Monthly Archives: December 2007

:: satu hari lagi!

Akhirnya, ia kembali ke sini. Dengan autistic mode, on. Melarikan diri dari keramaian, mengasingkan diri dari kerumunan, menikmati kesepian. Bermain-main dengan kesendirian.

Dan segala sesuatunya seperti berkolaborasi untuk memberikan satu sudut tenang baginya; hanya untuk duduk dan bekerja dalam diam. Terkadang ditemani satu sesi ceria MIKA atau denting piano Yiruma. Memasang earphone. Memagari diri dari dunia. Dengan sengaja menghindari pertemuan-pertemuan yang tidak terlalu penting.

Sudah lama ia tidak mengasingkan diri…

Hujan di luar. Gerimis masih terdengar menetes satu-satu di atas kolam. Semangkok sekoteng dengan potongan dadu roti tawar. Air jahe yang menghangatkan telapak kaki yang dingin dan sedikit kesemutan.

Rambut yang masih awut-awutan setelah keramas dan wangi lotion strawberry (tinggal sedikit, ia belum sempat membeli sebotol lagi), komunitas lama yang ia kunjungi setelah beberapa bulan tak pernah singgah dan meninggalkan jejak di sana, beberapa potong kue kering oatmeal dan kismis… bantal, guling, dan selimut tebal yang menyangga kaki tinggi-tinggi.

Empuk.

Ah. Tinggal satu hari lagi sebelum hibernasi.

Besok pagi seharusnya dimulai dengan semangkok bubur ayam kampung dan secangkir kopi; instan pun tak apa-apa. Atau jika suasana hatinya sedang baik, ia akan rela lari sebentar ke BEJ dan melewati gerbang-gerbang aneh dengan kartu visitor-nya; yang membuatnya merasa seakan berada di Fort Knox. Tak apa, demi sekarton hot caramel machiato yang di-upsize ke ukuran grande.

Lalu ia akan kembali ke meja kerjanya. Memasang earphone (rasanya ia kangen Kravitz) dan membisukan telepon genggamnya. Duduk bersila dan mengetik manual yang harus diserahkannya sore nanti.

Setiap kali bosan, atau merasa pegal-pegal; setiap kali matanya terasa perih dan lehernya terasa kaku, ia akan berdiri dan berjalan-jalan ke dapur. Ke teras. Ke toilet. Meregangkan tubuhnya. Menguap. Berjinjit. Kemudian kembali lagi ke mejanya di sudut itu.

Dan matanya akan jatuh pada kalender kecil yang bertengger di atas meja. Kemudian ia akan tersenyum dan melanjutkan mengerjakan manual-nya.

Satu hari lagi.

:: 22:00

Secangkir kopi, lagi. Cangkir ketiga untuk hari ini. Mungkin ia hanya ingin terjun bebas untuk tenggelam dalam kenangan-kenangan itu lagi. Karena rasa pahit yang menemaninya selama tahun-tahun belakangan ini telah terasa begitu dekat; seperti seorang sahabat. Atau mungkin ia hanya ingin membuktikan pada lelaki itu bahwa kafein tak lagi bisa membuatnya terjaga.

[I miss us…]

Ia tidak menyahut. Pikirannya berkelana pada suatu masa, entah kapan tepatnya ia lupa, ketika mereka duduk berdua di dalam mobil yang berpendingin udara; berputar-putar tanpa tujuan seperti biasa. Merasa tersesat dalam sebuah labirin yang tak pernah ia tahu akan berakhir di mana.

Lelaki itu menggerak-gerakkan kakinya di bawah meja; mulai gelisah kini.

[What’s wrong?]

Tetapi ia masih diam saja. Menyesap kopinya sedikit demi sedikit dan tidak merasakan apa-apa selain rasa pahit. Ia heran karena ia bisa duduk di sana dengan kaus belel Soundrenaline yang kebesaran dua nomor; dan merasa baik-baik saja.

Mereka pun sama-sama terdiam, menyesap kopi masing-masing tanpa suara. Yang satu berusaha menebak apa yang tengah berkecamuk dalam benak yang lainnya. Tetapi tak ada yang bertanya. Tak ada yang berkata-kata. Karena mereka berada dalam dua dunia yang berbeda, di mana kata-kata tak akan pernah mampu untuk menjelaskan semua.

Jadi, ia menangis. Dan lelaki itu pun mengerti.

:: welcome. goodbye. stay.

Malam itu, seorang sahabatnya pulang.

Ia masih terdampar di kantornya saat itu, menjelang pukul sepuluh; menunggui percakapan yang berlangsung sejak senja dan semakin ramai tatkala diperciki sebotol wine yang tiba-tiba muncul dari bawah laci meja.

Suara itu menyapanya dari sebuah kedai kecil di kota sebelah, 60 kilometer jauhnya: “Saya pulang. Bisa ketemuan, nggak?”

Ia urung bertemu sahabatnya malam itu, meskipun tetap undur diri sebelum percakapan tadi rampung. Matanya perih, dan masih ada hari esok yang menunggunya. Jadi ia memejamkan mata dan membiarkan James Blunt memenuhi kepalanya dengan cerita-cerita dari All The Lost Souls.

Ya, ia merasa tersesat. Seperti berada di tahun yang bukan miliknya. Mungkin seharusnya ia berada di tahun 1973…

Senja itu, seorang sahabatnya pergi.

Kepergian dengan pemberitahuan yang begitu tiba-tiba, yang tidak pernah ia duga. Sesuatu yang membuatnya kesal sekaligus kecewa karena tidak sempat menyiapkan bingkisan atau kejutan kecil untuk sahabatnya. Semuanya seperti adegan yang dipercepat tanpa pernah ia tahu asal muasalnya.

Tetapi ia ucapkan juga selamat jalan hari itu; teriring pesan agar sahabatnya menjaga diri baik-baik.

Malam itu pun ia habiskan di Avenue bersama para pecinta Scribo Ergo Sum hingga pukul sembilan; kemudian bergabung dengan kawan-kawannya semasa SMA, mendengarkan entah siapa membawakan lagu-lagu Goo Goo Dolls di depan rinai-rinai air sambil tertawa-tawa menahan kantuk; sejam sebelum tengah malam.

Kemudian ia menjenguk lelaki itu lewat sebuah jendela yang terbuka diam-diam. Ternyata dia masih ada di sana. Seseorang yang tidak pernah pulang; dan tidak pernah pergi. Seseorang yang selalu tinggal–entah sampai kapan. Sampai ia bosan, mungkin.

Tetapi ia tidak menyapanya.

Ia menguap beberapa kali dan membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Water of March-nya Basia mengambang dalam gelap; yang kesebelas kalinya hari itu. Percakapan itu mengabut di pelupuk matanya sebelum ia terlelap.

“I wish I can go home…”
“Why can’t you?”
“Because home is where the heart is, right?”
“So?”
“I no longer have one. A heart, I mean…”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,190 other followers

%d bloggers like this: