Category Archives: Spain

Quisiera Que Estuvieras Aquí – 3. Jerez

Melangkah keluar dari terminal bis di Jerez, aku merasa seperti berada di dalam komik Lucky Luke. Kota ini seperti mati. Begitu sepi, begitu kering. Tak ada orang di sekitar. Debu-debu beterbangan dibawa angin, terkadang segerumbul semak kering menggelinding di jalanan. Aku menyusuri kota kecil di Cadiz ini untuk mencari kebun-kebun anggur: bodega. Sejak dulu, Jerez telah menjadi pusat industri anggur, dengan ekspor sherry ke seluruh dunia.

Jalan-jalan yang sepi membuatku melompat masuk ke dalam taksi. “Toko-toko yang buka… tempat banyak orang-orang…” dan pengemudi taksi itu mengatakan, “Central!”. Maka meluncurlah kami ke bagian pusat kota. Sepanjang jalan, toko-toko tutup dan berdebu. Di ‘pusat kota’ terdapat sekitar tiga buah restoran yang buka. Maka aku mampir di sana untuk menyantap paella, sambil memperlihatkan peta kepada pelayan di sana. Di mana saja bodega yang buka pada jam-jam ini?

Pelayan itu melingkari bodega-bodega di petaku dengan pena. Maka sehabis makan siang, aku berjalan meninggalkan pusat kota, melewati komidi putar yang cantik dan tak berkelip, juga patung pejuang di alun-alun yang sendirian. Semuanya begitu sepi, begitu hening. Bodega pertama yang terdekat dan dilingkari pena adalah sebuah rumah tua seperti kastil, dengan halaman yang dipenuhi ilalang dan rumput-rumput tinggi. Pintu gerbang besarnya (yang mengingatkanku pada adegan-adegan telenovela), terkunci dan dirantai. Mungkin bodega ini sudah lama bangkrut.

Menyusuri jalan-jalan yang tetap sepi, sandal jepitku putus sebelah. Dan Jerez adalah kota di mana tak peduli berapa banyak uang yang kau punya—meski kau mampu membeli sandal jepit Burberry, kau tidak bisa menemukan toko yang buka dan menjual sandal jepit pada pukul tiga sore. Aku mencoba melangkah dengan telanjang kaki di jalan yang bersih, tetapi panasnya matahari membuatku berlompatan di atas aspal. Akhirnya sandal jepit itu diikat ke kakiku. Begitulah. Jika ada hal-hal di dunia ini yang tak bisa dibeli dengan uang, salah satunya adalah: sandal jepit di Jerez.

Untungnya tak jauh dari sana, ada sebuah bodega dengan gerbang terbuka: Bodega Tio Pepe. Dengan kereta merah lucu, aku dan rombongan wisatawan, juga sepasang kekasih (yang pria punya wajah mirip Yesus), mengitari bodega itu—yang dipenuhi pucuk-pucuk anggur.

Aku ingin menunjukkan pola-pola cahaya ini padamu: permainan dari atap rambatan anggur dan sinar matahari yang meninggalkan lingkaran-lingkaran indah di dinding. Kamu bilang, “Berikan aku foto-foto!”

Jadi aku ingin menunjukkan padamu botol-botol dengan desain yang lucu ini,

satu tong anggur yang khusus dibuat untuk Jose Saramago, salah satu pengarang favoritku,

lapisan jamur yang mengubah jus anggur menjadi minuman beralkohol,

juga tangga dan gelas kecil ini. Bodega Tio Pepe juga terkenal dengan keluarga tikus yang tinggal di salah satu sudut ruang penyimpanan anggur mereka. Tikus-tikus ini dulu menjilati tetesan anggur yang tumpah dari tong. Dan sampai kini, keluarga Happy Mice masih berdiam di Tio Pepe. Sesekali mereka muncul untuk naik tangga dan minum anggur, juga menyantap keju atau biskuit yang ditinggalkan di tengah ruangan.

Cheers!

Quisiera que estuvieras aquí,

H

Tagged , , ,

Quisiera Que Estuvieras Aquí – 1. Barcelona

You hold me tight, but I’m a dancing kite.
The wind catches me at night, tosses me lightly out of sight.
The stretch of the string’s a distance we need to work on.
But just grab me, hurry, before I fell to the ground.

Patagonia Bar di La Rambla 116 mungkin tak terbiasa kedatangan tamu pada pukul 10 pagi. Para pelayan masih sibuk menyapu lantai, juga menata meja dan kursi. Sementara Olivier—si pemilik bar juga masih mengelap gelas-gelas basah dengan wajah mengantuk. Bau alkohol menguar di udara ketika ia berbicara (“Want some cocktails?”). Mungkin ia belum tidur sehabis berpesta-pora semalaman. Di Barcelona, klub-klub baru mulai ramai menjelang pukul dua pagi, dan pesta sesungguhnya baru dimulai pada pukul tiga dini hari.

“Aku suka memandangi orang-orang yang sama sekali asing,” pernah kukatakan padamu hal ini suatu hari. “Dan aku akan bertanya-tanya serta menyusun cerita dalam benakku: siapa mereka, apa yang mereka pikirkan, akan ke mana mereka setelah ini, hal apa yang pernah mereka alami di masa lalu yang membuat mereka menjadi seperti sekarang ini?”

Misalnya lelaki dengan anjingnya itu.

Mungkin hidupnya tak selalu seperti itu. Mungkin dulu ia punya kawan-kawan. Mungkin anjing itu datang kemudian, dan mereka berdua bertahan: ia tak ingin lagi sendirian, anjing itu mencari sedikit makanan dan perlindungan. Kemudian keduanya sadar, bahwa mereka saling membutuhkan. Yang satu membuat yang lain merasa lebih baik. Dalam hidup, terkadang itu cukup. At least, you have a reason to live.

Kamu bilang, kamu mengerti. Kamu pun terkadang mempertanyakan hal yang sama, meski mungkin tak sekerap aku. Satu hal yang tak kukatakan kepadamu: aku juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu, dan mereka-reka cerita tentang kamu dalam benakku. Aku sadar ada begitu banyak hal tentangmu yang tidak kuketahui hingga saat ini.

Seperti bapak tua yang tengah merapikan perhiasan-perhiasan di sebuah kios dekat dermaga, aku pun kemudian merapikan pertanyaan-pertanyaan untukmu dalam kotak-kotak kategori: hidup, cinta, keluarga, sahabat, masa-masa sulit, karir… dan begitu seterusnya, seperti dalam kolom-kolom astrologi.

Sore harinya, dari sebuah kedai kopi di kelokan Double Beates—aku menangkap sosok seorang lelaki yang tengah merokok bersandar di beranda bangunan apartemen yang terletak persis di seberang tempat dudukku.

Lalu aku bertanya-tanya mengapa ia berdiri di sana membelakangi jalanan di bawahnya. Ia justru memilih untuk menghadap ruangan tempat ia sebelumnya berada. Apa yang dilihatnya di dalam sana? Seorang perempuan yang tengah tertidur, barangkali? Televisi yang menyala dan menayangkan siaran berita? Ataukah mungkin ia memang tidak tengah memandangi apa-apa?

Dan kamu, apa yang sedang kamu lakukan saat ini? Apa yang kamu pikirkan ketika kamu bersandar di ambang jendela apartemenmu pada pagi hari, menikmati sinar matahari? Apakah kamu akan memandang ke luar, ke jalanan ramai di bawahmu—atau ke dalam ruangan? Apakah kamu akan bertanya-tanya apa yang sedang kulakukan saat itu, di mana aku, dan apakah aku tengah memikirkanmu seperti kamu yang tengah memikirkanku?

Kamu selalu bilang bahwa hidup ini lucu. Penuh dengan hal-hal sederhana yang tak pernah kamu duga keajaibannya. Aku juga berpikir begitu. Termasuk tentangmu. Tentang hal-hal yang tak pernah melintas di benakku: tentang hari ketika aku sedang tidak mencari apa-apa dan kemudian menemukanmu itu, juga tentang tanda titik dua dan kurung tutup ketika kamu tahu aku akan bertandang ke Camp Nou. Jadi hal-hal sederhana semacam pemandangan rumput  yang menghijau, tiang-tiang gawang bercat putih, serta bangku-bangku stadion berwarna biru-kuning itu juga menjelma lucu di mataku. Karena semuanya membuatku teringat kamu.

Malam harinya, aku menjengukkan kepala ke dalam galeri Hector Fernandez—yang terletak tepat di seberang apartemenku. Seorang perempuan sedang berlatih melukis di sana. Ia tersenyum ketika melihatku, kemudian kembali menunduk menekuni pekerjaannya di atas kanvas, dikelilingi cat minyak dan akrilik (tidakkah kamu suka bau cat semacam ini?).

Aku, aku sudah melukismu berkali-kali dalam benakku (hanya kamu, bukan kita—karena kita rasanya terlalu dini). Dalam benakku ada kamu: sendiri, duduk di sebuah kedai kopi, menunggu. Sesekali kamu akan membersihkan lensa kameramu lalu melihat foto-foto yang sudah kamu ambil hari itu. Kemudian kamu akan merasa sedikit bosan, lalu memandang ke sekelilingmu (juga ke arah pintu).

Kamu akan melihat orang-orang, lalu-lalang, atau duduk berpasangan. Dan kamu akan mulai mempertanyakan siapa mereka, apa yang mereka pikirkan, akan ke mana mereka setelah ini, hal apa yang pernah mereka alami di masa lalu yang membuat mereka menjadi seperti sekarang ini…

Awalnya kamu tak memperhatikan ketika pintu depan berdenting terbuka.

Tetapi beberapa detik kemudian kamu menangkap bayangan itu dari sudut matamu: seseorang berjalan mendekat, bergegas menghampiri mejamu. Kamu mengangkat wajah dan tersenyum ketika melihatku berdiri di hadapanmu. Aku akan membalas senyummu, mencuri satu sesap dari cangkir kopimu, lalu berseru: “Baiklah, sekarang tanyakan padaku semua pertanyaan-pertanyaan itu!”

Quisiera que estuvieras aquí,

H.

Tagged , ,

Quisiera Que Estuvieras Aquí – Prolog

Dan aku menengadah pada suatu pagi. Kota asing di negeri asing. Tetapi langit selalu membuatku merasa tak terlalu jauh dari rumah. Darimu.

Mereka menyebutnya Iberia, diambil dari kata dalam bahasa Yunani Kuno Ιβηρία (Ibēría). Temuan di dalam gua prasejarah di Altamira dan peninggalan arkeologis di Atapuerca ribuan tahun sebelum Masehi menunjukkan bahwa manusia modern telah menetap di dataran Iberia, di sepanjang sungai Ebro, atau Ibērus. Kini dataran itu membentang dari Punta de Tarifa di Selatan ke Estaca de Bares Point di Utara, mewadahi Spanyol, Portugal, Andorra, juga Gibraltar, dengan Cabo da Roca di Barat dan Cap de Creus di Timur.

Ini adalah sebuah pagi di Barcelona. Dari sebuah apartemen di lantai atas Double Beates, tak jauh dari riuh-rendah La Rambla—jalanan paling terkenal di kota. Kamu tahu, Picasso, Miró, dan Hemingway dulu biasa berjalan-jalan di atasnya, lalu minum-minum di Bar Marsella di Carrer de Sant Pau, 65 atau London Bar di Carrer Nou de la Rambla 34.

Pagi itu, ada pintu yang membuka ke beranda. Menghadap ke gang sempit yang disesaki toko kelontong, galeri seni Hector Fernandez, juga kantor-kantor (aku mengintip seorang perempuan yang sedang duduk di meja kerjanya, dikelilingi buku-buku dan alat tulis).

Ada orang-orang berbicara, berteriak, suara rantai sepeda, juga salak anjing di kejauhan. Aku berdiri di sana, memandangi. Secangkir kopi hangat di tangan, memikirkanmu.

Quisiera que estuvieras aquí,

H.

Tagged , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,190 other followers

%d bloggers like this: