:: liburan gila di singapura (3. we’re here!)

Akhirnya, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Changi Airport.

Hal pertama yang kami lakukan begitu keluar dari pesawat adalah foto-foto. Saking asyiknya foto-foto, jaring-jaring tas Dimas tersangkut dengan tali tas seorang perempuan–orang Indonesia juga. Maka mereka saling tarik-menarik sebentar sebelum akhirnya saling mendekatkan diri untuk melepaskan “jeratan” cinta.

Teman Mbak yang tersangkut itu kemudian nyeletuk:

“Jodoh, mungkin!”

Hihihi. Ehem. Sayang momen jeratan cinta ini luput dari jepretan kamera karena kami terlalu sibuk tertawa. Jadi tak mengapa jika cerita yang ini kemudian dianggap hoax.

picture-19
mbak-mbak yang berjaga di konter UOB di Changi Airport tertawa terkikik-kikik melihat Dimas berpose seperti di atas. mereka berusaha menahan tawa, padahal sebetulnya tak apa tertawa. Dimas sudah biasa ditertawakan ketika tengah berpose 😀 hehehe

Setelah mampir ke money changer untuk menukarkan uang yang tak jadi melayang untuk membayar fiskal, kami pun keluar dari bandara, mencari-cari penjemput kami. Kabarnya, kami akan dijemput oleh tour guide yang disediakan oleh Singapore Tourism Board (STB), namanya Mr. Basir. Setelah celingukan, kami pun terdampar di bandara, dan saya memberikan nomor telepon Mr. Basir kepada Nia–yang kemudian meneleponnya untuk menanyakan di manakah gerangan ia berada.

Ternyata Mr. Basir berdiri di depan kami, dengan topi koboi-nya, hanya saja kami tidak bisa melihat tulisan nama yang tertera di amplop putih yang dipegangnya.

😀

Maka, bersama Mr. Basir, kami naik ke atas bis besar yang disediakan STB. Padahal kami hanya berlima, lho! Tetapi bis yang lega membuat kami bisa duduk sendiri-sendiri, di dekat jendela.

picture-24

Kami  pun melaju menuju The Scarlet, hotel yang akan menjadi tempat penginapan kami di Singapura. Menurut Mr. Basir, The Scarlet ini adalah hotel kepunyaan orang Indonesia. Konsepnya boutique hotel, terletak di Erskine Road, di daerah Chinatown. Kamarnya didesain dengan nuansa berbeda-beda. Kabarnya, dahulu The Scarlet ini adalah sebuah rumah, yang kemudian disulap menjadi hotel.

picture-27

Mr. Basir (yang fasih berbahasa Indonesia karena kedua orang tuanya berasal dari Jawa, namun kini telah menjadi warga negara Singapura), juga menceritakan bahwa orang-orang terkaya di Singapura sebenarnya adalah orang-orang Indonesia. Bahkan pemilik hotel-hotel termewah di Singapura pun orang yang sama, orang Indonesia yang juga memiliki jaringan bank terkenal…

“Orang Indonesia itu kaya-kaya, bayangkan saja, turis terbesar Singapura adalah orang Indonesia. Banyak di antara mereka datang untuk berbelanja, dan kalau menginap pun mereka menginap di hotel-hotel bagus di sekitar Orchard. Banyak juga yang datang untuk berobat. Rata-rata rumah sakit di Singapura, pasti punya staff yang bisa berbahasa Indonesia, karena memang pasiennya kebanyakan dari Indonesia,” kata Mr. Basir, sembari menunjukkan kepada kami lokasi sebuah grand casino yang akan segera dibangun di Singapura. “Nah, kasino ini nantinya sepertinya juga akan banyak dikunjungi orang-orang Indonesia.”

Ketika bis memasuki Chinatown yang jalan-jalannya sempit, namun bersih dan tertata rapi, kami pun menikmati pemandangan gedung-gedung cantik di kanan-kiri jalan. Tak lama kemudian, kami berhenti di depan The Scarlet yang cantik, terletak di ujung jalan. Karena kami tiba lebih cepat dan belum dapat masuk ke kamar, maka kami hanya check-in sebentar, sebelum berangkat lagi.

Walau demikian, kami sempat berfoto di lobi-nya yang megah 🙂

picture-21

picture-22

Dari hotel, kami langsung menuju Orchard Road–yang terkenal itu. Para lelaki bersama Mr. Basir hendak menunaikan sholat Jumat, jadi kami para perempuan dilepas di Orchard Road untuk berbelanja sebentar, sebelum berkumpul lagi pada sekitar pukul setengah 2 siang.

Dimas sudah hampir merajuk karena membayangkan dirinya akan ditinggal dalam perjalanan menyusuri Orchard–ya, karena di jadwal yang diberikan oleh STB memang tak ada jadwal mengunjungi Orchard Road. Padahal, menurut Dimas, tidak sah rasanya ke Singapura jika belum menjejakkan kaki dan berfoto di bawah plang jalan di Orchard Road. Tetapi Dimas tetap taat menjalankan ibadah dan tahan terhadap godaan…

Begitu dilepas di Orchard Road, saya, Nia, dan Chika, langsung berjalan-jalan menuju Lucky Plaza. Di sini kami memborong benda-benda yang dijual SIN $ 10 untuk 3 barang. Salah satunya, kami membeli Sisterhood Ring, cincin dengan model yang sama, sebagai pengingat perjalanan kami di Singapura…

picture-26

Kami tak lama berada di Orchard Road, karena sudah kembali ditunggu oleh Mr. Basir dan para lelaki di bis. Berikutnya, menurut jadwal, kami akan makan siang–menyantap seafood bersama Kendra Wong, staff STB di Singapura. Lapar! Maka, naiklah kami ke atas bis.

Sepanjang perjalanan, Chika terus terisak karena tak dapat nge-Plurk. Maklum, kami belum membeli SIM Card Singapura. Saya hanya dapat berharap dan berdoa, semoga sakaw bandwidth Chika akan sedikit terobati dengan menyantap hidangan laut. Karena untuk orang seperti Chika, yang selalu membawa laptop dan daring* di mana pun ia berada, saya mengerti betapa beratnya penderitaan yang mesti ditanggung Chika kala itu…

next: CHIKA betulan sakit gara-gara sakaw bandwidth? Dimas ditertawai turis-turis ketika sedang foto-foto di Merlion? Tunggu lanjutan ceritanya, ya!

(bersambung)

*daring = dalam jaringan / online. kering = keluar jaringan / offline. kering adalah istilah yang kami buat sendiri di atas bis.

Leave your traces here. I want to hear :)