Meskipun 2008 belum lagi berakhir, saya berani mengatakan bahwa Wall·E adalah film animasi terbaik tahun ini. Ya, film produksi Disney Pixar yang diarahkan dan ditulis skenarionya oleh Andrew Stanton ini memang film yang sepi dengan kata-kata, namun sarat makna.

Gambar dipinjam dari sini.

Untuk anak-anak kecil yang menontonnya, Wall·E mungkin tak lebih dari sebuah film animasi biasa yang mengisahkan sebuah robot tua bernama Wall·E dan penjelajahannya ke ruang angkasa untuk membantu robot canggih EVE. Tetapi untuk saya, Wall·E meninggalkan kesan yang berbeda. Wall·E is definitely a love story. A very good one, malah!

***

(spoiler warning)

Alkisah, Wall·E adalah sebuah robot tua pemroses sampah yang tertinggal di bumi dan lupa dimatikan, ketika manusia beramai-ramai meninggalkan bumi yang rusak untuk menetap di luar angkasa.

Gambar dipinjam dari sini.

Maka, selama 700 tahun, Wall·E tetap tinggal di bumi dan menjalankan tugasnya memroses sampah seperti biasa, dari hari ke hari, sendirian–hanya ditemani seekor kecoak dan film musikal lama tahun 1969, Hello, Dolly!.

Suatu hari, Wall·E menemukan sebuah tanaman kecil di tengah tumpukan sampah. Ia pun dengan hati-hati menciduk tanaman itu dan menyimpannya, kemudian menjalankan tugasnya seperti biasa. Sampai suatu hari, sebuah pesawat luar angkasa mendarat di bumi dan menurunkan sebuah robot putih yang canggih.

Wall·E terpesona melihat robot putih ini terbang di angkasa, meluncur dan berputar-putar gembira, sekaligus takut melihat bagaimana robot itu menembak dan meledakkan benda-benda yang dianggapnya mengganggu atau mencurigakan. Suatu waktu, robot putih itu bahkan menembak kecoak Wall·E, namun si kecoak berhasil lolos. Ketika melihat bahwa si kecoak tak berbahaya, robot putih itu malah memungut si kecoak dan membiarkan binatang itu berlarian di lengannya.

Gambar dipinjam dari sini.

Di sinilah untuk yang pertama kalinya robot putih itu bertemu dengan Wall·E–yang juga hampir ditembaknya, namun urung ketika ia mendeteksi bahwa Wall·E tak berbahaya. Sejak saat itu, Wall·E mengikuti si robot putih kemana-mana.

Suatu hari, si robot putih yang sedang berkeliling memeriksa bumi terperangkap magnet besar di galangan kapal tua. Si robot putih pun melepaskan diri dengan melancarkan tembakan yang meledakkan kapal-kapal yang berjajar satu demi satu.

Ketika si robot putih ini berdiri memandangi api yang menyala-nyala di hadapannya; Wall·E diam-diam mendekatinya dari samping pelan-pelan, berusaha menggenggam tangan si robot putih, namun gagal–karena si robot putih sudah siap menembak.

Dilatari langit yang menyala dalam api jingga berpendar, inilah awal perkenalan robot putih yang bernama EVE itu dengan Wall·E. EVE yang awalnya garang itu bahkan sempat terkikik geli ketika mendengar Wall·E kesulitan menyebutkan namanya.

Hanya beberapa saat setelah perkenalan itu, badai debu besar melanda. Dan Wall·E pun menyelamatkan EVE dan membawa robot putih itu ke “rumahnya”; yang dipenuhi dengan lampu-lampu berwarna-warni. Dalam usahanya menarik perhatian (dan menggenggam tangan EVE), Wall·E juga menunjukkan benda-benda berharga yang dimilikinya pada EVE, bahkan mengajak EVE menonton Hello, Dolly!.

Gambar dipinjam dari sini.

Usaha terakhir Wall·E adalah dengan menunjukkan tanaman yang sempat ditemukannya di tumpukan sampah kepada EVE. Namun begitu Wall·E menunjukkan tanaman itu, EVE tiba-tiba mengambil tanaman tadi dan memasukkannya ke dalam tubuhnya, sebelum ‘mematikan’ diri.

Dari sini, dimulailah serangkaian episode yang menyentuh, lucu, sekaligus mengharukan, mengenai bagaimana Wall·E berupaya ‘membangunkan’ EVE, dan menghabiskan hari-harinya berdua saja dengan EVE yang kini membisu dan hanya mengambang saja di udara…

Perihal bagaimana jalan cerita selanjutnya dan akhir dari film animasi yang luar biasa ini, silakan Anda menonton film ini sendiri, karena film ini sangat layak ditonton 🙂 atau jika tetap masih ingin tahu juga tanpa menonton filmnya, silakan baca sinopsis lengkapnya di sini.

***

Menonton Wall·E adalah mencoba memahami sosok robot tua yang kesepian, yang tenggelam menjalankan hari-harinya dengan melakukan apa yang menjadi tugasnya, tanpa punya tujuan yang jelas. Ia larut dalam rutinitasnya, namun sesungguhnya masih menyimpan mimpi akan romantisme; karena setiap malam ia menonton tayangan film musikal tahun 1969, Hello Dolly!.

EVE, di sisi lain, adalah sosok sophisticated dengan kepribadian kompleks dan sukar dipahami. Ia berusaha tampil sebagai sosok yang tangguh, tak mudah untuk didekati, namun ternyata sangat menyenangkan begitu Wall·E sudah lebih mengenalnya. EVE adalah sosok yang fokus dan punya satu tujuan jelas dalam hidupnya: untuk memenuhi tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Tetapi ketika Wall·E dan EVE bertemu, segalanya berubah.

Tiba-tiba saja, Wall·E yang biasa terjebak dalam rutinitas merasa bahwa kini ia punya tujuan lain yang bisa memberikan makna dalam hidupnya: untuk menggenggam tangan EVE. Sementara EVE yang begitu fokus dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, memahami bahwa bayangan akan kehilangan Wall·E ternyata lebih menyedihkan daripada kegagalannya memenuhi kewajiban.

Jika EVE menghadiahi Wall·E sebuah tujuan, maka hadiah Wall·E untuk EVE adalah: sebuah pilihan. Jika EVE memberikan Wall·E sebuah tujuan hidup, maka Wall·E memberikan EVE pilihan untuk menjalani hidup.

Seperti saya, tentunya Anda juga bebas menafsirkan, apa yang kemudian mengada di antara genggaman tangan Wall·E dan EVE. Cinta? Harapan? Persahabatan? Awal? Akhir? Hmm, semua itu memang tergantung pada bagaimana Anda memaknainya.

Gambar dipinjam dari sini.

Untuk saya, saya lebih suka menafsirkannya sebagai rasa. Ya, rasa. As simple as that. Rasa macam apa? Saya juga tak bisa menjelaskan. Mungkin semacam rasa yang bisa menghadirkan kembali denting-denting terakhir dari At Last-nya Etta James. Sejenis rasa yang kehangatannya tetap tinggal, bahkan lama setelah genggaman itu dilepaskan.

hanny

38 Responses

  1. kalimat di posternya juga keren tuh…
    butuh berapa lama buat kita semua untuk cari tahu maksud keberadaan kita di dunia?

    mudah2an ga perlu sampe 700 tahun ya, rom 😀

  2. mmm… aku liatnya mungkin dari sisi lain, dari bagaimana Bumi masa depan tuh kaya gitu akibat ulah manusia sendiri. Memang sarat makna, dari mulai Cinta sampai dengan masalah lingkungan idup..

    iya, ngeri, ya… bisa jadi itu gambaran bumi masa depan

  3. ulasannya bagus banget mbak :mrgreen: menggugah dan menyentuh rasa, membuatku menghayati indahnya cinta kasih sayang, membuatku merasa, hidup ini tidak dijalani sendiri tapi perlu didampingi seseorang dalam kebersamaan.

    well, buat saya, mbak telah menangkap soul dari film ini, dan menuangkannya dengan indah sekali. membuat saya serasa telah menikmati film ini bahkan sebelum menontonnya langsung :mrgreen:

    well, my first aesthetic satisfaction sebetulnya emang di film, music itu somehow second to film :mrgreen:

    ayo, ayo, nontooonn… 🙂

  4. Ahhh… saya juga terharu ketika menonton Hanny-E, eh salah.. maksudnya Wall-E. Duh, endingnya juga oke banget.
    Tidak salah memang saya menyuruh Steve Jobs untuk bikin Pixar ini. loh

    hwahahahahah. tapi gak sampai menitikkan air mata, kan? ;p mana skrinsut rambut barunya???

  5. AT LAST by Etta James

    At last, my love has come along
    My lonely days are over
    And life is like a song
    Oh, yeah, at last
    The skies above are blue
    My heart was wrapped up in clovers
    The night I looked at you
    I found a dream that I could speak to
    A dream that I can call my own
    I found a thrill to rest my cheek to
    A thrill that I have never known
    Oh, yeah when you smile, you smile
    Oh, and then the spell was cast
    And here we are in heaven
    For you are mine
    At last…

  6. @-=«GoenRock®»=- : live action? aha… ini bisa menjadi bukti kepiawaian pixar membesut CGI karya2nya… FYI: pixar belum pernah sekalipun menyisipkan live action dalam film2 animasinya.

    @hanny: keren banget reviewnya… 😀

  7. kenapa yah gue koq males banget nongton kartun. Terakhir nongton kartun di bingoskop pas pilem ice age. Gue rasanya gagal ketawa nongton film itu. Entah apa sebabnya 🙂

  8. buatku, pesan yg mau disampaikan adalah harmonisasi antar manusia dan (juga) alam. Itu sebabnya ada tumbuhan hijau (yg mulai langka) dan sampah (yg makin banyak)

  9. film2 pixar imo cuma bisa disaingi sama film2 animasinya miyazaki hayao / ghibli studio.

    tapi pada dasarnya gua emang suka film kartun hehehe

  10. reviewnya bagus, mbak han..
    jadi pengen nonton…. 🙂

    uhmm.. berdoa mudahmudahan segera masuk di rental sini dan pln ga memadamkan listrik lagi *amin* -curcol- 😀

    btw, lagu at last yang di comment ituhw OST nya kah? hohohoho.. lagunya bagussssssss…. *twink*

  11. Wah wah wah, nanti kalo di Semarang udah main, saya mau ngajak anak3 nonton ah.Sering2 aja ngereview pelem2 bagus ya.

    Soalnya sekarang pelem anak2 yang murni, jarang… bangets, kasihan anak3.

    Emang, kadang kalo nonton yang bikin terharu, kadang air mata netes..

  12. wall e selain sindiran soal rasa, antara si wall dan si eve juga rasa kepemilikan soal bumi:p, sebenarnya film itu berat sekali pesannya…

    eh, mbak hanny, saya mau daftar jadi relawan di pestablogger entah untuk diskusi atau yang lain, terutama isu MDGs dan kalo ada sesi yang mengupas bangsari misalnya, saya bisa kontak email anda privat gak ya?-maaci

  13. ah! saya jadi kepingin nonton 😀
    dan nggak berani baca reviewnya setelah paragraf kedelapan karena sepertinya bakalan lebih seru kalau saya sama sekali nggak ngerti ceritanya gimana ^^

    Salam kenal 😉

  14. mba Hanny,,
    gara2 postingan mbak aku imel temen2Ku,,
    kita jadi janjian nonton,,

    yang tadinya gak ada niat nonton
    gara2 baca ini jadi semangat pengen nonton ^^

    film kartun yang romantis banget,,
    happy ending,,
    *bikin keinget sama…. 🙂 :)*

  15. nice review…

    well, menurut saya ini memang salah satu kisah cinta yang romantis dan mengharukan… walaupun ending-nya sudah dapat diduga, tapi proses menuju ke sana tetap membuat rasa penasaran bergejolak…

    saya dan istri hampir tidak pernah melewatkan sebuah master piece seperti ini… wajib nonton 😀

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Screenshot 2022-12-08 at 12.43.17
This year, I learned to accept the days when I don't feel motivated, tired, or a bit grumpy. I learned to allow myself to sit with this feeling instead of feeling guilty about it and forcing myself to be productive, socialize, or just get things done.
Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO