Di sini, aku menunggumu.

Masih menunggumu seperti yang aku lakukan sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku tidak berkata-kata, tidak melambaikan tangan, atau berusaha menarik perhatianmu dengan melakukan hal-hal yang akan membuatmu sadar bahwa aku tengah menunggumu. Aku menunggumu dalam keheningan. Keheningan yang begitu hening sehingga kau bisa mendengar keheningan itu berbisik kepadamu jika saja kau lebih sabar mendengarkan.

Aku tidak mencoba untuk memanjat jendelamu, tidak mencoba untuk berlari menyongsongmu, atau berusaha menolehkan wajahmu ke arahku dengan melakukan hal-hal yang akan membuatmu sadar bahwa aku tetap menunggumu. Aku menunggumu dalam ketenangan. Ketenangan yang begitu tenang sehingga kau bisa merasakan ketenangan itu memelukmu jika kau mulai kehilangan kesabaran.

Aku tidak meneriakkan perasaanku dari depan halaman rumahmu, tidak mendesakmu, atau berusaha membuatmu merasa bersalah karena telah membiarkan aku menunggu dengan melakukan hal-hal yang membuatmu sadar bahwa aku terus menunggumu. Aku menunggumu dalam keyakinan. Keyakinan yang begitu yakin sehingga kau bisa membiarkan keyakinan itu menangkapmu jika kau mulai jatuh.

Di sini, aku menunggumu.
Mungkin aku akan pergi sebentar, atau menghilang, tetapi aku masih menunggumu walaupun aku sedang tidak berada di depan pintu rumahmu. Diamlah di tempatmu, dan suatu hari nanti, jika aku sudah siap, aku akan mengetuk pintu. Kau tak perlu berlari terburu-buru untuk membukakan pintu. Ini kan cuma aku 🙂

Tetapi sebelum saat itu tiba, aku akan tetap di sini. Menunggumu. Seperti yang sudah aku lakukan sejak pertama kali aku bertemu denganmu … dan menyadari bahwa aku mencintaimu.

~ nie ~

hanny

One Response

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB