ARRRGGGGGGHHHHHHHHHHH … akhirnya lulus juga!!! ;p Hehehe.

Setelah melalui sidang yang cukup singkat (cuma sekitar setengah jam—padahal yang lain bisa sampai satu jam lebih), akhirnya saya dinyatakan LULUS! Senangnyaaa!!! Lega banget. Kayaknya satu kewajiban lagi udah berhasil saya penuhin.

Walaupun agak-agak sedih juga, sih. Karena harus ninggalin kampus yang udah banyakkk banget mengubah saya (into a better person, I think) dan terutama ninggalin temen-temen yang selama ini selalu men-support saya in every little thing I do. Hikssss jadi sentimentil gini. Apalagi saya inget ada seseorang yang pernah ngomong sama saya bahwa kampus adalah tempat terakhir di mana kita bisa menemukan sahabat sejati.

Soalnya, menurut dia, ketika seseorang udah memasuki dunia kerja, itu artinya dia udah siap melepaskan kesempatan untuk membina persahabatan. There’s no such thing as friendship in the office! Dunia kerja itu sangat individualistis. Semua orang saling sikut to get to the top. Dunia kerja itu dunianya orang dewasa. Dan orang dewasa selalu sibuk. Selalu kekurangan waktu. Sementara yang namanya persahabatan justru membutuhkan banyak waktu. It takes time to build a friendship. Orang-orang dewasa nggak pernah punya waktu untuk membina persahabatan.

Saya sering bertanya-tanya dalam hati: apa bener begitu?!!

Soalnya, belum lama ini Joyce cerita sama aku tentang pengalamannya di salah satu biro iklan ternama di Jakarta. Ternyata ide dia untuk sebuah iklan sabun disabot sama bosnya sendiri!!! Hi, nggak ngeriii kan tuh? Dan setelah itu dia didepak karena dibilang “kamu nggak berkembang di sini. Ide-ide kamu dangkal”. Wih, nggak sewot kan tuh?

Banyak banget sih yang mengiyakan pernyataan di atas: bahwa kesempatan kita memiliki sahabat-sahabat sejati itu cuma sampai kampus. Setelah di kantor, don’t expect for such a thing!!!

Dulu saya juga punya pikiran kayak gitu. Tapi sekarang … di kantor ini, dengan orang-orang yang tiap hari kerjaannya becanda melulu, orang-orang yang mau direpotin dengan berbagai permintaan tolong (yang sebenernya bisa aja ditolak secara halus maupun kasar), orang-orang yang selalu care dengan perkembangan terbaru dalam kehidupan salah satu di antaranya … saya mulai berpikir, bahwa mungkin pernyataan di atas nggak sepenuhnya benar.

Ada beberapa teman yang pesimis yang bilang,”Belum aja. Mereka belum keluar sifat aslinya. One day juga mereka bisa nusuk lo dari belakang.”

Iya, sih. Bisa jadi mereka benar.

Tapi…
mungkin aja mereka salah. Iya, nggak?

Mungkin aja di tengah dunia orang dewasa yang hectic dan egois, individualistis dan materialistis, ada juga orang-orang dewasa yang nggak pernah melepaskan “anak kecil” dalam diri mereka. Yang selalu punya banyak waktu. Yang punya hati yang lebih besar untuk menampung segala perbedaan yang ada. Yang punya lebih banyak cinta. Yang punya lebih banyak ketulusan.

Kemampuan untuk menerima kemenangan dan kekalahan dengan kapasitas yang nggak jauh beda. Jujur pada diri sendiri. Bisa ketawa lepas dan nggak larut dalam stres yang berkepanjangan. Seperti orang-orang di sekitar saya ini… yang lagi pada ngetik, dengerin musik, terima telepon, yang sibuk sama kerjaannya masing-masing tapi nggak pernah kekurangan waktu untuk becanda, ketawa, atau simply pergi makan siang bareng.

Saya sendiri pernah nulis sebuah janji dalam diary saya on my 17th birthday: saya nggak mau tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang saya benci. Orang-orang dewasa yang dengan alasan “memenuhi kebutuhan hidup” menyingkirkan idealisme dan hati nurani mereka. They believe in nothing but money. And every single day I pray … semoga saya nggak tumbuh dewasa menjadi orang-orang seperti itu.

Mudah-mudahan I could keep the little girl inside of me all my life—and die as a happy little girl as well.

What about you?

hanny

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB