Kita adalah semacam bioluminescence dalam garis-garis kehidupan yang saling bersilangan. Kadang cahayamu remang, cahayaku terang. Atau sebaliknya. Dalam gelap, kita saling mencari secercah masing-masing. Memicingkan mata pada rindu yang membuncah dan membuat kita resah.

Aku bergerak secara oscillasi menujumu. Cinta kita adalah semacam polarisasi optik terhadap silang emosi yang tarik-menarik. Semua yang indah akan nampak seperti titik-titik cahaya yang kau lihat dari balik pelupuk mata yang basah. Semuanya seperti pecah sekaligus rekat. Seakan jauh sekaligus dekat.

Kita tunduk pada hukum Snellius: seperti sudut datang dan sudut bias pada cahaya yang melalui batas antara dua medium isotropik berbeda. Kamu. Dan aku. Di tengahnya, ada kita.

——-

*) Jakarta, sore hari, terinspirasi hasil jepretan cantik Nico Wijaya. Terima kasih, Nico! ^^

hanny

10 Responses

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO