Saya tidak pernah merasa menjadi orang yang beruntung—terutama jika dikaitkan dengan acara undian atau doorprize.

Pengalaman mengajarkan bahwa saya tak perlu takut pulang duluan sebelum acara usai, tanpa harus menunggu doorprize. Toh, saya memang tidak pernah memenangkan sesuatu yang lebih dari sekadar buku catatan, mug, atau kaos. Itu pun frekuensinya sangat jarang dan bisa dihitung dengan jari.

Ya, bayangkan, seumur hidup saya, tak lebih dari 7 kali saya memenangkan doorprize atau undian. Tentu, ini ironis sekali jika dibandingkan dengan Pitra yang kabarnya sering sekali memenangkan doorprize, bahkan di acara yang digagasnya sendiri.

Karena itulah, saya benar-benar terkejut ketika mendapatkan sebuah email dari Singapore Tourism Board, yang menyatakan bahwa saya terpilih menjadi pemenang Wacky Weekend Contest. Hadiahnya? Menghabiskan akhir pekan di Singapura dengan seluruh biaya ditanggung Singapore Tourism Board. Dan gilanya lagi, saya diijinkan untuk mengajak 4 orang teman ikut serta dalam liburan akhir pekan ini!

Begitu mendapatkan email ini, saya sempat ragu sejenak. Takut jika-jika ini tipuan. Saya lihat kembali alamat si pengirim email. Ah, alamat emailnya di @stb.gov.sg. Bukan email Yahoo! atau Gmail. Nampaknya bukan tipuan. Inilah kewaspadaan (atau skeptisisme?) orang yang tinggal di Indonesia dan sudah lelah menerima email atau SMS menang undian.

Waktu saya katakan pada salah seorang sahabat saya bahwa saya memenangkan kontes ini, hal pertama yang dia tanyakan adalah: “Lo yakin, itu beneran? Bukan orang iseng?” ๐Ÿ˜€

Ah, nyatanya, saya benar-benar memenangkan kontes itu!

Setelah yakin benar saya tidak tertipu, berikutnya saya kembali sakit kepala memikirkan siapa saja 4 orang kawan yang dapat saya ajak ke Singapura, melewati liburan gila bersama saya. Nama-nama dan wajah-wajah berkelebatan (hiperbola), tetapi akhirnya ada 4 nama yang muncul. Mereka adalah orang-orang yang paling banyak membantu saya melewati tahun 2008 ๐Ÿ™‚

Dimas Novriandi, yang bahu-membahu saling menguatkan bersama saya hingga dini hari kala mempersiapkan Pesta Blogger 2008, ketika kelopak mata sudah hampir terpejam sementara masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kantuk yang tidak hilang berhari-hari—euh, seminggu, tepatnya. Dimas, yang membuat stress saya hilang dengan kelakuannya yang aneh …

Chika Nadya, yang sebetulnya baru mulai saya kenal pada persiapan acara Pesta Blogger 2008, tetapi kami lantas menjadi begitu dekat. Chika, yang sabar mendengarkan semua unek-unek saya dan menghibur saya di kala saya membombardirnya dengan telepon dan SMS pada suatu sore yang menggila dan depresif dengan mata bengkak.

Hawe, yang awalnya sebatas saya kenal karena ia adalah wartawan dan saya adalah seorang humas. Tetapi manusia platonis itu selama beberapa tahun terakhir telah menjadi teman baik untuk mengobrolkan hal-hal aneh (baca: cinta yang tak pernah ada atau membahas premis “Nothing is everything“) over a cup of poci tea and coffee untuk saling merekomendasikan buku-buku terbaru, dan memperbincangkan tulisan serta cerita-cerita pendek yang tidak pernah selesai.

Nia, yang membantu saya si melankolis ini tetap seimbang. Karena Nia, si pemikir praktis itu, selalu bisa membuat saya menertawakan melankoli dan menjadi biasa-biasa kembali. Dia juga yang memulai gerakan Coin A Chance! bersama saya, orang pertama yang langsung menyambut ide mengumpulkan koin ini dengan aksi nyata.

picture-18

Am so blessed to have you around, guys! (cozy) ๐Ÿ˜€

Jadilah pada suatu sore di hari Jumat, saya secara resmi mampir ke kantor Singapore Tourism Board (STB) untuk menerima tiket-tiket pesawat dan jadwal acara jalan-jalan di Singapura untuk tanggal 6-8 Februari 2009. Dan sempat berfoto-foto bersama teman-teman di sana: Farhana, Dewi Astuti, Siska, dan Abdul Rahman bin Mohideen. Juga bersama maskot orang utan bernama Ameng ๐Ÿ™‚

picture-16

Yang lebih gila lagi, saya tercengang melihat nama Nila Tanzil tertulis di dalam jadwal sebagai anggota rombongan. “Ya, Nila itu blogger yang kami minta untuk meliput acara jalan-jalan kalian di Singapura,” jelas Siska dari STB. Nah, lho! What a coincidence! Karena Nila adalah sahabat baik saya–yang apartemennya biasa saya inapi jika tengah main ke Singapura (gratisan, gratisan, hehehe).

Pada perjalanan pulang dari STB, menggenggam sekantong tiket, brosur, dan jadwal perjalanan, saya menemukan hujan deras telah turun di luar. Dengan angin kencang yang membuat ranting-ranting pohon berserakan di sepanjang trotoar. Jalanan macet total.

Kebetulan, setelah serangkaian pesan SMS, saya mengetahui bahwa Nia tengah melewati depan gedung STB dengan sebuah taksi. Saya pun mengeluarkan payung dan berlari menuju trotoar, hendak mencegat taksi yang tengah ditumpangi Nia. Hujan deras dan angin kencang membuat saya mati-matian memegangi payung saya agar tidak terbang.

Sia-sia.

Dalam beberapa detik, payung saya terbalik, melayang di udara sebentar sebelum bisa saya tangkap kembali. Deras hujan mengguyur membasahi tubuh saya. Yak, di sanalah dia, seorang perempuan dengan kantong di tangan dan payung terbalik diterbangkan hujan. Basah kuyup di pinggir trotoar, memanyunkan bibir pada kemacetan… tetapi tak mengapa. Perempuan itu selalu suka hujan ๐Ÿ™‚

Dan lagi, sebentar lagi ia akan menikmati liburan!!!

(bersambung)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

— sneak preview —

Tiga hari kemarin, saya bersama Chika, Nia, Dimas, dan Hawe berlibur ke suatu tempat. Berhubung begitu masuk kantor saya dicecar dengan serentetan pekerjaan, maka saya putuskan untuk memasang satu foto yang sukses membuat saya terpingkal-pingkal baik saat mengambil foto sampai ketika memperlihatkan pada teman-teman. Saya belum sempat menulis postingan tentang liburan kemarin.

Gila! Liburan kemarin benar-benar gila! Foto ini diambil dengan menggunakan kamera BlackBerry-nya Nia, dengan setting-an entahlah. Yang penting kami semua mengambil foto-foto gila selama perjalanan. Laporan perjalanan akan saya tulis setelah saya bisa bernafas lega.

Selamat menikmati foto ๐Ÿ˜€

Ratapan anak tiri, foto diambil di 7-Eleven Chinatown
Ratapan anak tiri, foto diambil di 7-Eleven Chinatown

Disclaimer: isi posting ini dikopipas langsung dari postingan Chika, tapi fotonya beda ๐Ÿ™‚

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

picture-5

Tak heran banyak orang bingung ketika hendak mengungkapkan cinta. Banyak yang berkata, mereka tidak siap mendengar jawaban apa yang mungkin diberikan oleh pihak yang diajak bicara. Ternyata, kebingungan itu cukupย  beralasan, karena ada begitu banyak alternatif jawaban yang bisa diberikan pada satu pertanyaan sederhana di bawah ini:

“Maukah kamu menjadi pacarku?

  1. Jawaban menolak: โ€œTidak.โ€
  2. Jawaban menolak sopan: โ€œTidak, terima kasih.โ€
  3. Jawaban menolak tidak sopan: โ€œJelas tidak, lah!โ€
  4. Jawaban menolak baik-baik: โ€œAduh, kamu baik sekali. Tapi… sepertinya lebih baik kita berteman saja.โ€
  5. Jawaban menolak dengan alasan kuat: โ€œTidak. Aku sudah punya pacar.โ€
  6. Jawaban menolak dengan alasan kuat, disampaikan dengan kasar. โ€œTidak. Aku benci kamu.โ€
  7. Jawaban menolak dengan amarah, disertai sentuhan fisik: โ€œKamu kira aku murahan?โ€ (*samar-samar terdengar suara pipi ditampar*)
  8. Jawaban menolak dengan alasan lain: โ€œSepertinya kita baru saja kenal, aku masih butuh waktu untuk mengenalmu lebih baik lagi.โ€
  9. Jawaban menolak dengan berbelit-belit. โ€œBukannya aku tidak mau, sih, tapi… maksudku, kamu memangย  baik, selama ini kamu perhatian padaku. Dan aku merasa nyaman bersamamu. Tetapi, meskipun begitu, demi kebaikan kita berdua, rasanya lebih baik kita berteman saja.โ€
  10. Jawaban bersedia antusias: โ€œYa ampun! Kupikir kamu tidak akan pernah bertanya! Tentu aku mau!โ€
  11. Jawaban bersedia berlebihan: โ€œOH MY GOD? Sumpah loooh? Nggak becanda, kan? Ya ampun! Tuhan! Gila, ya mau, laaaah!โ€
  12. Jawaban bersedia: โ€œBaiklah.โ€
  13. Jawaban bersedia sopan: โ€œBaik, aku mau. Terima kasih karena sudah bertanya.โ€
  14. Jawaban bersedia kurang sopan: โ€œOkelah.โ€
  15. Jawaban bersedia agak meremehkan: โ€œBoleh.โ€
  16. Jawaban bersedia bersyarat. โ€œMau, sih, asalkan…โ€
  17. Jawaban ambigu menyebalkan: โ€œMenurut looo?โ€
  18. Jawaban ambigu sopan: โ€œMenurutmu bagaimana?โ€
  19. Jawaban menggantung: โ€œGimana, yaaa… โ€œ
  20. Jawaban mengalihkan topik pembicaraan: โ€œLihat! Ada pisang terbang!โ€
  21. Jawaban hati-hati, penuh antisipasi, mungkin pernah patah hati: โ€œApakah saat ini kamu sudah punya pacar? Apakah kamu hendak menjadikanku selingkuhan?โ€
  22. Jawaban menunda: โ€œBeri aku waktu beberapa hari untuk memikirkannya, ya.โ€
  23. Jawaban asal dan tidak jelas: โ€œYuk, yah, yuuuk.โ€
  24. Jawaban waspada dan menuntut detail jelas: โ€œCoba definisikan dulu, menurutmu โ€˜pacarโ€™ itu apa?โ€
  25. Jawaban balik bertanya puitis: โ€œApakah aku mau? Masih perlukah kau pertanyakan semua itu?โ€
  26. Jawaban penggila Plurk: โ€œ(cozy)โ€
  27. Jawaban antisipatif: โ€œKalau iya, kenapa? Kalau tidak, kenapa?โ€
  28. Jawaban menjebak: โ€œPacar yang keberapa?โ€
  29. Jawaban lelah: โ€œSesungguhnya… ah, sudahlah.โ€
  30. Jawaban meledek: โ€œHmpfhhhh… โ€œ (terdengar ledakan tawa)
  31. Jawaban berharap: “Apakah ini berarti kita akan menikah?”
  32. Jawaban oportunis: “Apa untungnya bagiku jika menjadi pacarmu?”
  33. Jawaban tersirat: “Selama ini aku menyayangimu. Kamu tahu itu?”
  34. Jawaban memberi harapan kemudian dijatuhkan: “Ah, aku sangat mencintaimu! Dan terima kasih karena kamu memintaku menjadi pacarmu. Tetapi kita tidak bisa bersama.”
  35. Jawaban materialistis: “Kamu punya apa?”

Anda punya alternatif jawaban lain?

—-

Disclaimer: ini adalah postingan yang sangat tidak serius, jadi harap tidak direspon dengan sensitivitas berlebih. Terima kasih.

(Gambar dipinjam dari sini)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ada masa-masa tertentu dalam hidup saya ketika saya iri kepada perempuan-perempuan cantik*. Bukan dalam arti ‘iri’ di mana saya lantas hendak mencakar-cakar wajah mereka, tetapi rasa ‘iri’ yang berharap.

Ya, saya juga ingin bisa secantik mereka.

picture-12

Semasa SMU dan tahun-tahun pertama di bangku kuliah, saya memang mengalami masalah kepercayaan diri yang cukup akut–jika dan hanya jika, berhubungan dengan penampilan.

Saya termasuk siswi yang aktif di organisasi dan punya banyak teman. Sehari-hari, sepertinya saya ceria-ceria saja dengan segudang kegiatan. Namun, yang tidak diketahui kawan-kawan saya (dan tak pernah saya ceritakan kepada siapa-siapa) adalah: dengan berat badan yang melebihi angka ideal jarum timbangan, wajah berminyak yang jerawatan, serta rambut yang lurus masai, saya sama sekali merasa tidak menarik, apalagi cantik.

Hal ini terus-terang, membuat saya merasa depresi.

Kebanyakan kawan-kawan saya di SMU adalah perempuan-perempuan cantik. Bahkan mereka yang dianggap jajaran ‘paling cantik’ dalam satu angkatan. Berada di lingkaran yang sama dengan mereka, seringkali membuat saya tidak percaya diri.

Bisa sangat menyebalkan (dan menyedihkan) terkadang, jika kami berjalan-jalan ke suatu tempat dan bertemu dengan sekumpulan cowok-cowok yang kemudian sibuk menanyakan nomor telepon kawan-kawan saya, tetapi tidak menanyakan nomor telepon saya.

Parahnya lagi, teman-teman perempuan saya yang cantik-cantik ini baik. Tidak culas dan sering mendelik-delik mengerikan seperti yang sering terlihat dalam sinetron-sinetron.

Kami pergi ke salon bersama (meski kami potong rambut di salon yang sama, saya selalu merasa si tukang potong rambut telah berkonspirasi untuk memberikan saya potongan rambut paling aneh), berbelanja bersama, nongkrong bersama, mencurahkan isi hati…

Seandainya mereka jahat, mungkin saya bisa membenci mereka. Tetapi tidak. Mereka baik. Lucu. Menyenangkan. Dan cantik. Dan saya jadi merasa lebih iri lagi. Saya tidak bisa membenci mereka, sekaligus juga merasa sulit untuk menyukai mereka sepenuhnya. Kekaguman saya bercampur dengan kesadaran bahwa saya tidak akan pernah bisa menjadi secantik mereka.

Pada masa-masa inilah saya biasanya kesal mendengarkan jawaban para Putri Indonesia ketika mendapat pertanyaan klise: Ingin menjadi cantik tetapi bodoh, atau jelek tetapi pintar?

Rata-rata menjawab jelek tetapi pintar dengan tameng standar semacam inner beauty dan lain sebagainya. Saya pikir, jika saya yang mendapatkan pertanyaan itu, saya akan menjawab: cantik tetapi bodoh.

Mengapa?

Karena orang bodoh masih bisa belajar supaya menjadi pintar. Tetapi orang jelek susah menjadi cantik, kecuali jika melalui operasi plastik (ya, pada masa itu saya masih sangat sinis, sehingga harap jawaban tersebut dimaklumi). Kecantikan itu given. Diberikan. Bukan achieved atau dicapai.

Saya seringkali berpikir, alangkah menyenangkannya menjadi cantik seperti mereka. Cowok-cowok mengantri mengajak mereka kencan. Bunga-bunga yang dikirimkan pada saat Valentine. Kemudahan mencari uang saku dengan menjadi SPG, model iklan, pemain sinetron, atau model rambut.

Namun, menjelang berakhirnya masa-masa kuliah, ada banyak hal yang saya ketahui mengenai perempuan-perempuan cantik ini, yang dulu tidak saya ketahui sama sekali.

Salah seorang kawan saya yang cantik itu dan sudah berpacaran dengan seorang lelaki selama bertahun-tahun, ternyata sering menyayat dirinya sendiri dengan silet. Katanya ia merasa tak dicintai oleh kekasihnya itu, dan menyayat diri seringkali berhasil membuat kekasihnya merasa bersalah, sehingga lelaki itu kemudian memberikan perhatian lebih kepadanya.

Seorang kawan saya yang lain lagi, yang sering menjadi model di sana-sini, menjadi istri simpanan seorang lelaki yang sudah berusia hampir 50 tahun. Sang lelaki sudah memiliki anak yang usianya lebih tua dari kawan saya itu. Hanya beberapa lama setelah mereka menikah dan dikaruniai seorang anak, sang lelaki menceraikan kawan saya. Menghancurkan hidupnya dan membuatnya depresi.

Kawan cantik saya lainnya lagi ternyata mengidap penyakit serius. Pantas saja ia begitu langsing. Selama ini, ternyata ia menyembunyikan kenyataan bahwa ia sakit parah. Perempuan cantik lainnya mengetahui bahwa kekasihnya berselingkuh dengan perempuan lain (yang menurutnya, tidaklah lebih cantik dari dirinya). Yang lainnya lagi masih terus menjalin hubungan selama bertahun-tahun lamanya dengan lelaki yang sering memukulinya hingga biru lebam, karena menurutnya, ia sangat mencintai lelaki itu.

Mendengarkan kisah-kisah ini membuat saya berpikir, bahwa ternyata menjadi cantik tidak membuat kita kebal dari rasa sedih. Rasa sakit. Terluka. Dikhianati. Hanya saja rasa itu termanifestasi dalam bentuk yang berbeda. Tetapi ternyata semua orang masih saja tersakiti dalam caranya sendiri-sendiri, tak peduli apakah mereka cantik atau biasa-biasa saja.

Lantas saya teringat percakapan saya dengan seorang kawan beberapa waktu lalu:

Me: Why would you want to be beautiful?
M: Because I want to be loved.
Me: Why would you want to be loved?
M: Because… I want to be happy.
Me: Meaning, you don’t want to be beautiful, actually. Am I right? You just want to be loved, and be happy. What if you’re beautiful, but unhappy? I knew lots of beautiful women who are unhappy. Trust me.

Menjelang tahun-tahun terakhir kuliah hingga kini, saya tak lagi risau perihal menjadi cantik.

Saya tahu, ada begitu banyak hari dalam masa remaja saya dahulu, di mana saya membuangnya begitu saja dengan meratapi diri di depan cermin dan mencoba membandingkan apa yang saya lihat di sana dengan kawan-kawan saya, atau model-model di majalah (jauh banget hehehe). Saya tak menyalahkan siapa-siapa, saya hanya berpikir saat itu saya masih berada dalam masa jahiliyah ๐Ÿ˜€ Masa-masa itu adalah proses, yang mungkin memang harus saya lewati untuk bisa berada dalam jalan pemikiran dan sikap yang saya ambil saat ini.

Kini, saya masih mengagumi perempuan-perempuan cantik, namun tidak pernah lagi merasa iri. Juga tak lagi risau mengenai menjadi cantik. Karena saya tahu bahwa yang paling penting bukanlah menjadi cantik, tetapi menjadi bahagia.

Dan untungnya, untuk berbahagia, Anda tidak perlu menjadi cantik ๐Ÿ˜‰

——————–

:: untuk M, yang masih seringkali risau karena menganggap dirinya tidak cantik.

*) cantik di sini berarti penampilan fisik; termasuk struktur tulang dan karakteristik wajah/tubuh; yang dianggap mendekati ideal menurut mayoritas masyarakat di suatu wilayah tertentu.

Gambar dipinjam dari sini.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Wow. So this is what love at first sight feels like,” kata Matt Mullenweg, co-founder layanan blog WordPress itu.

picture-22

Oh, bukan. Pernyataan itu, sayangnya, bukan ditujukan kepada saya ๐Ÿ˜€ (hihihi). Pernyataan di atas diungkapkan Matt pada tanggal 4 Desember 2008 lalu–melalui status Twitter-nya.

picture-11

Saya tersenyum-senyum sendiri membaca tweet itu. Ternyata, kalimat tersebut ditujukan Matt untuk admin WordPress versi 2.7 yang baru ๐Ÿ™‚ Dan gara-gara tweet itulah saya jadi teringat seloroh Matt pada presentasinya di hari pertama WordCamp 2009 hari Sabtu kemarin:

WordPress is my longest relationship. It lasts longer than any of my girlfriends,” katanya.

Terkesan geeky? Mungkin. Tetapi Matt yang sederhana dan kelihatan agak malu-malu jika tengah berbicara ini, ternyata juga lucu dan playful. Coba lihat halaman Contact Matt di blog-nya ini:

matt

matt-2

Saat coffee-break, NdoroKakung sempat berkata kepada saya, “Rasanya aneh, ya. Lucu, bisa ketemu Matt langsung. Orang yang menciptakan sesuatu yang biasa kita gunakan sehari-hari…”

Saya setuju. Baru beberapa hari lalu saya melihat tulisan ‘edisi-ulang-tahun‘ di blog-nya Chika, sang ratu kopdar, di mana ia bertutur mengenai bagaimana blog telah mengubah hidupnya.

“Melalui blog inilah saya bisa berkenalan dengan teman-teman blogger. Melalui blog inilah saya banyak belajar. Melalui blog inilah sampai akhirnya saya bisa mendapatkan berbagai pengalaman unik. Terima kasih blog. Tanpa blog ini, mungkin saya masih menjadi Chika yang hidupnya datar. Pulang kerja langsung ke rumah, nonton tv, nonton dvd, nelpon teman, lalu tidur dan mengulangi rutinitas yang sama hampir setiap hari.” – Chika.

Hal-hal semacam inilah yang menurut Matt jauh lebih penting dan lebih berharga daripada sekadar mendapatkan uang atau materi. Ia bahagia jika ia bisa berbagi dan membuat orang lain bahagia. Itulah sebabnya, WordPress tersedia secara cuma-cuma untuk kita semua.

Dan Matt juga tak terlalu antusias menjadikan blog sebagai ‘mesin’ penghasil uang. Seperti yang dikatakannya pada WordCamp hari kedua Minggu kemarin:

“You can make more money BECAUSE of your blog. Not FROM your blog.” – Matt Mullenweg.

The more you give, the more you get. Barangkali inilah yang ada dalam benak Matt–yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-25 pada 11 Januari lalu. Ya, Matt tidak lantas jatuh miskin karena membagi WordPress secara cuma-cuma dengan kita semua. Malah sebaliknya ๐Ÿ˜‰

Dalam bukunya Influence, Robert Cialdini, profesor psikologi dari Universitas Arizona, menyebut hukum ini Rule of Reciprocity. Kurang lebih sama dengan konsep mengenai karma. What you do will come back to you. Apa yang kamu tanam, itulah yang akan kamu tuai.

Seorang Beatles sejati memaknainya seperti ini:

“And, in the end, the love you take is equal to the love you make.”ย ย ย ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  – Paul McCartney.

Jadi, sudahkah Anda punya rencana untuk berbagi di tahun 2009?

————————–

PS: Coin A Chance! dengan Coiners saya dan Nia, akan mengadakan Coin Collecting Day #1 di Cavana (di meja luar), Plaza Semanggi, Jakarta, pada hari Sabtu, 24 Januari 2009, mulai pukul 10:00-16:00 WIB. Info lengkapnya, bisa dilihat di sini.

PS2: photo of Hanny & Matt; courtesy of Gage Batubara.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

… suka membuat pantun-pantun lucu, gemar melahap makanan pedas dan gurih, serta mendaulat Alanis Morisette sebagai penyanyi favoritnya. Cita-cita jangka pendeknya? Ingin nonton Jason Mraz dan Brian McKnight di perhelatan JavaJazz bulan Maret mendatang.

blog-dita

Ya, sekilas, Dita (atau bekennya, Nona Dita) memang terdengar seperti perempuan muda yang biasa-biasa saja. Tiap membayangkan sosok Dita, saya jadi teringat burung-burung kecil yang suka menyanyi riang pada film-film kartun macam Cinderella. Tahu, kan? Burung-burung kecil dengan suara lucu yang bernyanyi di pinggir air mancur, dan bulu matanya yang lentik berkedip-kedip? Nah, seperti itulah gambaran mental saya mengenai Dita ๐Ÿ˜€

Meski demikian, saya tidak terkejut ketika dewan juri Bloggership yang terdiri dari Microsoft Indonesia dan – the one and only – Mas Enda Nasution, menobatkan Dita sebagai penerima penghargaan Bloggership yang pertama. Di luar gayanya yang ‘biasa-biasa saja’ itu, Dita memang punya pemikiran yang matang dan sudut pandang yang menarik, terutama mengenai isu-isu edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Mungkin ini berhubungan juga dengan pekerjaannya sebagai peneliti junior di salah satu LSM di kota kesayangan saya, Bogor ๐Ÿ™‚

“Aku kaget, senang, campur cemas,” kata Dita ketika ditanya mengenai perasaannya menjadi penerima Bloggership pertama di Indonesia. “Ini kan event-nya nasional, diumuminnya aja di Pesta Blogger. Pertama kali diselenggarakan, pula. Jadi belum ada modelnya gitu. Aku takut bila kontribusiku di program ini tidak seperti yang diharapkan banyak orang.”

Saya sempat bertanya juga pada Dita, bagaimana pendapatnya mengenai perusahaan serta organisasi yang mulai tertarik menjalin kerja sama dengan para blogger. Menurut Dita, kerja sama dalam bentuk apapun, asal tujuannya baik, adalah bagus. Kerja sama semacam ini bisa menjadi simbiosis mutualisme yang sama-sama baik untuk kedua belah pihak. Perusahaan dengan sumber daya yang mereka miliki bisa membuat sebuah gagasan yang bagus menjadi konkret.

“Misalnya ada blogger/komunitas yang punya ide untuk mengadakan aksi sosial atau lebih jauh lagi, mengadakan aktivitas pemberdayaan masyarakat. Tapi, mereka nggak punya dana, minimal untuk start-up cost. Sebuah perusahaan bisa membantu untuk terlaksananya program itu. Artinya, kerja sama dengan swasta nggak melulu berarti mengkomersilkan suatu ide, tetapi bagaimana supaya ide baik nggak cuma tersebar dalam bentuk postingan saja.”

Dari ngobrol-ngobrol dengan Dita, saya berhasil mendesaknya untuk memilih 3 blog saja yang paling sering ia kunjungi. Dita kelabakan. “Soalnya jarangย  blogwalking,” katanya jujur sambil terkikik. Tapi di bawah ancaman saya, akhirnya Dita menyebutkan juga 3 blog yang paling sering dikunjunginya: blog-nya Paman Tyo, blog kawannya, dan satu lagi adalah blog Pak Dhe Mbilung.

Sampai di sini saya mengernyit. Ada yang ganjil. Lantas, bagaimana dengan blog JengJeng yang terkenal itu? ๐Ÿ˜€ *melirik si empunya blog*. Ah, tetapi jangan kecewa dulu, meski blog tersebut tidak masuk di jajaran 3 blog yang paling sering dikunjungi Dita, si empunya blog JengJeng (yang penuh dengan postingan jalan-jalan dan makan-makan itu) ternyata adalah orang pertama yang dikabari Dita begitu sang Nona mengetahui bahwa dirinya memenangkan Bloggership ๐Ÿ˜‰

Uang 15 juta mau diapakan, Dit? Itu pertanyaan saya selanjutnya pada Dita tadi sore. Ternyata, Dita hendak menabungnya untuk biaya sekolah lagi. Iya, Dita ternyata ingin kembali menempuh pendidikan di bidang CSR. Ini cita-citanya sejak lama. Jadi, kawan-kawan, sudah, hentikan menodong Dita untuk traktiran! ๐Ÿ˜€

Oh ya, ada satu pantun khusus yang Dita buat sehubungan dengan terpilihnya ia sebagai penerima Bloggership, yang dibuatnya dalam waktu 29 detik saja, Saudara-saudara!

Begini, bunyinya:

Bloggership diumumkan juga
Eh kepilihnya nonadita
Grogi girang cemas terasa
Nggak nyangka jadi juara

Ah, Dita, selamat untuk kemenanganmu, ya! Saya bangga diberi kesempatan untuk mengenalmu, Dit! ๐Ÿ™‚

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeโ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP