Salahkan Hujan.
Posted: August 6, 2010 Filed under: Life 10 Comments »Karena belakangan ini tiap sore selalu hujan, jadinya saya nggak bisa main sepatu roda atau lompat tali di luar -____- (errr…). Akhirnya, ya harus mengisi sore dengan kegiatan yang bisa dilakukan di dalam kantor, misalnya menyanyi riang, merajut, bikin berondong jagung, dengerin musik, nyoba-nyoba kombinasi resep kopi, cokelat, sirup karamel dan krimer, atau… mewarnai dengan cat air! :D
Jadilah gambar lama Ms. Kapkap (sketsa Nena menjadi peseluncur) sekarang sudah berwarna; dan tidak hitam-putih lagi. Oh ya, satu hal lagi yang bisa dilakukan di sore hari yang berhujan: nge-blog mengenai hal-hal aneh dan nggak penting kayak gini. Dan yaaa, biarkan saja kalau postingan ini nggak memecahkan masalah dunia. Yang penting kan bisa bikin hati riang :D
Apa yang biasanya kamu lakukan di dalam kantor rumah ketika hari hujan?
Pusat bayi-bayi yang hilang dan ditemukan…
Posted: August 3, 2010 Filed under: Life | Tags: foto, random, universal studio 1 Comment »Pas lagi jalan-jalan di Universal Studio Singapore, tiba-tiba saya melihat sesuatu yang membuat langkah terhenti. Baca dua kali. Tiga kali. Lalu ketawa.
Karena tulisannya rapat-rapat gitu kalo dibaca sekilas artinya jadi terkesan lain :D
Di Sini Senang Di Sana Senang
Posted: August 2, 2010 Filed under: Life 11 Comments »Felicia Nugroho, 2010 | 306 halaman
Berhasil dengan menjatuhkan orang lain itu gampang. Berhasil seraya mengangkat dan membagi kesuksesan dengan orang lain itu sulit, tapi terhormat.
Itulah pesan yang saya dapatkan setelah membaca buku DI SINI SENANG DI SANA SENANG yang mengisahkan perjalanan Sukyatno Nugroho–juragan Es Teler 77 yang cabangnya kini sudah tersebar di seluruh Indonesia, bahkan sampai Singapura dan Australia. “Hidup itu untuk dilakoni bukan untuk dikhayalkan,” begitu kata Sukyatno.
Dulu, sewaktu Es Teler 77 sudah membuka cabang di mana-mana, mereka masih beroperasi di restoran kecil di pinggir-pinggir jalan. Tentu saja, mereka juga bersaing dengan penjaja makanan gerobak seperti nasi goreng, sate, dan semacamnya. Sukyatno, yang pernah merasakan menjadi ‘wong cilik’ dan tahu sakitnya digusur dan ditekan pihak yang lebih kuat, enggan berkompetisi dan mematikan usaha pihak kecil. Maka, agar tak berlomba dengan pedagang kecil, mereka pindah masuk ke mall dan plaza. Justru niat baik inilah yang membuat Es Teler 77 menjadi besar dan berkembang pesat. Read the rest of this entry »
Main-main di Kantor Google Singapura
Posted: July 28, 2010 Filed under: Life 22 Comments »Ini momen ajaib saya berikutnya setelah berhasil berfoto sama Matt Mullenweg—founder WordPress, tempat saya nge-blog dan dapet segala macem dari nge-blog! Iyalah, nggak nyangka akhirnya sampai juga di kantor Google yang di Singapura (berikutnya pengen ke markas besarnya Google yang di US, ah, hihihi).
Perjalanan ini hadiah karena sempat jadi salah satu pemenang Young Caring Professional Award 2010 yang diselenggarain sama Caring Colours dari Martha Tillar bareng majalah MIX. Dan waktu itu ikutan karena memang tau hadiahnya termasuk jalan-jalan ke kantor Google yang di Singapura :D
Pokoknya kalau pernah lihat keren dan asyiknya kantor Google di foto, video, atau email berantai, memang bener banget begitu adanya, sih. Yang di Singapura itu seperti miniatur dan versi kecilnya gitu. Tulisan lengkap soal main-main dan ketemuan sama Googleys (sebutan buat karyawan Google) bisa dibaca di blog sebelah.
Judulnya sih seru, seru, seru, dan pengen main-main lagi di sana, soalnya belum puas. Hihihi. Makasih ya, buat Caring Colours dan tim yang udah ngajakin ke sini ^o^
tepat 5 tahun beradadisini…
Posted: July 23, 2010 Filed under: Life 25 Comments »and look how far I’ve traveled! :)
Tentu saja, saya masih suka mellow dan menye-menye di kala hujan, menaburkan kata-kata manis dan meromantisasi suasana hati, atau sekadar bercerita tentang hari-hari yang dilewati. Saya menangis, tertawa, patah hati, jatuh cinta… di sini. Kebodohan-kebodohan saya di masa lalu itu juga biarlah terekam semua hingga detik ini. Sebagai penanda bahwa saya pernah bodoh, saya pernah salah, saya pernah melakukan banyak hal yang saya sesali di kemudian hari, dan kemudian menemukan bahwa saya masih berada di sini. Baik-baik saja.
hold my hand. we’ll walk down the slippery world and come out alright. as long as you’re by my side.
Dan untuk semua yang pernah menyentuh kehidupan saya selama 5 tahun belakangan ini dan sempat menghabiskan waktu-waktu senggang mereka di sini, TERIMA KASIH :)
Yogyakarta, Lagi.
Posted: July 22, 2010 Filed under: Indonesia, Travel | Tags: clara devi, coklat cafe, d'omah, dimsum, hotel quality, jalan-jalan, kepiting soka, kuliner, makan, mix n match, nanamia, nasi goreng, pizza, royal garden, sheraton wine lounge, Travel, warwick purser, yogya 30 Comments »Kali ini diawali pesta kejutan tengah malam buat si pacar yang berulang tahun. Lantas karena saya dan kawan-kawan pemberi kejutan tiba-tiba saja lapar :D, maka pesta dilanjutkan dengan traktiran dimsum di Hotel Quality, Yogyakarta. Nggak jauh dari Bandara Adisucipto. Di sini ternyata restoran dimsum-nya buka 24 jam *amazed*.
Pesanan kami datengnya lama-ajah-to-the-max. Entah karena memang kami yang kalap mesen dimsum sampai nyaris 30 kukusan :D atau karena chef-nya yang lagi tidur pulas harus dibangunin dulu. Yang jelas, kami makan dimsum di situ selama 4 jam. Heh? Iya, 4 jam. Dari jam 1 sampai jam 5 pagi. Berasa sahur -____-
Terus sambil ngantuk-ngantuk saya balik lagi ke penginapan d’Omah di Jl. Parangtritis di Desa Tembi (dasar geek, pas pertama kali ngeliat website-nya yang paling bikin excited malah: wow, webnya W3C compliant!!! LOL). Penginapan ini letaknya beneran di tengah-tengah desa, lho, jadi kalo jalan sedikit ke belakang… blar! Sawah semuanya :D Penginapan berkonsep resort ini juga menyatu banget sama rumah-rumah penduduk sekitar karena modelnya memang model rumah-rumah Jawa. Joglo. Jadi nggak merusak pemandangan desa sekitar yang asri, tapi malah seperti jadi bagian di dalamnya.
Orang-orang desa sekitar nggak tau kalo tempat saya nginep itu namanya d’Omah. Mereka taunya, “Rumah Pak Worwik…” dan yang dimaksud adalah Warwick Purser–eksportir dan desainer kerajinan Indonesia yang punya butik furnitur di Kemang situ. ‘Rumah Pak Worwik’ sendiri ada di tengah-tengah komplek d’Omah, dan Warwick Purser–yang tadinya warga negara Australia tapi sudah pindah jadi WNI, sehari-harinya tinggal di situ.
Kamar di d’Omah gede banget, buat ukuran kamar seharga 500ribu. Kamar mandinya beratap terbuka *ehem*. Terus dari kamar mandi ada pintu kecil yang kalau dibuka… ta-da… langsung kolam renang :D Begitu keluar dari teras ada kolam teratai dan tempat fitness, terus jalan ke belakang dikit ada spa dengan sauna dan jacuzzi, menghadap ke rerumputan dan pepohonan. Mau sauna plus jacuzzi selama satu jam? Ih, cukup bayar 50ribu saja :D
Ada tiga ‘rumah’ di komplek penginapan d’Omah. Satu rumah rata-rata cuma terdiri dari 4 kamar tamu, jadi cukup private. Nginep di sini berasa kayak nginep di rumah nenek, soalnya suasananya kayak di rumah sendiri, dengan mas-mas dan mbak-mbak yang ramah-ramah, nanya-nanya butuh apa; banyak nyamuk nggak, tidurnya enak nggak, butuh mobil buat jalan-jalan nggak :D
Dari d’Omah ke kota Yogyakarta makan waktu sekitar 30 menit. Ya, ngapain lagi ke kota kalau bukan… cari makanan :D
Di hari ulang tahun pacar, setelah makan siang di kantin UGM, terus nonton Despicable Me, akhirnya kami ber-Meditteranean dinner di restoran Italia yang namanya Nanamia Pizzeria, deket Jogja Plaza Hotel. Restorannya kecil mungil, paling muat 20-25 orang, dan meja satu dan meja lain deket-deket, jadi kalo pelayan atau tamu lewat suka agak senggol-senggolan. Kelihatannya restoran ini penuh terus, dan orang-orang rela ngantri sambil duduk-duduk di luaran. Interiornya Mediterania banget, sih, dengan kayu-kayu kasar dan warna oranye, merah dan kuning di dinding.
Denger-denger sih yang punya restoran ini dulunya pacaran sama chef Italia yang jago bikin pasta dan pizza, terus diajarin, deh, dan akhirnya buka restoran sendiri. Rasanya? Ih, enak banget! Pizza-nya pizza Italia yang tipis gitu. Terus saladnya juga segar dan gurih!
Dulu itu taunya restoran ‘bagus’ yang sering didatengin cuma Bale Raos dan Gadjah Wong, ternyata di deket keraton ada yang namanya Royal Garden. Awalnya ke sini karena katanya kepiting soka telur asinnya enak. Nggak taunya, pas udah mesen macem-macem, ternyata semua makanannya enak!!! :D Sampai kailannya aja gurih dan berbumbu walau dimakan tanpa nasi!
Habis makan di sini langsung pindah lagi dong ke Coklat Cafe di Jalan Cik Di Tiro Yogyakarta, janjian ketemu sama temen-temen, juga sama fashion blogger favorit saya Clara Devi :D Baru pertama kali ketemuan! Coklat Cafe menyenangkan. Saya suka suasananya yang terang dan tenang, dengan sofa-sofa empuk, free wi-fi, dan AC-nya dingin (daripada nongkrong di Ohlala Saphir Square mending mendamparkan diri di sini)! Banyak mahasiswa-mahasiswa asing yang nongkrong di sini sambil mengetik di laptopnya. Minumannya juga enak, yang saya coba coffee caramel. Rasa kopinya cukup kental di lidah, dan rasa manis dari karamelnya juga pas. Jadi masih terasa pahit, tapi ada sentuhan manisnya sedikit. Nice!
Eh tapi sempat ada insiden kecil di sini antara si pacar dan pelayan:
Pacar: Mas saya pesan iced lemon tea.
Pelayan: Iced lemon tea-nya dingin atau hangat…
Pacar, saya dan semua orang: … (zziiiing)
Habis itu malamnya masih makan lagi di ayam bakar SukaSuka–yang ayam bakarnya enak banget karena bumbunya meresap sampai ke daging. Tapi nggak sempat motret karena gelap dan lapar sekali, jadi langsung santap :D
Pagi-paginya, setelah ngopi-ngopi dan brunch di pinggir kolam renang d’Omah (bareng teman saya dari TK yang sekarang tinggal di Yogya), jadwal berikutnya adalah menyambangi toko roti Hani’s Bakery (yang namanya sama dengan nama saya, hihihi). Di sini jual roti buatan sendiri, buatan rumah gitu, dan rasanya enak banget. Yang punya toko roti ini mengambil ‘resep’ bikin rotinya dari Belgia, jadi ala Eropa gitu. Yang sempat saya beli roti gandum biji bunga matahari sama rempah. Enaknya! Dan rotinya tahan tiga hari. Teman saya dari TK itu bilang, teman-teman ekspatnya langganan beli roti di sini (foto roti di bawah pinjam dari Flickr! pacar).
Udah gitu makan siang di Mix’n'Match di Karang Gayam (sebelah salon Kimi), yang biasa jadi tempat makan si pacar dan kawan-kawannya. Makanannya enak dan banyak dan murah! Astaga -___- pengen nangis rasanya karena nggak bisa pesan semua! Hihihi. Akhirnya yang dipesan adalah nasi goreng hijau cumi asin (pakai irisan cabe rawit!) dan nasi goreng rendang :D
Dari situ berlanjut nongkrong di wine lounge-nya Sheraton yang menghadap ke Merapi :D Soalnya dari Sheraton ini sudah dekat ke bandara, jadi enak nunggu penerbangan sambil ngadem di sini. Pesanan termasuk capucinno dan screwdriver (campuran jus jeruk dan vodka). Screwdriver di sini rasa vodka-nya tipis banget, nyaris nggak terlacak di lidah, jadi kalo nggak inget bahwa ada vodka-nya, rasanya pingin nenggak habis minumannya langsung karena berasa kayak lagi minum jus jeruk :D
Yak, dan begitulah! Lalu pulang dengan pesawat tapi nggak bisa tidur nyenyak karena turbulence gila-gilaan dan kilat menyambar-nyambar di luar :D Habis ini foto-foto makanan dari jalan-jalan ke mana lagi yaaa ;)
—–
*)makasih buat kawan-kawan CahAndong yang sudah mengasuhku selama di Yogya :D *pelukpeluk*

































