Bahkan lama setelah kamu pergi, saya masih bisa mengingatmu dengan intensitas yang jauh lebih kerap dibandingkan saat-saat yang sudah lama lewat; saat-saat ketika kamu masih di sini.

Betapa jarak 20 sentimeter pada globe seukuran bola basket yang memisahkan titik tempat saya berdiri dan tempat kamu berada justru membuat kamu terasa lebih dekat; ketika detail-detail mengenai kamu melekat lebih erat, ketika saya bisa melebur semua tentangmu yang tiba-tiba menjadi jauh lebih pekat.


Ketika jarak justru menghadirkanmu layaknya saripati: menjelma sekeping biji kopi yang mampu menghadirkan rasa pada bercangkir-cangkir kehangatan; dan menyisakan keterjagaan pada malam-malam yang terlalu panjang untuk dilalui sendirian.

Tetapi ternyata dia yang menemani saya menghabiskan salah satu malam yang terlalu panjang itu. Malam-malam yang biasanya saya lalui sendirian. Ternyata dia yang menunggu di depan pintu ketika sendok, cangkir, dan piring kecil berakhir di pinggir bak-bak cuci piring, ketika bangku-bangku berkaki tiga diletakkan secara terbalik di atas meja, ketika satu per satu lampu dipadamkan dan kerai-kerai diturunkan.

Ketika bait-bait terakhir dari Nelly Furtado semakin sayup-sayup pada telinga saya yang tak lagi ingin mendengar: flames to dust, lovers to friends, why do all good things come to an end…

Dan yang terpenting, dia hadir ketika sekeping biji kopi hanya mampu menyisakan seonggok ampas di dasar gelas.

Dia.
Bukan kamu.

“Wah, udah lama ya, kita nggak ketemu. Nggak ngobrol-ngobrol lagi kayak dulu. Gimana kabar kamu? Anything new?”

Terlambat mungkin bukan kata yang tepat. Saya juga tidak bermaksud secepat ini undur diri. Hanya saja, untuk sementara waktu, biarkan saya terbiasa dengan rasa nyaman tanpa kehadiran kamu di sini. Untuk bisa sekali lagi menikmati waktu yang berjalan lebih pelan, dan mencermati kehidupan saya yang bergerak dengan lebih terkendali sejak kamu pergi. Jangan kembali secepat ini.

“Ijinkan saya untuk jatuh cinta lagi dengan seseorang selain kamu.”

Ini belum saatnya kita memulai kembali. Saya belum menginginkan air mata itu lagi. Mungkin nanti. Semoga ampas itu masih menyisakan rasa. Walau sedikit. Semoga. Because I miss you. I really do.

hanny

11 Responses

  1. Quoting your beatiful phrase
    “”Ijinkan saya untuk jatuh cinta lagi dengan seseorang selain kamu.”
    It’s a wish or even a pray that I often whisper everytime his subtle yet immense reverie passes by….
    I do miss him too.
    Take care 🙂

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO