Yogyakarta, Lagi.
Posted: July 22, 2010 Filed under: Indonesia, Travel | Tags: clara devi, coklat cafe, d'omah, dimsum, hotel quality, jalan-jalan, kepiting soka, kuliner, makan, mix n match, nanamia, nasi goreng, pizza, royal garden, sheraton wine lounge, Travel, warwick purser, yogya 30 Comments »Kali ini diawali pesta kejutan tengah malam buat si pacar yang berulang tahun. Lantas karena saya dan kawan-kawan pemberi kejutan tiba-tiba saja lapar :D, maka pesta dilanjutkan dengan traktiran dimsum di Hotel Quality, Yogyakarta. Nggak jauh dari Bandara Adisucipto. Di sini ternyata restoran dimsum-nya buka 24 jam *amazed*.
Pesanan kami datengnya lama-ajah-to-the-max. Entah karena memang kami yang kalap mesen dimsum sampai nyaris 30 kukusan :D atau karena chef-nya yang lagi tidur pulas harus dibangunin dulu. Yang jelas, kami makan dimsum di situ selama 4 jam. Heh? Iya, 4 jam. Dari jam 1 sampai jam 5 pagi. Berasa sahur -____-
Terus sambil ngantuk-ngantuk saya balik lagi ke penginapan d’Omah di Jl. Parangtritis di Desa Tembi (dasar geek, pas pertama kali ngeliat website-nya yang paling bikin excited malah: wow, webnya W3C compliant!!! LOL). Penginapan ini letaknya beneran di tengah-tengah desa, lho, jadi kalo jalan sedikit ke belakang… blar! Sawah semuanya :D Penginapan berkonsep resort ini juga menyatu banget sama rumah-rumah penduduk sekitar karena modelnya memang model rumah-rumah Jawa. Joglo. Jadi nggak merusak pemandangan desa sekitar yang asri, tapi malah seperti jadi bagian di dalamnya.
Orang-orang desa sekitar nggak tau kalo tempat saya nginep itu namanya d’Omah. Mereka taunya, “Rumah Pak Worwik…” dan yang dimaksud adalah Warwick Purser–eksportir dan desainer kerajinan Indonesia yang punya butik furnitur di Kemang situ. ‘Rumah Pak Worwik’ sendiri ada di tengah-tengah komplek d’Omah, dan Warwick Purser–yang tadinya warga negara Australia tapi sudah pindah jadi WNI, sehari-harinya tinggal di situ.
Kamar di d’Omah gede banget, buat ukuran kamar seharga 500ribu. Kamar mandinya beratap terbuka *ehem*. Terus dari kamar mandi ada pintu kecil yang kalau dibuka… ta-da… langsung kolam renang :D Begitu keluar dari teras ada kolam teratai dan tempat fitness, terus jalan ke belakang dikit ada spa dengan sauna dan jacuzzi, menghadap ke rerumputan dan pepohonan. Mau sauna plus jacuzzi selama satu jam? Ih, cukup bayar 50ribu saja :D
Ada tiga ‘rumah’ di komplek penginapan d’Omah. Satu rumah rata-rata cuma terdiri dari 4 kamar tamu, jadi cukup private. Nginep di sini berasa kayak nginep di rumah nenek, soalnya suasananya kayak di rumah sendiri, dengan mas-mas dan mbak-mbak yang ramah-ramah, nanya-nanya butuh apa; banyak nyamuk nggak, tidurnya enak nggak, butuh mobil buat jalan-jalan nggak :D
Dari d’Omah ke kota Yogyakarta makan waktu sekitar 30 menit. Ya, ngapain lagi ke kota kalau bukan… cari makanan :D
Di hari ulang tahun pacar, setelah makan siang di kantin UGM, terus nonton Despicable Me, akhirnya kami ber-Meditteranean dinner di restoran Italia yang namanya Nanamia Pizzeria, deket Jogja Plaza Hotel. Restorannya kecil mungil, paling muat 20-25 orang, dan meja satu dan meja lain deket-deket, jadi kalo pelayan atau tamu lewat suka agak senggol-senggolan. Kelihatannya restoran ini penuh terus, dan orang-orang rela ngantri sambil duduk-duduk di luaran. Interiornya Mediterania banget, sih, dengan kayu-kayu kasar dan warna oranye, merah dan kuning di dinding.
Denger-denger sih yang punya restoran ini dulunya pacaran sama chef Italia yang jago bikin pasta dan pizza, terus diajarin, deh, dan akhirnya buka restoran sendiri. Rasanya? Ih, enak banget! Pizza-nya pizza Italia yang tipis gitu. Terus saladnya juga segar dan gurih!
Dulu itu taunya restoran ‘bagus’ yang sering didatengin cuma Bale Raos dan Gadjah Wong, ternyata di deket keraton ada yang namanya Royal Garden. Awalnya ke sini karena katanya kepiting soka telur asinnya enak. Nggak taunya, pas udah mesen macem-macem, ternyata semua makanannya enak!!! :D Sampai kailannya aja gurih dan berbumbu walau dimakan tanpa nasi!
Habis makan di sini langsung pindah lagi dong ke Coklat Cafe di Jalan Cik Di Tiro Yogyakarta, janjian ketemu sama temen-temen, juga sama fashion blogger favorit saya Clara Devi :D Baru pertama kali ketemuan! Coklat Cafe menyenangkan. Saya suka suasananya yang terang dan tenang, dengan sofa-sofa empuk, free wi-fi, dan AC-nya dingin (daripada nongkrong di Ohlala Saphir Square mending mendamparkan diri di sini)! Banyak mahasiswa-mahasiswa asing yang nongkrong di sini sambil mengetik di laptopnya. Minumannya juga enak, yang saya coba coffee caramel. Rasa kopinya cukup kental di lidah, dan rasa manis dari karamelnya juga pas. Jadi masih terasa pahit, tapi ada sentuhan manisnya sedikit. Nice!
Eh tapi sempat ada insiden kecil di sini antara si pacar dan pelayan:
Pacar: Mas saya pesan iced lemon tea.
Pelayan: Iced lemon tea-nya dingin atau hangat…
Pacar, saya dan semua orang: … (zziiiing)
Habis itu malamnya masih makan lagi di ayam bakar SukaSuka–yang ayam bakarnya enak banget karena bumbunya meresap sampai ke daging. Tapi nggak sempat motret karena gelap dan lapar sekali, jadi langsung santap :D
Pagi-paginya, setelah ngopi-ngopi dan brunch di pinggir kolam renang d’Omah (bareng teman saya dari TK yang sekarang tinggal di Yogya), jadwal berikutnya adalah menyambangi toko roti Hani’s Bakery (yang namanya sama dengan nama saya, hihihi). Di sini jual roti buatan sendiri, buatan rumah gitu, dan rasanya enak banget. Yang punya toko roti ini mengambil ‘resep’ bikin rotinya dari Belgia, jadi ala Eropa gitu. Yang sempat saya beli roti gandum biji bunga matahari sama rempah. Enaknya! Dan rotinya tahan tiga hari. Teman saya dari TK itu bilang, teman-teman ekspatnya langganan beli roti di sini (foto roti di bawah pinjam dari Flickr! pacar).
Udah gitu makan siang di Mix’n'Match di Karang Gayam (sebelah salon Kimi), yang biasa jadi tempat makan si pacar dan kawan-kawannya. Makanannya enak dan banyak dan murah! Astaga -___- pengen nangis rasanya karena nggak bisa pesan semua! Hihihi. Akhirnya yang dipesan adalah nasi goreng hijau cumi asin (pakai irisan cabe rawit!) dan nasi goreng rendang :D
Dari situ berlanjut nongkrong di wine lounge-nya Sheraton yang menghadap ke Merapi :D Soalnya dari Sheraton ini sudah dekat ke bandara, jadi enak nunggu penerbangan sambil ngadem di sini. Pesanan termasuk capucinno dan screwdriver (campuran jus jeruk dan vodka). Screwdriver di sini rasa vodka-nya tipis banget, nyaris nggak terlacak di lidah, jadi kalo nggak inget bahwa ada vodka-nya, rasanya pingin nenggak habis minumannya langsung karena berasa kayak lagi minum jus jeruk :D
Yak, dan begitulah! Lalu pulang dengan pesawat tapi nggak bisa tidur nyenyak karena turbulence gila-gilaan dan kilat menyambar-nyambar di luar :D Habis ini foto-foto makanan dari jalan-jalan ke mana lagi yaaa ;)
—–
*)makasih buat kawan-kawan CahAndong yang sudah mengasuhku selama di Yogya :D *pelukpeluk*
:: warung
Posted: October 15, 2008 Filed under: Life | Tags: ekonomi, kuliner, makan, warung 31 Comments »Gara-gara membaca tulisan Ada Apa dengan Krisis?-nya Mas Iman, ketika sampai pada paragraf-paragraf terakhir di mana beliau berhenti untuk menyantap semangkuk mie rebus di depan RS Pertamina, saya jadi teringat tulisan salah seorang kawan saya, yang berjudul Ayo Makan di Warung!
Setelah membuat saya diserang lapar akibat ulasannya mengenai warung-warung kecil yang menjual aneka makanan lezat, kawan saya itu pun menulis:
Kadang-kadang saya berpikir, bahwa inilah real economy kita. Inilah tulang punggung ekonomi kita. Ratusan, jutaan, hingga miliaran warung dan kedai yang tersebar di Indonesia-lah yang sesungguhnya menghidupi dan yang menjalankan ekonomi Indonesia. Ini yang menjadi salah satu elemen kokohnya ekonomi kita. Karena uang yang diperoleh si penjual akan sepenuhnya dibelanjakan lagi di dalam negeri. Perputaran uang terjadi di dalam negeri.
Berbeda jika kita makan di gerai asing. Ada franchise fee yang mahal yang harus dibayarkan setiap bulan oleh pemilik toko di sini. Ada uang kita yang mengalir keluar negeri. Menguntungkan negara maju.
Jika begini, nampaknya harus ada gerakan baru: Ayo makan di warung!
Kemudian saya teringat pada Warung Ciamis di sebuah bangunan kecil yang terletak di depan Plaza Jambu Dua, di Warung Jambu, Bogor–yang biasa menjadi tempat tongkrongan supir-supir angkot dan karyawan pabrik di sekitar. Masakannya enak-enak: mulai dari telur dadar tebal dengan daun bawang dan irisan cabe merah, perkedel kentang, tumis pare, sampai remis… semua dibumbui dengan nyaris sempurna. Rasanya pas. Harganya murah.
Terakhir kali saya datang ke sana, Ibu yang berjualan justru menanyakan apakah saya tahu sekiranya ada orang yang berniat untuk membeli Warung Ciamis ini. Karena si Ibu sudah lelah memasak terus dan hendak pulang ke kampung. Tabungannya dari membuka warung selama ini sudah cukup untuk membiayai anak-anaknya, sehingga ia juga bisa pensiun dan hidup nyaman di kampung…
Sudah lama saya tidak mampir ke sana. Kabarnya warung itu sudah tutup.
Hei, apakah Anda tahu sebuah warung kecil yang menyediakan makanan enak tapi jarang diketahui orang karena letaknya nyempil di sebuah gang kecil, atau berada persis di pinggir kali (seperti warung ayam bakar yang terletak di dekat kantor saya–yang karena lokasi tempatnya berada biasa kami sapa dengan panggilan ‘riverside‘?)
Coba bagikan di sini, agar saya bisa berwisata kuliner ke sana lain kali :)





















