+ Saya minta maaf…
Minta maaf buat apa?
+ Yah, buat semua kesalahan saya.
Kesalahan yang mana?
+ Ya, semuanya, lah. Pokoknya kalau saya punya salah sama kamu, saya minta maaf.
Memang kamu punya salah apa sama saya?
+ Hmm, yah, banyak, kan?
Misalnya?
+ Ya, pokoknya saya minta maaf kalau saya pernah bikin salah.
Kalau? Jadi kamu belum tentu punya salah sama saya?
+ Yah, yaaa, gitu deh …
Kalau kamu nggak punya salah ngapain minta maaf?!!

————

Saya nggak ngerti. Dan menjadi sedikit kesal. Bagaimana seseorang bisa sungguh-sungguh minta maaf jika tidak tahu (atau tidak mau) menyebutkan kesalahannya?

Bukankah ide sebuah permintaan maaf adalah untuk menunjukkan niat baik dan penyesalan seseorang; dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan? Bagaimana bisa kita tidak mengulangi suatu kesalahan jika tidak tahu perbuatan mana yang salah dan tidak boleh diulangi?

Ini rumit. Sudah hampir waktu buka puasa. Martabak di meja tengah itu luar biasa harumnya. Terlintas dalam benak saya: ya sudah, saya maafkan sajalah …

hanny

2 Responses

  1. Atta: Alhamdulillah, sudah sembuh, ta … tinggal menyisakan pilek sedikit which is nothing compared to my previous illness 🙂

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Amsterdam winter night
For some reason, they reminded me of this whole year—a turbulent, at times heartbreaking year; it was like mourning 11 (or maybe more) pieces of my life that I had been separated from.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP