Go Ahead, Paris! #3

DISCLAIMER: Beberapa waktu lalu, saya diundang meliput perjalanan dua pemenang kompetisi Go Ahead Challenge dalam gelaran Paris Fashion Week 2014; dengan tiket pesawat, akomodasi, serta uang saku selama perjalanan ditanggung oleh tim penyelenggara. Meskipun demikian, saya berangkat dalam kapasitas sebagai independent blogger yang berhak menuliskan dan melaporkan (ataupun tidak) mengenai apapun yang saya lihat, alami, dan rasakan selama perjalanan tersebut;tanpa sensor maupun suntingan dari pihak penyelenggara. Bagian pertama dari seri ini dapat dibaca di sini dan bagian kedua dapat dibaca di sini.

Pernahkah kau bertanya-tanya tentang apa yang tak kelihatan? Tentang apa yang terjadi ketika lampu dimatikan dan layar diturunkan?

Banyak orang silau dengan gemerlap–sesaat melupakan apa yang dibutuhkan untuk sungguh-sungguh berkilau. Di baliknya, ada serangkaian pemikiran, kerja keras, air mata, perdebatan, juga perasaan nyaris putus asa. Tentang tertidur menjelang dinihari dan kembali terbangun bersama terbitnya matahari–menantang dinginnya angin dan menahan gigil untuk tetap berdiri anggun di tengah suhu yang semakin turun.

Lain kali kau bertemu seseorang yang kau kagumi, tanyakan padanya apa yang terjadi ketika lampu dimatikan dan layar diturunkan. Karena setiap orang, tak peduli seberapa berkilaunya ia, punya perjuangan dan pergulatan sendiri-sendiri; yang mungkin tak pernah kau ketahui. 

***

Area resepsionis di Le Meurice nampaknya jauh lebih besar dibandingkan luas seluruh lantai di hotel tempat saya menginap. Diapit Place de la Concorde dan Museum Louvre yang terkenal itu, Le Meurice memang bukan sembarang hotel. Hotel berbintang lima ini kabarnya sering didatangi para seniman kenamaan dari berbagai belahan dunia. Salvador Dali, misalnya, pernah menjadi salah satu tamu reguler di hotel yang menyuguhkan pemandangan Tuileries Garden itu.

Ketika saya tiba pagi itu, masih dengan wajah mengantuk setelah tidur larut malam sebelumnya, lobi hotel Le Meurice telah disulap menjadi sebuah area showroom. Berbagai brand dari desainer terpilih berkesempatan memajang karya-karya mereka di sini, untuk dipamerkan kepada para buyer yang akan datang menjelang siang. Di ujung showroom itulah saya menghabiskan waktu sepagian.

Di sinilah, beberapa desainer asal Indonesia berkesempatan memperlihatkan rancangan mereka kepada dunia dalam rangkaian Paris Fashion Week 2014. Selain koleksi Tex Saverio, di ujung showroom itu saya juga terkagum-kagum melihat-lihat koleksi dari Peggy Hartanto, Toton, dan MajorMinor, dan sempat mengobrol dengan Toton Januar dan Ari Seputra-nya MajorMinor tentang rancangan mereka yang khusus dibuat untuk pasar Eropa.

Fashion adalah industri yang kompleks,” kata Sophie Gorecki–perempuan ramah yang saya temui di showroom pagi itu. Sosok penting di balik penjualan koleksi Tex Saverio ini bisa berbahasa Indonesia dengan sangat baik. “Dalam industri fashion, pekerjaan tak berhenti ketika kita menghasilkan karya yang indah. Itu baru awal. Selanjutnya, ada rantai distribusi yang panjang dan berbelit, proses produksi yang memakan waktu, sampai kemampuan negosiasi dan membangun jaringan untuk memikat buyers.”

“Di balik keglamorannya, fashion sebagai sebuah industri adalah sekumpulan kerja keras, tekanan, dan disiplin tinggi untuk bisa menghasilkan koleksi yang indah dan diterima masyarakat secara konsisten, tepat waktu, dan berkualitas,” kata Angela Quaintrell. Ketika kami mengobrol, saya baru tahu bahwa ia adalah konsultan dari Centre for Fashion Enterprise (CFE) yang berbasis di London. Dengan asyik, saya mendengarkan Angela bercerita tentang CFE–sebagai sebuah inkubator bisnis khusus untuk para desainer fashion. CFE membina para desainer agar dapat memiliki kepekaan dan kelihaian dalam mengarungi industri dan bisnis fashion internasional. Merekalah yang turut membawa desainer-desainer Indonesia ke pentas dunia seperti Paris Fashion Week ini.

***

Saya bertemu Tex Saverio di ruang bawah tanah sebuah hotel yang tak lagi saya ingat namanya. Lorong-lorong dan anak tangga sempit mengantarkan saya menuju sebuah dunia yang tersembunyi di bawah permukaan: dunia yang dipenuhi model-model berwajah gugup, foto-foto dan sketsa, juga gaun-gaun gemerlap yang berjuntai dari gantungan di sudut-sudut ruangan.

“Kamu mau jadi cacing atau jadi naga?”

Siang itu, Tex–desainer muda yang didaulat dunia sebagai Alexander McQueen-nya Indonesia setelah rancangannya dikenakan oleh Lady Gaga–mengenakan kaca mata besar dengan pinggiran hitam, cardigan warna sampanye, dan celana pendek cokelat muda. Kami duduk-duduk dikelilingi gaun-gaun indahnya di ruang bawah tanah itu, mengobrol tentang fashion dan hal-hal lain yang muncul begitu saja, dalam percakapan santai yang tak sungguh-sungguh punya agenda.

“Kalau ingin menjadi naga, kamu harus siap bekerja keras. Apapun pekerjaanmu, jangan tanggung-tanggung dalam menjalaninya,” ujar Tex. Suara dan pembawaannya tetap tenang selagi ia mengisahkan pergulatannya meyakinkan orang-orang terdekat saat pertama kali hendak memutuskan untuk terjun ke dunia fashion. “Jangan menjadi cacing. Baru ketemu susah sedikit, ngeluh.”

Hal inilah yang selalu diingat Tex sejak ia menentukan jalannya sendiri untuk mengejar impiannya di dunia fashion pada tahun 2001. Saat itu, ia langsung terjun bebas ke industri fashion tanpa sempat belajar banyak dari rumah-rumah mode ternama. Perjalanannya adalah rangkaian percobaan yang sebagian gagal dan sebagian berhasil. Ia tersaruk-saruk sendiri dan mempelajari segalanya secara otodidak. Rancangannya yang dianggap ‘aneh dan ajaib’ pun tak serta-merta diterima dengan baik.

“Penolakan itu, dimana pun, akan selalu ada,” ujarnya seraya merapikan lengan cardingan-nya dan tersenyum. “Yang terpenting adalah seberapa besar kepercayaanmu terhadap karya-karyamu sendiri, dan seberapa besar kesediaanmu untuk juga mendengarkan apa yang diinginkan oleh pasar. Idealisme dan kreativitas saja tidak cukup.”

***

Hari itu, salah satu gaun rancangan Tex yang akan dipamerkan dalam fashion presentation di Paris Fashion Week dalam waktu kurang dari 30 jam, tersampir di lengan Sylvester. Pemuda itu hilir-mudik dengan sigap untuk membantu model-model mengepas gaun-gaun. Wajahnya nampak kencang.

Atmosfir di ruang bawah tanah itu terasa sedikit tegang. Samar-samar bisa terdengar teriakan frustrasi, perdebatan sengit, juga helaan napas panjang. Rupanya, salah satu gaun indah nan ramping yang menjadi pamungkas dalam koleksi Tex tak bisa begitu saja pas pada sembarang model. Belum jelas siapa model yang bisa membawakan gaun itu esok hari. Seharian ini, mereka belum menemukan seseorang dengan ukuran yang pas benar.

Ketegangan itu mengingatkan saya pada sebuah adegan dalam kisah Cinderella, ketika Pangeran berkeliling ke seluruh penjuru negeri untuk menemukan gadis yang kakinya pas dengan ukuran sepatu kaca yang sedang ia cari pemiliknya. Saya tak tahu apakah Tex ikut cemas (atau gemas) dengan persiapan menjelang fashion presentationnya esok hari, karena nyatanya, ia terlihat begitu tenang dan terkendali. Mungkin ia tipe orang yang percaya bahwa everything will eventually falls into place.

“Ketika kamu sungguh-sungguh ingin masuk ke industri ini, kamu tak bisa lagi merancang sesuai suasana hati dan keinginan sendiri,” ujar Tex. “Ya, ketika mood-nya tepat dan inspirasi didapat, rancangan memang bisa dihasilkan dalam waktu yang relatif cepat, tetapi industri tidak bekerja seperti itu. Kamu harus bekerja sesuai jadwal. Dan inspirasi tidak bisa ditunggu hingga datang sendiri. Kita harus menyiapkan setidaknya dua koleksi dalam setahun: spring/summer dan autumn/winter. Ini berarti hanya ada waktu 6 bulan untuk menyiapkan koleksi ready-to-wear: termasuk riset, memilih tema dan warna yang sesuai dengan trend dunia dan permintaan pasar, membuat puluhan rancangan, mencari bahan-bahan, mengawasi seluruh proses produksi, menyiapkan katalog, dan seterusnya. Ini waktu yang sangat singkat. Kalau hanya mengikuti mood, kamu tak akan bisa bertahan. Disiplin, komitmen, dan kerja keras adalah tuntutan yang harus dipenuhi.”

She fits!” seruan itu terdengar tiba-tiba dari ruangan lain yang bersebelahan; seperti pekik kelegaan bercampur kemenangan. Seorang model yang luar biasa tinggi dan kurus, dengan kaki yang juga luar biasa jenjang, melangkah melewati ambang pintu dengan gaun pamungkas Tex–yang ternyata pas dengan ukuran badannya. Sepertinya tatapan semua orang tertuju pada model itu; selagi ia berjalan pelan memeragakan gaun rancangan Tex yang bertema Parametric: perpaduan bentuk-bentuk geometris untuk menciptakan sebuah gaya futuristik yang romantis.

Akhirnya, ketegangan di udara siang itu mencair juga.

***

Saya tak tahu ada apa dengan Tex dan ruang bawah tanah, karena fashion presentation-nya dalam gelaran Paris Fashion Week juga terjadi di bawah permukaan tanah. Menyelinap lewat sebuah pintu di samping Palais de Tokyo, saya menuruni anak tangga demi anak tangga menuju sebuah klub bergaya dungeon dengan dinding-dinding yang dipenuhi grafiti.

Semakin jauh saya menuruni anak tangga, suara musik semakin jelas terdengar. DJ tengah memainkan lagu-lagu dengan irama menghentak, diiringi artwork geometris yang berputar-putar di layar yang teramat besar dari atas panggung. Lampu-lampu sorot membentuk lingkaran-lingkaran cahaya di lantai. Di dalam lingkaran-lingkaran cahaya inilah para model berdiri memamerkan koleksi terbaru Tex Saverio–sementara para penikmat fashion dan buyers dari berbagai belahan dunia berkumpul di luar lingkaran-lingkaran cahaya, mengagumi dan menjepretkan kamera dalam gelap. Salah satunya, nampak penyanyi asal Indonesia yang sudah bermukim di Perancis, Anggun.

“Cratfmanship. Itu satu hal yang membedakan kualitas fashion di Indonesia dengan negara-negara Barat,” kata Tex. “Kita sebenarnya sudah punya craftmanship yang hebat, tapi banyak hal yang harus dibenahi untuk bisa bersaing di dunia internasional. Infrastruktur pendukung untuk industri ini harus diperbaiki, misalnya agar kita tidak perlu selalu sourcing bahan ke luar negeri. Kualitas SDM juga perlu ditingkatkan. Ya, PR kita masih banyak.”

Pada fashion presentation Tex yang berkilauan hari itu, Sylvester dan Bram memang nampak sibuk dengan tugasnya masing-masing–namun satu sosok lagi yang nampak lebih sibuk hari itu adalah Faye Liu. Perempuan berambut lurus itu nampak sigap menyapa, mengobrol, dan menyalami tamu-tamu yang datang, selagi matanya tak lepas mengawasi jalannya acara yang tengah berlangsung. Ia adalah fashion director Tex Saverio, salah satu sosok penting di balik nama besar dan kesuksesan Tex merambah industri fashion dunia.

“Saya bisa mendesain, tapi saya tidak pandai berbisnis,” Tex mengakui dengan rendah hati. “Saya bekerja dengan sekitar 20 orang lainnya, dan mereka berasal dari berbagai negara, bukan hanya dari Indonesia. Merekalah orang-orang yang mengerti hal-hal tentang industri ini yang tidak saya kuasai dengan baik: misalnya strategi bisnis dan harga, riset, membangun jaringan, mengatur distribusi, dan masih banyak lagi. Ketika kamu ingin terjun dan bertahan di industri ini, penting juga bermitra dengan orang-orang yang tepat.”

Kamera-kamera masih dijepretkan dengan bertubi-tubi dan gelas-gelas masih berdenting ketika saya meninggalkan Palais de Tokyo menjelang sore. Paris tak lagi sedingin beberapa hari belakangan–atau mungkin, tubuh saya yang sudah cukup waktu untuk menyesuaikan. Daun-daun di pepohonan yang berjajar sepanjang jalan mulai berubah warna menjadi oranye keemasan, ditingkahi suara rantai sepeda yang samar berdesir-desir.

Seorang model berjalan melewati saya dengan terburu-buru, sambil mengunyah sesuatu. Ia sudah berganti pakaian; mengenakan jeans, kaus lengan panjang, dan scarf yang melilit leher–namun make-up dan tatanan rambutnya yang spektakuler nampaknya belum sempat disingkirkan.

Lalu tiba-tiba saja saya teringat celetukan Faye Liu: “Orang-orang selalu salah kaprah dan berkata bahwa para model tidak pernah makan. Lihat kan, sore ini, bagaimana begitu fashion show selesai mereka langsung menyerbu meja yang dipenuhi sandwich keju dan mengunyahnya lahap sambil berteriak: saya lapaaar!”

Berada di belakang layar Paris Fashion Week mau tak mau memang banyak mengubah pandangan saya yang sebelumnya sedikit sinis terhadap dunia fashionThe glam is just an illusion. Di sisi lain cermin, setiap orang bekerja sama kerasnya di industri ini: mereka sama-sama lelah dan frustrasi, juga sama-sama nyaris putus asa. Namun di balik peluh, air mata, gerutuan, dan kebosanan yang selalu bisa melanda kapan saja, sebagian di antara mereka ternyata juga sama-sama masih saja jatuh cinta pada apa yang mereka kerjakan setiap harinya.

Mungkin perbedaannya terletak pada satu hal itu saja: cinta.

***

Janganlah menjadi terbiasa.

Kagumilah segalanya sebagaimana yang pertama. Temuilah sesuatu yang baru dalam hal-hal yang sudah kau miliki selamanya. Berjalanlah di sekelilingmu dan lihatlah dunia dengan mata kanak-kanak yang selalu ingin tahu. Dekaplah setiap saat yang lewat demi menangkap keajaiban-keajaiban maupun kebijaksanaan-kebijaksanaan kecil di baliknya. Mengertilah bahwa semua hal sesungguhnya begitu cepat berlalu; dan bahwa segalanya adalah terlalu sementara. Jadi reguklah sebanyaknya selagi kau bisa. Kau tak akan pernah kehilangan waktu dengan berhenti sebentar untuk menikmati indahnya matahari terbenam.

Dan orang-orang yang pernah kau cintai itu; ingatkah saat pertama kau melihat mereka, merasakan kepak sayap kupu-kupu dalam perutmu dan jatuh hati? Dan mimpi-mimpi yang pernah kau simpan di bawah bantalmu setiap malam itu; ingatkah kau akan rasa yang meledak dalam setiap pori-porimu ketika kau memutar ulang mimpi-mimpi itu dalam benakmu setiap waktu?

___

Tagged , , , , , , , ,

About Someone Who Loves You.

One day, you’ll understand that the highest compliment you could ever receive is having someone who is with you; instead of having someone who wants to be with you.

PHOTO BY NICO WIJAYA.

By then, you’ve learned the hard way: that promises are not that difficult to break, that people don’t always mean what they say, and that hearts will always change its course. When the day comes, you’ll just get it: that the highest compliment you could ever receive has nothing to do with having someone who wants to spend the rest of his life with you. The highest compliment you could ever receive–on the contrary, has everything to do with having the one who is with you: right here, right now.

The most precious gift one can give you is time: the willingness to spend one’s time with you–conscious about the fact that one will never know how much time one has left in the world. What makes us think that we will always have more time? What makes us believe that there will come a perfect day when we will feel better and stronger and bolder… and only when the day comes, then we can offer more of ourselves and our love to the one that deserves it? How do we know that this perfect day will ever come? And even if this perfect day does come to us, what makes us think that the one we love will still be around?

One day, you’ll understand that I-miss-you is actually one of the saddest word one could ever say to you. You used to blush and giggle to the sight or sound of the three words, until you started to hear the unspoken words accompanying the three. I-miss-you means I-want-to-be-with-you (but I’m not). I-miss-you means I-want-things-to-go-back-the-way-they-used-to-be (but they’re not). I-miss-you means I-want-us-to-be-together (but we’re not). Now you realize that there are conscious options in every I-miss-yous; conscious options not to do something about it but simply saying it–though we know that we may not have more time.

The best I-miss-you one could ever get is the I-miss-you that is never spoken. Because the one who wants to be with you is there with you; the one who wants things to go back the way they used to be is currently making an effort to do so; and the one who wants the two of you to be together is sitting by your side: holding you as if it’s the most pressing thing in the world one is supposed to do.

Someone who loves you doesn’t need to hear a promise of forever-ever-after. Someone who loves you is not waiting to finally end up with the best version of yourself. Someone who loves you is not looking forward to the day when you can offer what you think she deserves.

Someone who loves you simply wants to be with you–for who you are, with all your flaws and imperfections, right here, right now. Someone who loves you simply wants to hold your hand and look into your eyes in silence and kiss you and smile at you with all of her being and tell you how much she feels for you, right here, right now. Someone who loves you knows that we have no idea about how much time we have left in the world, and precisely because of that, someone who loves you makes a brave and conscious option to spend that time with none other but you: right here, right now.

So be here. So be there.

Tagged , , , , , , ,

What’s So Good About Goodbyes?

I guess I always knew that the word good and bye don’t just sit together side by side like that for no reason. There must be something good in goodbyes, although I know how difficult it is to accept that–especially if you’re the one who stays instead of the one who leaves.

PHOTO BY NICO WIJAYA.

So, what’s so good about goodbye, anyway?

You may ask yourself this question as you’re witnessing someone else’s back walking away from you. Your heart is aching as the figure is getting smaller and smaller before completely turning into a chaotic blur; and you wonder what goes wrong only to realize that your eyes are already welled up in tears. You have promised not to cry this time, that you’re going to be strong, that you know this day will come, that everything is going to be okay; but there are things in life that you can’t control–like tears and goodbyes, and it’s okay. It’s okay to feel sad over goodbyes. We are only human after all.

But I know that I have experienced a lot of good things in life after goodbyes–even when I wasn’t the one who initiated it;  even when it hurts; and even when during the grip of grief I could not see how things could possibly be better. Goodbyes have made me respect myself better, pulled me out from toxic relationships, threw me into the arms of a person who are more loving, reminded me of living a life without regret, showed me the things I can and cannot tolerate in life. Goodbyes have made me appreciate the present and taught me that each moments are sacred, taught me how to be empathetic, and opened up my heart to become even more loving and compassionate–knowing that everyone has been dealing with painful goodbyes. Goodbyes have also made me so broken-hearted I spent my days chasing my childhood dreams simply to stay functioning; and unexpectedly reaped such a wonderful results which feels… amazingly sweet.

And then I kind of get it.

What’s so good about goodbyes is not something that you can answer in an instant. It’s not something for the now. It’s something that will unveil itself to you through time.

I am not going to write anything poetic or sentimental about goodbye this time; because today, it’s about you.

I just want you to remember those instances in your life when you have to say goodbye to someone–or when someone has to say goodbye to you; since you’re a little child until about 5 years ago. How many goodbyes have you experienced in life? Is there one particular goodbye you remember vividly? What are the goods coming out of that goodbye?

Tagged , , , ,

Go Ahead, Paris! #2

DISCLAIMER: Beberapa waktu lalu, saya diundang meliput perjalanan dua pemenang kompetisi Go Ahead Challenge dalam gelaran Paris Fashion Week 2014; dengan tiket pesawat, akomodasi, serta uang saku selama perjalanan ditanggung oleh tim penyelenggara. Meskipun demikian, saya berangkat dalam kapasitas sebagai independent blogger yang berhak menuliskan dan melaporkan (ataupun tidak) mengenai apapun yang saya lihat, alami, dan rasakan selama perjalanan tersebut; tanpa sensor maupun suntingan dari pihak penyelenggara. Bagian pertama dari seri ini dapat dibaca di sini.

Ada orang-orang yang nyaris tak kelihatan di balik tiap impian yang jadi kenyataan.

Selagi kau berjajar dengan tawa menggigit dan dompet yang dikempit, di tengah wangi parfum yang menguar samar-samar dan kilat lampu dari kamera-kamera yang gemerlap berkeredap, mereka yang nyaris tak kelihatan mengelap gelas-gelas champagne dengan serbet dan menurunkan krat-krat minuman di tengah angin yang menggigilkan. Mereka yang nyaris tak kelihatan berdiri berjam-jam di ruang sempit dan bekerja sepagian membubuhkan bedak dan perona pipi sesuai takaran yang diharuskan. Beberapa lagi menyeterika tak henti-henti dan mengepel lantai berkali-kali; memastikan semua mengilat sempurna untuk malam paripurna. Ada toilet-toilet yang dibersihkan, puntung-puntung rokok yang dikembalikan ke dalam tempat sampah, dan kaki-kaki yang lelah karena terlalu banyak berjalan lekas-lekas.

Dalam setiap mimpimu yang jadi kenyataan, ada orang-orang yang nyaris tak kelihatan; yang diam-diam memungkinkan mimpimu menjelma seperti yang kau inginkan. Kepada orang-orang yang nyaris tak kelihatan ini; kepada merekalah kau berutang terima kasih.

***

Ketika saya melewati lobi hotel seraya merapatkan overcoat untuk bersiap menyambut dinginnya jalan-jalan kota Paris, saya menemukan barisan perempuan-perempuan tinggi dan ramping memenuhi koridor. Rata-rata, mereka mendekap map portfolio di dada. Seorang gadis keluar dari dalam salah satu ruangan hotel, kemudian mengangkat bahu ketika pandangannya beradu dengan gadis-gadis tinggi-ramping lainnya. “I don’t think I get it,” ujarnya pelan.

Sore itu, lantai bawah hotel kami yang mungil–Eugène en Ville di Rue Buffault–disesaki model-model Perancis yang hendak mengikuti casting. Dari sekitar 35 model yang diundang untuk casting, hanya 2 orang yang akan terpilih untuk dipotret oleh Bram dan tim Michel Dupré: satu model lelaki, dan satu model perempuan. Sayangnya, sore itu saya tak sempat melihat para model lelaki berjajar di lobi. Dalam pemotretan yang akan berlangsung lusa, model lelaki yang terpilih akan mengenakan desain rancangan Sylvester, sementara model perempuan akan mengenakan rancangan Tex Saverio.

Melihat sosok-sosok tinggi-ramping yang berjajar di lobi hotel itu–sebagian nampak tegang dan penuh harap; saya akhirnya mengerti. Mereka, sosok-sosok yang fisiknya selalu saya anggap demikian indah itu, juga tengah bergulat dengan impian-impian, pemikiran-pemikiran, dan perjuangan-perjuangan mereka sendiri: menembus udara Paris yang dingin dan berlari-lari naik-turun tangga stasiun serta berpindah-pindah dari satu jalur metro ke jalur metro lainnya, berjalan kaki cepat-cepat untuk tak terlambat menuju entah casting keberapa pada hari itu.

Sebagian dari mereka mungkin lelah, sebagian lagi mungkin sudah siap untuk menyerah, sebagian lagi berharap banyak karena pekerjaan ini bisa membantu mereka membayar biaya kuliah. Sebagian datang dari tempat-tempat jauh. Sebagian mempertaruhkan rasa percaya. Sebagian mencoba tak mengeluh karena harus berdiri lama.

Di sisi ruangan yang lain, ada Sylvester yang juga tengah mengejar impiannya. Ada banyak harapan dan tanggung jawab melekat padanya untuk mengambil keputusan. Ia harus memilih model terbaik yang akan bekerja dengannya. Model yang akan cocok dengan keseluruhan konsep photoshoot yang sudah disusun Bram dan Michel, juga bisa menonjolkan keindahan desain rancangannya dan Tex. Melihat nasib-nasib yang saling bersilangan dalam jarak yang begitu dekat ini–yang satu seakan menentukan yang lain, saya merasa bahwa kita semua; tak peduli di mana kita berada di dunia; sesungguhnya saling terhubung lewat miliaran helai benang-benang yang tidak kelihatan.

***

Persilangan nasib serupa saya temui kembali keesokan malamnya; ketika kami menghadiri fashion presentation Irakli di Centre d’Art et de Danse di Éléphant Paname–daerah yang terkenal sebagai pusat penjualan dan perancangan perhiasan tertua di Paris. Untuk saya, Irakli Nasidzé sendiri merupakan kisah mengejar mimpi yang mungkin juga belum berakhir hingga hari ini.

Ia lahir di Georgia–negara kecil yang berbatasan dengan Rusia, Armenia, Turki, dan Azerbaijan. Di tahun 80-an, jumlah penduduk di negara ini hanya 5 juta orang saja. Setelah lulus dari jurusan fine arts di Universitas Tbilisi, pada usia 23 tahun, Irakli pun menjejakkan mimpinya di Paris. Karirnya diawali dengan menciptakan bahan untuk rumah-rumah couture ternama seperti Christian Lacroix, Jean-Louis Scherrer and François Lesage. Lesage-lah yang akhirnya mensponsori Irakli untuk menciptakan dan memamerkan koleksi adibusana-nya sendiri di Palais Galliera. Baru di tahun 2011, Irakli meluncurkan koleksi ready-to-wear yang dinamainya IRAKLI Paris.

Malam itu, bersama para jurnalis fashion, fashion buyer dari rumah-rumah mode dan toko-toko retail ternama dari seluruh dunia, serta para penikmat fashion di Paris, saya mengagumi koleksi Irakli yang nampak segar, bersih, dan indah–dipresentasikan di ruangan yang berlatar putih dan dipadati dedaunan dan bebungaan. Cantik sekali dipadankan dengan warna-warna desainnya: biru, hijau, dan kuning.

“Potongannya bagus sekali! Lihat, dia bisa membentuk siluet seperti itu!” Sylvester berseru. “Susah sekali membuat potongan yang begitu rapi!”

Saya mengangguk saja–karena Sylvester rasanya memang lebih mengerti hal-hal teknis macam itu; dan saya percaya ketika melihat kekaguman yang memancar dari matanya. Sesekali, saya nyaris bertabrakan dengan Bram yang juga sedang sibuk berkeliling ruangan untuk mengambil foto.

Sementara Bram dan Sylvester mempelajari langsung bagaimana sebuah fashion presentation dikemas, mulai dari konsep, musik, pencahayaan, dekorasi, hingga pengaturan letak dan waktu, saya melarikan diri sejenak dari padatnya ruangan ke lobi depan. Di lobi inilah, dua orang pelayan menjaga sebuah meja champagne. Dengan sigap, mereka menyajikan, menuangkan, dan menyingkirkan gelas-gelas, sementara para tamu terus berdatangan.

Ah, bukankah semua orang selalu punya peranan? Buat saya, tak ada pemisahan antara peran kecil atau peran besar. Saya kira, peran kita semua sama besarnya. Yang satu takkan bisa berjalan baik tanpa yang lain bekerja dengan baik. Dan saya percaya, peran kita di dunia juga saling terhubung lewat miliaran helai benang yang tak kelihatan.

***

Saya bersyukur tak menjadi Sylvester dan Bram pagi itu. 

Subuh di Paris adalah waktu ketika suhu turun semakin drastis. Yang paling nyaman, tentu saja bergelung dengan selimut di atas tempat tidur. Namun tidak demikian halnya bagi tim pemotretan yang sudah harus bangun pagi-pagi sekali. Para model harus mulai melakukan rias dan pengepasan. Sylvester harus memastikan bahwa riasan dan tata rambut sudah sesuai dengan yang diinginkan. Semuanya dilakukan bersamaan di dalam kamar hotel yang sempit. Di kamar saya saja–yang ditempati sendirian, seringkali saya terantuk kaki kursi, meja, atau koper sendiri. Jadi saya bisa membayangkan tantangan bekerja bersama beberapa orang di dalam sebuah kamar berukuran kecil.

Baru sekitar pukul 9 saya bergabung dengan Sylvester dan Bram untuk menuju Parc de la Villete. Tim pemotretan Michel yang terdiri dari sekitar 8 orang dengan kebangsaan yang berbeda-beda juga sudah bersiap di sana. Rangkaian pemotretan untuk hari itu pun dimulai. Michel banyak membantu Bram dan Sylvester dengan memberikan berbagai masukan selama pengambilan gambar. Sylvester dan Bram pun banyak berdiskusi–dan berkoordinasi mengarahkan anggota tim yang lain. Melihat keduanya bekerja keras hari itu seraya memberikan arahan kepada anggota tim dari Perancis, Rusia, Australia, dan entah mana lagi, ada rasa bangga menyelusup ke dalam hati saya.

“Ah, aku menyesal sekarang. Aku rasanya ingin belajar bahasa Inggris lagi,” ujar Bram, yang merasa bahwa ia bisa mendapatkan pelajaran jauh lebih banyak dan berkomunikasi jauh lebih baik jika saja ia berbahasa Inggris dengan lebih baik. Meskipun demikian, ia nampak baik-baik saja di mata saya ketika mencoba menyampaikan visinya pada tim pemotretan Michel. Bukankah yang kita butuhkan untuk berkomunikasi tak semata bahasa; melainkan lebih kepada upaya untuk saling mengerti?

Pukul satu siang, pemotretan itu belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Seluruh tim itu justru pindah ke lokasi pemotretan berikutnya di sisi lain taman. Saya pun pamit dari sesi itu untuk berjalan kaki di bawah matahari Paris yang mulai bersinar agak cerah–meski udara tetap saja dingin.

Ketika malam harinya saya berkumpul kembali dengan Sylvester dan Bram untuk makan malam, mereka nampak sedikit lelah. Namun wajah keduanya mendadak cerah ketika mengetahui bahwa esok adalah hari bebas. Untuk pertama kalinya sejak menjejakkan kaki di Paris, tak akan ada jadwal apapun bagi mereka esok hari. Sengaja, keduanya diberikan waktu untuk beristirahat, tidur, dan memulihkan stamina–sebab esok lusa, mereka sudah harus berjibaku lagi dengan waktu dalam mempersiapkan fashion presentation Tex Saverio.

“Waktu memang jadi tantangan besar di sini,” kata Bram. “Jadwal di sini ketat sekali. Semua harus on time. Kalau waktu sudah habis, ya, walaupun merasa masih kurang dan masih ingin terus mengulik, ya sudah tidak bisa. Mau tidak mau harus selesai.”

Di Paris, pemotretan memang dilakukan secara disiplin, dengan jadwal yang sudah ditata rapi. Mau tak mau, jika rentang waktu yang disepakati sudah dilewati, pemotretan harus dihentikan. Ada banyak orang yang ambil bagian dalam pemotretan ini–memperpanjang waktu berarti menambah waktu kerja semua yang terlibat. Disiplin waktu ini menjadi salah satu pengalaman berharga bagi Sylvester dan Bram. Mental demikian penting dimiliki oleh mereka yang hendak berkecimpung di industri fashion internasional.

***

Pada jamuan makan malam itu, kami berkenalan dengan Waleed Zaazaa, kawan Michel–yang juga merupakan sebuah kisah perwujudan mimpi yang lain. Baik ZaaZaa dan Michel sama-sama telah mematahkan anggapan saya mengenai bayangan akan orang-orang Perancis yang dingin dan menjaga jarak.

Zaazaa yang gemar bercerita dan tertawa ini adalah seorang desainer asal Perancis yang pernah bekerja dengan brand-brand terkenal semacam Calvin Klein dan DKNY, sebelum akhirnya memutuskan melepaskan kenyamanan dan posisinya yang sudah cukup tinggi untuk mencari tantangan baru. Ia ingin merambah pasar ritel Asia lewat Singapura. Desember mendatang, ia akan meluncurkan concept store-nya, Manifesto, di sana.

“Untuk meluncurkan brand-mu sendiri sangat sulit,” ujar Zaazaa. “Hal itu selalu menjadi impianku sejak dulu–untuk mempunyai line sendiri. Jadi, aku tahu bahwa aku harus mencoba jalan lain. Dengan tetap berada di pekerjaanku yang dulu, rasanya aku tak akan kunjung beranjak untuk mewujudkan mimpiku. Lalu kupikir, aku bisa memulai lewat ritel. Ya, aku tahu, ini mungkin jalan yang tak biasa. Namun dari pengalamanku selama bekerja, aku tahu ada banyak brand yang berupaya keras untuk masuk ke retail store. Aku berpikir, bagaimana jika aku melakukan yang sebaliknya. Aku bisa membuka concept store yang bagus; sehingga nantinya aku bisa memasukkan line-ku di concept store-ku sendiri.”

Saya terpana mendengar penjelasan Zaazaa. Ia begitu berani (dan sedikit nekat) dalam mencari berbagai jalan untuk mewujudkan mimpinya–meski jalan itu jalan yang jarang dilalui orang. Butuh keyakinan sekaligus kepasrahan yang luar biasa untuk meninggalkan kenyamanan di belakang, kemudian mengambil risiko dan mempertaruhkan apa yang dimiliki demi mewujudkan sekeping mimpi yang tak pernah punya jaminan pasti.  Namun, saya yakin keberhasilan selalu menunggu orang-orang yang berani dan sedikit nekat. Orang-orang seperti ZaaZaa. Bukankah mereka bilang, magic happens when you’re expanding your comfort zone?

***

Dalam perjalanan, kau akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak selalu mudah. Namun, ketika kau benar-benar yakin perihal arah yang hendak kau tuju, sesungguhnya kau tak akan tersesat terlalu lama. Sebagaimana keputusan-keputusan yang harus kau buat di tiap persimpangan, kau juga perlu memilah mereka yang akan kau ijinkan berada dalam lingkup mimpimu.

Habiskanlah lebih banyak waktu dengan mereka yang akan jujur bertutur tentang apa yang perlu kau lakukan untuk memenuhi impian-impianmu; mereka yang tak akan mendengarkan khayal dan bualmu, namun selalu ada untuk membantumu melakukan sesuatu; mereka yang akan membawakanmu segelas teh atau secangkir kopi hangat ketika terkadang kau tengah teramat lelah; mereka yang akan duduk diam bersamamu ketika hal-hal tak berjalan sesuai dengan yang kau inginkan; mereka yang akan melompat dan bersorak paling keras di hari ketika mimpimu menjejak tanah.

Jika kau mengenali mereka dalam hidupmu, berikan mereka sebanyak-banyaknya waktu yang kau punya.

(bersambung…)

Tagged , , , , , , , ,

Farewell: An Open Letter to Goodbye.

Dear Goodbye,

Sorry for I have been quite unwelcoming (again) the last time around. I mean… I always know that you would eventually come for a visit. I know that on one of those random days, I would hear someone knocking on my door and rush over to open it–only to find you standing there awkwardly, swaying from one foot to another, a look of guilt is painted all over your face. It’s as if you have predicted (and expected) the terrible reactions you would receive from those who cross path with you; while you know full well that there is nothing you can do differently.

PHOTO BY HANNY KUSUMAWATI.

I know you pay me a visit because you have to, not because you want to. Sometimes I think it must be such a lonely and melancholic job: to cast farewells upon others; to separate hearts and cut down ties; or to let people know that their time is over. I could not imagine what if I were the one who had to do such thing every single day. That must be pretty awful.

People got to do what they got to do, and I know that you’re just doing your job. It’s just that… no matter how often you came for a visit, still I could never get myself used to it. Again and again, I feel hurt, or sad, or betrayed, or confuse–and so, I’m sorry for the way I reacted to you the last time (but at least I didn’t slam the door on your face the way I did before!).

I would like you to know that I am still trying to accept you for who you are–and for what you do; and that I would love to invite you in for some conversations over tea (or coffee) after the shock of your visit dissipates.

But it’s impossible, isn’t it?

Because you can’t just pay a casual visit and hang out without having any farewells to deliver. This means, the next time I see you again, I would be totally unprepared again, totally sad and shocked again, and I would probably react with such an unwelcoming demeanor again. Can I say sorry in advance if this is going to be the case? Though I really hope that the next time I see you, I have had a bigger heart to simply nod and let you come inside for a while. Of course, a tinge of sadness will still be there when I found you in front of my door again. However, from all the people in the world, I guess you are the one who understands the most about sadness. So probably, we can comfort each other just because we both understand how it feels.

I know you have been sending me gifts as well after your visit. Sometimes they reach me in a week or two, other times they reach me in a year or two; and other times it takes 8 years for your farewell gifts to fall on my lap. I have no idea which delivery service provider you are using; as those gifts came in random timings and intervals–but, thank you for the wonderful gesture. I guess, often times, I overlook this lovely side of you–because I have been blinded by animosity towards you, just because you’re doing your job well (which is so unfair of me!).

So, I’d like to say thank you so much for sending me those farewell gifts–even after I reacted so badly towards you. No matter how early or late those gifts are, they always reach me when I least expected them. Mostly, they come in a simple hello; an opportunity to be brave and do spontaneous things; an exchange of smiles and shy glances; or a random conversation that ends up in warm and fuzzy kisses.

It’s fun to receive these gifts–although at the back of my mind, I am always conscious to the fact that one day, you will pay me a visit again and take away a particular gift from me. I know you will always send me new gifts–because that’s the only thing you can do (and another thing you’re really good at) to make me feel better. I know you can’t undo farewells, but you can always throw in new beginnings–when I have allowed myself to answer the doorbell again when it rings. And really, I think you’re kind that way.

Anyway, sorry for bothering you with this pointless letter. I think I’ll stop now. I just want you to know that I understand you–although most of the times it appears as if I don’t. But I do.

This is hard to say, but I will say it anyway: until I see you again.

Yes, until I see you again, Goodbye.

Love,
H.

Tagged , , , , ,

Go Ahead, Paris! #1

DISCLAIMER: Beberapa waktu lalu, saya diundang meliput perjalanan dua pemenang kompetisi Go Ahead Challenge dalam gelaran Paris Fashion Week 2014; dengan tiket pesawat, akomodasi, serta uang saku selama perjalanan ditanggung oleh tim penyelenggara. Meskipun demikian, saya berangkat dalam kapasitas sebagai independent blogger yang berhak menuliskan dan melaporkan (ataupun tidak) mengenai apapun yang saya lihat, alami, dan rasakan selama perjalanan tersebut; tanpa sensor maupun suntingan dari pihak penyelenggara.

Passion is overrated. Yang jadi pertanyaan besarnya adalah: seberapa keras kau mau bekerja untuk impian-impianmu? Relakah kau tak tidur bermalam-malam demi terus menyempurnakan apa yang sedang kau ciptakan; absen bertemu kawan-kawan demi menyelesaikan sebuah karya yang selalu kau impi-impikan; menghemat lembar demi lembar rupiah demi kesempatan-kesempatan menghadirkan buah pemikiranmu jadi kenyataan? Seberapa tebal kulitmu untuk menerima penolakan demi penolakan, cibiran dan hinaan, atau pandangan sebelah mata ketika kau dianggap masih bukan siapa-siapa?

***

Pagi itu, Paris berwarna ungu dan abu-abu. Angin bertiup dingin, membawa gerimis yang berhenti sebentar-bentar, sebelum kemudian menderas kembali. Hari Minggu. Kota ini berdenyut terlalu pelan di bawah hujan: jalanan lengang, dan toko-toko yang kebanyakan tutup hanya memperbolehkan kami mengintip gelapnya ruangan di balik jendela pajang. Bersama Sylvester dan Bram, saya menyusuri trotoar Paris yang basah dan becek perlahan-lahan, mencoba mengusir rasa kantuk dan penat setelah penerbangan panjang dari Jakarta demi secangkir kopi dan sarapan hangat.

Seraya memasang topi Totoro saya untuk melindungi kepala dari rintik halus hujan yang terbawa angin, saya bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya tengah berkecamuk dalam benak kedua lelaki yang kini telah menjejak Paris itu. Sylvester Basssang desainer, dan Ignatius Bramantya–sang fotografer. Keduanya baru saja menapaki awal karir setelah merampungkan studi; dan kini tiba-tiba saja, menemukan diri mereka berada di Paris untuk bekerja di belakang layar sebuah perhelatan internasional sekelas Paris Fashion Week.

Saya teringat kebahagiaan yang memuncak ketika dulu sekali, untuk yang pertama kali (tepat sehari setelah ulang tahun saya), salah satu tulisan blog saya difitur dalam kolom Freshly Pressed oleh WordPress. Atau ketika cerita pendek saya untuk pertama kalinya diterbitkan dalam sebuah omnibus dan bisa didapatkan di toko-toko buku. Jadi, saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sylvester dan Bram saat itu. Dari 30 ribu (ya, 30 ribu!) karya dari seluruh Indonesia yang masuk dalam ajang Go Ahead Challenge–kompetisi kreatif yang mereka ikuti–karya keduanya berhasil keluar sebagai pemenang. Dan kini mereka dapat bekerja langsung bersama figur-figur internasional dalam dunia fashion di Paris.

***

“Keluargaku memang suka memotret,” kata Bram–yang baru saja memulai karirnya sebagai fotografer di sebuah perusahaan media. “Ayahku sempat bekerja di industri media pada tahun 90an. Kami tiga bersaudara. Kakakku yang pertama bekerja di perusahaan periklanan di Jerman, sedangkan kakakku yang kedua bekerja di sebuah harian sebagai wartawan daerah di Jawa Tengah. Melihat mereka berproses, aku belajar banyak hal. Pendidikanku di film juga erat kaitannya dengan fotografi. Dengan fotografi, aku bisa mengisahkan sesuatu kepada orang lain.”

Malam itu, setelah hujan pergi tertiup angin dan hanya menyisakan dingin yang menggigit, kami berkumpul berdesakan di lantai atas sebuah restoran di salah satu sudut kota Paris bersama Michel Dupré. Ia fotografer fashion asal Perancis dengan bahasa tubuh yang hangat, mata yang jenaka, dan senyum yang mengembang. Melihatnya, saya langsung teringat pada tipikal wajah lelaki Perancis yang biasa saya lihat di komik-komik Eropa–lengkap dengan kumis dan rambut ikal sebahu.  Di sela-sela makan malam ala Perancis (yang bisa berlangsung selama 3 jam), Sylvester, Bram, dan Michel larut mendiskusikan konsep pemotretan, rencana scouting lokasi, casting model yang akan dilakukan esok hari, serta waktu terbaik untuk mendapatkan cahaya natural yang mereka inginkan selama pemotretan.

Ya, malam pertama di Paris sudah langsung mereka habiskan untuk mendiskusikan pekerjaan. Beberapa hari lagi, di bawah arahan langsung Michel dan timnya, Bram akan melakukan photo shoot di Paris untuk koleksi rancangan desainer muda Indonesia, Tex Saverio, yang akan disandingkan dengan koleksi Sylvester.

“Aku sangat terinspirasi dengan budaya Timur Tengah,” kata Sylvester. “Suatu hari, aku menonton tayangan televisi mengenai Islam, Timur Tengah, dan terorisme. Aku merasa ada sesuatu yang salah di sana. Aku melihat bahwa budaya Timur Tengah adalah budaya yang indah. Mereka yang berpakaian dengan gaya Timur Tengah bukan berarti teroris. Di sinilah aku merasa ingin menyampaikan sesuatu lewat rancanganku. Aku ingin mengangkat keindahan budaya Timur Tengah dengan menciptakan busana yang indah. Aku tak ingin orang-orang melihat Timur Tengah untuk hal-hal yang negatif saja.”

Saya tak bisa menahan diri untuk tersenyum ketika mendengar penjelasannya yang berapi-api. Terus terang, saya bukan tipe perempuan yang terlalu kerap mengikuti perkembangan dunia fashion. Seringkali, saya hanya melihat dunia fashion lewat sisi konsumerisme, kesinisan, dan keglamorannya–yang kerap dipertontonkan lewat media cetak dan elektronik. Mendengar Sylvester bertutur mengenai kisah di balik rancangannya, dan bersentuhan langsung dengan keramahan dan kehangatan seorang fotografer fashion sekelas Michel Dupré, saya merasa mulai memiliki pandangan berbeda tentang dunia fashion; dan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Maybe it’s not such a bitter industry, after all. Mungkin saya memang sekadar perlu menambah referensi.

Keesokan harinya, ketika kami berkunjung ke Museum Louvre–dan hanya punya waktu dua jam untuk dihabiskan di sana (sesuatu yang menurut saya nyaris mustahil, mengingat betapa besar, luas, dan banyaknya koleksi museum itu); saya memutuskan untuk menggunakan sebagian besar waktu yang saya miliki untuk menelusuri satu sayap saja.

Tidak, saya tidak mencari Mona Lisa yang termashyur itu. Saya lebih memilih untuk tersesat dalam lorong-lorong yang menampilkan seni dan sejarah Islam. Rasanya tak terlalu kebetulan ketika kemudian saya dan Sylvester tiba-tiba saja berpapasan di lorong Egyptian Art.

***

Menelusuri kota Paris seraya merapatkan overcoat untuk mengusir dingin yang sesekali mampir, saya mulai dapat melihat kota ini dari sisi berbeda. Paris tidaklah selalu seglamor dan seromantis yang dibayangkan orang-orang. Kau masih bisa menemukan puntung-puntung rokok yang seenaknya saja dibuang di pinggir jalan, para pengemis yang mengerut kedinginan di trotoar dengan selimut koyak dan tulisan J’ai Faim (saya lapar) yang dicoretkan di atas kertas kardus, tuna wisma yang duduk di depan toko-toko besar dengan tas-tas plastik berisi pakaian bekas dan sisa-sisa makanan seraya memeluk anjing mereka, gelandangan yang berkeliaran di stasiun metro dan mendatangi orang-orang untuk minta uang–kemudian memaki-maki ketika tak diberi, anak-anak muda yang mabuk dan mengganggu orang-orang yang lalu-lalang di jalan, kakek-kakek dan nenek-nenek yang mengomel atau bicara sendiri keras-keras di tempat umum, serta bau pesing yang menguar di udara ketika kau berlari melewati lorong-lorong kecil.

Di sisi lain, kau juga tetap bisa mendengar sayup-sayup lagu tema dari film Amélie yang dimainkan pemusik jalanan selagi kau menapaki jalan-jalan berbatu di seputaran Montmartre, mencium manis dan renyahnya Nutella crepe yang tengah mendesis hangat di atas wajan, menepuk-nepuk kucing-kucing gemuk yang bekeliaran dari sudut-sudut yang nyaris tak kelihatan, tersipu memandangi mereka yang tengah bergandengan tangan dan melepaskan ciuman di sepanjang kanal Saint Martin, berpikinik di taman-taman kota dengan sebotol anggur, roti, dan aneka jenis keju ketika matahari sedang hangat, atau mengagumi gereja-gereja seperti Notre Dame dan Sacre Coeur yang dipenuhi burung-burung dan tersenyum pada dentang lonceng serta gita puja yang mengalun megah dalam keramaian.

Segala yang ada di sekelilingmu, sekecil apapun itu, bisa menjelma gangguan yang menyebalkan; atau inspirasi yang mengilhami. Orang-orang yang kau temui setiap hari bisa kau abaikan; atau kau sapa dengan penuh keingintahuan. Kau bisa selalu merasa punya jawaban atas segala sesuatu; atau punya pertanyaan akan segala sesuatu. Karena kau bukan hanya tentang mimpimu–kau juga bagian dari mimpi orang-orang di sekitarmu. Apa hal kecil sederhana yang bisa kau lakukan untuk membantu mereka yang kau sayangi mengejar impian-impian mereka?

***

“Aku nggak bisa menggambar,” kata Sylvester suatu hari. “Ini yang awalnya membuatku merasa tidak percaya diri untuk sekolah fashion. Tapi, lama-lama, aku belajar–dan memang tidak pernah hebat dalam menggambar, tapi setidaknya sekarang aku bisa membuat sketsa rancangan. Untungnya, kedua orangtuaku mendukung keputusanku untuk masuk sekolah fashion, bahkan mereka yang menyuruhku melakukannya. Awalnya, aku ingin sekolah kuliner dan menjadi chef. Lalu orangtuaku berkata, Kamu ingin sekolah kuliner? Masuk dapur saja tidak pernah,” ia tertawa.

“Awalnya, kupikir fotografi tidak akan bisa menghidupiku. Aku hanya senang bikin gambar saja, kok, dan tidak berpikir komersial,” ujar Bram. “Beberapa karya fotoku juga susah dimengerti oleh orang lain. Aku banyak berangkat dari kegelisahan pribadi manusia dan lingkungannya. Dalam perjalanan, aku mengerti bahwa pasar pun butuh seseorang yang bisa berpikir luas. Karena saat ini fotografi tidak lagi bicara hanya perihal teknis, tapi juga ide dan gagasan. Foto nge-blur pun sekarang menjadi hal yang sah. Bahkan aku pernah diminta Jakarta Fashion Week untuk membuat foto nge-blur dan absurd dari sisi art. Itu pengalaman yang menyenangkan.”

***

Sore itu, ketika Bram dan Sylvester memutuskan mendaki ke puncak menara Eiffel, saya memilih berpiknik di taman seraya menyesap cokelat hangat dalam gelas kertas; memandangi ikon kota Paris yang dari rerumputan terlihat seperti silang-silang rumit berwarna abu-abu gelap yang menanjak terus ke langit.

Ketika pembangunan menara ini berlangsung di Champs de Marts, sekitar 300 seniman, pemahat, penulis, dan arsitek, mengirimkan petisi kepada komisioner Paris Exposition. Mereka menuntut agar pembangunan menara ini dihentikan. Menurut mereka, menara itu menggelikan; dan akan membuat Paris terlihat seperti tumpukan jelaga raksasa. Namun, Gustave Eiffel tak peduli dengan banjir protes itu, dan kini Menara Eiffel dinilai sebagai salah satu seni struktural yang paling menakjubkan di dunia.

***

Seberapa besar nyalimu untuk meninggalkan penilaian orang-orang di belakang, lalu mengejar apa yang selama ini selalu kau inginkan? Seberapa tangguh kau menghadapi orang-orang yang berkata bahwa kau akan menyakiti orang-orang kau sayangi jika kau mengejar hal-hal yang membuatmu bahagia? Seberapa sabar kau menapaki langkah demi langkah yang bahkan kau sendiri tak tahu akan membawamu ke mana? Kau hanya tahu bahwa inilah yang selalu kau inginkan dalam hidupmu–dan inilah hal yang terpenting bagimu: sesuatu yang akan kau kenang tanpa sesal jika suatu saat nanti tiba waktumu. Tetapi, akankah kau mengambil pilihan-pilihan yang sulit itu?

Mereka bilang, jalan menuju impianmu adalah jalan yang akan membuatmu merasa kesepian di tengah keramaian. Maka, ketika hari ini kau berhenti sejenak dan memikirkan semua itu, apakah kau ingin terus berlari?

(bersambung…)

Tagged , , , , , , , ,

Take This Dance.

At first it was as if someone was brushing their gaze on you; like a soft touch on your bare shoulders–something light and airy and wonderful, like a luminescent feather oscillating in the dark; and then slowly, you felt the heat built up around you and the intensity got heightened; the feather was burning with blinding lights of fireworks; and then you caught his eyes from the other end of the room–something that lit up in the midst of swaying dark shadows and beers and music and half-drunk conversations; and he smiled, and you smiled back, until one of you lowered your gaze shyly, and the other did, too; but you knew that once the ancient ritual had started, it was bound to happen anyhow.

origin_3244261562

It was the first quarter of the day, morning was just around the corner–but under the strobe lights, the music was still blaring and the crowd was still cheering and the night was still too young–and so you caught him gazing your way again and you gazed his way again, and again, and again, and you smiled, and he smiled, and then you realized that this evening was your last–one of those now-or-never kind of moment that you would cherish or regret; and so you said what-the-f**k and invited him for your last dance in a city that had robbed your heart when you were still finding ways to not fall in love with it. And so he took your hand, circled his arms around your waist, fixed his gaze upon you; and the rest was history.

***

There were times when you couldn’t capture the detailed outlines of the flower petals or the trees or the clouds or the skyscrapers because it seemed like time flew away so fast, too fast–and you could only recall the blurry feeling of cotton candies and marshmallows and merry-go-rounds; and you remembered feeling fuzzy and warm and comfortable and both of you were whirling in concentric motions, throwing your heads in the air as you were laughing while clinging into each other’s arms and you felt the world around you moved faster and faster and faster as if it was seen from a kaleidoscope: where the tube of mirrors and pieces of colored glass produces changing patterns as it was being rotated by some random tiny little hands; waiting for some sort of magic to start appearing before your eyes.

And suddenly you came to notice that your feet were not even touching the ground anymore; as he had lifted you up high in the air and his moves took you orbiting in circles–faster and faster and faster, and you were giggling and closing your eyes and holding on to him tighter and tighter and tighter–until gently, he put you back on the floor–both of you were sweating and laughing and the world was silent for a moment while the two of you were looking into each other’s eyes; the lights above you were becoming brighter and brighter and brighter; the chatter dissipated–and it was as if emptiness enveloped you from all corners of the room. The music had long stopped and you heard nothing but your irregular breathings and heartbeats, and it was then when you realized that he had literally swept you off your feet.

_________

*photo credit: piotrpazola via photopin cc

Tagged , , , ,

Stepping Up To My Plate.

It was late afternoon, and we were sitting at a nook in our Parisian hotel room, looking at a wall fully decorated with beautiful painted plates.

“I’m going to eat on that one,” I pointed at a plate with a painting of a cat on it. “Which one would you prefer?”

He looked at me as if I were crazy. “Well, I think I am going to choose that one,” he pointed at the one with the frog painting. “But, come on, you don’t eat on those plates!”

“Why not?”

origin_10526674874

“Because,” he shrugged, definitely thinking that any sane person would clearly know the reason why. “Because, those are not eating plates. Those are, like, really beautiful plates. And not to mention that they are bloody expensive!”

“All the more reason to eat on them, don’t you think? In the end, they are what they are, right? They are plates. Why can’t I eat on beautiful and expensive plates?”

Yes. I can be stubborn at times.

***

About a year ago, I started using my beautiful plates.

Well, those were actually inherited plates–some China and vintage Delft Holland–passed on from generations to generations; usually only to be left gathering dust in the cabinet or to be hung proudly on the living room wall; not really sure about what kind of impression they should make. And we’re not only talking about plates. We’re also talking about flower vases, tea pots and tea cups, as well as something like butter dishes.

One day, I simply washed them all (a serious washing involved due to more-than-a-decade excessive dust-gathering) and started using them.

I make garlic and cheese butter and place it on the beautiful butter dish to be used every morning as a spread on my bread. I boil my green tea inside the elegant tea pot and sip it slowly from the gorgeously decorated floral tea cup. I use the blue and white ceramic vintage plate for my scrambled egg.

It does feel nice, to eat from beautiful plates or drink tea from beautiful tea cups. And right now, I do feel alright (and happy) to use them up on a daily basis instead of storing them away or keeping them as decorative items. Yes, I have to admit that at first, I felt a bit guilty. And undeserving. And scared.

Am I supposed to do this? This is too good. Do I deserve this? This is too beautiful for me. What if I broke it? 

***

But where do we actually start getting the idea that something can be too good for us? Are we actually being taught to lower our expectations and not have too high of a hope or to have big dreams–simply because someone is trying to protect us from hurt, failure, or disappointment that may lurk behind us?

He’s-just-too-kind-for-me is something I heard from a lot of women (and I might be guilty of using this nonsense once or twice in my previous relationships years ago–when I didn’t know better). In that sense, what are we implying with those words? Are we thinking that we’re so undeserving to be treated kindly? How often do we lessen ourselves to the point where we decided that we’re okay settling for less; and lowering our standards only to please others?

Other times, I guess we’re doing it to protect ourselves–our hearts, our dreams, our hopes, our memories. We’re thinking about storing them away in some place safe or hanging them on the wall for everyone to see–but not to touch. We’re too afraid of making failures or breaking our hearts or humiliating ourselves or looking vulnerable because then we’re going to get hurt; and then we’re not going to be perfect anymore (not to say that we are/were, ever).

Maybe we’re afraid that we’re not going to be those beautiful decorative plates that are being admired by everyone anymore–because the fact is, when we’re no longer becoming a decorative item in life–just like those plates; we’re going to break or decay or our colors may get washed out after some times.

***

I made some Italian spices butter this morning and stored them in the beautiful butter dish. Every time I see it as I’m about to spread it on my bread, it becomes a great reminder for me to be brave and to not settle for less. To know that I am deserving of wonderful things, great experiences, amazing life, and comforting love; to believe that nothing is too good or too beautiful for me, and nothing is too good or too beautiful for you, too.

You deserve it.

And starting tomorrow, I hope you’re having your meal on a beautiful plate.

———————–

*photo credit: Wicker Paradise via photopin cc

Tagged , , , ,

Maesy Ang & Teddy Kusuma: On Journeys, Distance, and Friendship.

Maesy Ang and Teddy W. Kusuma wrote about their traveling journeys in the book Kisah Kawan di Ujung Sana (A Story of A Friend On The Other End), published by Noura Books in 2014. Both can also be found typing away on their travel blog, The Dusty Sneakers or hosting pop-up stores and creative events at POST Pasar Santa, Jakarta.

Maesy Teddy

Me: What’s the biggest challenge in writing a book together?

Maesy & Teddy: The biggest challenge was to begin.

Although we have blogged together in The Dusty Sneakers for five years, writing a book together required us to work much closer together. We’ve always known that our creative processes are different, but we never clashed until we started working on the book.

Teddy is a true blue artist; he writes when he wants to write. He doesn’t even need to know what the story is, he just needs some jazz and coffee to accompany him as he types away until the story reveals itself. Maesy is the exact opposite. She could only write when she knows exactly what she wants to say and how she wants to say it. She needs to know the big picture and the small details, so she spends a lot of time plotting and brainstorming in her notebook before she could open her laptop and write.

So when we started, Teddy felt constrained by Maesy’s questions and planning, while Maesy got frustrated over Teddy’s push to write impulsively. In the end, we resolved it by playing to each other’s strengths. For a week, Teddy was left to write the prologue to set the tone of the book, while Maesy thought, researched, and planned. Then Maesy brewed a huge pot of kokos ananas tea, brought out a stack of colorful post-its, and facilitated a two-hour workshop for Teddy and herself, which resulted in an outline for the whole book.

At the end of the week, we had everything we needed to start writing. Maesy loved how Teddy’s prologue set up the tone for the book, while Teddy was amazed by the fact that he could just glance at a wall with color-coded post-its to see all the plans for every chapter in the book as well as how they are linked with one another. It was smooth sailing afterwards, as each of us were free to work as we liked and find that our different approaches complement each other.

Me: What’s your idea of a “perfect journey”?

Teddy: To me, a “perfect journey” is one that touches you on a personal level. You know, the kind that has elements that you’d remember for a very long time. A trip filled with warm conversations with a close friend, one that reminded you of a significant moment from your past, or sometimes, a small random gesture of kindness, like when we were on a train in Japan, an old lady gave Maesy and I a panda origami she just made.

Mostly though, a journey is perfect when shared with a loved one. One of my most vivid memories is a bumpy bus ride that Maesy and I shared in South India. We’ve been going our separate ways for more than a year before spending 14 days together in India, so I was missing her quite a lot. Maesy was sitting next to me, her face green from carsickness and she was about to fall asleep. It was just a bus ride, but I remember it vividly.

Maesy: I agree with Teddy, but to add a very practical dimension, a perfect journey is one where I could be completely unplugged. When I am able to roam without any Internet connection, it means that I am not travelling for work and that I travel with Teddy. There is no one I need to keep in touch with, nothing is urgent and no screen is competing with my surroundings for my attention. It feels very liberating, being unplugged.

Me: What’s the life-story of this book? 

Maesy & Teddy: Like the story within, the backstory of the book also took place in several different places.

The idea first came to life under the coconut trees in Sekotong, Lombok. Maesy was recovering from a serious case of respiratory problems and Teddy has his first break after a long, intense period at his office. We spent four days swimming, sleeping, sunbathing, and reflecting upon what we felt missing in our lives. As much as we love our jobs, we felt that a creative spark was missing, a spark that only writing and traveling could fulfill. We started reminiscing about all the life lessons we found through traveling and found that mostly came from the period when we first started the blog, when Maesy got a scholarship to study in the Netherlands and we each traveled on our own. We thought that these stories are best told in a longer narrative format than what we usually do in the blog, so that was the first spark of idea for a book. It seemed that the universe was listening, for Noura Books contacted us right after we returned from Sekotong. Noura Books found our blog and asked whether we’d like to write a book, so of course we said yes. What a serendipity!

After we came up with an outline, we went for a four-day retreat to Portibi Farms, an organic farm in Cicurug, West Java. We took enough breaks between writing to hike and swim in a waterfall, bake bread, help out in the farm, and play Twister with the children of Portibi’s owners. That proved to be a winning combo, for we drafted half of the book during the retreat! Perhaps also because we happened to stay in a room called “The Librarian”, another serendipity.

But mostly, the book was brought to life in Jakarta. In the weekday evenings, where Teddy stayed at work after everyone had left to write. In the weekend mornings, where a sleepy Maesy would brew pots and pots of tea – rooibos, Darjeeling, and hoji cha – to accompany her to write. As much as we love traveling, the ultimate magic is finding the wonder in everyday life in our hometown. Jakarta is home for us, and it is at home we saw the book came together – a truly magical experience for us.

Me: What do you like the most about each other’s style in writing? 

Teddy: The way Maesy writes reflects a happy, sweet, quirky, and intelligent personality – just like she is in real life. She has a way to reflect on and synthesize her encounters into a meaningful story. When she wrote about the dark side of fairy tales, she could draw the similarities between fairy tales and the tales told about Indonesia as a nation. Behind the beautiful story of Indonesia as a prosperous, united, and friendly nation, there is underlying darkness of inequalities and intolerance. For me, home is where I was born, Denpasar. I was intrigued when Maesy explores the idea of home so far away from her own – in Taipei, in Amsterdam, and in Den Haag. I found myself thinking about the way she sees things far after I was done reading her chapters.

Maesy: Teddy writes with his heart on his sleeve. You can tell exactly how he feels about something through his writing. In the chapter he wrote about the unpleasant consequences of tourism in Bali, you could see how upset he was although it was written in a mild tone. You could tell how much he loves his odd friend, Arip Syaman, although the chapters with Arip in them are full of silly incidents and humor. You could sense his agitation when he questioned the call to preserve tradition during his trip to Baduy. Reading Teddy’s writing feels very intimate because he lets you know how he feels, in the most charming use of Bahasa Indonesia.

Me: What kind of travel stories are your favorites? And why?

Maesy & Teddy: We grew up reading fiction and folktales. We find that characters matter the most in any story, so we love travel stories with strong characters. We care much less about a place, we keep on reading because we want to know the characters better and get to know a place through their eyes.

Maesy grew up reading fantasy books, and in those books, traveling is how a character becomes aware of their personalities and grows as person. Lyra Belacqua in Phillip Pullman’s His Dark Materials trilogy is bold and mischievous when the story started, but it was only when she traveled to the North Pole she understands that being brave also entails sacrifice and thinking of the consequences of her actions. We love travel stories that are also stories of personal journeys, one in which the narrator finds something meaningful about him/herself.

We also enjoy Agustinus Wibowo’s Titik Nol. It is ultimately a story of humanity, seen in people he met throughout his travels, those whom he hold dear, and also within himself. These are the kind of stories that will last in our mind.

Me: You talk about friendship and distance in your book, and how you’re bridging that gap through letters. In your personal life, what are the significance of friendship, distance, and letters to you?

Teddy: I started writing letters to friends before the dawn of e-mails. My best friend in high school went to university in Yogyakarta while I studied in Jakarta and we decided to keep in touch by writing letters. Those letters to me were not just a way to connect with my friends, they were also a way for me to connect with myself. I only wrote my most significant thoughts and events that left the deepest prints in those letters. How I write my letters became my habit in writing anything personal – be it blog posts or the book.

Maesy: The book (Kisah Kawan di Ujung Sana) was about the period when Teddy was my friend at the other end of the world, while I studied in the Netherlands and formed new friendships. These friends are now my soul sisters at the other end of the world – in Brussels, Managua, and Vienna. While we stay in touch through Facebook, Whatsapp, and Instagram, it is only when we took the time to write long letters that I really could connect with them beneath the surface and see our friendship grow. It is only when I write long letters that I feel the distance shrink. It is when I read their letters I believe that life is long and the world is small, that our paths will cross some other time.(*)

—For more interviews with Indonesian writers, click here

Tagged , , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,186 other followers

%d bloggers like this: