Senin pagi. Sepertinya kita masih saja berjalan sendiri-sendiri. Aku pun menjadi semakin terbiasa akan sekian perjalanan yang dilalui sendirian. Sendirian seperti waktu. Ia adalah teman yang baik. Sendirian selalu membuatku merasa ringan. Segalanya menjadi lebih sederhana. Nggak ada yang perlu diperbincangkan atau diperdebatkan. Nggak perlu lari mengejar atau lelah menunggu. Sendirian membuatku bebas melakukan apa yang diinginkan. Bebas berdiam diri sambil memandangi langit sepanjang malam tanpa perlu memikirkan apakah ada yang akan merasa terabaikan. Bisa berlama-lama melakukan banyak hal dan menikmati momen tanpa takut terlambat memenuhi janji dengan seseorang.

Kamu selalu bilang, kamu takut sendirian. Aku nggak tahu kenapa demikian. Sendirian itu bisa jadi menyenangkan, selama kamu nggak kesepian. Kamu bilang, mungkin itu karena aku memilih untuk sendirian. Sementara untukmu, sendirian adalah kutukan. Entahlah. Tapi… begini. Ada sebuah kutipan dari film Bones. You can love many, but there will only be one you love the most.

Katakanlah, aku baru pulang ke rumah sehabis lembur. Pukul 12 malam. Aku mandi, memakai piyama, membaca buku sebentar, kemudian tidur menjelang pukul satu dinihari. Pukul tiga pagi, telepon genggamku berdering. Kamu. Kamu bilang, kamu butuh aku, sekarang. Untuk datang ke tempat kamu berada. Dan kamu tahu, kan? Aku nggak akan bertanya lebih jauh lagi. Aku akan bangun dari tempat tidur, ganti baju, memanggil taksi, lalu meluncur untuk menemui kamu. Hanya untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja.

Semua orang punya sosok itu. Sosok di pukul 3 pagi yang membuat kita terjaga dan ingin pergi menjaganya. Kamu juga punya. Dan kamu, adalah pukul 3 pagiku. Karena itu, setiap kali kamu sedang merasa sangat sendirian, kamu tinggal mencari namaku di memori telepon genggammu, lalu menekan tombol itu: call.

hanny

15 Responses

  1. “you can love many, but there will only be one you love the most.”

    sometimes, when that ‘only one’ came into our lives and went away, we didn’t know how to love the persons after her, and this love thing just became vague and unreal.

    hanny ulg thn kmrn ya? barengan sm adek perempuan gue berarti hehe. happy bday ya 🙂

    1. sometimes, when that ‘only one’ came into our lives and went away, we didn’t know how to love the persons after her, and this love thing just became vague and unreal >>> TOUCHE! 🙂

      makasih, el!!! salam buat adiknya, selamat ulang tahun jugaaa untuknya ^^

  2. hmm, diatas itu udah kepancing banget sama quote dari film Bone.. eh pas baca komen, malah jleb jleb ama komennya elia. Crap!! 😀

    btw, solitude versus loneliness.. dan kedua hal itu memang beda. sendiri belum tentu sepi dan sebaliknya.
    ah, love this post!! 🙂

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

The view from De Klok
I took another digital detox this weekend—I limited myself to a 5-minute screen time on Saturday and Sunday to quickly check my business account. I closed my social media account for the rest of the days.
Unsplash
We tend to shape our memories of them based on the limited time we spend with them—and our memories of them, over time, will be replaced with one single word, one single interaction, or one single feeling.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO