ended.

Mungkin ada lebih dari 60 akhir dalam sehari, atau bahkan lebih. Pada helaan napas (00′:01″), sebaris kicauan yang berbisik di lini masa (00′:03″), satu putaran Owl City dalam Vanilla Twilight (03′:52″), secangkir kopi yang menyisakan ampas di dasar gelas (10′:00″), kue-kue yang mengembang dalam panggangan (45′), jam kerja (9), satu hari ketika langit berada dalam peralihan gelap-terang (24).

Dan begitulah, pada dasarnya kita telah terbiasa pada yang berakhir. Yang habis. Pada perpisahan. Pada hal-hal yang tertinggal. Yang terlupakan. Dan kita menyimpan ingatan: akan hal-hal yang sungguh-sungguh pernah terjadi, dan juga kenangan: residu ingatan yang sudah didaur ulang; yang menyimpan memori akan hal-hal yang pernah terjadi sebagaimana kita ingin mengingatnya.

Pada kesekian akhir itu, aku mengingatnya seperti perpisahan kita yang berkali-kali di bandara-bandara yang jauh. Aku hanya akan bersabar hingga aku melihatmu lagi. Karena bahkan sebuah perpisahan pun memiliki akhir.


sunflowers.

“I’ve learned that it’s best not to give a damn to those who are trying to bring you down. Came to think about it, people are just… people. They, themselves, might have undergone difficult times. Their lives could be tougher than yours. Most of the times, there’s nothing much you can do about it. Just… be happy. Be kind. Stay humble. Make sure that you’re walking toward the bright side: the one where sunflowers are blooming under a bright blue sky; the place where people are smiling and willing to wipe out each others’ tears. And you’ll be doing just fine, as always. Because life is fair—even in ways we can’t comprehend.”

—- a friend.

I’ve Learned
by Omer B. Washington

I’ve learned that you cannot make someone love you.
All you can do is be someone who can be loved.
The rest is up to them.
I’ve learned that no matter how much I care,
some people just don’t care back.
I’ve learned that it takes years to build up trust
and only seconds to destroy it.
I’ve learned that it’s not what you have in your life
but who you have in your life that counts.
I’ve learned that you can get by on charm for about fifteen minutes.
After that, you’d better know something.

I’ve learned that you shouldn’t compare yourself
to the best others can do,
but to the best you can do.
I’ve learned that it’s not what happens to people,
It’s what they do about it.
I’ve learned that no matter how thin you slide it,
there are always two sides.
I’ve learned that you should always have loved ones with loving words.
It may be the last time you’ll see them.
I’ve learned that you can keep going
long after you think you can’t.

I’ve learned that heroes are the people who do what has to be done
When it needs to be done,
regardless of the consequences.
I’ve learned that there are people who love you dearly,
but just don’t know how to show it.
I’ve learned that sometimes when I’m angry I have the right to be angry,
but that doesn’t give me the right to be cruel.
I’ve learned that true friendship continues to grow even over the longest distance.
Same goes for true love.
I’ve learned that just because someone doesn’t love you the way you want them to
doesn’t mean they don’t love you with all they have.

I’ve learned that no matter how good a friend is,
they’re going to hurt you every once in a while
and you must forgive them for that.
I’ve learned that it isn’t always enough to be forgiven by others.
Sometimes you have to learn to forgive yourself.
I’ve learned that no matter how bad your heart is broken,
the world doesn’t stop for your grief.
I’ve learned that our background and circumstances may have influenced who we are,
but we are responsible for who we become.
I’ve learned that just because two people argue, it doesn’t mean they don’t love each other.
And just because they don’t argue, it doesn’t mean they do.

I’ve learned that sometimes you have to put the individual
ahead of their actions.
I’ve learned that two people can look at the exact same thing
and see something totally different.
I’ve learned that no matter the consequences,
those who are honest with themselves go farther in life.
I’ve learned that your life can be changed in a matter of hours
by people who don’t even know you.
I’ve learned that even when you think you have no more to give,
when a friend cries out to you,
you will find the strength to help.

I’ve learned that writing,
as well as talking,
can ease emotional pains.
I’ve learned that the people you care most about in life
are taken from you too soon.
I’ve learned that it’s hard to determine where to draw the line between being nice
and not hurting people’s feelings and standing up for what you believe.
I’ve learned to love
and be loved.
I’ve learned…


Lost in HongKong (2): Kuliner

Dari pengamatan saya, sebenarnya kuliner HongKong bisa dibagi menjadi 4; dan semuanya wajib dicicipi:

1.) Dimsum

2.) Soupy food (termasuk wonton soup dan noodle soup)

3.) Congee–alias bubur Kanton yang terkenal gurih itu

4.) Nasi–baik nasi bebek panggang, nasi ayam hainan, maupun nasi goreng Kanton


Salah satu hal yang menarik: makanan paling lezat di HongKong bisa ditemukan di restoran/kedai paling kecil, gang paling sempit, atau ‘warung kaki lima’ di pinggiran jalan yang paling ramai dilalui orang. Satu hal lagi yang bisa menjadi indikasi adalah ramainya warga lokal yang tengah bersantap di kedai tersebut, terutama orang-orang tua :)

Ada tantangan tersendiri ketika mencoba menikmati santapan di restoran ‘lokal’ macam ini: pelayan yang tak bisa berbahasa Inggris dan ketiadaan menu berbahasa Inggris. Alhasil, pelayan akan berbicara dengan bahasa Kanton, dan Anda harus berbicara dengan bahasa… isyarat. Jadi, Anda pun harus siap mental menghadapi ibu-ibu tua pendorong gerobak dimsum yang akan memberikan tatapan semacam ini: (- -‘) atau -_______- ketika Anda terbengong-bengong lama sebelum memilih dimsum.

Beberapa kebiasaan makan di restoran/kedai kecil seputaran HongKong, di antaranya:

  1. Walau mejanya adalah meja bulat dengan 4-6 kursi per mejanya, semua orang bisa duduk di kursi yang kosong. Jadi, Anda bisa saja makan satu meja dengan orang yang sama sekali asing
  2. Terkadang disediakan juga air panas untuk ‘merebus’ sumpit dan sendok yang akan digunakan untuk makan
  3. Ketika sedang makan, suara menyeruput diperbolehkan, tandanya makanannya enak :)
  4. Jangan kaget juga, ketika sedang makan dan misalnya hendak membuang tulang ayam di mulut, orang lokal akan langsung meludahkannya pelan-pelan ke atas meja makan. Jadi di atas meja makan, di sebelah mangkuk, Anda akan melihat tumpukan tulang ayam atau tulang bebek :D

Untuk informasi lengkap mengenai restoran/kedai kecil yang menyajikan makanan lezat di HongKong, silakan klik di sini :)


Lost in HongKong (1): Transportasi

Sebenarnya memang tak mudah untuk ‘tersesat’ di HongKong. Berhubung moda transportasi di negara ini sangat baik, akan sangat mudah bagi turis maupun pendatang untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Mau cepat-cepat meluncur dari bandara menuju kota?

Tak masalah.

Anda tinggal melompat naik ke atas Airport Express yang datang setiap 10 menit sekali. Membawa koper besar? Tenang, Anda tinggal melenggang santai, menyeret koper Anda, dan meletakkannya di tempat penyimpanan barang. Kemudian, duduklah di bangku yang luas dan nyaman. Dalam waktu sekitar 20 menit, Anda sudah sampai di Central. Sebelum Central, Airport Express juga berhenti di Kowloon. Menggunakan Airport Express, Anda bisa memprediksi waktu menuju airport dengan cukup akurat.

Di dalam kota sendiri, pilihan transportasi tersedia: mulai dari trem atau yang biasa disebut ding-ding oleh orang lokal,

bis umum,

juga MTR (Mass Transit Railway),

sampai kapal feri yang membawa kita menyeberang dari Central ke Kowloon atau dari HongKong ke Macau.

Semuanya serba teratur, tertib, nyaman. Tentu, masih saja ada orang yang berdiri dan tidak mendapatkan tempat duduk. Tapi tentunya masih cukup manusiawi kalau dibandingkan dengan orang-orang yang berjejal di kereta ekonomi kita, atau MetroMini.

Mencari sebuah tempat juga lumayan mudah. Tinggal tanya apakah harus mengikuti Exit A, B, C bahkan A1, B1, dan seterusnya. Semua bisa dilihat dengan jelas di stasiun MTR. Plang nama jalan juga memudahkan ketika harus menemukan sebuah tempat: tinggal naik ding-ding, turun di halte sekitar Causeway Bay, lalu berjalan kaki menuju Jalan Anu. Kehidupan sebagai kurir atau petugas antar-barang pasti jadi lebih mudah di sini. Bandingkan dengan mencari alamat di Jakarta. Kalau naik bis, bisnya bisa berhenti di mana saja. Malah terkadang tidak berhenti di halte. Belum lagi desak-desakannya, yang bisa menjadi pengalaman tersendiri.

Saya masih ingat betapa ajaibnya kereta ekonomi atau Kopaja. Walau penumpang sudah penuh sampai berdiri berjejal di pintu, kita masih saja bisa masuk. Entah bagaimana, kita akan terbawa arus penumpang yang naik. Dan tahu-tahu sudah ada di dalam! Lalu di dalam ketika berdiri, juga tak perlu berpegangan, karena kiri-kanan depan-belakang sudah ada orang yang akan mencegah kita tergelincir ke kiri atau ke kanan ketika bus mengerem mendadak. Secara tidak langsung, kepadatan ini juga mempermudah terjadinya pelecehan di dalam transportasi umum.

Agak sedih juga melihat betapa kereta api listrik lungsuran Jepang (di sana sudah jadi barang bekas kali, ya) kemudian menjadi kereta api ekspres AC kita yang bertaraf paling mahal. Masih saja, orang-orang sepanjang rel kereta api melempari kereta yang lewat dengan batu, untuk memecahkan kacanya. Mungkin mereka mengganggapnya mengasyikkan, seperti semacam permainan menembak sasaran. Lalu pegangan untuk orang-orang yang terpaksa berdiri di kereta, bisa sampai lepas. Dan dibiarkan saja tergantung sedemikian menyedihkannya. Bangku kereta ketumpahan minuman bernoda. Besi rel kereta api dicuri orang. Memanjat tangga menuju halte TransJakarta juga jadi perjuangan tersendiri. Ada lantai yang hilang di tengah-tengah, sehingga membahayakan mereka yang lengah.

Permasalahan Jakarta itu mungkin sebagian terletak pada kesemrawutan pemerintah mengatur moda transportasinya. Tapi sebagian lagi, memang juga terletak pada kesadaran penggunanya.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,044 other followers