Assalamualaikum wr. wb.

Pertama, saya ingin sampaikan dulu apresiasi. Saya merasa mendapat kehormatan ketika Mas NdoroKakung kontak, memberi tahu Mas ini akan ada Pesta Blogger tahunan, dan saya diminta untuk berbagi sedikit pandangan Indonesia dengan lain. Saya merasa, wah, ini sebuah kehormatan, jadi  terima kasih, Mas, atas kesempatannya.

Tema yang dimunculkan di sini menarik. Ideas meet opportunities. Hari-hari ini, kita sering sekali bertemu dengan situasi where opportunity is there but people only see the difficulties in opportunity. Itu adalah biasanya disebut orang pesimis. Melihat opportunities tapi yang dilihat justru aspek sulitnya. Orang-orang optimis, terbalik. In difficulties, they see opportunities. So an optimist sees opportunities in difficulties, but a pessimist sees difficulties in opportunities.

Hari ini, saya merasa kita memiliki energi baru di sini. Ini adalah anak-anak muda baru Indonesia yang melihat tantangan di republik ini dengan persepsi yang positif, dengan pandangan yang optimis. Dan ini yang sebenarnya diperlukan untuk kita ke depan.

Teman-teman sekalian, kalau kita perhatikan, akhir-akhir ini dalam beberapa tahun terakhir ini, kita mengalami hempasan pesimisme yang luar biasa. Segala yang kita lihat di republik ini kita lihat dengan pandangan: so many problems. Begitu banyak masalah. Memang harus diakui, Indonesia ini banyak masalah, tetapi mari coba kita refleksikan sebentar ke belakang.

Saya sempat merefleksikan ini tahun lalu, pada saat melepas teman-teman pengajar muda berangkat meninggalkan Jakarta menuju tempat-tempat mereka bertugas. Mereka bertugas di desa-desa, kita semua tahu—terpencil, berbagai wilayah. Mereka berangkat dari Jakarta. Berangkatnya bukan dari stasiun Gambir, tapi dari airport Cengkareng, yang namanya Soekarno-Hatta.

Setelah mereka berangkat, saya berjalan pulang naik mobil, dan di situ saya masih ada bayangan anak-anak yang barusan dilepas, barusan berangkat, meninggalkan ke pelosok. Mereka memiliki peluang untuk hidup nyaman di kota-kota, berkarir di tempat-tempat enak, dan mereka memilih untuk berada di pelosok. Tapi airport tempat melepas itu, namanya Soekarno dan Hatta.

Soekarno dan Hatta memiliki seluruh persyaratan untuk hidup nyaman, sejahtera, bagi dirinya dan keluarganya, tapi yang mereka pilih justru jalan yang sulit. Mereka tidak pilih untuk hidup nyaman sejahtera. Mereka memilih untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dan hari ini, di tiap langkah yang kita lakukan, ada jejak pahalanya.

Mereka orang-orang yang melihat kesulitan dalam perspektif yang positif. Mereka memiliki seluruh persyaratan untuk pesimis. Punya persyaratan untuk pesimis. Bagaimana tidak? Coba kalau kita bayangkan Indonesia tahun 45. Barangkali teman-teman di sini kalau saya boleh tanya: ada tidak yang tahu, berapa jumlah SMA tahun 45? How many higschool was in this country in 1945? How many? Ada yang mau tebak? Sembilan puluh dua. We had only 92 highschools across the archipelago. How many middle schools? Three hundred and thirty two. Tiga ratus tiga puluh dua SMP in a population of 70 million individuals. Tujuh puluh juta, sembilan puluh dua SMA, tiga ratus tiga puluh dua SMP, dan buta hurufnya: 95%.

Kalau Anda menjadi pemimpin di masa itu, Anda menjadi pejuang di masa itu, Anda memiliki seluruh persyaratan untuk pesimis. Ada di situ persyaratan pesimisnya: rakyat tak bisa baca-tulis, tak terdidik. Saya sering malu membayangkan begini: kalau diberikan secarik kertas, “Tolong tulis nama Anda”—nggak sanggup. Tapi kalau dikasih pistol, saya siap bertarung. Kumpulkan massa, siap kumpulkan. Kasih bambu, siap diruncingkan. Ikut perang berhasil, tapi beri secarik kertas, tulis nama sendiri tidak sanggup. Persyaratan pesimis itu ada, tapi mereka memilih untuk optimis.

Mereka memilih untuk melihat kesulitan dengan perspektif yang positif. Efeknya apa? Optimisme mereka menular.

Optimism is very contagious. Optimisme mereka itu menular kemana-mana. Dan anak-anak muda republik ini mengalami keterjangkitan optimisme yang luar biasa. Mereka mewarnai sebuah gelombang baru. Ada gelombang baru, yang di sana menuju Indonesia yang lebih baik.

Hari ini, kita menyaksikan gelombang baru ini mulai muncul. Gelombang baru ini mulai tampak. Dan peluang ini, bisa dimanfaatkan. Ketika saya menyebut pesimisme, siapa yang paling banyak menggandakan pesimisme?

Like it or not: our media.

Media kita, suka tidak suka, yang paling banyak menggandakan. Apalagi kalau kita lihat media televisi. Anda lihat media televisi, laporan televisi sore hari, maka saat itu kita menyaksikan Indonesia ini suram. Indonesia ini suram. Di sini, menurut kami, sebuah tantangan bagi kita semua.

Teman-teman yang berada di blogger community, hari ini, you have opportunities to challenge the wave of pessimism dengan the new wave of optimism. Dengan pandangan yang berbeda.

Saya menceritakan sedikit anak-anak pengajar muda. Para pengajar muda, yang ditempatkan di sana, sehari-hari mereka menghadapi masalah. Bagaimana tidak? Di lingkungan yang secara pendidikan tertinggal, secara ekonomi rendah, lokasi terpencil, dan sehari-hari mereka harus menghadapi masalah sendirian.

Tetapi, Anda perhatikan, saya perhatikan, apa yang mereka tulis dalam blog-blognya adalah the bright side of this republic. Sisi terang di republik ini. Mereka bisa menuliskan di blognya itu keluh-kesah, problem, hal-hal yang membuat kita pembacanya merasa this country has no future. Tapi yang mereka lakukan apa?

Mereka menuliskan cerita anak-anak cemerlang yang bisa menjadi harapan kita untuk masa depan. Mereka menggunakan blog-blog ini, untuk menggandakan optimisme. Mereka tidak menggunakan blog untuk mematikan optimisme, apalagi untuk menyebarkan pesimisme. Itu berbeda sekali.

This is our media.

This is in our control, and let’s spread the word.

Mari kita gandakan pesan yang positif itu. Ini yang sekarang menjadi tantangan bagi kita. Nah, yang menjadi masalah, hadirin sekalian, mengapa kita harus optimis tentang Indonesia? Why? Why should we be optimist?

Apa… apa kita punya persyaratan untuk optimis?

Kalau kita berbicara persyaratan, teman-teman sekalian, hari ini kita berkumpul di tempat yang seperti ini, di Epicentrum ini, Anda bayangkan 40 tahun yang lalu, 50 tahun yang lalu, tempat ini ada tidak?

These are sign of accomplishment! Suka tidak suka, kita biasanya bertanya: pertanyaan pertama, who owned it? Oke? Siapa yang punya? Kita biasanya tidak tanya, siapa yang membangunnya? Dikerjakan siapa? Para insinyur kita. Yang mendesain, yang mengerjakan, dan begitu banyak sign of accomplishment yang kita lewatkan.

Kita, lebih suka mendiskusikan hal-hal yang membuat kita merasa pesimis. Karena itu, kenapa kita harus optimis? Kita melihat ada begitu banyak sign of accomplishment, tanda-tanda keberhasilan, tanda-tanda peraihan, tapi kita sering memilih untuk tidak memperhatikan itu.

Dunia, hari ini, melihat Indonesia dengan perspektif yang positif; tidak pernah terjadi dalam sejarah republik ini, di mana ada pandangan yang hampir sama tentang prospek masa depan Indonesia dibanding beberapa tahun terakhir ini. Tidak pernah. Sebelumnya, dunia memandang kita dengan penuh pertanyaan.

Saya ingat, tahun 99 atau 2000, Indonesia pernah disebut sebagai negara yang “messy”. Negara yang messy-state, negara yang agak berantakan. Ditulis oleh seorang penulis yang sangat terkenal. Dan pada saat itu, ada kekhawatiran yang legitimate. Mungkinkah Indonesia tetap menjadi satu kesatuan?

Sebelumnya, kita tidak pernah memiliki ancaman. Ancaman separatisme itu tidak ada. Yang ada konflik lokal. Tapi tahun 2000-an kita punya ancaman itu. Kita sudah lewati 11 tahun. Semua orang yang memandang Indonesia dengan pesimis tahun 2000, hari ini, mereka harus merevisi pandangannya. Hari ini mereka harus mengubah pandangannya. Dari dunia internasional, ada pandangan yang luar biasa positif.

Tapi di sisi lain, saya bisa sebutkan daftarnya. Tapi saya tidak usah sebutkan satu-satu. Mereka memandang kita dengan perspektif positif atau optimis. Tetapi yang tidak kalah menarik, teman-teman, di sini sekarang, yang Anda berada di sini, menurut saya Anda-lah yang menjadi sumber mengapa kita harus optimis.

Anda-lah yang menjadi sumber kenapa kita harus optimis. Anak-anak muda yang dalam pandangan kami “siuman”. Anak-anak muda yang siuman, yang tidak terbius oleh nafsu-nafsu murahan jangka pendek. Anak-anak yang siuman inilah yang bisa kita harapkan untuk Indonesia masa depan. Orang-orang yang sadar tentang perspektif Indonesia masa depan. Dan teman-teman sekalian, saya ingin kita sama-sama melihat. Berhentilah kita melihat Indonesia dalam perspektif kolonial.

Berhenti melihat Indonesia dalam perspektif kolonial. Kalau perspektifnya kolonial, yang diperhatikan pasti sumber daya alam. Pasti. Kenapa kita hanya punya 5% orang melek huruf? Ya, karena kolonial tidak berminat mendidik bangsa. Mereka berminat mengambil sumber daya alam. Hari ini, lebih banyak dari kita yang tahu jumlah barrel minyak yang diproduksi per hari daripada jumlah guru yang ada di seluruh Indonesia.

Kita sering lebih tahu jumlah mineral yang dikeruk daripada jumlah sekolah yang ada di Indonesia. Kita lebih tahu tentang kandungan protein mineral daripada kualitas guru Indonesia. Poinnya adalah harapan kita pada Anda dan harapan kita pada manusia Indonesia yang tercerdaskan dan tercerahkan.

Banyak orang pendidik tapi belum tentu terdidik lalu tercerahkan. Orang yang tercerahkan dan terdidik contohnya adalah para pendiri republik ini. Mereka sudah mampu melihat dirinya melampaui kepentingan sempit pribadi dan kelompok. Mereka terdidik dan tercerahkan.

Karena itu, teman-teman sekalian, kalau Anda datang ke airport Cengkareng dan Soekarno-Hatta, jangan Anda lupakan nama itu. Karena mereka, mirip dengan kita sekarang. Mereka termasuk orang-orang yang terdidik tercerdaskan di masa begitu banyak orang belum mendapatkan pendidikan.

Hari ini, teman-teman, yang disebut pendidikan tentu masih harus kita kembangkan, tapi yang tidak kalah penting adalah ada dunia baru yang disebut dunia online, dunia virtual ini. Saat ini, Indonesia termasuk—dan tadi sudah disebutkan terus, salah satu yang populasinya, penggunanya, paling tinggi.

Terima kasih kepada para pelopor-pelopor Internet di Indonesia, blogger-blogger di Indonesia, yang membuat ini menjadi bergulir luar biasa. Tapi yang menarik, hadirin sekalian, jangan kita ulangi kekeliruan di masa lalu: masuk ke era baru tanpa mempersiapkan sebuah spirit dan ideologi baru. Spirit dan ideologi baru yang harus dibangun di sini adalah spirit untuk mengkonstruksi Indonesia dengan perspektif positif.

Kita punya arahnya, kesadaran itu harus dibangun dari sekarang. Kemarin, kita menyaksikan pendidikan menghasilkan begitu banyak sarjana, tapi kita lupa menitipkan ideologi di situ. Ideologinya adalah ideologi orang yang tercerahkan, ideologi orang yang akan melakukan langkah melampaui kepentingan dirinya.

Efeknya? Kita punya banyak sarjana, tapi kita juga punya banyak koruptor. Kita punya banyak sarjana, tapi kita punya banyak orang yang hanya mementingkan kelompok kepentingan yang sempit. Dan di sini teman-teman, saya melihat kehadiran para blogger ini merupakan energi baru bagi Indonesia. Dan saya perlu sampaikan, ketika berbicara ideas meet opportunities, teman-teman, stamina itu dibutuhkan.

Teman-teman yang berada di sini, teman-teman yang berada di wilayah virtual ini, mari jaga stamina baik-baik. Jaga stamina moral, jaga stamina fisik, dan jaga stamina intelektual. Tiga stamina ini harus dijaga terus-menerus. Yang sering kita perhatikan, adalah stamina fisik, stamina moral. Itu kadang-kadang tidak diperhatikan jadi satu. Stamina ini menjadi krusial sekali untuk membangun Indonesia di masa depan, yang lebih baik.

Kami di Indonesia Mengajar, kalau boleh saya sharing sedikit, sampai dengan 4 hari yang lalu, batch ke-4 sedang dalam proses rekrutmen, kita menerima lebih dari—di batch ke-4 ini, 4.000 orang pendaftar. Padahal untuk slot yang hanya 72, dan ini belum ditutup. Jadi mungkin bisa lebih dari 6.000 atau 7.000, setelah ini nanti ditutup pendaftarannya. Dan itu artinya, dalam 4 periode ini, sudah lebih sejauh ini, sudah lebih dari 15.000 orang menyatakan siap untuk menjadi guru di pelosok Indonesia selama 1 tahun.

Yang berangkat memang tidak banyak, tapi bukan yang berangkat yang menjadi perhatian sekarang. Yang menjadi perhatian adalah mereka yang menyatakan siap untuk ikut. We, so far, we have no less than 15,000 people, applying to serve as a teacher in a remote area where there is no electricities, minimum cellphone signals, or running water.

Ini merupakan—this is the energy that we’re seeing. We’re seeing the new breed of Indonesians. Orang-orang muda yang mau memberikan dirinya lebih dari sekedar mencari kepentingan karir jangka pendek. Nah, ini teman-teman, yang ingin saya share di sini.

Mereka ini representasi dari kita semua. Dan inilah yang barangkali kita perlu bayangkan. Ketika teman-teman berada di wilayah blog, Anda menulis sesuatu, tulisan Anda will stay there forever. Akan tinggal di situ forever. Your son, your daughter, your grandchildren will be reading what you write today. So, one thing that I can share di sini, make them proud of what your write today. Make them proud of what you write today.

Jangan bikin mereka malu atas apa yang Anda tulis hari ini. Dan itu artinya, tulislah pesan-pesan, tulislah tentang ekspresi-ekspresi yang kita bisa membuat masa depan kita menjadi lebih cerah.

Hari ini kita sering lupa, kalau nge-twit juga ada rombongan galau. Kegalauan itu menjadi hashtag tersendiri. It’s okay to have that side. It’s okay. Tapi jangan lupa, of the other side, of optimism. Apa yang Anda ekspresikan hari ini, akan dibaca oleh anak-anak kita. Dan di sini teman-teman, seperti juga dikatakan para pengajar muda, kita ingin sekali satu saat kita bisa mengatakan: I have done something for my country.

I have done something for my country. Ini yang sekarang seringkali kita lupa. Bahwa apa yang kita kerjakan sebenarnya memiliki efek untuk Indonesia kita. Dan ini, teman-teman sekalian, tren perubahan yang luar biasa, cepat seperti sekarang, menularnya… efeknya luar biasa.

Harapan kita pada perubahan, mau tidak mau, akan dititipkan pada anak-anak muda. Pada anak-anak muda kita akan titipkan harapan perubahan. Tapi jangan pernah berpikir bahwa anak muda itu adalah dari sisi usia. Pada anak-anak muda, pada orang-orang muda, yang diperlukan dari anak muda bukan usianya. Kalau cuma usianya, sebagian dari kita bisa nggak masuk kategori muda.

Menurut UN, karena muda menurut UN itu kalau tidak salah di bawah 25 tahun. Kita banyak yang tidak masuk kriteria muda. Tetapi, yang saya maksud dengan muda, apa sih yang menarik dari anak muda? Yang menarik dari anak muda, adalah kebaruannya. Kebaruannya yang menarik dari anak muda.

Anak muda, bila tidak membawa kebaruan, dia orang tua. Dia orang tua. Anak muda yang tidak bawa kebaruan, dia orang tua. Anybody who is young, that is not bringing ‘newness’ is an old people. Is an old people. Sementara, orang yang berusianya tua, tapi dia membawa kebaruan, maka dia sesungguhnya orang muda. Kebaruannya itu yang menjadi kunci anak muda.

Anda di sini menjadi blogger community baru, you have the opportunity. Anda memiliki peluang untuk memunculkan kebaruan itu. Dan di sinilah kemudian ide dan gagasan harus dimunculkan. Saya sering suka mengatakan pada teman-teman: let’s think like an alien, but let’s act like a native. Mari kita berpikir seperti orang luar angkasa sana, berpikir berbeda, berpikir outside the box, tetapi bertindak seperti kita ini orang-orang yang sangat membumi.

Dan ini yang bisa mendorong perubahan. Jadi besar sekali harapan kita pada teman-teman yang berada di blogger community. Dan saya melihat di sini ada sebagian yang datang dari ASEAN. Ada yang dari Brunei, ada yang dari Malaysia, ada yang dari Singapur, saya juga tadi barusan mengatakan, ASEAN adalah tempat masa depan Asia. The future of Asia is in ASEAN. In South East Asia. That’s the future of ASEAN.

Orang sering melihat Utara. China, yes, China will be big. Ustoppable. Tapi, as a community, that is a big question mark. Jepang dengan Cina, mau dijadikan sahabat, perlu waktu beberapa dekade, kalau nggak abad. Korea dengan Jepang mau dijadikan satu, very difficult. ASEAN, di sini, kita menyaksikan hubungan antar bangsa-bangsa di ASEAN, sudah terbangun dengan baik, dan sekarang G2G sudah baik, dan sekarang di blogger community, kita mulai menyaksikan the net of that community, the fabric of new South East Asia, itu sedang dibangun.

Tenun South East Asia dibangun di crowd ini. Dan di sini, saya melihat, inilah kita melihat masa depan. Mari kita ulangi sejarah para pendiri kita, Indonesia. Saya selalu mengatakan teman-teman yang berkumpul di Sumpah Pemuda tahun 28 itu orang-orang pemberani.

Kenapa mereka pemberani? Karena mereka berani untuk menyepakati satu bahasa yang bukan bahasa ibunya. Anda bayangkan kalau saya dari Jogja, kalau saya dari Jogja ikut dalam kongres itu, mewakili Jong Java, misalnya, lalu pulang ke Jogja, dan orang-orang di Jogja akan tanya sama saya: itu bahasa Jawa kamu kemanakan? Kenapa diterima bahasa orang Melayu sana?

It is not easy menerima sebuah bahasa. Eropa, sampai hari ini, menggunakan lebih dari 20 bahasa resmi sebagai satu union. Seluruh dokumen dalam pertemuan EU, seluruh pembicara dalam pertemuan EU, harus diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa di Uni Eropa. Ongkosnya luar biasa mahal, belum the lost in translations—yang hilang.

Indonesia hari ini, mempunyai satu bahasa yang sama, Bahasa Indonesia, dan sekarang ASEAN punya kesepakatan bahasa yang sama, kita akan memasuk kepada era di mana di sini orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengetahui ambang batas di mana kepentingan mereka tidak diteruskan. Ini adalah sebuah community yang luar biasa.

Jadi, teman-teman sekalian, saya ingin menggarisbawahi dan mengakhiri, bahwa peluang untuk membuat Indonesia optimis ada di depan kita semua. Sekarang, it is all up to us. Kita akan ambil peluang untuk membuat Indonesia lebih optimis dan menyebarkannya, karena virus optimisme itu menular. Dan bila Anda menemukan orang-orang yang pesimis, katakan: kenapa Anda berpikir pesimis?

Tanyakan itu.

Saya sering sekali kalau ada wawancara, “Pak, apakah ini tanda-tanda Indonesia gagal?”

Saya balik tanya, “Kenapa kok tidak tanyanya begini: apa tanda-tanda Indonesia berhasil?”. Why do we ask sign of failures, instead of asking sign of achievement?

Ini mindset. Ini cara pandang.

Nah, mudah-mudahan kita semua yang di sini bisa mengambil kesempatan untuk berpikir optimis, bertindak optimis, dan ada banyak jutaan anak muda di sana yang menunggu inspirasi-inspirasi yang positif dari blog-blog yang akan Anda tulis, dari foto-foto yang akan Anda pasang, dan itu akan mudah-mudahan di kemudian hari dicatat. Your son, your daughter, your grandchildren will write that in their memory bahwa orang tua saya, keluarga saya, termasuk generasi awal yang membuat Indonesia kita berubah menjadi lebih optimis dan lebih positif di masa depan.

Barangkali ini yang bisa saya sampaikan sebagai sharing pada teman-teman sekalian. Bagi teman-teman yang kembali ke berbagai wilayah di Indonesia, kabarkan kepada dunia, betapa kita punya syarat untuk optimis. Dan bagi teman-teman yang kembali ke daerah, tunjukkan kepada wilayah-wilayah di manapun teman-teman beraktivitas, bahwa ada begitu banyak orang-orang sehati, orang-orang yang memiliki pandangan sama, yang akan melihat Indonesia dengan perspektif yang lebih baik.

Terima kasih, ada kurangnya mohon maaf.

Wassalamualaikum wr. wb.

——–

*) audio dalam versi .mp3 dapat didengarkan di sini.

hanny

8 Responses

  1. Wah, meskipun belum berkesempatan ikut ON|OFF ID karena ada agenda lain, kemeriahan dan getaran dari Epicentrum bisa saya rasakan, tentunya melalui imajinasi dari teman-teman narablog. Salam.

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Screenshot 2022-12-08 at 12.43.17
This year, I learned to accept the days when I don't feel motivated, tired, or a bit grumpy. I learned to allow myself to sit with this feeling instead of feeling guilty about it and forcing myself to be productive, socialize, or just get things done.
Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO