Bahkan bertahun-tahun kemudian, aku masih bisa menemukan serpihanmu dalam setangkup kue mangkuk yang berdiri manis di balik rak-rak kaca berpendingin udara itu. Masa lalu hadir dalam sekelebat wangi vanila dan gula-gula yang terendus secara tak sengaja, lama setelah kamu tidak lagi berada di sini.

“Di Inggris, dulu orang-orang bilang kue mangkuk ukurannya pas untuk dinikmati sekelompok peri yang sedang berpesta,” katamu sambil memasukkan kue-kue mangkuk dengan campuran gula blueberry ke dalam panggangan. “Karenanya, cupcake sering disebut juga fairy cake. Kue para peri.”

Peri.

Hei, mungkin selamanya kamu akan tetap menjadi peri di mataku. Peri rumah yang selalu sibuk di dapur dengan celemek hijau terangmu yang sudah dipenuhi noda-noda lama dan membuatnya kelihatan vintage, dikelilingi mixer, loyang, panci, tepung, telur, susu, juga aneka permen dan buah, membuat kue-kue cantik berukuran mini diiringi senandung Edith Piaf.

Mungkin itulah sebabnya. Sebagaimana peri yang hanya terlihat bagi kanak-kanak dan mereka yang percaya, ketika aku beranjak dewasa, kamu menghilang dari hidupku.

hanny

11 Responses

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO