[Dari Eva; akhirnya ide itu terealisasikan juga.]

Dear Hanny,

Pengalaman hidup ‘mengajarkan’ saya bahwa perasaan sebaiknya tidak terlalu diumbar. Ekspresi diri hanya akan menempatkan kita di puncak menara kurus tinggi di lokasi terbuka di bawah terik dan terang matahari, posisi yang begitu rapuh dan gamang.

Sikap hidup yang menimbulkan kepercayaan diri semu. Saya perlu terus bergerak dan senantiasa tegar untuk membuktikan eksistensi. Lelah. Sedih. Resah. Seperti marmut yang berlari di roda dalam kandangnya. Tahu kalau roda ini tidak akan membawa saya kemana pun, tetapi tetap tidak bisa berhenti.

Tahun 2005, saya memutuskan untuk melompat ke luar roda. Berhenti bekerja setahun untuk berkontemplasi dan melakukan yang ingin saya lakukan. Perjalanan yang membawa saya terdampar di Spanyol selama enam bulan.

Di suatu Jumat menjelang tahun baru 2006, teman saya bertanya mau kemana saya akhir pekan ini. Saya bilang: lihat besok. Saya matikan weker untuk membiarkan tubuh memutuskan kapan ia merasa cukup tidur.

Sabtu pagi saya bangun dan merasa, hm, ke luar kota enak juga. Saya buka Lonely Planet saya dan mata tertuju ke Carmona, satu jam dari kota saya, Sevilla. Saya pun mengambil bus berikut ke Carmona.

Sesampai di sana, saya lihat sekeliling dan mata tertumpu pada satu restoran China. Saya pesan makan dan melihat meja pingpong di situ. Saya akhirnya bermain pingpong bersama anak si empunya restoran sambil menunggu pesanan makanan saya datang.

Perjalanan saya lanjutkan. Berkeliling kota mengikuti kaki melangkah. Berhenti kapan pun kaki menginginkan. Di pinggir kota, menghadap lembah hijau, saya berhenti dan duduk di batu. Entah kenapa, air mata mengalir deras.

Saya sadar bahwa saya sudah memasuki etape baru dalam hidup. Ketika saya membiarkan hati (bukan ego, bukan otak) menentukan jalan hidup saya, mengizinkan apa yang selama ini tersimpan dalam diri untuk berekspresi.

Saya kembali ke pemberhentian bus. Ada seorang oma-oma yang tengah menunggu pula. Dia tersenyum, mengobrol dengan saya, dan mengeluarkan sebuah kalendar sebesar kartu nama bergambar kota Carmona. “Para ti”, ujarnya. Buat kamu.

Kalender itu hingga kini tersimpan rapi dalam dompet saya. Saya bawa kemanapun saya pergi. Sekedar pengingat, ketika kita mengizinkan hati untuk mengekspresikan jiwa, wonderful feelings and miracles can happen.

Dan saya menemukan sosok guru yang baik. Teman-teman, sekali lagi saya perkenalkan: Hanny.

Teman yang sering berfungsi seperti kalender saya itu di tengah kebisingan kota Jakarta dan kesibukan bekerja ini: mengingatkan saya untuk senantiasa mengizinkan hati untuk mengekspresikan jiwa yang hakiki.

Yang menulis impresi diri atas dunia dengan jujur, indah dan sederhana. Saat senja hadir ditemani rintik hujan dan cangkir-cangkir kopi (atau kadang air putih) serta harapan bahwa cinta sungguh-sungguh ada.

Salam,
Eva

[“I just love it, Teacher” 🙂 ]

hanny

11 Responses

  1. tulisan Eva sama indahnya dgn tulisan2 lain diblog ini ya Han? salam kenal Eva..hum mungkin sesekali saya juga hrs mencoba meloncat dari roda..kalo itu jatuh2nya di spanyol saya juga mau…:)

  2. ah, aku juga mau meloncat dari roda dan ketika sadar tiba2x sudah berada di pegunungan es di Switzerland, lengkap dengan secangkir susu cokelat di depan mata.. 🙂 hihihi..

    nice piece, va 🙂

  3. gies: hihihi saya juga mau :p untung ga jatuh ke jurang hehehe

    ndoro: uuu mari pesta di sevilla, ndoro!

    nila: ikutttt 🙂

    barry: setuju! hehehe, memang tidak ternilai harganya. saya suka tidur ;p *alias kebluk*

    balibul: iya, gila, tengah malam. kuat banget, sih. saya sudah di alam mimpi, tuh. kapan mau ke SARAS lagi? jangan dini hari dong, ntar masuk anginnn ;p hehehe

  4. *ehm, numpang komentar juga ya Han*.

    Gies – Bisa dicoba meloncat dari roda sekali-sekali. Kita gak pernah tau tepatnya nanti mendarat di mana. Kirim-kirim postcard ya.

    Ndoro – sayangnya belum baca sydney sheldon. Mungkin Mbak Lita bisa bantu 😉

    Nila – Bukannya sudah pernah (sering?) melompat roda? Sekarang ini contohnya. Tapi dari roda mobil sedan ke mobil sport 😉

    Barry – bener abis. Priceless. Begitu juga duduk-duduk ngopi sambil bengong ngelihatin orang lewat (atau jalanan macet).

  5. Atta – Saya juga jadi ikut terharu.. *lho kok???*. Semoga inspirasi bisa berlanjut menjadi sikap dan karya nyata.

    Ayas – Terima kasih. Tadi saya mampir ke blogmu. Jauh lebih manis dan lebih renyah. Kaum kemudian memang tob 🙂

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO