solehsolihun kids today enak ya, klo ngegebet org, bs gmpng nyari info, bahkan fotonya. jaman dulu mah, dapet foto kecengan aj, susahnya minta ampun. :))

Itu kata kawan saya, Soleh Solihun, si propagandis, di Twitter.

Dan saya seratus persen setuju dengan Soleh. Terberkatilah para ABG yang sedang punya kecengan, karena web 2.0 memungkinkan kita mencari banyak informasi mengenai cowok yang sedang digebet, lengkap dengan foto-foto serta kesaksian dari mantan-mantan pacar sang gebetan.

Saya sendiri termasuk generasi yang cukup ‘dewasa’ untuk sempat merasakan proses ‘keceng-mengecengi’ di jaman jahiliyah. Lupakan pemuasan diri memandangi foto gebetan dan membaca status hariannya di layar komputer, terlindung privasi kamar tidur. Lupakan! Cinta monyet—tak peduli sekecil apapun kadar kemonyetannya, butuh perjuangan. Seperti perjuangan saya mendapatkan foto kecengan.

***

Waktu SMU dulu, saya sempat mengecengi kakak kelas. Berhubung lingkaran sosial kami berbeda, saya nggak pernah punya kesempatan mendekati si kakak kelas ini. Paling hanya mencuri pandang dari jauh, atau sikut-sikutan dengan sahabat saya ketika dia lewat, atau iseng-iseng mengirimkan pesan anonim DU (dari-untuk) di majalah sekolah yang dialamatkan kepadanya, dan berisi kalimat norak seperti: “Sebenernya, gue sering sengaja lewat-lewat depan kelas lo, cuma buat ngeliatin lo”.

Mendapatkan informasi tentang dirinya juga susahnya minta ampun. Sahabat saya terpaksa mendekati teman kos dari kawan pacarnya dan bertanya-tanya (dengan segala tipu muslihat) mengenai si kakak kelas yang saya kecengi, tanpa membocorkan kenyataan bahwa sayalah yang membutuhkan informasi tersebut. Informasi yang didapat pun sedikit-sedikit, dan terkadang nggak relevan: “Tadi sih denger-denger dia mau main game abis itu langsung balik ke kos…”

Duh, baiklah, siapa peduli?

Saya butuh info soal apakah dia sudah punya pacar? Siapa cewek yang dia suka? Cewek mana yang suka dia ajak pergi bareng? Apa zodiaknya (supaya bisa mengecek kompatibilitasnya dengan saya)? Kapan ulang tahunnya (biar bisa dikirimi ucapan lewat DU)?

Mendapatkan fotonya jadi tantangan luar biasa lagi. Di jaman itu telepon genggam belum dilengkapi kamera. Mau memotret pakai kamera pocket juga sulit. Apa urusannya? Saya nggak kenal dia, nggak berteman dengan teman-temannya. Mana bisa saya memotret jelas wajahnya? Memotret dari jauh hasilnya nggak pernah memuaskan. Yang mau diambil wajah gebetan, yang masuk kamera paling jelas malah wajah yang nggak diinginkan.

Sampai suatu hari, datang kesempatan luar biasa. Sekolah saya membuat kalender tahunan. Di kalender ini, semua kelas akan dipotret untuk dijadikan ilustrasi kalender. Saya, yang kebetulan anak OSIS, termasuk dalam tim pembuatan kalender, dan bertugas mengarahkan gaya bagi seluruh kelas yang akan dipotret. Maka, pada suatu hari yang bersejarah, saya mendekati si fotografer (yang kebetulan salah satu sahabat saya) dan memintanya untuk mengambilkan foto close-up si gebetan ketika sesi pemotretan.

Jadi, sewaktu kelas sang gebetan mendapat giliran, mereka difoto beberapa menit lebih lama. Menit-menit terakhir digunakan untuk mengambil wajah gebetan saya; di-zoom sampai wajahnya terlihat jelas sejelas-jelasnya.

Berhubung ini pemotretan resmi untuk kalender sekolah, kamera yang dipakai memang cukup canggih. Hasil zoom tidak buram dan sangat memuaskan!

Maka beberapa hari kemudian (ya, masih harus menunggu beberapa hari kemudian karena harus cuci-cetak foto, waktu itu belum digital), saya pun mendapatkan sebuah foto close-up sang gebetan. Itu jadi harta karun terbesar saya. Dan foto itu, yang sudah saya gunting supaya lebih kecil, saya bawa ke mana-mana di dalam saku kemeja.

***

Sekitar tiga hari kemudian, seusai pelajaran olah raga, saya sedang berada di toilet cewek bersama sekitar sepuluh kawan-kawan sekelas saya. Berganti baju dan menyegarkan diri setelah berkeringat bermain basket. Saya sudah menggulung-gulung seragam olah raga yang basah dan membedaki punggung ketika tiba-tiba salah seorang teman cewek saya membungkuk di lantai, dan mengangkat sesuatu ke hadapannya.

“Eh, ini kan foto si ANU, kok ada di sini?” teriaknya sambil melambai-lambaikan selembar foto.

Saya langsung mulas mendadak. Foto yang dilambai-lambaikan teman saya itu, adalah foto satu-satunya dari sang gebetan saya.

“Kok bisa ada foto itu di sini? Punya siapa, nih?” (kuping memerah, pura-pura nggak dengar, sibuk menyisir rambut)
“Emang di kelas kita ada yang pacaran sama dia?” (pura-pura mencuci tangan)
“Oh, jangan-jangan di kelas kita ada yang ngecengin dia? Hihihi, siapa ya?” (pucat pasi, memaksakan diri tersenyum tegar)

Lalu saya ikut tertawa sambil meremas-remas kaos olahraga saya yang sudah tergulung rapi, ”Hahaha, iya, siapa ya kira-kira…” (Kembalikan fotokuuuu T_T)

Untungnya, bel berbunyi, dan kawan-kawan saya bergegas menyisir rambut dan mencuci muka, kemudian berlari menuju kelas kami selanjutnya. Dan kawan saya yang memegang foto sang gebetan pun… melemparkan foto barusan ke dalam tong sampah!!!

Saya melirik ke dalam tong sampah yang sudah penuh dengan cairan lengket dan tisu yang menjijikkan serta noda hitam-hitam mengerikan, dan foto sang gebetan meluncur ke posisi yang nggak memungkinkan untuk diselamatkan…

Oh, gebetanku 🙁

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Kadang-kadang rasanya ingin melempar sepatu, atau menginjak jempol orang yang menyuiti itu dengan hak stiletto 12 senti. Masalahnya bukan cuma disuiti saja, sih, tapi juga ditambahi dengan komentar-komentar nggak sopan yang melecehkan.

Perempuan-perempuan, terutama di Jakarta, pasti tahu persis bagaimana rasanya. Dan saya menulis ini pun karena belakangan beberapa teman saya mulai mengeluh karena merasa jengkel disuiti ketika tengah berjalan di trotoar. Padahal mereka menggunakan baju kerja; bahkan bercelana panjang. Apa jadinya kalau ber-hot pantsseperti yang disukai NdoroKakung, misalnya?

“Sudahlah, diamkan saja, kalau disuiti itu berarti kamu cantik. Coba kalau yang lewat cewek jelek, pasti nggak bakal disuiti,” canda seorang motivator di televisi suatu hari.

Doesn’t make me feel better. Ada yang salah di sini. Kalau kita diam saja, apakah orang-orang itu tahu bahwa yang mereka lakukan salah, bahwa itu semua termasuk pelecehan? Menurut Wikipedia, ada tipe pelecehan seksual yang namanya ‘unintentional‘:

Unintentional – Acts or comments of a sexual nature, not intended to harass, can constitute sexual harassment if another person feels uncomfortable with such subjects.

Mungkin orang-orang yang menyuiti dan melontarkan komentar nggak sopan itu cuma ‘iseng’ dan nggak sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah pelecehan; tapi kalau kita merasa nggak nyaman, itu bisa dihitung sebagai pelecehan.

Terus, apa yang bisa kita lakukan? Kalau marah-marah biasanya mereka malah akan semakin seru menyuiti dan melontarkan komentar yang membuat panas kuping. Kalau didiamkan, mangkel sendiri. Kalau dipelototin balik, juga diketawain. What to do?

Sementara ini, saya masih berbekal iPod kalau sedang berjalan kaki melewati daerah ‘rawan’. Disetel ke volume yang cukup bisa meredam komentar nggak sopan dari kanan-kiri. Jadi kalaupun ada yang suit-suit, saya nggak dengar (dengan sedikit resiko keserempet mobil atau motor kalo kurang hati-hati karena juga nggak mendengar bunyi mesin atau klakson). Dan karena nggak dengar, saya nggak kesal.

Saya juga nggak setuju, sih, kalau ada yang bilang pelecehan ini dilakukan orang-orang dari kelas sosial atau tingkat pendidikan tertentu, lantas diminta untuk mengerti dan menerima saja ‘dibegitukan’.

Siapa bilang?

Ada juga kok tukang bangunan, satpam, dan tukang ojek yang sopan, kalau saya lewat malam-malam ditegur dengan, “Malam, Mbak, baru pulang? Hati-hati di jalan…”

Dan saya nggak keberatan dengan yang beginian. Kalau nanyanya memang sopan, biasanya saya balas, “Iya, baru pulang, nih, makasiiih,” sambil tersenyum.

Tapi, bagi orang-orang yang masih menyuiti dan melontarkan komentar seksis yang menyebalkan itu… duh. Bikin saya sedih. Karena di jalan-jalan umum tengah kota di negara tetangga seperti Singapura atau Bangkok, perempuan bebas jalan-jalan pakai tank top dan celana pendek tanpa harus kuatir dilecehkan.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP