Semuanya dimulai dengan sebuah ruangan yang luas, berdinding kaca, dengan jendela dan pintu-pintu tinggi; ruangan yang selalu disirami sinar matahari. Kadang-kadang digunakan sebagai tempat berlatih yoga; studio dansa; bioskop mini, stand-up performance stage. Apa saja. Ruang multifungsi yang bisa diberdayakan sesuai dengan suasana hati.


Sebuah dapur yang luas—lengkap dengan berbagai jenis pisau, panci, loyang, dan sendok-sendok takaran. Lemari es yang penuh dengan bahan-bahan makanan. Dapur yang terkadang diramaikan anak-anak, remaja, hingga para manula. Berbagai jenis masakan. Kue-kue yang baru dikeluarkan dari panggangan.


Setiap minggu, kelompok yang berbeda mengundang kawan-kawan. Mencicipi resep yang baru dipraktekkan. Duduk mengelilingi meja makan dengan sendok dan garpu di tangan. Melemparkan obrolan ringan dan tertawa hingga otot perut terasa kencang. Membungkus sedikit makanan untuk dibawa pulang sebagai buah tangan.


Sudut khusus untuk melukis. Penuh dengan kanvas, kaleng-kaleng cat, lukisan-lukisan setengah jadi, juga kertas-kertas kusut dengan sidik jari berwarna-warni. Dindingnya dipenuhi karya-karya yang belum pernah terpajang di galeri. Mimpi-mimpi mereka yang terinspirasi Van Gogh dan Da Vinci. Mimpi-mimpi itu dimulai di sini. Ketika penghargaan lebih dialamatkan kepada jam-jam yang dihabiskan untuk membebaskan diri dan bukan pada kacamata kritikus yang tak pernah mengkritisi diri sendiri.


Sebuah ruangan kecil tempat membuat berbagai kerajinan tangan dan asesoris. Rak-rak penuh dengan kertas kado, pita, dan kain flanel yang ditata simetris. Manik-manik, kancing, krayon, beraneka warna benang dan benda-benda aneh dari toko loak di dalam kotak-kotak yang sama persis. Tempat yang biasanya kacau balau dan berantakan ketika anak-anak mengerjakan berbagai jenis prakarya. Ketika lem, kertas dan bubuk berkelip menempel di wajah dan rambut mereka.


Ruangan kecil bagi para desainer pemula–dan mereka yang ingin menjadi make-up artist; atau fashion stylist. Memajang karya-karya mereka dengan harga murah; dan melayang bahagia ketika seseorang datang dan membelinya sebuah. Meminta nasihat untuk acara-acara istimewa. Para peri penjahit membuat desain, mengukur, memotong pola, dan menciptakan ilusi pada selembar kain yang awalnya biasa-biasa saja.


Sebuah sudut dengan rak berisi buku-buku dan CD yang tak pernah ada di toko manapun. Karya-karya yang dibilang ‘indie’; plus karya-karya yang tak pernah diterbitkan sebelumnya. Buah hati dari penulis-penulis dan pemusik-pemusik yang suatu hari nanti akan menjadi sangat terkenal, tetapi saat ini baru menapaki jalan setapak menuju ketenaran.


Karya-karya yang akan dicari-cari para kolektor setengah mati ketika nama mereka sudah menjadi besar. Semuanya dimulai di sini. Buku dan CD yang dicetak tak lebih dari 10 biji. Menemukan pembeli, penikmat, dan penggemar pertama yang membuat hati berbunga-bunga.

Hmm … one day. One day.

Doakan, yaaa 🙂
________________________________________________

IMG. living room: http://www.casadelcielocancun.com/View%20of%20Living%20Room.jpg

IMG. kitchen: http://www.poipu.org/Properties/412Regency/Images/Pres/500wide/Kitchen.jpg

IMG. dining area: http://www.scubamom.com/travels/jackson/alpdine1.jpg

IMG. painting area: http://fcms.its.utas.edu.au/files/Painting.jpg

IMG. crafting studio: http://www.madcropper.com/wp-content/mrs14%20craft%20studio.jpg

IMG. clothing store: http://www.activebody.com/images/interior6-large.jpg

IMG. CD corner: http://www.veganbob.com/site/more/collections/collections.jpg

IMG. bookstore: http://www.montreat.org/images/bookstore%20pic.jpg

hanny

2 Responses

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Beradadisini Love Letter to Self
I took up a personal journaling project this week: writing a love letter to myself before bed. I work on a thin A6-size handmade paper journal I got from a paper artist, Els. The journal is thin and small enough, so it doesn't overwhelm me. It feels like I am only going to work on a small project.
annie-spratt-YF8NTmQyhdg-unsplash
Standing up for yourself does not have to look aggressive. It does not have to feel like a fight. It's not always about convincing others or explaining yourself and your decisions with the hope that everyone else understands or accepts your choice.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO