Happy Birthday, Dimas!

Dim, happy (belated) birthday! I am wishing you a great year ahead, full of love and sweet memories to keep! :) And, I know it’s been a while… sudah lama kita nggak menulis untuk satu sama lain seperti dulu. Untuk ulang tahun kamu, let’s do it again, for the sake of the lovely (and awful) memories we have shared along the way.

Oh ya, Dim, ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku (will spill all the details when we meet in Bandung)—dan mulainya waktu aku pergi untuk sebulan itu. Aku pergi tanpa mencari apa-apa (selain sedikit pantai, sedikit laut dan sejumput kata-kata), tetapi aku kembali membawa banyak hal tentang hidup. Tentang cinta. Tentang kesempatan kedua. Sewaktu pergi, hatiku kosong. Sewaktu pulang, hatiku penuh dengan setumpuk surat dan puisi yang ditulis tangan, percakapan demi percakapan yang tidak putus-putus selama lebih dari 7 jam, cokelat champagne dan es krim vanila, perjalanan di tengah hujan, genggaman tangan di pagi hari, puluhan huruf X dan D, juga film-film yang diputar di HBO.

Aku diberikan banyak pelajaran tentang menikmati ‘sekarang’, Dim. Masa lalu sudah tidak bisa diapa-apakan, masa depan belum lagi akan datang. Perjalananku membuatku lebih menghargai yang ada ‘sekarang’. Seorang temanku bertanya, what is the sense of life? Aku bilang, mungkin hidup ini adalah lebih tentang kesempatan-kesempatan yang kita raih, daripada kesempatan-kesempatan yang kita lewatkan. Hidup ini adalah tentang sekarang—tentang hal-hal yang terjadi sementara kita sibuk memikirkan masa depan, begitu kata sebuah kutipan yang entah dikatakan siapa.

Teman yang sama bertanya lagi, what is love? Mungkin sama juga. Cinta adalah apa yang terjadi ketika kita tengah sibuk mempertanyakan arti cinta itu sendiri. Mungkin cinta adalah momen. Ketika kamu tengah bersama seseorang dan berpikir bahwa dengan dia di sampingmu, kamu bisa melakukan apa saja. Ketika kamu pergi jauh dan merindukan dia, dan mengetahui bahwa jika kamu harus pulang, tempat yang akan kamu tuju adalah tempat-tempat di mana dia berada. And I-love-yous, maybe they are not forever ever after. Maybe they are moments. Moments you can never get back.

Jadi hadiah ulang tahunku untukmu, Dim, adalah saat ini. Sekarang. Nikmati saat-saat ini, ya, Dim. Setiap momen. Setiap kesempatan. Setiap jalan yang dibukakan. Setiap pertemuan. Karena di akhir hari, kamu akan mengenang semuanya. Mungkin tak seluruhnya indah. Tapi setidaknya, kamu akan mengenangnya tanpa rasa sesal. Dan itu adalah hal terindah yang bisa kita katakan tentang hidup yang sudah kita jalani selama ini.

Love,
Hanny.


a reply to #DearBangkok (2): a dream to hold on to

>> click here for a reply to #DearBangkok (1): a postcard to remember

Dear Dimas,

Minggu malam di Waterfront Esplanade. Lampu-lampu kota menyala seperti ribuan kunang-kunang. Kita dulu pernah berjalan-jalan di sekitaran sini, berlarian, tertawa, dan menjepretkan kamera.

Jadi, ketika aku menengadah memandangi langit Singapura yang berawan malam itu, aku teringat kamu. Tentang cerita-cerita dan keriaan yang pernah kita bagi di sini. Malam itu angin bertiup kencang, lebih kencang dari biasa. Aku bisa melihat gumpalan awan berarak menjauh, lekas, tinggi di atas kepalaku. Rasanya seperti berada dalam sebuah adegan time-lapse.

I can stare at the sky for hours,” aku bergumam.

I know, right? I just love the sky! Have always loved it since I was a child,” kawanku menyahut. “I’ve always wanted to become an astronaut, but I let go of the dream. In such a young age.”

What happened?” tanyaku.

Kami duduk-duduk di sana sambil mengunyah keripik kentang dan menyesap Chivas dalam gelas-gelas plastik, dikelilingi turis-turis yang asyik memotret di pinggir jembatan. Beberapa dari mereka berpose dengan batok-batok kelapa muda, berciuman dengan latar belakang Singapore River, mendorong kereta bayi dengan satu tangan. Aku jadi teringat ketika kita berpose di Merlion suatu siang, Dim. Mungkin orang-orang juga memandangi kita, tetapi kita terlalu senang saat itu untuk bisa merisaukan apa yang dipikirkan orang-orang.

***

My dad knew that I love the sky so much. So one day, when I was 9, he came home with a bunch of books about the sky and the outer space and galaxies,” kawanku melanjutkan. “Sejak saat itu, aku selalu menengadah ke langit, dan aku melihat pesawat-pesawat luar angkasa, roket, all the space-gadgets I saw in the book. Pada suatu kesempatan, di sekolah, guruku bertanya kepada murid-murid tentang cita-cita mereka ketika mereka besar nanti. Aku jawab, aku ingin jadi astronot. Dan guruku hanya menyeringai dan menjawab: that won’t be possible, you can’t be an astronaut here, not in Malaysia.”

What kind of teacher was that?!!” aku nyaris tidak percaya. “It’s too sad!”

Exactly! I mean, saying such thing to a 9-year-old! Well, that was when I let go of my dream. And you know what? Bulan Oktober 2007, astronot pertama Malaysia, Dr. Sheikh Muszaphar Shukor, bertolak ke luar angkasa dengan roket Russian Soyuz. I couldn’t stop thinking: it could have been me! If only I hold on to my dream! Dan penyesalan terbesarku bukanlah fakta bahwa aku tidak menjadi astronot, tetapi lebih karena aku telah melepaskan mimpiku itu. Who knows, meskipun aku tidak bisa pergi ke luar angkasa, mungkin aku bisa bekerja di NASA, atau semacamnya, doing things that I love, exploring the sky. And most importantly, at least I know I’ve tried.”

Di situlah aku teringat kamu, Dim. Teringat kita.

We need to hold on to our dreams, no matter what.

Kita akan saling melindungi mimpi kita masing-masing dari terpaan sinisme orang-orang yang seringkali mengerdilkan apa-apa yang mereka anggap tidak realistis. Tetapi realita adalah apa yang ingin kita percayai, Dim. Bukan begitu? Kita masih akan menikmati hujan dan bintang dan langit dan awan dan pasir yang basah oleh jilatan ombak, lalu membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Kita masih akan bahagia mengejar mimpi-mimpi kita tak peduli seberapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mencapainya.

We have a lifetime to hold on to our dreams, and most importantly, when things get rough, we have each other to hold on to.

Lain kali, ketika kita duduk-duduk di luar dan memandangi langit yang berawan, kita masih akan tertawa-tawa dan memekik riang melihat bentuk-bentuk lucu itu: bola basket, sapi, kue mangkuk, nenek sihir, kepala kucing—bahkan ketika orang-orang lain yang kebetulan lewat hanya melihat segumpal awan.

Love,

H.


a reply to #DearBangkok (1): a postcard to remember.

Dear Dimas,

Aku baik-baik saja di sini, masih selalu merindukan hujan, seperti biasa. Hanya saja, sekarang aku tidak lagi hanya menunggu sampai rintiknya datang diantarkan mendung. Kini aku menghadirkannya sendiri, tepat di meja kerjaku. Seorang teman baru-baru ini mengirimiku suara hujan. Kemudian, jendelaku itu—yang menghadap ke taman, kusiram dengan air hingga meninggalkan tetes-tetes serupa jejak gerimis. Sebegitu mudahnya! Dan aku larut dalam suasana hujan, bahagia seperti kanak-kanak seharian, meskipun di luar sana cuaca tengah kering-kerontang.

Barangkali aku sudah belajar, Dim. Untuk tidak terlalu banyak (atau terlalu lama) menunggu. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan untuk menghadirkan apa yang kita cintai, kalau saja kita tidak mengkhawatirkan terlalu banyak hal. Tentu saja, adalah perbuatan bodoh memutar suara hujan dan menciprati jendela kerjaku dengan air, kemudian memekik riang: hujan! Tetapi, lalu kenapa?

Baru tadi pagi, di dalam bis, aku melanjutkan membaca The Museum of Innocence-nya Orhan Pamuk. Lalu mataku terpikat pada baris-baris kalimat ini:

“Any intelligent person knows that life is a beautiful thing and that the purpose of life is to be happy. But it seems only idiots are ever happy. How can we explain this?”

Mungkin aku akan lebih memilih menjadi orang bodoh. Yang bisa bahagia untuk hal-hal sederhana. Yang bisa tertawa senang dan memekik riang hanya dengan berlarian telanjang kaki di padang, di bawah bintang-bintang. Aku tahu, kamu juga menyimpan kebahagiaan-kebahagiaan kecil itu setiap hari: ketika mendengarkan orang-orang yang bercakap dalam bahasa Thai, berputar-putar tanpa tujuan di Chatuchak, menggigiti sayap ayam di Som Tam Nua, atau memandangi lampu-lampu yang berpendar dari balik jendela condomu—ada cerita di balik tiap cahayanya.

Aku tahu kita akan baik-baik saja, Dim. Di manapun kita berada, apapun jalan yang kita pilih. Kita akan baik-baik saja, karena kita memiliki satu sama lain.

Aku tak perlu bilang ketika aku sedih. Kamu tahu, dan akan mengirimiku sekotak kue dan boneka lucu untuk menggantikan kamu menemaniku. Kamu tak perlu bilang ketika kamu lelah. Aku tahu, dan aku akan mengirimi hal-hal bodoh lewat email untuk membuatmu tersenyum.  Kalaupun kita tak sedang duduk bersisian; minum kopi di sebuah toko buku kecil—atau berputar-putar mengelilingi Jakarta di akhir pekan, itu bukan masalah. Karena bukankah jarak itu tak lebih dari kendala fisik belaka?

Jadi, jaga diri (dan hati) baik-baik, Dim. Aku akan tetap menemanimu lewat kedai kopi, toko buku kecil, penjaja bunga potong, pucuk-pucuk pagoda, kain warna-warni, juga es kelapa muda di jalan-jalan Bangkok. Dan kamu masih akan selalu menjadi pukul tiga pagi-ku.

———

PS: Waktu melewati toko buku kecil di Lagos ini, tiba-tiba aku teringat kamu.


:: liburan gila di singapura (5. tamat juga cerita ini)

Pukul 8 pagi ketika saya berdiri di depan wastafel, menyikat gigi. Hari Sabtu pagi itu diawali dengan langit sedikit mendung dan sekotak jus jeruk. Sebentar lagi, perjalanan yang padat akan segera dimulai kembali. Setelah berganti pakaian, saya pun naik lift menuju lantai 3, menuju kamar Chika dan Nia.

Seraya menunggu Chika dan Nia bersiap-siap, saya berdiri di depan jendela kamar mereka yang menghadap langsung ke klenteng dan Chinatown. Pemandangan yang menyenangkan!

picture-4

Read the rest of this entry »


:: liburan gila di singapura (4. jadi turis sehari)

Siang itu, kami menuju restoran Palm Beach Seafood di One Fullerton Road, yang terletak persis berdampingan dengan Merlion—patung singa dengan air yang memancar keluar dari mulutnya. Iya, Merlion. Monas-nya Singapura. Ada orang yang bilang, belum sah rasanya ke Singapura jika belum ke Orchard dan belum mengambil foto-foto di Merlion.

Di Palm Beach Seafood, kami sudah ditunggu oleh staff STB, Kendra Wong–yang masih seusia juga dengan kami. Udara siang itu agak mendung, angin bertiup pelan, dan cuacanya memang sangat menyenangkan untuk menyantap seafood di luar. Iya, meja kami terletak di luar, di bawah tenda putih, menghadap langsung ke Singapore River yang bersih.

picture-3

Read the rest of this entry »


:: liburan gila di singapura (3. we’re here!)

Akhirnya, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Changi Airport.

Hal pertama yang kami lakukan begitu keluar dari pesawat adalah foto-foto. Saking asyiknya foto-foto, jaring-jaring tas Dimas tersangkut dengan tali tas seorang perempuan–orang Indonesia juga. Maka mereka saling tarik-menarik sebentar sebelum akhirnya saling mendekatkan diri untuk melepaskan “jeratan” cinta.

Teman Mbak yang tersangkut itu kemudian nyeletuk:

“Jodoh, mungkin!”

Hihihi. Ehem. Sayang momen jeratan cinta ini luput dari jepretan kamera karena kami terlalu sibuk tertawa. Jadi tak mengapa jika cerita yang ini kemudian dianggap hoax.

picture-19

mbak-mbak yang berjaga di konter UOB di Changi Airport tertawa terkikik-kikik melihat Dimas berpose seperti di atas. mereka berusaha menahan tawa, padahal sebetulnya tak apa tertawa. Dimas sudah biasa ditertawakan ketika tengah berpose :D hehehe

Setelah mampir ke money changer untuk menukarkan uang yang tak jadi melayang untuk membayar fiskal, kami pun keluar dari bandara, mencari-cari penjemput kami. Kabarnya, kami akan dijemput oleh tour guide yang disediakan oleh Singapore Tourism Board (STB), namanya Mr. Basir. Setelah celingukan, kami pun terdampar di bandara, dan saya memberikan nomor telepon Mr. Basir kepada Nia–yang kemudian meneleponnya untuk menanyakan di manakah gerangan ia berada. Read the rest of this entry »


:: liburan gila di singapura (1. menang kontes!)

Saya tidak pernah merasa menjadi orang yang beruntung—terutama jika dikaitkan dengan acara undian atau doorprize.

Pengalaman mengajarkan bahwa saya tak perlu takut pulang duluan sebelum acara usai, tanpa harus menunggu doorprize. Toh, saya memang tidak pernah memenangkan sesuatu yang lebih dari sekadar buku catatan, mug, atau kaos. Itu pun frekuensinya sangat jarang dan bisa dihitung dengan jari.

Ya, bayangkan, seumur hidup saya, tak lebih dari 7 kali saya memenangkan doorprize atau undian. Tentu, ini ironis sekali jika dibandingkan dengan Pitra yang kabarnya sering sekali memenangkan doorprize, bahkan di acara yang digagasnya sendiri.

Karena itulah, saya benar-benar terkejut ketika mendapatkan sebuah email dari Singapore Tourism Board, yang menyatakan bahwa saya terpilih menjadi pemenang Wacky Weekend Contest. Hadiahnya? Menghabiskan akhir pekan di Singapura dengan seluruh biaya ditanggung Singapore Tourism Board. Dan gilanya lagi, saya diijinkan untuk mengajak 4 orang teman ikut serta dalam liburan akhir pekan ini! Read the rest of this entry »


POTD: Liburan Gila!

– sneak preview –

Tiga hari kemarin, saya bersama Chika, Nia, Dimas, dan Hawe berlibur ke suatu tempat. Berhubung begitu masuk kantor saya dicecar dengan serentetan pekerjaan, maka saya putuskan untuk memasang satu foto yang sukses membuat saya terpingkal-pingkal baik saat mengambil foto sampai ketika memperlihatkan pada teman-teman. Saya belum sempat menulis postingan tentang liburan kemarin.

Gila! Liburan kemarin benar-benar gila! Foto ini diambil dengan menggunakan kamera BlackBerry-nya Nia, dengan setting-an entahlah. Yang penting kami semua mengambil foto-foto gila selama perjalanan. Laporan perjalanan akan saya tulis setelah saya bisa bernafas lega.

Selamat menikmati foto :D

Ratapan anak tiri, foto diambil di 7-Eleven Chinatown

Ratapan anak tiri, foto diambil di 7-Eleven Chinatown

Disclaimer: isi posting ini dikopipas langsung dari postingan Chika, tapi fotonya beda :)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 925 other followers