Hari yang melelahkan adalah hari di mana segala sesuatu yang saya rencanakan berakhir berantakan. Optimisme yang ditenggelamkan dalam-dalam. Impian yang kandas di tengah jalan. Terpaksa melukai perasaan seseorang.

Saya cuma ingin pulang. Minum segelas susu cokelat dingin. Dan tidur. Melupakan segalanya.

Tetapi ternyata hasilnya tidak seperti yang saya bayangkan. Malam saya dipenuhi potongan-potongan gambar orang-orang yang sama sekali tidak pernah ingin saya impikan. Orang-orang yang pernah saya kenal dalam satu periode hidup saya, kemudian menghilang setelah kami sama-sama beranjak dewasa. Mereka hadir; hingar-bingar, berisik… membuat saya seperti tidak tidur semalaman.

Dan pagi ini saya JATUH dari tempat tidur!

Saya mendarat di lantai yang dingin dengan bunyi ‘bluk’ pelan. Guling yang saya peluk ‘menyelamatkan’ pendaratan saya. Saya termangu sejenak. Kemudian bangkit ke posisi duduk. Perlu waktu beberapa detik untuk percaya bahwa saya benar-benar tengah terduduk di lantai.

Sedikit linglung. Terakhir kali saya jatuh dari tempat tidur adalah waktu saya masih berada di bangku SD!

Kegelisahan itu pun terwujud dalam semakin menipisnya cairan cokelat muda di dalam tabung concealer; untuk menutupi lingkaran hitam di bawah mata. Kelelahan bukan kesedihan. Kelelahan bukan untuk dibagi-bagi, tapi hanya untuk disimpan sendiri.

Ah, maafkan saya. I’ve become such an asshole myself.

Saya menyesal. Saya harap semuanya bisa dimulai lagi dari awal.
Saya rela tidur diganggu mimpi buruk sebulan penuh asal akhirnya tidak begini 🙁 Saya rela membeli dua tabung concealer lagi.

Saya ingin melarikan diri dari semua ini. Tapi… bagaimana bisa seseorang melarikan diri dari sesuatu yang hidup dalam dirinya?

IMG. http://www.robio.com.au/images/snooze_lg.jpg

hanny

3 Responses

  1. wah, coba lihat dari sisi lain. peristiwa yang lucu,seperti kembali pada waktu belia,ketika kita menangis minta susu dan – sori- kencing-hix2, dan saat kita mimpi terjun dari sebuah gedung,ternyata kita terjun beneran, lepas dari tumpuan ranjang, itu realita di mana semua orang pernah mengalami bukan?
    hanya saja waktunya sudah lain. kini semua telah menjadi dewasa. aneka pikiran telah menyesak mengiringi sebuah kejadian, tapi baik atau buruk, tertawailah seceria ekspresi bayi, hehehe
    oke,salam kenal
    banyak yang mengharapkan U selalu tampil menyenangkan
    pasti

  2. Makasih 🙂

    Belakangan suasana hati sedang sangat melankolis. Jadi harap dimaklumi. Mudah-mudahan minggu depan sudah bisa ceria lagi.

    Salam kenal juga! (have seen your blog. itz cool) :p

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Screenshot 2022-12-08 at 12.43.17
This year, I learned to accept the days when I don't feel motivated, tired, or a bit grumpy. I learned to allow myself to sit with this feeling instead of feeling guilty about it and forcing myself to be productive, socialize, or just get things done.
Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO