Gili Trawangan, Lombok.

Going there.

It takes you 1.5 – 2 hours by car from Lombok International Airport to reach Bangsal port—where wooden boats are lining up, ready to transport you to Gili Trawangan. For the car-ride, you can choose between two routes: either passing the monkey forest or Senggigi beach. If you’re in a hurry to catch a boat to Gili Islands, you better choose the monkey forest route as it will save you more time (and you can take pictures of the monkeys along the way!).

Bangsal Port in Lombok.

Every half an hour, there will be a boat leaving from Bangsal port to Gili Trawangan. You can buy a ticket for IDR 10,000 (or around US$ 1.2). The boat will carry tourists, locals, as well as bicycles and vegetables. In around 20 – 30 minutes, you’ll reach Gili Trawangan.

The boat that will take you to Gili Trawangan.

Gili Trawangan

Gili Trawangan is one of three islands in Gili, the two others are Gili Air and Gili Meno. If you prefer to have a more secluded atmosphere during your stay, Gili Air and Gili Meno will be a better option. Gili Trawangan is relatively more lively, with rows of cafes, restaurants and bars, that open for 24/7.

Gili Trawangan. The village is hidden behind the lush canopy of green.

Gili Trawangan is a small island. You can go around the island for 2-3 hours by bike. Cidomo is how the locals call their most ‘lavish’ mode of transportation: horse cart/wagon. Usually it will cost you IDR 50,000,- per trip (US$ 5). Apart from horse cart, you can either rent a bike for a day, or simply walk around. There’s no car or motorcycle in Gili Trawangan. The air is definitely not being polluted by motor vehicles’ exhausts, but you just need to get yourself used to the smell of horse’s feces :D

Cidomo, or the horse cart.

The village

If you don’t mind to get your feet soaked in mud, walking around the village early in the morning can be a bliss. Just watch your step and be mindful to the sound of cidomo approaching from in front/behind you, then step aside. The people in the village are very polite and friendly; you won’t get a stare/impolite comments though you’re a girl strolling around by yourself. If you smile, they’ll nod and smile back.

Here are some of the gorgeous views I captured during my morning walk:

The chickens.

The pretty horse. Disney-like, don't you think?

This is the way people transport goods around the island.

The droplets left by the morning rain.

There are no police officers in Gili Trawangan. According to the Cidomo driver, having police officers around make people think that the island is not safe. Usually, the locals will catch the robbers/pickpockets by themselves, beat them up to teach them a lesson, and then they will be humiliated by being ‘paraded’ all around the island. Does this kind of law-enforcement work? Probably so. My friend lost her wallet in the afternoon, and later in the evening, a Cidomo driver actually returned the wallet back to the hotel where we stayed.

The restaurants.

Along the beach, you can find stretch of restaurants, cafes, and bars.

If you’re into organic and healthy food, you can stop by at Egoiste; and if you’d like to enjoy the best grilled seafood in Gili Trawangan, drop by at Scallywags after 6 pm, and pick your own lobsters/fishes (the restaurant is open since early morning, but the grilled menu will only be served after 6)!

The view from Scallywags. How lovely!

Storm beer: an organic beer brewed in Bali, served at Scallywags

Fresh lobster at Scallywags, ready to be grilled.

All the fish is caught in local waters, using environmentally friendly methods.

Before sunset at Scallywags.

Free salad bar at Scallywags.

Don’t forget to enjoy the famous Gili Gelato for dessert afterwards; you can find their ice-cream counter along this stretch.

If you’re into psychedelic experience (unfortunately, I got high only by looking at the ocean!), magic mushroom (Psilocybin) is sold free in small shops/marts. A bottle of ‘mushroom juice’ (the size of small mineral water bottle) is sold for IDR 200,000 (US$ 23). In bars and restaurants, they are also offering marijuana quite freely, especially to foreign tourists.

Magic mushroom.

The Internet connection

Should you need to connect the Internet, there are lots of cafes/restaurants with free wi-fi access. But I should remind you: it won’t really work. If you really need a relatively reliable connection, go to the Internet cafes. You rent a computer and the Internet connection for around IDR 24,000 per hour (US$ 2.8).

The beach

What can I say? This is one of the reasons why people come to visit Gili Trawangan at the first place :) Should you like to dive, go visit Trawangan Dive (find Graham if he’s around)—and they’ll help you with everything: from planning your diving trip to preparing all the equipments needed.

The glass-bottom boat.

Lovely afternoon by the beach.

The boat.

The mist came down in the afternoon.

Just perfect for swimming and sunbathing.

Boats in different colors and shapes.

OK, seriously, I want to go back! :)

Triwindu Antique Market, Solo.

Stretched along Bengawan Solo—one of the longest river in Java, and guarded by some volcanoes: Mt. Merapi, Mt. Merbabu and Mt. Lawu, Solo is a tranquil city of Javanese culture and tradition. There’s a certain ‘ancient’ atmosphere that will captivate you instantly: a certain feeling of going back in time; especially as you get closer to the palaces or keraton—the sound of gamelan music wafting faintly from somewhere, batik cloths hanging from the drying rope.

If you love strolling around antique markets, just like me (pretending you’re living in a different century, spotting all those beautiful objects back from the day your mother or grandmother hasn’t been born and making up stories about the imaginary people who used to own those vintage-whatchamacallit as you go along), Solo would definitely charmed you with its Triwindu Antique Market.

Here are some pictures to please your eyes:

Click here for more:

Happy holiday! Wish you all a blessed and wonderful New Year!

Quisiera Que Estuvieras Aquí – 5. Lisboa

I have found that the hour of separation does not prevail against the joining of our unearthly selves, as I have known with the first meeting that my spirit was your companion for countless ages | Kahlil Gibran

Lisboa seperti kamu: yang mengejutkan pagiku dengan hal-hal lucu. Kota ini, seperti kamu, juga menyimpan ketertarikan pada seni dan sejarah. Kubayangkan kamu (tepatnya: kita) berkeliling kota dengan kamera di tangan, menyusuri jalan-jalan dan monumen bersejarah mulai dari Avenida de Liberdade  sampai Avenida Almirante Reis: mengabadikan arsitektur-arsitektur Romanesque, Gothic, Manueline, Baroque, juga konstruksi-konstruksi Modern dan Post-Modern yang nampak terlalu terang di bawah terik matahari.

Di bawah Jembatan 25 de Abril yang menghubungkan Lisboa dan Almada, aku akan berkata bahwa jembatan ini mengingatkanku pada gambar-gambar kartu pos dari San Fransisco, dan kamu akan memberitahuku bahwa jembatan ini dibangun oleh American Bridge Company, perusahaan yang sama yang mengkonstruksi Jembatan San Fransisco-Oakland Bay. “Hingga tahun 1974, jembatan ini masih dinamakan Jembatan Salazar atau Ponte Salazar,” kamu akan menambahkan, menunjukkan bahwa kamu sudah melakukan risetmu.

Pada akhirnya, mungkin kamu masih akan terus memilih untuk memotret dan mencatat di notes kecilmu seharian. Sementara aku akan memilih untuk berteduh di sebuah restoran kecil, memotret botol-botol minyak zaitun seraya membaca buku atau menulis surat-surat untukmu (ya, benar, surat-surat itu; surat-surat yang tak pernah kukirimkan).

Kita tak perlu bersama sepanjang waktu. Di akhir hari, pada saatnya, kita toh akan saling mencari dan menemukan: mungkin dalam sepiring salmon yang dibakar, atau di antara helai-helai parutan wortel berwarna oranye segar.

Selepas makan siang, aku berlari-lari menghindari panas matahari dan mendaki menuju Feira da Ladra atau “Thieve’s Market”, pasar loak di Sao Vicente de Fora, dekat Alfama, tak jauh dari the National Pantheon, Gereja Santa Engracia.

Pasar ini buka setiap Selasa dan Sabtu, dari subuh hingga matahari terbenam. Orang-orang menggelar dagangan mereka di atas koper-koper tua, meja-meja kecil, di atas tikar, juga di dalam mobil: asesoris kuno, CD-CD lama, buku-buku antik, baju, sepatu, lukisan, keramik… ah, kamu akan suka pemandangan ini!


Di sinilah aku bertemu anak lelaki kecil itu; yang tengah menemani ibunya berjualan lukisan-lukisan di atas keramik. Ia sendiri tengah melukis. Tangannya mengoleskan kuas di atas lembaran sebuah buku sketsa. Ia tersenyum lebar ketika melihatku berjongkok memilih-milih keramik. Dengan tangannya, ia menunjuk kamera yang tergantung di leherku, menunjuk dirinya sendiri, kemudian menirukan gaya orang memotret.

“Me? Taking pictures of you?” saya bertanya sambil membalas senyum lebarnya.

Ia mengangguk, lalu melihat ke arah kamera dengan percaya diri: matanya besar dan berbinar-binar.

Ia mengingatkanku padamu: seseorang yang meruntuhkan dinding di sekelilingnya, kemudian mengejutkanku dengan segala sesuatu yang tiba-tiba. Seperti pertanyaan-pertanyaanmu yang tak bisa diduga arahnya, seakan kita sudah pernah saling mengenal jauh sebelumnya, seperti teman lama: seakan-akan kita memang bukan dua orang yang baru pertama kali ini bertemu muka. Tetapi begitulah, ada kejutan dan keramahan itu, juga sedikit kepolosan dan ketidakpedulian pada diri anak lelaki itu—yang membuatku teringat padamu.

Tiba-tiba aku rindu saat-saat terakhir kita bersama itu…

Aku mengingatnya seperti aroma gula, mentega, dan kayu manis yang menguar dari Pasteis de Belem (ah, dan kamu juga selalu suka pastries semacam ini)—manis, hangat, lekat.

Angin sore meniup rambutku ketika aku berjalan melewati lift Santa Justa di Chiado, sebelah tenggara Praca Dom Pedro IV Square, yang dibangun arsitek Perancis kelahiran Portugal, Raoul de Mesnier du Ponsard—murid Gustave Eiffel (tak heran kalau struktur bangunan ini mirip dengan Menara Eiffel). Kalau saja kamu ada di sini, kita akan naik ke atas sana, ke restoran Italia di puncaknya, Bella Lisa Elevador—menyesap secangkir kopi pelan-pelan sambil mengabadikan pemandangan indah itu: Rossio Square, kastil, sungai…

dan kamu.

Quisiera que estuvieras aquí,

H.

Quisiera Que Estuvieras Aquí – 4. Lagos

Aku jatuh cinta pada Lagos, kota pantai kecil di mulut Sungai Bensafrim—membentang sepanjang Lautan Atlantik di Algarve, Portugal Selatan.

Dari terminal bis, aku sudah bisa melihat jembatan yang membentang menuju pantai, serta jalan menanjak ke perbukitan, tempat rumah-rumah musim panas dengan dinding-dinding putih dipenuhi wisatawan selama musim liburan. Aku jatuh cinta pada warna-warni terang di jalan-jalan yang kulewati: spanduk, lapak-lapak penjual baju, atap-atap rumah, jemuran, juga langit yang berawan.

Lagos adalah kota yang lucu. Kamu bisa mengitarinya berkali-kali dan selalu menemukan sesuatu yang baru: restoran, toko es krim, penjual sepatu, juga seorang ibu yang membuatkanku tato ‘Om’ di pergelangan kaki dengan henna.

Are you a Buddhist?” tanyanya.
Aku menggeleng, “I just like it,” jawabku sambil tersenyum.
Where are you from?”
“Indonesia,” jawabku.

Ia nampak terkejut, kemudian ia mengisahkan perjalanannya semasa muda dulu: betapa ia dan suaminya sudah mengelilingi pantai-pantai di Indonesia dan menyelam di sana. Bali, Lombok, Bunaken, Flores. “Itu dulu sekali,” katanya. “Indonesia sangat indah. Saya ingin kembali, tetapi sekarang mungkin harga tiket sudah mahal. Saya juga sempat mendengar kerusuhan di sana, semoga Indonesia sudah damai, ya.”

Ini adalah kota yang ingin kutinggali selama beberapa bulan. Aku akan pergi ke pusat kota, berbelanja buah dan sayur, mengunjungi toko buku. Ini adalah kota di mana aku bisa membeli es krim di toko kecil, lalu duduk di taman, di bawah pohon, di depan air mancur, pemandangan laut di sisi kananku; sambil membaca The Wind-Up Bird Chronicle-nya Murakami.

Ini adalah kota di mana penjaga toko yang sempat melihatmu kemarin akan tersenyum, dan pengemudi taksi yang sempat mengantarmu tadi pagi melambai dan berseru padamu dari depan alun-alun. Ini adalah kota di mana orang-orang tidak berbicara bahasa Inggris, tetapi mereka bercakap dengan mata, tangan, juga bibir yang bergerak naik membentuk lengkungan menyenangkan. Ini adalah kota di mana aku bisa pergi ke benteng-benteng tua setelah selesai membaca, duduk di taman yang teduh, memandangi burung-burung laut yang sesekali turun dan menulis di sana sampai jenuh.

Untuk menghilangkan penat setelah mengitari kota seharian, aku bisa berlari ke pantai dengan kaki telanjang, lalu menceburkan diri di air yang dingin.

Menjelang pukul delapan malam, aku akan kembali ke rumah musim panas di atas bukit, memandangi senja yang turun, lalu bercakap denganmu lewat tombol-tombol telepon genggamku.

Quisiera que estuvieras aqui,

H

Quisiera Que Estuvieras Aquí – 3. Jerez

Melangkah keluar dari terminal bis di Jerez, aku merasa seperti berada di dalam komik Lucky Luke. Kota ini seperti mati. Begitu sepi, begitu kering. Tak ada orang di sekitar. Debu-debu beterbangan dibawa angin, terkadang segerumbul semak kering menggelinding di jalanan. Aku menyusuri kota kecil di Cadiz ini untuk mencari kebun-kebun anggur: bodega. Sejak dulu, Jerez telah menjadi pusat industri anggur, dengan ekspor sherry ke seluruh dunia.

Jalan-jalan yang sepi membuatku melompat masuk ke dalam taksi. “Toko-toko yang buka… tempat banyak orang-orang…” dan pengemudi taksi itu mengatakan, “Central!”. Maka meluncurlah kami ke bagian pusat kota. Sepanjang jalan, toko-toko tutup dan berdebu. Di ‘pusat kota’ terdapat sekitar tiga buah restoran yang buka. Maka aku mampir di sana untuk menyantap paella, sambil memperlihatkan peta kepada pelayan di sana. Di mana saja bodega yang buka pada jam-jam ini?

Pelayan itu melingkari bodega-bodega di petaku dengan pena. Maka sehabis makan siang, aku berjalan meninggalkan pusat kota, melewati komidi putar yang cantik dan tak berkelip, juga patung pejuang di alun-alun yang sendirian. Semuanya begitu sepi, begitu hening. Bodega pertama yang terdekat dan dilingkari pena adalah sebuah rumah tua seperti kastil, dengan halaman yang dipenuhi ilalang dan rumput-rumput tinggi. Pintu gerbang besarnya (yang mengingatkanku pada adegan-adegan telenovela), terkunci dan dirantai. Mungkin bodega ini sudah lama bangkrut.

Menyusuri jalan-jalan yang tetap sepi, sandal jepitku putus sebelah. Dan Jerez adalah kota di mana tak peduli berapa banyak uang yang kau punya—meski kau mampu membeli sandal jepit Burberry, kau tidak bisa menemukan toko yang buka dan menjual sandal jepit pada pukul tiga sore. Aku mencoba melangkah dengan telanjang kaki di jalan yang bersih, tetapi panasnya matahari membuatku berlompatan di atas aspal. Akhirnya sandal jepit itu diikat ke kakiku. Begitulah. Jika ada hal-hal di dunia ini yang tak bisa dibeli dengan uang, salah satunya adalah: sandal jepit di Jerez.

Untungnya tak jauh dari sana, ada sebuah bodega dengan gerbang terbuka: Bodega Tio Pepe. Dengan kereta merah lucu, aku dan rombongan wisatawan, juga sepasang kekasih (yang pria punya wajah mirip Yesus), mengitari bodega itu—yang dipenuhi pucuk-pucuk anggur.

Aku ingin menunjukkan pola-pola cahaya ini padamu: permainan dari atap rambatan anggur dan sinar matahari yang meninggalkan lingkaran-lingkaran indah di dinding. Kamu bilang, “Berikan aku foto-foto!”

Jadi aku ingin menunjukkan padamu botol-botol dengan desain yang lucu ini,

satu tong anggur yang khusus dibuat untuk Jose Saramago, salah satu pengarang favoritku,

lapisan jamur yang mengubah jus anggur menjadi minuman beralkohol,

juga tangga dan gelas kecil ini. Bodega Tio Pepe juga terkenal dengan keluarga tikus yang tinggal di salah satu sudut ruang penyimpanan anggur mereka. Tikus-tikus ini dulu menjilati tetesan anggur yang tumpah dari tong. Dan sampai kini, keluarga Happy Mice masih berdiam di Tio Pepe. Sesekali mereka muncul untuk naik tangga dan minum anggur, juga menyantap keju atau biskuit yang ditinggalkan di tengah ruangan.

Cheers!

Quisiera que estuvieras aquí,

H

Quisiera Que Estuvieras Aquí – 2. Sevilla

We build a bridge of hope from memories. It stretches from here to there—connecting you and me, the structure’s as still as our faith.

Ada beberapa jembatan di Sevilla, yang dibangun menjelang La Seville de la Exposición Universal de 1992. Yang paling terkenal di antaranya adalah Quinto Centenario (mereka bilang banyak kecelakaan yang terjadi di sini), juga jembatan Barqueta dan Alamillo—yang dirancang oleh arsitek kenamaan, Santiago Calatrava. Jembatan-jembatan itu mengingatkanku pada jarak di antara kita. Jarak yang terentang di antara dua hati. Mereka memberikan harapan—jembatan-jembatan itu, seperti mengatakan bahwa jarak selalu bisa diseberangi.

Sevilla, good! Good! Dance! Flamenco! Very good! Barcelona, flamenco, not good!” kata Salvador bersemangat. Dengan bahasa Inggris yang patah-patah, Salva—demikian ia biasa dipanggil, memperagakan tarian flamenco di atas trotoar yang ramai sebelum menutup pintu taksinya.

Tetapi aku tidak menonton flamenco selama berada di Sevilla, juga tidak mengunjungi Plaza de Toros yang terkenal itu (kamu tahu, kan, aku tak terlalu suka membayangkan ratusan banteng yang sudah mati di arena di dalam sana itu, dalam sebuah pertarungan yang menurutku tak seimbang). Aku menghabiskan dua hari di Sevilla untuk pergi ke kebun raya,

mencelupkan churros ke dalam cokelat,

lalu berjalan-jalan berkeliling kota ketika semua orang tengah siesta. Rasanya seperti berjalan-jalan di kota mati, tanpa penghuni.



Matahari di bagian selatan Spanyol menyorot panas—merambat pelan dari dataran sepanjang sungai Guadalquivir yang melintasi kota dari Utara ke Selatan.  Kulitku mulai terasa perih. Sunglasses-ku berembun. Tapi tak mengapa. Aku merasa puas karena bisa memotret dengan bebas: rumah-rumah, gang, gereja, jalanan, juga atap-atap tanah liat, tanpa harus menghindari kepala orang-orang yang tiba-tiba saja lewat.

Kemudian, begitu saja, aku menemukan Basilica de la Macarena, yang menyimpan patung The Virgin of Hope (Nuestra Señora de la Esperanza). Orang-orang lokal menyebutnya La Macarena, imaji pelindung para matador dan kesayangan kaum gipsi.

Matador kelahiran Sevilla, Joselito, menghabiskan sebagian besar harta kekayaannya untuk membelikan empat butir batu permata bagi sosok Sang Perawan yang dipahat Pedro Roldán pada abad ke-17 itu. Ketika Joselito tewas di atas ring pada tahun 1920, La Macarena—dengan lima butir air mata yang bergulir di pipinya, didandani sebagai “janda” selama sebulan.

Aku melangkahkan kaki ke dalam gereja yang gelap itu, duduk di sana, dan berdoa. Ya, aku memang bukan Katolik, tetapi bukankah—seperti Hafiz, kita percaya bahwa kita selalu bisa berdoa di mana saja? Karena bukankah Tuhan, seperti cinta, ada di mana-mana, selama kita percaya?

Dan begitulah.

Apa yang mengada di antara kita akan tetap ada, selama kita percaya. Selama hati kita berkelip dalam jeda-jeda terang-gelap, seperti kode Morse yang disampaikan lewat cahaya senter di malam hari:

..   .– .. … ….   -.– — ..-   .– . .-.. .-..

.- -. -..   ..   .– .. … ….   -.– — ..-   .– . .-. .   …. . .-. .

Quisiera que estuvieras aquí,

H.

Quisiera Que Estuvieras Aquí – 1. Barcelona

You hold me tight, but I’m a dancing kite.
The wind catches me at night, tosses me lightly out of sight.
The stretch of the string’s a distance we need to work on.
But just grab me, hurry, before I fell to the ground.

Patagonia Bar di La Rambla 116 mungkin tak terbiasa kedatangan tamu pada pukul 10 pagi. Para pelayan masih sibuk menyapu lantai, juga menata meja dan kursi. Sementara Olivier—si pemilik bar juga masih mengelap gelas-gelas basah dengan wajah mengantuk. Bau alkohol menguar di udara ketika ia berbicara (“Want some cocktails?”). Mungkin ia belum tidur sehabis berpesta-pora semalaman. Di Barcelona, klub-klub baru mulai ramai menjelang pukul dua pagi, dan pesta sesungguhnya baru dimulai pada pukul tiga dini hari.

“Aku suka memandangi orang-orang yang sama sekali asing,” pernah kukatakan padamu hal ini suatu hari. “Dan aku akan bertanya-tanya serta menyusun cerita dalam benakku: siapa mereka, apa yang mereka pikirkan, akan ke mana mereka setelah ini, hal apa yang pernah mereka alami di masa lalu yang membuat mereka menjadi seperti sekarang ini?”

Misalnya lelaki dengan anjingnya itu.

Mungkin hidupnya tak selalu seperti itu. Mungkin dulu ia punya kawan-kawan. Mungkin anjing itu datang kemudian, dan mereka berdua bertahan: ia tak ingin lagi sendirian, anjing itu mencari sedikit makanan dan perlindungan. Kemudian keduanya sadar, bahwa mereka saling membutuhkan. Yang satu membuat yang lain merasa lebih baik. Dalam hidup, terkadang itu cukup. At least, you have a reason to live.

Kamu bilang, kamu mengerti. Kamu pun terkadang mempertanyakan hal yang sama, meski mungkin tak sekerap aku. Satu hal yang tak kukatakan kepadamu: aku juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu, dan mereka-reka cerita tentang kamu dalam benakku. Aku sadar ada begitu banyak hal tentangmu yang tidak kuketahui hingga saat ini.

Seperti bapak tua yang tengah merapikan perhiasan-perhiasan di sebuah kios dekat dermaga, aku pun kemudian merapikan pertanyaan-pertanyaan untukmu dalam kotak-kotak kategori: hidup, cinta, keluarga, sahabat, masa-masa sulit, karir… dan begitu seterusnya, seperti dalam kolom-kolom astrologi.

Sore harinya, dari sebuah kedai kopi di kelokan Double Beates—aku menangkap sosok seorang lelaki yang tengah merokok bersandar di beranda bangunan apartemen yang terletak persis di seberang tempat dudukku.

Lalu aku bertanya-tanya mengapa ia berdiri di sana membelakangi jalanan di bawahnya. Ia justru memilih untuk menghadap ruangan tempat ia sebelumnya berada. Apa yang dilihatnya di dalam sana? Seorang perempuan yang tengah tertidur, barangkali? Televisi yang menyala dan menayangkan siaran berita? Ataukah mungkin ia memang tidak tengah memandangi apa-apa?

Dan kamu, apa yang sedang kamu lakukan saat ini? Apa yang kamu pikirkan ketika kamu bersandar di ambang jendela apartemenmu pada pagi hari, menikmati sinar matahari? Apakah kamu akan memandang ke luar, ke jalanan ramai di bawahmu—atau ke dalam ruangan? Apakah kamu akan bertanya-tanya apa yang sedang kulakukan saat itu, di mana aku, dan apakah aku tengah memikirkanmu seperti kamu yang tengah memikirkanku?

Kamu selalu bilang bahwa hidup ini lucu. Penuh dengan hal-hal sederhana yang tak pernah kamu duga keajaibannya. Aku juga berpikir begitu. Termasuk tentangmu. Tentang hal-hal yang tak pernah melintas di benakku: tentang hari ketika aku sedang tidak mencari apa-apa dan kemudian menemukanmu itu, juga tentang tanda titik dua dan kurung tutup ketika kamu tahu aku akan bertandang ke Camp Nou. Jadi hal-hal sederhana semacam pemandangan rumput  yang menghijau, tiang-tiang gawang bercat putih, serta bangku-bangku stadion berwarna biru-kuning itu juga menjelma lucu di mataku. Karena semuanya membuatku teringat kamu.

Malam harinya, aku menjengukkan kepala ke dalam galeri Hector Fernandez—yang terletak tepat di seberang apartemenku. Seorang perempuan sedang berlatih melukis di sana. Ia tersenyum ketika melihatku, kemudian kembali menunduk menekuni pekerjaannya di atas kanvas, dikelilingi cat minyak dan akrilik (tidakkah kamu suka bau cat semacam ini?).

Aku, aku sudah melukismu berkali-kali dalam benakku (hanya kamu, bukan kita—karena kita rasanya terlalu dini). Dalam benakku ada kamu: sendiri, duduk di sebuah kedai kopi, menunggu. Sesekali kamu akan membersihkan lensa kameramu lalu melihat foto-foto yang sudah kamu ambil hari itu. Kemudian kamu akan merasa sedikit bosan, lalu memandang ke sekelilingmu (juga ke arah pintu).

Kamu akan melihat orang-orang, lalu-lalang, atau duduk berpasangan. Dan kamu akan mulai mempertanyakan siapa mereka, apa yang mereka pikirkan, akan ke mana mereka setelah ini, hal apa yang pernah mereka alami di masa lalu yang membuat mereka menjadi seperti sekarang ini…

Awalnya kamu tak memperhatikan ketika pintu depan berdenting terbuka.

Tetapi beberapa detik kemudian kamu menangkap bayangan itu dari sudut matamu: seseorang berjalan mendekat, bergegas menghampiri mejamu. Kamu mengangkat wajah dan tersenyum ketika melihatku berdiri di hadapanmu. Aku akan membalas senyummu, mencuri satu sesap dari cangkir kopimu, lalu berseru: “Baiklah, sekarang tanyakan padaku semua pertanyaan-pertanyaan itu!”

Quisiera que estuvieras aquí,

H.

Quisiera Que Estuvieras Aquí – Prolog

Dan aku menengadah pada suatu pagi. Kota asing di negeri asing. Tetapi langit selalu membuatku merasa tak terlalu jauh dari rumah. Darimu.

Mereka menyebutnya Iberia, diambil dari kata dalam bahasa Yunani Kuno Ιβηρία (Ibēría). Temuan di dalam gua prasejarah di Altamira dan peninggalan arkeologis di Atapuerca ribuan tahun sebelum Masehi menunjukkan bahwa manusia modern telah menetap di dataran Iberia, di sepanjang sungai Ebro, atau Ibērus. Kini dataran itu membentang dari Punta de Tarifa di Selatan ke Estaca de Bares Point di Utara, mewadahi Spanyol, Portugal, Andorra, juga Gibraltar, dengan Cabo da Roca di Barat dan Cap de Creus di Timur.

Ini adalah sebuah pagi di Barcelona. Dari sebuah apartemen di lantai atas Double Beates, tak jauh dari riuh-rendah La Rambla—jalanan paling terkenal di kota. Kamu tahu, Picasso, Miró, dan Hemingway dulu biasa berjalan-jalan di atasnya, lalu minum-minum di Bar Marsella di Carrer de Sant Pau, 65 atau London Bar di Carrer Nou de la Rambla 34.

Pagi itu, ada pintu yang membuka ke beranda. Menghadap ke gang sempit yang disesaki toko kelontong, galeri seni Hector Fernandez, juga kantor-kantor (aku mengintip seorang perempuan yang sedang duduk di meja kerjanya, dikelilingi buku-buku dan alat tulis).

Ada orang-orang berbicara, berteriak, suara rantai sepeda, juga salak anjing di kejauhan. Aku berdiri di sana, memandangi. Secangkir kopi hangat di tangan, memikirkanmu.

Quisiera que estuvieras aquí,

H.

Yogyakarta, Lagi.

Kali ini diawali pesta kejutan tengah malam buat si pacar yang berulang tahun. Lantas karena saya dan kawan-kawan pemberi kejutan tiba-tiba saja lapar :D , maka pesta dilanjutkan dengan traktiran dimsum di Hotel Quality, Yogyakarta. Nggak jauh dari Bandara Adisucipto. Di sini ternyata restoran dimsum-nya buka 24 jam *amazed*.

Pesanan kami datengnya lama-ajah-to-the-max. Entah karena memang kami yang kalap mesen dimsum sampai nyaris 30 kukusan :D atau karena chef-nya yang lagi tidur pulas harus dibangunin dulu. Yang jelas, kami makan dimsum di situ selama 4 jam. Heh? Iya, 4 jam. Dari jam 1 sampai jam 5 pagi. Berasa sahur -____-

Terus sambil ngantuk-ngantuk saya balik lagi ke penginapan d’Omah di Jl. Parangtritis di Desa Tembi (dasar geek, pas pertama kali ngeliat website-nya yang paling bikin excited malah: wow, webnya W3C compliant!!! LOL). Penginapan ini letaknya beneran di tengah-tengah desa, lho, jadi kalo jalan sedikit ke belakang… blar! Sawah semuanya :D Penginapan berkonsep resort ini juga menyatu banget sama rumah-rumah penduduk sekitar karena modelnya memang model rumah-rumah Jawa. Joglo. Jadi nggak merusak pemandangan desa sekitar yang asri, tapi malah seperti jadi bagian di dalamnya.

Orang-orang desa sekitar nggak tau kalo tempat saya nginep itu namanya d’Omah. Mereka taunya, “Rumah Pak Worwik…” dan yang dimaksud adalah Warwick Purser–eksportir dan desainer kerajinan Indonesia yang punya butik furnitur di Kemang situ. ‘Rumah Pak Worwik’ sendiri ada di tengah-tengah komplek d’Omah, dan Warwick Purser–yang tadinya warga negara Australia tapi sudah pindah jadi WNI, sehari-harinya tinggal di situ.

Kamar di d’Omah gede banget, buat ukuran kamar seharga 500ribu. Kamar mandinya beratap terbuka *ehem*. Terus dari kamar mandi ada pintu kecil yang kalau dibuka… ta-da… langsung kolam renang :D Begitu keluar dari teras ada kolam teratai dan tempat fitness, terus jalan ke belakang dikit ada spa dengan sauna dan jacuzzi, menghadap ke rerumputan dan pepohonan. Mau sauna plus jacuzzi selama satu jam? Ih, cukup bayar 50ribu saja :D

Ada tiga ‘rumah’ di komplek penginapan d’Omah. Satu rumah rata-rata cuma terdiri dari 4 kamar tamu, jadi cukup private. Nginep di sini berasa kayak nginep di rumah nenek, soalnya suasananya kayak di rumah sendiri, dengan mas-mas dan mbak-mbak yang ramah-ramah, nanya-nanya butuh apa; banyak nyamuk nggak, tidurnya enak nggak, butuh mobil buat jalan-jalan nggak :D

Dari d’Omah ke kota Yogyakarta makan waktu sekitar 30 menit. Ya, ngapain lagi ke kota kalau bukan… cari makanan :D

Di hari ulang tahun pacar, setelah makan siang di kantin UGM, terus nonton Despicable Me, akhirnya kami ber-Meditteranean dinner di restoran Italia yang namanya Nanamia Pizzeria, deket Jogja Plaza Hotel. Restorannya kecil mungil, paling muat 20-25 orang, dan meja satu dan meja lain deket-deket, jadi kalo pelayan atau tamu lewat suka agak senggol-senggolan. Kelihatannya restoran ini penuh terus, dan orang-orang rela ngantri sambil duduk-duduk di luaran. Interiornya Mediterania banget, sih, dengan kayu-kayu kasar dan warna oranye, merah dan kuning di dinding.

Denger-denger sih yang punya restoran ini dulunya pacaran sama chef Italia yang jago bikin pasta dan pizza, terus diajarin, deh, dan akhirnya buka restoran sendiri. Rasanya? Ih, enak banget! Pizza-nya pizza Italia yang tipis gitu. Terus saladnya juga segar dan gurih!

Dulu itu taunya restoran ‘bagus’ yang sering didatengin cuma Bale Raos dan Gadjah Wong, ternyata di deket keraton ada yang namanya Royal Garden. Awalnya ke sini karena katanya kepiting soka telur asinnya enak. Nggak taunya, pas udah mesen macem-macem, ternyata semua makanannya enak!!! :D Sampai kailannya aja gurih dan berbumbu walau dimakan tanpa nasi!

Habis makan di sini langsung pindah lagi dong ke Coklat Cafe di Jalan Cik Di Tiro Yogyakarta, janjian ketemu sama temen-temen, juga sama fashion blogger favorit saya Clara Devi :D Baru pertama kali ketemuan! Coklat Cafe menyenangkan. Saya suka suasananya yang terang dan tenang, dengan sofa-sofa empuk, free wi-fi, dan AC-nya dingin (daripada nongkrong di Ohlala Saphir Square mending mendamparkan diri di sini)! Banyak mahasiswa-mahasiswa asing yang nongkrong di sini sambil mengetik di laptopnya. Minumannya juga enak, yang saya coba coffee caramel. Rasa kopinya cukup kental di lidah, dan rasa manis dari karamelnya juga pas. Jadi masih terasa pahit, tapi ada sentuhan manisnya sedikit. Nice!

Eh tapi sempat ada insiden kecil di sini antara si pacar dan pelayan:

Pacar: Mas saya pesan iced lemon tea.

Pelayan: Iced lemon tea-nya dingin atau hangat…

Pacar, saya dan semua orang: … (zziiiing)

Habis itu malamnya masih makan lagi di ayam bakar SukaSuka–yang ayam bakarnya enak banget karena bumbunya meresap sampai ke daging. Tapi nggak sempat motret karena gelap dan lapar sekali, jadi langsung santap :D

Pagi-paginya, setelah ngopi-ngopi dan brunch di pinggir kolam renang d’Omah (bareng teman saya dari TK yang sekarang tinggal di Yogya), jadwal berikutnya adalah menyambangi toko roti Hani’s Bakery (yang namanya sama dengan nama saya, hihihi). Di sini jual roti buatan sendiri, buatan rumah gitu, dan rasanya enak banget. Yang punya toko roti ini mengambil ‘resep’ bikin rotinya dari Belgia, jadi ala Eropa gitu. Yang sempat saya beli roti gandum biji bunga matahari sama rempah. Enaknya! Dan rotinya tahan tiga hari. Teman saya dari TK itu bilang, teman-teman ekspatnya langganan beli roti di sini (foto roti di bawah pinjam dari Flickr! pacar).

Udah gitu makan siang di Mix’n'Match di Karang Gayam (sebelah salon Kimi), yang biasa jadi tempat makan si pacar dan kawan-kawannya. Makanannya enak dan banyak dan murah! Astaga -___- pengen nangis rasanya karena nggak bisa pesan semua! Hihihi. Akhirnya yang dipesan adalah nasi goreng hijau cumi asin (pakai irisan cabe rawit!) dan nasi goreng rendang :D

Dari situ berlanjut nongkrong di wine lounge-nya Sheraton yang menghadap ke Merapi :D Soalnya dari Sheraton ini sudah dekat ke bandara, jadi enak nunggu penerbangan sambil ngadem di sini. Pesanan termasuk capucinno dan screwdriver (campuran jus jeruk dan vodka). Screwdriver di sini rasa vodka-nya tipis banget, nyaris nggak terlacak di lidah, jadi kalo nggak inget bahwa ada vodka-nya, rasanya pingin nenggak habis minumannya langsung karena berasa kayak lagi minum jus jeruk :D

Yak, dan begitulah! Lalu pulang dengan pesawat tapi nggak bisa tidur nyenyak karena turbulence gila-gilaan dan kilat menyambar-nyambar di luar :D Habis ini foto-foto makanan dari jalan-jalan ke mana lagi yaaa ;)

—–

*)makasih buat kawan-kawan CahAndong yang sudah mengasuhku selama di Yogya :D *pelukpeluk*

HongKong in February #5

I just love Kowloon!

Ini adalah bagian dari HongKong yang selalu kubayangkan dalam angan-anganku: lampu-lampu yang berwarna-warni di atas restoran-restoran yang berasap, bangunan yang rapat, orang-orang yang memenuhi jalanan dan menyeberang beramai-ramai.

Kota ini hidup, berdenyut, berkelip, dan pemandangan itu membuatku sedikit merasa hangat di atas bis. Pemandangan pasangan manula Kaukasia di depanku yang saling berangkulan juga menghangatkan; sekaligus membuatku iri :)

Tsim Sha Tsui juga nampak cantik sore itu.

Mengitari Kowloon di tengah suhu udara yang terus menukik tajam; ladies market yang luar biasa padat, jalan-jalan yang dipenuhi lampu-lampu kafe, bar, dan harum dim sum, yang terlintas dalam benakku hanyalah kenyamanan di dalam kamar hotelku ditambah segelas cokelat panas!

Turun dari bis di Avenue of Stars, aku kembali menentang dingin menyusuri jalan yang penuh dengan pemusik jalanan menuju pelabuhan. Sampai sebuah aroma yang membuatku meneteskan air liur menghentikan langkahku di depan sebuah ‘warung’ kecil berbentuk lucu dengan antrian luar biasa panjang:

cumi bakar!

Sambil mencuil cumi bakar, aku setengah berlari menuju pelabuhan; berhenti sebentar di sebuah kios kecil untuk membeli koran (kamu selalu membeli koran ketika kita bepergian ke luar).

Koran HongKong (dan siaran televisi HongKong) baru-baru ini dipenuhi berita mengenai hendak ditebangnya sebuah pohon pinus berusia 71 tahun di dekat sekolah Maryknoll–didasari kekhawatiran bahwa pohon tua itu dapat tumbang dan mencelakai murid-murid atau orang yang lewat. Namun alumni Maryknoll dan para siswa habis-habisan menentang rencana ditebangnya Ghost Pine mereka ini. Personally, I think this news is cute and touching.

Terombang-ambing dingin di atas air ketika senja mulai turun dan langit gelap menebar di atas HongKong, aku memandang keluar dari feri dan berpikir bahwa semua ini akan menjadi ratusan kali lebih indah jika kamu ada di sini.

Karena keindahan itu akan memberikan makna ketika kamu memiliki seseorang untuk membaginya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 99 other followers