Letters to A Young Poet.

Rainer Maria Rilke, 2000 (New World Library Edition) | 128 pages

I’m crazy about letters. To me, letters—especially hand-written ones, sent via snail mail (oh, and I love it even more when the letters are illustrated), are romantic. It levitates me: the sight of an envelope with my name written on it; the dampened stamp; the guessing of the sender; the hissing sound of the papers; the first sentence, the imaginary voice of a “Dear …”

I remembered myself, in such a young age, sending hand-written letters as an ultimate gift to people I care about the most. Later in life, it was also become clear to me that I feel more comfortable of writing stories and prose in the form of indirect letters. Letters are personal. Letters are the words left unspoken.

Letters to A Young Poet is a collection of letters written by Rainer Maria Rilke to Franz Kappuz, a young man trying to choose between a literary career and entering the army. The letters, coming from one of the greatest poet, are of course deep and poetic, spanning over the issues of dealing with self-doubts, making choices, living life, and embracing love. Reading the letters, you would feel as if the letters were directed to you.

The book is a jewel of deep and profound words, the kind of book that you’d like to pass on to your seventeen-year-old kid as they started to enter adulthood.

“Have patience with everything that remains unsolved in your heart. Try to love the questions themselves, like locked rooms and like books written in a foreign language. Do not now look for the answers. They cannot now be given to you because you could not live them. It is a question of experiencing everything. At present you need to live the question. Perhaps you will gradually, without even noticing it, find yourself experiencing the answer, some distant day.” – Rilke.


Oh, hi.

No wonder Einstein was so curious about time. Time, indeed, is a curious matter. The way it flexes still perplex me. Unstoppable, it marks you with invisible scars and unseen beauty. It’s like an old record store where your whole life’s on display. Browsing through the shelves, you pick the one with the prettiest sleeve on summer; the gloomiest during winter. Sometimes I wonder, whether lovers are made for a lifetime or (only) for a lovetime. And memories, are those actually traces of our long-gone past, or silent prayers for the wishful future?

*)written over Owl City’s Hello Seattle. and if you love the illustration I’m using here, please visit Alicia’s blog: http://depapelesytelasi.blogspot.com/ for more beautiful illustrations to provoke your imagination :)


Hilang.

*terjemahan bebas dari MISSING, Stephen Dunn

Ia menghilang, seringkali, bahkan ketika ia sedang berbicara,
meskipun ia bisa menyelesaikan kalimat-kalimat itu,
yang dari mana ia telah melepaskan kaitan dengan dirinya,
menyelesaikannya dengan baik. Dan ketika aku berbicara,
ia cukup tertarik dalam kadar yang patut untuk membuatku
mau terus berbicara. Aneh,
bahwa aku merasa tersanjung dengan semua ini, sepertinya
ia memberikanku semua dari setengah dirinya,
yang terbaik yang bisa ia berikan.

Di tempat tidur, setelah bercinta,
yang selalu memuaskan, aku tahu bahwa ia telah belajar
tata-krama setelah selesai bercinta—perhatian, kelembutan—
dan ia menunjukkannya. Aku yakin
ia tengah merencanakan esok harinya, hati rahasianya
mengecek jam rahasianya.
Aku sudah mengenal lelaki lain semacam ini, tentunya,
tapi ia begitu buruk dalam menyembunyikan kesalahannya,
dan akan mengakuinya ketika ditanya,
semua itu seperti bagian dari keberadaannya, bagian dari
caranya selalu ada di sana untukku,
jika kau tahu apa yang kumaksudkan.

Aku merasa, pada saatnya nanti,
Aku akan bisa menemukan, atau mungkin memberikan hidup
pada setengah bagian dirinya yang hilang. Aku merasa bahwa cinta bisa melakukan ini.
Dan aku bahkan merasakan cinta yang ganjil pada saat ia tak ada,
sebagaimana, menurutku, kebanyakan dari kita akan mengecup
bekas luka yang mengerikan untuk membutikan bahwa kita bisa hidup dengan itu.
Ia punya pekerjaan yang baik. Para lelaki mengaguminya
karena ia membawa seluruh dari setengah dirinya
untuk bekerja setiap hari, membawanya dengan kecerdasan
dan karisma. Itu sudah cukup untuk mereka.
Dan semua teman perempuanku memujanya,
mengatakan betapa beruntungnya aku.

Tapi aku harus mengakui,
tidak mudah mencintai lelaki seperti dia.
Hanya sedikit sekali yang diminta dari dirimu, dan setelah beberapa saat
kau lupa bahwa kau menggunakan setengah dari dirimu,
dan kemudian sesuatu mengingatkanmu
dan perasaan bahwa kau telah merampas sesuatu dari dirimu sendiri memberatimu,
lalu amarah—amarah yang diam, demikian aku menyebutnya.
Yang menjelaskan mengapa, akhirnya, aku pergi.
Tapi aku tak pernah berhenti memikirkan dia.
Dan aku telah melalui amarahku. Jika ia lewat di hadapanku
saat ini, kurasa aku akan merengkuhnya
dan menciumi wangi tubuhnya, dan bertanya apa kabarnya.


Cinta Sungguh.

*) terjemahan bebas dari TRUE LOVE, Sharon Olds

Tengah malam, ketika kita terbangun
setelah bercinta, kita menatap satu sama lain
dalam kedekatan, kita sama-sama tahu apa
yang telah dilakukan yang lain. Terikat pada satu sama lain
seperti pendaki menuruni pegunungan.
terhubung tali pusar di kamar anak-anak,
kita merayapi koridor menuju kamar mandi, aku nyaris
tak bisa berjalan, aku menyeret tubuhku melalui udara
yang kasar dan tanpa bayang-bayang, aku tahu di mana kau berada
dengan mata tertutup, kita terjerat pada satu sama lain
dalam jalinan besar yang tak kelihatan, kelamin kita bisu,
kelelahan, remuk, seluruh tubuh adalah kepuasan—tentunya ini
adalah saat-saat paling terberkahi dalam hidupku,
anak-anak kita tidur di ranjang mereka, setiap suratan takdir
seperti nadi-nadi dari mineral prasejarah yang belum ditemukan. Aku duduk
di toilet pada malam hari, kau berada di suatu sudut di kamar,
aku membuka jendela dan salju sudah turun,
dengan derasnya, bersandar di ambang jendela, aku
menengadah, padanya,
dinding kristal yang dingin, sunyi
dan berkilauan, aku diam-diam memanggilmu
dan kau datang dan menggenggam tanganku dan aku berkata
aku tak bisa melihat apa-apa lagi selain ini. Aku tak bisa melihat apa-apa lagi selain ini.


The Happy Virus

I caught the happy virus last night
When I was out singing beneath the stars.
It is remarkably contagious—
So kiss me.

- Hafiz, The Subject Tonight is Love -


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 939 other followers