Melangkah keluar dari terminal bis di Jerez, aku merasa seperti berada di dalam komik Lucky Luke. Kota ini seperti mati. Begitu sepi, begitu kering. Tak ada orang di sekitar. Debu-debu beterbangan dibawa angin, terkadang segerumbul semak kering menggelinding di jalanan. Aku menyusuri kota kecil di Cadiz ini untuk mencari kebun-kebun anggur: bodega. Sejak dulu, Jerez telah menjadi pusat industri anggur, dengan ekspor sherry ke seluruh dunia.

Jalan-jalan yang sepi membuatku melompat masuk ke dalam taksi. “Toko-toko yang buka… tempat banyak orang-orang…” dan pengemudi taksi itu mengatakan, “Central!”. Maka meluncurlah kami ke bagian pusat kota. Sepanjang jalan, toko-toko tutup dan berdebu. Di ‘pusat kota’ terdapat sekitar tiga buah restoran yang buka. Maka aku mampir di sana untuk menyantap paella, sambil memperlihatkan peta kepada pelayan di sana. Di mana saja bodega yang buka pada jam-jam ini?

Pelayan itu melingkari bodega-bodega di petaku dengan pena. Maka sehabis makan siang, aku berjalan meninggalkan pusat kota, melewati komidi putar yang cantik dan tak berkelip, juga patung pejuang di alun-alun yang sendirian. Semuanya begitu sepi, begitu hening. Bodega pertama yang terdekat dan dilingkari pena adalah sebuah rumah tua seperti kastil, dengan halaman yang dipenuhi ilalang dan rumput-rumput tinggi. Pintu gerbang besarnya (yang mengingatkanku pada adegan-adegan telenovela), terkunci dan dirantai. Mungkin bodega ini sudah lama bangkrut.

Menyusuri jalan-jalan yang tetap sepi, sandal jepitku putus sebelah. Dan Jerez adalah kota di mana tak peduli berapa banyak uang yang kau punya—meski kau mampu membeli sandal jepit Burberry, kau tidak bisa menemukan toko yang buka dan menjual sandal jepit pada pukul tiga sore. Aku mencoba melangkah dengan telanjang kaki di jalan yang bersih, tetapi panasnya matahari membuatku berlompatan di atas aspal. Akhirnya sandal jepit itu diikat ke kakiku. Begitulah. Jika ada hal-hal di dunia ini yang tak bisa dibeli dengan uang, salah satunya adalah: sandal jepit di Jerez.

Untungnya tak jauh dari sana, ada sebuah bodega dengan gerbang terbuka: Bodega Tio Pepe. Dengan kereta merah lucu, aku dan rombongan wisatawan, juga sepasang kekasih (yang pria punya wajah mirip Yesus), mengitari bodega itu—yang dipenuhi pucuk-pucuk anggur.

Aku ingin menunjukkan pola-pola cahaya ini padamu: permainan dari atap rambatan anggur dan sinar matahari yang meninggalkan lingkaran-lingkaran indah di dinding. Kamu bilang, “Berikan aku foto-foto!”

Jadi aku ingin menunjukkan padamu botol-botol dengan desain yang lucu ini,

satu tong anggur yang khusus dibuat untuk Jose Saramago, salah satu pengarang favoritku,

lapisan jamur yang mengubah jus anggur menjadi minuman beralkohol,

juga tangga dan gelas kecil ini. Bodega Tio Pepe juga terkenal dengan keluarga tikus yang tinggal di salah satu sudut ruang penyimpanan anggur mereka. Tikus-tikus ini dulu menjilati tetesan anggur yang tumpah dari tong. Dan sampai kini, keluarga Happy Mice masih berdiam di Tio Pepe. Sesekali mereka muncul untuk naik tangga dan minum anggur, juga menyantap keju atau biskuit yang ditinggalkan di tengah ruangan.

Cheers!

Quisiera que estuvieras aquí,

H

hanny

5 Responses

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO