The Pinecone Trip to Mount Salak, Bogor

The foot of Mount Salak is only an hour drive away from home, and it provides a wonderful escape from town–or from the now-too-packed Puncak Pass area.

Mount Salak, Bogor

I always find it comforting, to be surrounded by greeneries, enveloped by silence, only to catch the faint sounds of birds, cicadas, and waterfalls. I ran away here one afternoon a few weeks ago with a friend, Martijn. A few slices of yellow watermelons, a pack of grapes, a carton of fruit juice, and Susan Wooldrigde’s Poemcrazy book were resting nicely inside my flowery canvas bag. My head was still spinning with the beautiful words from the book. I remembered one line where Wooldridge quoted Gary Snyde: poetry has an interesting function; it helps people be where they are. And suddenly, my world was bursting with pinecones, the smell of the leaves and the wet soil, the shape of the rocks, the changing colors of the sky…

Pinecone

Screen shot 2013-04-29 at 12.58.40 PM

Mount Salak, Bogor

Martijn Ravesloot

Mount Salak, Bogor

I was sitting on a rock; dipping my toes into the flowing river, while Martijn went underneath the waterfalls. I was thinking about everything that had happened in my life lately: about hellos and farewells, and how curious was it that I kept stumbling upon random people who brought ‘messages’ for me and answered some questions I have pondered upon for a while through simple conversations.

Martin-Waterfalls

Waterflows

Water

Mount Salak, Bogor

I once wrote inside my black travel notebook: what if we think of everyone we meet on our journey as a messenger? What if we don’t bump into them coincidentally? What if they were sent to tell us something, to deliver a message, a lesson… what difference would it make if we stop, say hello, glance a smile, and make that connection? Don’t you think it would make you feel like you are never alone in this world? That every step you make is another chance to learn new life lessons? That everyone of us is, in one and another way, carry ‘The Prophet‘ inside, like that of Gibran’s?

Mount Salak, Bogor

BungaTerompet

Screen shot 2013-04-29 at 1.27.54 PM

Mount Salak, Bogor

Last evening, a girl on Twitter sent me a direct message, and asked, out of the blue, “What should I do when the person I care about decided to disappear?” and I found myself typing away: just pray for them to be alright, and to be happy. Maybe I was talking to myself or hearing myself asking the same question to my other self; this could be more complicated than understanding the flower petals and Fibonacci numbers–but such ‘creepy’ or amazingly coincidental things happened more often in my life lately (oh well, I never believed in coincidences anyway). When I came to think about it, I guess even our prayers (or wishes) define who we are and how we see the world. If you do believe that prayers have such a vast amount of energy that will resonate to the universe and being echoed back to you, you would want to recite beautiful prayers, wouldn’t you?

Mount Salak, Bogor

Screen shot 2013-04-29 at 12.59.22 PM

ViewVilaBotani


Bogor Botanical Garden

Bogor Botanical Garden is one of my favorite places in my hometown. It’s always nice to get lost in the lush canopy of green, daydreaming by the lotus pond, or reading some good books while sitting cross-legged on the grass. Built during the Dutch colonial period by Stamford Raffles, the garden houses more than 15,000 species of trees and plants, covering an area of 80 hectares. I always love to see my City of Rain as a fried egg: the yellow part is the Botanical Garden, and the white part is the town–all around it. I went to the Botanical Garden again with Patricia, Ewan, and Vidi. It was a spontaneous decision, actually.

Screen shot 2013-02-14 at 8.24.22 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.27.12 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.28.31 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.29.25 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.01.02 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.02.00 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.02.43 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.03.36 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.04.23 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.05.15 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.05.40 PM

Screen shot 2013-02-12 at 9.25.24 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.06.28 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.06.58 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.07.19 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.08.07 PM

Bogor Botanical Garden

Ewan

Screen shot 2013-02-14 at 8.09.53 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.10.16 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.10.58 PM

Screen shot 2013-02-14 at 8.21.00 PM

A few days before, I had just decided to let go and move on from something that had tied me down and made me sad. It was difficult, but like my dear friend Ollie said, we’ll get better in overcoming heartbreaks. And she is right. Being in the outdoors was good for me: laughing, walking for hours, taking pictures, telling stories, making jokes, eating out. For the first time after such a bad few weeks, I felt whole again. I felt genuinely happy and free. Suddenly the world turned beautiful once again.

In two days, I’ll be off to India, visiting Mumbai, Delhi, Agra, and Jaipur. Again, I am hitting the road, meeting people, enjoying life, reuniting with old friends, counting my blessings, and loving myself. And when people ask me how-are-you-doing, I can just give them a huge smile and say I-am-doing-great and it’ll feel so damn good because I know that this time, I am telling the truth.

Happy Valentine’s Day, lovelies!

xx,

H.


Fragrance of Love: Catatan dari Kedai Teh Lare Solo.

Semuanya nampak seperti serangkaian “kebetulan”.

Seorang sahabat dari luar kota mengajak saya ‘sowan’ ke sebuah kedai teh mungil di kota tempat saya tinggal. Kedai teh yang belum pernah saya dengar namanya, dan belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Di kedai teh ini, kami berbincang tentang banyak hal, seperti biasa. Dan selagi kami berbincang tentang kamu, pemilik kedai teh itu—seorang lelaki bertubuh kecil dan berwajah ramah, datang menyapa. Ia kemudian menyodorkan sebungkus teh hasil racikannya sendiri, yang disimpannya di dalam sebuah kaleng.

Saya menghirup wangi teh dalam bungkusan itu. Segar; seperti wangi laut dan musim panas.

Lantas, jika kamu percaya bahwa tidak ada hal yang bernama ‘kebetulan’ di dunia ini, maka bukan kebetulan pula jika teh racikan di dalam kaleng itu bernama Fragrance of Love. Campuran dari berbagai jenis teh asli Indonesia dengan chammomile, peppermint, kulit jeruk, dan serai (lemongrass).

***

Nama kedai teh itu Lare Solo.

Kedainya kecil saja, seperti warung-warung teh yang biasa kamu temui di perjalanan menuju Puncak. Letaknya di kawasan Agripark, Taman Kencana, Bogor. Nama pemiliknya Pak Bambang.

“Awalnya saya membuka kedai teh ini karena blog juga. Saya bercerita tentang teh di sana, dan banyak orang yang suka. Jadilah kemudian saya berkenalan dengan kawan-kawan pecinta teh lainnya, dan mendirikan kedai teh ini, kecil-kecil saja,” ujar Pak Bambang sambil menyeduhkan teh untuk kami.

Oh ya, apakah kamu tahu mengenai ‘Jayeng’? Jayeng adalah jabatan non-formal yang diberikan kepada pembuat teh untuk warga. Di setiap hajatan, Jayeng akan menyiapkan puluhan gelas teh untuk para tamu. Mulai dari merebus air, menyeduh teh, menuangkannya ke dalam gelas, memberi gula, dan mengaduknya satu per satu. Jayeng menjadi semacam profesi yang memadukan tradisi, pengabdian, kesungguhan, dan kecintaan akan teh. Ada banyak lagi kisah-kisah menarik seputar teh yang bisa kamu temukan lewat halaman-halaman blog Pak Bambang, atau lewat percakapan santai dengan beliau di Lare Solo.

Dari dapur kecil ini, berbagai macam teh diseduh dan dihidangkan. Ada empat macam teh yang kami coba hari itu: teh tarik, mango sencha, fragrance of love, dan racikan teh peppermint dari Pak Bambang. “Cukup banyak varian teh, bunga-bungaan, dan bahkan peppermint ini masih impor,” Pak Bambang menjelaskan. “Tanah dan cuaca sangat mempengaruhi rasa, jadi walaupun satu varian teh atau bunga-bungaan bisa ditanam di Indonesia, rasa dan aromanya entah mengapa tidak bisa ‘pas’. Misalnya untuk peppermint ini, saya sudah coba daun mint dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi rasa dan aromanya kok beda.”

Menghirup aroma dari bungkusan demi bungkusan teh yang disodorkan Pak Bambang ternyata begitu mengasyikkan. Wangi ‘rumput laut’ yang tercium pada berbagai bungkusan teh hijau pun membuat saya ingin membawanya pulang dan meletakkannya di samping tempat tidur.

Untuk 1 teh tarik dan 3 poci teh yang kami pesan, ditambah dua porsi risoles keju dan daging asap, percaya atau tidak—kami hanya membayar 40ribu rupiah. Surga yang luar biasa bagi para pecinta teh, terutama bagi mereka yang terbiasa membayar 40ribu rupiah hanya untuk sepoci teh di Jakarta. Belum lagi percakapan dengan Pak Bambang, yang nilainya melebihi nominal tersebut. Mulai dari mengenal berbagai jenis teh, upacara minum teh di Jepang, racikan-racikan teh yang pernah dibuat, sampai perjalanan beliau mendirikan kedai teh mungil ini, semuanya menjadi teman minum teh yang sangat menyenangkan.

Suatu hari, saya akan mengajakmu ke sini dan memperkenalkanmu dengan sesuatu yang bukan kebetulan itu. Sepoci Fragrance of Love. Diminum hangat-hangat. Kalau kamu bertanya seperti apa rasanya? Aku akan menjawab bahwa rasanya…

seperti kita.

Care for a cup of tea and me? ;)


Wisata Kuliner Bogor feat. @Didut

Ceritanya adalah menjemput Didut–kawan blogger asal Semarang di stasiun pada suatu akhir pekan yang panjang.

Setelah beberapa hari sebelumnya Didut mengirimi saya lumpia Semarang yang di-vacuum ke kantor, saya gantian menculik Didut untuk berwisata kuliner di Bogor.

Dan inilah perjalanan kuliner kami, dilengkapi dengan sesi foto-foto, tentunya :D

1. RM Sahabat (YunSin): Rumah Makan yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Waktu ada larangan penggunaan bahasa asing untuk nama-nama tempat usaha, YunSin pun berubah menjadi RM Sahabat. Yang dijual di sini adalah bermacam-macam chinese food. Tapi yang paling terkenal adalah mie yamin (mie ayam). Bisa pilih, mau yang asin atau yang manis. Jangan lupa coba juga sambel andalan yang mereka sediakan. Sambelnya warna coklat, mirip sambel kacang.

2. De Koffie Pot: Tempat ngopi-ngopi yang asyik karena luas dan cantik, nggak terlalu ramai seperti Starbucks. Harganya sih nggak jauh beda dari Starbucks. Penuh dengan sofa-sofa merah yang lebar dan cozy, terus sekarang di bagian luar juga ada semacam lesehan al fresco. Jadi kita bisa tidur-tiduran sambil memandangi langit dan pepohonan. Selain kopi, coba juga smoothies-nya. Enak! :)

3. PIA Apple Pie: Mungkin karena Bogor kota hujan. Ketika hujan, dingin-dingin, enaknya makan yang hangat-hangat. Salah satunya pie apel yang biasanya disajikan panas-panas ini. Selain pie apel, sekarang restoran ini juga sudah menjual beragam jenis pie, salah satunya adalah Black Russian Pie, yang terbuat dari campuran cokelat, kahlua dan krim vanila. Di samping itu, ada pula penganan kecil manis dan hangat macam tape atau pisang bakar.


Mau wisata kuliner di Bogor juga? Yuk! Masih ada lagi begitu banyak makanan yang harus dicoba! :D


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,858 other followers