Ah, gara-gara percakapan singkat dengan dia, saya jadi asyik mengkhayal …

“Mungkin nggak ya, saya dikasih cuti sebulan, menyepi di tempat terpencil yang nggak ada akses internet, TV, maupun telepon, dan cuma terus menulis dan menulis dan menulis …”, dia berangan-angan.

“Mauuu!!!” saya menjawab seketika. “Saya rela cuti 1 bulan walaupun nggak dibayar!”

“Saya juga nggak keberatan,” ia menimpali dengan penuh semangat. “Yang penting saya punya waktu untuk menulis …”

Dan saya pun berpikir, adalah suatu kemewahan tersendiri jika hal ini sungguh-sungguh terjadi.

Meskipun demikian, saya menikmati mencuri-curi waktu di akhir minggu, untuk mengurung diri di kamar dan menulis … berhenti untuk membaca ketika merasa sudah kehabisan ide, kemudian menulis lagi, berjam-jam … ditemani bercangkir-cangkir kopi.

Lagipula … apakah ada jaminan bahwa saya bisa merampungkan sebuah obsesi dengan cuti 1 bulan dan menyepi? Ataukah keterdesakan dan keterbatasan yang ada di tengah kesibukan yang menggila justru membuat pencapaian obsesi ini akan terasa lebih menyenangkan?

Saya harus kerja besok pagi. Malam ini mungkin saya hanya bisa menyepi sampai tengah malam. Tak apalah. Besok malam saya punya waktu sampai pukul 3 dinihari. Seperti biasa …

Masih memiliki waktu-waktu seperti ini juga merupakan satu bentuk kemewahan tersendiri.

Mungkin 1 bulan menyepi itu terlalu berlebihan, meskipun saya sungguh-sungguh menginginkannya–seperti orang-orang yang sudah merasa cukup senang mendapat hadiah 100 juta rupiah di kuis Who Wants to be A Millionaire tetapi tidak akan menolak keberuntungan mendapatkan hadiah utama sebesar 3 milyar.

IMG. http://www.weekapauginn.com/pages/images/typewriter.jpg

hanny

9 Responses

  1. Terima kasih atas kebaikannya. Agak geer juga saya kalo benar dijadikan Click of The Week. Anyway sekarang saya masih gabung dengan Indopos, dan empat bulan terakhir ditugaskan ke Banten.

    Posting terakhir ini juga menarik. Jujur, saya juga punya angan-angan serupa. Tapi selain menulis saya ingin juga cuti sekadar untuk memenuhi hasrat fotografi saya. Salam kenal.

  2. Hmm mudah-mudahan angan-angan kita bisa kesampaian, ya, Mas πŸ™‚ Anyway, saya sudah vote blog-nya Mas Nanang untuk Click of The Week ;p hehehehe mudah-mudahan terpilih (finger crossed!)

  3. sedikit sedikit lama-lama menjadi bukit. menulis setiap hari lama-lama menjadi bukit *halah*

    jadi, tetap menulis ya neng

    dan

    semoga seninmu membahagiakan
    πŸ˜‰

  4. Senin-kyuuuu oh, aku harap juga membahagiakan πŸ™

    hiks hiks hiks senin dan awal minggu yang baru akan berakhir pada hari selasa depan–no weekends in between …

    Semoga bisa tetap tertawa hehehehe *argh!*

  5. Sebulan? Mungkin nggak ya waktu untuk menulis itu lebih panjang? Mungkin nggak ya menulis bukan untuk menyelang waktu? Mungkin nggak ya menulis bisa jadi pekerjaan…?

    *sigh*

  6. Mungkin sih, and I really want to make it possible …

    Tapi pertanyaannya adalah: kalau menulis sudah menjadi sebuah pekerjaan, apakah kita bisa tetap menulis hanya karena kita suka menulis?

    Ataukah kita akan menulis karena menulis adalah ‘pekerjaan’ kita?

    Still, I want it!!! πŸ™‚

    *sigh*

  7. Coonteel… everything is possible. So, if you really want something, hold on to it and try to make it comes true. Am sure, that day will come, dear… ehm… πŸ˜‰

  8. biasanya pengalaman pribadi karena keterbatasan waktu dan jadwal yang mepet malah bisa menghasilkan tulisan, malah kalau sengaja menghilang di tempat terpencil untuk nulis, yang ada nggak nulis. he he..nice posting

  9. Benar, Mas Iman.

    Ternyata kita memang harus mensyukuri keterbatasan, karena keterbatasan membuat kita lebih menghargai kebebasan …

    Ah, saya mulai melantur. Saat undur diri.

    Pareng, Mas πŸ™‚

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeβ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB