagimu: sesuatu yang akan kau kenang tanpa sesal jika suatu saat nanti tiba waktumu. Tetapi, akankah kau mengambil pilihan-pilihan yang sulit itu?

Mereka bilang, jalan menuju impianmu adalah jalan yang akan membuatmu merasa kesepian di tengah keramaian. Maka, ketika hari ini kau berhenti sejenak dan memikirkan semua itu, apakah kau ingin terus berlari?

Screen Shot 2016-04-03 at 7.01.55 PM

(bersambung…)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Share on whatsapp
Share on email
Share on twitter
Share on pinterest
Share on facebook
Share on linkedin

Ada hal-hal yang saya harap bisa saya pelajari di sekolah selain pendidikan moral, bahasa, maupun matematika. Misalnya, bagaimana baiknya mengungkapkan rasa kepada orang yang saya cinta, bagaimana menyembuhkan luka hati setelah disakiti, atau bagaimana meringkas duka cita dalam beberapa kata atau tepukan di bahu mereka yang terluka.

Saya tak pernah pandai mengutarakan belasungkawa.

large_8564878094

Ada sesuatu yang tak sepenuhnya terasa benar. Atau mungkin, saya terlalu banyak berpikir–atau bahkan merasa. Kata-kata rasanya tak bisa menggambarkan dengan tepat apa yang ingin saya sampaikan. Pelukan mungkin terlalu frontal. Kehadiran terkadang membuat saya merasa sedang melanggar batas; karena saya terbiasa menikmati berduka sendirian. Sesuatu yang buat saya, terasa sangat nyaman–meskipun saya tahu, tak semua orang merasa demikian.

Seringkali, yang saya lakukan adalah berduka di kejauhan, untuk mereka yang ditinggalkan. Mereka tak tahu bahwa saya membawa mereka sepanjang jalan, ketika memesan secangkir kopi atau berdoa di malam hari, selagi mengobrol dengan orang-orang yang saya cintai atau berjalan kaki di bawah hangat sinar matahari. Terkadang, saya menitikkan air mata juga untuk mereka, karena ada hal-hal dalam hidup yang terlalu intens untuk diungkapkan dengan cara-cara lain.

Saya masih tak pernah pandai mengucapkan belasungkawa. Biasanya, saya butuh waktu beberapa minggu atau bahkan bulan, untuk benar-benar kembali menatap atau bercakap dengan mereka yang berduka cita. Di saat itu, terkadang saya masih tak tahu apa yang bisa saya katakan. Saya juga masih tak bisa memberikan pelukan atau menawarkan sesuatu yang dirasa bijaksana.

Saya percaya orang-orang yang pernah menyimpan luka akan memiliki empati lebih dalam terhadap sesama manusia. Jadi biasanya, saya hanya tersenyum dan mengucap syukur ketika melihat mereka yang ditinggalkan masih bertahan–dan menjadi seseorang yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Untuk hal yang satu ini, saya bisa menangkapnya dalam mata-mata mereka yang tetap berbinar ketika kami kembali bertatapan; meskipun kita semua tahu bahwa duka itu tidak pernah benar-benar hilang.

Screen Shot 2016-04-03 at 7.01.55 PM

photo credit: melquiades1898 via photopin cc
hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Share on whatsapp
Share on email
Share on twitter
Share on pinterest
Share on facebook
Share on linkedin

Aku masih saja dibuat takjub akan sekian pertemuan yang nyaris terlewatkan–tetapi tidak. Seperti malam itu; ketika aku merasa nyaris putus asa dan tak lagi berharap akan menemukan (si)apa-(si)apa–kemudian langkahku memotong langkahmu secara tak sengaja dan kita bersua, begitu saja, seperti sudah seharusnya.

Candles

Kau merupa segala yang kuimpikan dan lebih. Terkadang membuatku takut, ketika hal-hal yang sudah lama kuangankan diam-diam kau jatuhkan tepat di atas pangkuanku, satu-satu: seperti jawaban atas doa-doa yang bahkan tak berani kuucapkan keras-keras. Jujur, terkadang aku meragu. Juga menunggu kapan semua ini akan berhenti pelan-pelan. Sudah lebih dari 100.000 kata kini, dan kita masih saja terhubung pada saat-saat yang bertepatan, seperti hari ketika aku berdiri di tepi pantai di Uluwatu dan mengirimkan sebongkah rindu pada ombak yang bergulung-gulung pergi; dan malam harinya, hujan turun di atasmu, 16.849 kilometer jauhnya dari sini. Kau katakan padaku saat itu bahwa kau bisa merasakan hatiku dalam setiap rintik yang menetesi kepalamu. Malam itu, kau sengaja membasahi dirimu meskipun biasanya kau lebih suka menikmati hujan dari dalam ruangan.

Lalu aku teringat malam ketika kita duduk di beranda untuk yang terakhir kali. Pada saatnya, aku luluh dalam tatapmu–dan tiba-tiba saja kata-kata menghilang dari kepalaku. Jadi kita terdiam berhadapan, lama. Rasanya tak seperti jeda yang harus diisi apa-apa. Kita tersenyum. Tertawa. Memandang ke arah yang sama.

Sepertinya kita bercakap dalam diam malam itu–tetapi entah bagaimana, kau membuat hatiku merasa bahwa untuk pertama kalinya, aku tak perlu ragu membiarkan diriku jatuh.

Screen Shot 2016-04-03 at 7.01.55 PM

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Share on whatsapp
Share on email
Share on twitter
Share on pinterest
Share on facebook
Share on linkedin

A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving | Lao Tzu

Ada rencana-rencana yang sudah kita bicarakan. Rencana-rencana yang kemudian berantakan di tengah jalan. Lalu kita menyusun rencana-rencana baru. Daftar yang panjang mengenai apa-apa yang akan dilakukan. Dan rencana itu pun berantakan sebelum sempat diwujudkan. Kali ini, tidak seperti yang pertama, aku agak kecewa. Dan menurutku, tidak mengapa, karena bukankah merasa kecewa itu menujukkan bahwa aku memang manusia biasa. Tidak selamanya aku harus bahagia dan baik-baik saja. Dan mengakui bahwa aku kecewa itu lebih baik daripada harus berpura-pura. Jadi. Aku. Kecewa. Titik. Oh, masih ada koma: dan juga sedikit sedih.

(Aku tidak tahu apakah kamu juga)

Tetapi, malam tadi, sahabatku datang, membawakan dirinya, juga sekantong benda-benda lucu: mulai dari pernak-pernik burung hantu, untaian kalung-kalung lucu, mouse pad yang katanya mirip aku, dan sebuah buku. Jurnal perjalanan dengan gambar kota Bangkok di sampul depan. Tebalnya satu ruas ibu jariku. Entah mengapa yang bisa kupikirkan saat melihat travel journal itu hanya kamu. Aku ingat perjalanan di atas kereta dari Jerez ke Sevilla tahun lalu, ketika aku menuliskan berlembar-lembar surat untukmu. Ya, surat-surat yang tak pernah kukirimkan itu. Lalu aku berpikir tentang rencana-rencana kita yang berantakan, yang kemudian memaksaku untuk mencari tempat lain untuk didatangi. Perjalanan panjang yang akan kutempuh, menyeberangi garis-garis waktu ke tempat di mana tidak ada kamu.

Tiba-tiba meledak gambaran dalam benakku. Aku yang mengisi lembar-lembar travel journal itu dengan sketsa, surat-surat, kutipan-kutipan, puisi dan ingatan-ingatanku tentang kita, guntingan koran dalam bahasa yang tidak kumengerti, ah, dan mungkin peta (aku mudah tersesat dan kehilangan arah), atau nomor telepon orang-orang dan tempat-tempat yang kudatangi. Satu-satunya yang ada dalam benakku adalah memenuhinya dengan cerita-cerita perjalananku. Lalu sebelum pulang, mungkin aku akan memotret semua halamannya dan menyimpannya di dalam folder komputerku, sementara travel journal yang sebenarnya akan kukirimkan kepadamu melalui pos.

Begitu?

Kemudian aku kembali senang. Kembali bahagia. Kembali bersemangat dengan rencana-rencana baru. Siapa bilang di tempat yang kutuju tidak ada kamu? Kamu akan selalu ada di sana: di langit pagiku, pemandangan kaldera di luar kamarku, halaman-halaman buku, batu-batu di sepanjang pantai yang katanya berpasir hitam itu…

Lalu, siang ini, aku menemukan kutipan dari Lao Tzu. A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving. Aku ingin melihat hidup (baca: kita) dan cinta (baca: kamu) dari sudut pandang seorang traveler. Untuk mengerti bahwa rencana-rencana—bahkan yang disusun dengan sangat hati-hati sekalipun, bisa berantakan kapan saja. Tujuan akhir kita bukanlah untuk sampai di satu titik, tapi terus berjalan dan mencari petualangan-petualangan baru. Bukankah kita juga pernah berteriak lantang, “We don’t plan! We do things!

Dan kurasa itulah yang akan kulakukan mulai saat ini.

Pagi-pagi, kamu mengatakan bahwa kamu sempat tidak baik-baik saja. Jadi kuhabiskan seharian itu untuk menghiburmu dengan hal-hal lucu yang kutangkap dari balik lensa kameraku. Sampai kamu bisa tertawa lagi dan bisa merasa baik-baik lagi. Lalu kusadari sesuatu. Yang membuatku bahagia ternyata bukan tercapainya impian-impian itu: tetapi mendengar kamu bisa tertawa lagi karena sesuatu yang kukatakan. Yang terpenting buatku ternyata bukan terwujudnya rencana-rencana itu: tetapi kamu.

Iya, kamu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Share on whatsapp
Share on email
Share on twitter
Share on pinterest
Share on facebook
Share on linkedin

Falling in love should be like Polaroids. Instant,” begitu kata teman saya di WhatsApp. Mungkin dia benar. (Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya saya juga sudah tahu bahwa saya akan jatuh cinta sama kamu setelah kita ngobrol selama sekitar 10 menit. Well, mungkin nggak seinstan Polaroid, tapi buat saya, 10 menit itu rasanya cukup cepat.)

Tetapi bahkan foto yang keluar dengan suara lucu dari kamera Polaroid pun butuh waktu untuk dinikmati benar-benar. Didiamkan dan diangin-anginkan sebentar hingga warnanya keluar. Setelah itu, kamu bisa senang karena warnanya bagus, atau kecewa karena hasilnya “bocor”. Objek yang nggak ingin kamu foto juga bisa terabadikan di sana secara nggak sengaja.

Bisa jadi jatuh cinta juga begitu. Instan. Tetapi seiring dengan waktu, ada dua pilihan. Kamu bisa semakin jatuh cinta, atau sebaliknya.

Teliti sewaktu memotret dan teliti sewaktu jatuh cinta mungkin jadi sama pentingnya. Mencari cahaya yang bagus dan latar yang sesuai juga menentukan hasil foto Polaroid-mu di akhir hari. Mungkin ini sama dengan mengenal pasangan. Mencari tahu apa yang ia suka dan apa yang ia nggak suka. Melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama. Mengobrol berjam-jam dan masih saja nggak kehabisan bahan pembicaraan.

Dan bahkan memotret dengan Polaroid pun nggak bisa menjamin hasil yang menjanjikan kalau pemotretnya “mata keranjang”. Hendak memotret objek di titik A, tetapi malah mengarahkan kamera ke titik B.

Jadi mungkin benar kata teman saya itu. Jatuh cinta memang seperti Polaroid.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Share on whatsapp
Share on email
Share on twitter
Share on pinterest
Share on facebook
Share on linkedin

Truman Capote, 1956 | 178 pages

Ada banyak hal yang bisa hilang dari hidupmu, tapi tak semuanya akan membuatmu merasa kehilangan. Mungkin ini akan jadi kalimat pembuka yang pas ketika saya meminta kawan-kawan saya membaca karya klasik Capote, Breakfast at Tiffany’s.

Kisah ini berawal dengan pertemuan seorang lelaki dengan seorang perempuan bernama Holly Golightly. Nama karakter ini pun sudah mengandung semacam pertentangan yang tidak biasa, dan satu-satunya kata yang bisa menjelaskan Holly adalah bahwa ia seorang perempuan yang “tidak biasa”.

Jika di awal kita akan memandang tokoh Holly sebagai perempuan cantik yang dangkal dan sedikit bodoh, setelah beberapa lama kita (sebagaimana tokoh lelaki dalam cerita ini) akan menemukan banyak hal yang disembunyikan Holly di balik kemasan ‘luarnya’. Aren’t we all lonely in our own lonely ways?

Membaca Breakfast at Tiffany’s seperti mengupas bawang. Selapis demi selapis, kita akan dibawa untuk semakin mengenal Holly—dan hal-hal yang membuatnya menjadi Holly yang seperti sekarang ini. It had the same effect like reading your boyfriend’s past, trying to understand why he turns into the guy that he is. Exactly the reason why I just couldn’t put the book down.

Karena bukankah setiap orang punya masa lalu yang mendefinisikan masa kininya?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Share on whatsapp
Share on email
Share on twitter
Share on pinterest
Share on facebook
Share on linkedin

Semuanya nampak seperti serangkaian “kebetulan”.

Seorang sahabat dari luar kota mengajak saya ‘sowan’ ke sebuah kedai teh mungil di kota tempat saya tinggal. Kedai teh yang belum pernah saya dengar namanya, dan belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Di kedai teh ini, kami berbincang tentang banyak hal, seperti biasa. Dan selagi kami berbincang tentang kamu, pemilik kedai teh itu—seorang lelaki bertubuh kecil dan berwajah ramah, datang menyapa. Ia kemudian menyodorkan sebungkus teh hasil racikannya sendiri, yang disimpannya di dalam sebuah kaleng.

Saya menghirup wangi teh dalam bungkusan itu. Segar; seperti wangi laut dan musim panas.

Lantas, jika kamu percaya bahwa tidak ada hal yang bernama ‘kebetulan’ di dunia ini, maka bukan kebetulan pula jika teh racikan di dalam kaleng itu bernama Fragrance of Love. Campuran dari berbagai jenis teh asli Indonesia dengan chammomile, peppermint, kulit jeruk, dan serai (lemongrass).

***

Nama kedai teh itu Lare Solo.

Kedainya kecil saja, seperti warung-warung teh yang biasa kamu temui di perjalanan menuju Puncak. Letaknya di kawasan Agripark, Taman Kencana, Bogor. Nama pemiliknya Pak Bambang.

“Awalnya saya membuka kedai teh ini karena blog juga. Saya bercerita tentang teh di sana, dan banyak orang yang suka. Jadilah kemudian saya berkenalan dengan kawan-kawan pecinta teh lainnya, dan mendirikan kedai teh ini, kecil-kecil saja,” ujar Pak Bambang sambil menyeduhkan teh untuk kami.

Oh ya, apakah kamu tahu mengenai ‘Jayeng’? Jayeng adalah jabatan non-formal yang diberikan kepada pembuat teh untuk warga. Di setiap hajatan, Jayeng akan menyiapkan puluhan gelas teh untuk para tamu. Mulai dari merebus air, menyeduh teh, menuangkannya ke dalam gelas, memberi gula, dan mengaduknya satu per satu. Jayeng menjadi semacam profesi yang memadukan tradisi, pengabdian, kesungguhan, dan kecintaan akan teh. Ada banyak lagi kisah-kisah menarik seputar teh yang bisa kamu temukan lewat halaman-halaman blog Pak Bambang, atau lewat percakapan santai dengan beliau di Lare Solo.

Dari dapur kecil ini, berbagai macam teh diseduh dan dihidangkan. Ada empat macam teh yang kami coba hari itu: teh tarik, mango sencha, fragrance of love, dan racikan teh peppermint dari Pak Bambang. “Cukup banyak varian teh, bunga-bungaan, dan bahkan peppermint ini masih impor,” Pak Bambang menjelaskan. “Tanah dan cuaca sangat mempengaruhi rasa, jadi walaupun satu varian teh atau bunga-bungaan bisa ditanam di Indonesia, rasa dan aromanya entah mengapa tidak bisa ‘pas’. Misalnya untuk peppermint ini, saya sudah coba daun mint dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi rasa dan aromanya kok beda.”

Menghirup aroma dari bungkusan demi bungkusan teh yang disodorkan Pak Bambang ternyata begitu mengasyikkan. Wangi ‘rumput laut’ yang tercium pada berbagai bungkusan teh hijau pun membuat saya ingin membawanya pulang dan meletakkannya di samping tempat tidur.

Untuk 1 teh tarik dan 3 poci teh yang kami pesan, ditambah dua porsi risoles keju dan daging asap, percaya atau tidak—kami hanya membayar 40ribu rupiah. Surga yang luar biasa bagi para pecinta teh, terutama bagi mereka yang terbiasa membayar 40ribu rupiah hanya untuk sepoci teh di Jakarta. Belum lagi percakapan dengan Pak Bambang, yang nilainya melebihi nominal tersebut. Mulai dari mengenal berbagai jenis teh, upacara minum teh di Jepang, racikan-racikan teh yang pernah dibuat, sampai perjalanan beliau mendirikan kedai teh mungil ini, semuanya menjadi teman minum teh yang sangat menyenangkan.

Suatu hari, saya akan mengajakmu ke sini dan memperkenalkanmu dengan sesuatu yang bukan kebetulan itu. Sepoci Fragrance of Love. Diminum hangat-hangat. Kalau kamu bertanya seperti apa rasanya? Aku akan menjawab bahwa rasanya…

seperti kita.

Care for a cup of tea and me? 😉

_____________________________________________________________________________

This post has been published in AirAsia Indonesia’s 3Sixty magazine, Feb 2015.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Share on whatsapp
Share on email
Share on twitter
Share on pinterest
Share on facebook
Share on linkedin
TAKE WHAT YOU NEED
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer, a creative content consultant, and a stationery/blog designer based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am!

hanny

THE JOURNALING CLUB