:: bangkok’s minutes (6)

~ Sabtu, 14 Maret 2009. Wat Benchamabophit ~

D,

Saya tidak yakin apakah kamu pernah mendengar Follow You Down-nya Gin Blossoms [ataukah waktu kita hanya termampatkan dalam kaset-kaset usang Oasis, Mr. Big, dan Guns’N’Roses?]. Bersama Robin Wilson, saya menyanyikan lagu itu keras-keras dalam benak saya. Can you hear me, D?

Di hadapan saya kini terbentang Wat Benchamabophit Dusitvanaram (Thai: วัดเบญจมบพิตรดุสิตวนารามราชวรวิหาร)—dikenal juga sebagai Kuil Pualam, atau The Marble Temple. Kuil Budha ini dibangun pada tahun 1899; dirancang oleh Pangeran Naris, saudara tiri Raja Chulalongkorn, dan terbuat dari pualam Italia.

Bagian luar bangunan tengah direkonstruksi, D. Jadi saya tak tahu persis keindahan apa yang disembunyikan di bawah palang-palang kayu dan terpal itu; tetapi tak mengapa. Saya masih bisa mengapresiasi keindahan dan kesakralan yang terasa ketika berada di dalamnya.

picture-7

Ini seperti menemukanmu tengah duduk-duduk sambil merokok dan memetik gitar di hati saya pada suatu Sabtu pagi yang mendung dan sedikit gerimis. Saya terkejut, bertanya mengapa kamu bisa terdampar di situ, atau mengapa kamu memilih diam di sana, dan bukan di hati perempuan lain saja.

Ketika saya mempertanyakan keberadaanmu di sana, kamu hanya mengangkat bahu, “Tadi tempat ini kosong, dan pintunya terbuka, jadi saya putuskan duduk-duduk di sini. Kamu keberatan?”

picture-8

Saya menggeleng. “Kamu boleh duduk di sini selama yang kamu mau. Anggap saja rumah sendiri.”

Saya pikir kamu akan tinggal selama satu-dua hari, satu-dua bulan, satu-dua tahun, kemudian pergi. Tetapi ternyata kamu tidak pernah angkat kaki dari sana selama belasan tahun lamanya, meski sesekali tersembunyi di balik kepulan asap rokokmu, sehingga saya kesulitan mengetahui di mana kamu tengah berada.

Ah, di sini, saya jadi ingin berdoa untukmu, D. Tahukah kamu, bahwa di sini, di bawah patung Budha bergaya Sukhothai, terkubur abu Raja Chulalongkorn—yang mengingatkan saya akan dirimu, yang tengah duduk diam di hati saya itu. Terkubur dalam ribuan kelopak lili putih.

picture-91

Ya, you’ve got the everlasting ticket, D. Kamu boleh diam di sana selama yang kamu inginkan. Make yourself at home. Saya tak akan berbagi tempat dengan yang lain selagi kamu masih ada di sana. Saya tahu kamu tak suka ketika tempatmu menyendiri diinvasi oleh orang asing yang tak dikenal [maaf karena saya pernah memberimu teman sekamar].

Jadi, tinggallah di sana selama yang kamu mau, selama yang kamu perlu. Saya masih akan berdoa untukmu, agar kamu berbahagia selalu. Bahkan saya juga masih akan berdoa untuk kebahagiaanmu ketika suatu hari nanti kamu pergi dan menemukan hati lain yang lebih nyaman untuk ditinggali selamanya.

Tetapi ruang ini masih akan selalu ada, D. Ada satu bilik khusus yang sudah saya jadikan kamar tamu. Untukmu. Dan kamu bisa mampir kapan saja kamu mau.

duay khwaam rak lae khit theung kha*,
H.
—————–

Thai for “with love, and missing you”

Leave your traces here. I want to hear :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • H,

    perjalananmu di negeri gajah sungguh menghibur mata yang hanya bisa membayangkannya saja. Semoga kisah tulisan ini bukan yang terakhir.

    P *huehehe*

  • siapa tho “dirimu” ini mbak? mbaca tulisan sampeyan yang terus-terusan nyebut dirimu mbikin saya jadi trenyuh…

    lama bener di mbangkoknya mbak, tapi kok ndak ada liputan kehidupan malamnya yak? 😆

  • @pitra: P, menunggu itu bisa menjadi pekerjaan yang membosankan, bisa juga menyenangkan. bukan begitu? H.
    (hihihihi—teringat percakapan kemarin)

    @dilla: sini, dil… mampir bawa kue ulang tahun 😀

    @mas stein: belum sampai bab itu, mas! hehehe, kehidupan malamnya mau yang versi apa nih? 😀

    @chic: masihhhhh kan ini masih seri postingan egois hehehe (cozy)

  • adeuh adeuh.. neverending [love] story nih… bikin kumcernya aja bu.. gw distribusiin secara independen deh.. *sok indie*

    loh emang mimpi gue indie kok 😀 *kopi*

  • sungguh D yang beruntung… terharu :'(

    kayaknya setiap orang pasti deh punya kisah pribadi yang mirip seperti ini… yang abadi tak lekang dimakan oleh waktu… 🙂

    jadi inget…. *kembali melamun*