The Beauty of Not Knowing.

It’s about not knowing where we should go or what to do next the rest of the day. Just like one drizzly morning when we sat at the Green House, surrounded by porridge bowls, plates of American breakfast, cups of coffee, and glasses of juice. We pushed them all aside before you drew four lines on a piece of paper and wrote down MON TUE WED on the top of each space.

It should be our schedule, despite the fact that you wrote only one place for us to visit each day and left the rest of the columns empty. “Wow. The schedule looks so… zen.” We laughed to that, but in a way, it was actually darn philosophical.

***

It’s about not knowing the highlight of every day because our days got lost beneath Singapore’s cloudy sky and tangled sheets and the constant appearance of little gifts in bubble-wrap envelopes. My memories captured too many small details of your wonderful presence, but I loved the way you touched your chin when you were in deep concentration; typing away by the window overlooking the Esplanade, as well as your delicate way of brewing me a cup of chamomile in the afternoon.

It’s about not knowing why we were here at the first place, as we walked hand in hand through the concrete jungle–not even trying to question things. It was like that rainy day at the Art Science Museum when we sat in the darkness at the 4th floor, watching the mesmerizing “Sound of Ikebana: Four Seasons” by Naoko Tosa. Nobody else was around as we let ourselves drenched in the beauty of haikus and the vibration of kaleidoscopic paint caused by sound waves. We went there to see Eames, but we ended up here. It sounded too us.

***

I still don’t know about a lot of things–apart from more than 400 long letters and the irresistible charm of your battling eyelashes as you recite a poetry from Hafiz; or how safe it feels just to lay my head down on your chest, listening to your heartbeat–as if the whole world has been compressed into this crippling second on earth; and suddenly, not knowing about what or how or why doesn’t really bother me at all.

Screen Shot 2016-04-03 at 7.01.55 PM

:: liburan gila di singapura (5. tamat juga cerita ini)

Pukul 8 pagi ketika saya berdiri di depan wastafel, menyikat gigi. Hari Sabtu pagi itu diawali dengan langit sedikit mendung dan sekotak jus jeruk. Sebentar lagi, perjalanan yang padat akan segera dimulai kembali. Setelah berganti pakaian, saya pun naik lift menuju lantai 3, menuju kamar Chika dan Nia.

Seraya menunggu Chika dan Nia bersiap-siap, saya berdiri di depan jendela kamar mereka yang menghadap langsung ke klenteng dan Chinatown. Pemandangan yang menyenangkan!

picture-4

Continue reading “:: liburan gila di singapura (5. tamat juga cerita ini)”

:: liburan gila di singapura (4. jadi turis sehari)

Siang itu, kami menuju restoran Palm Beach Seafood di One Fullerton Road, yang terletak persis berdampingan dengan Merlion—patung singa dengan air yang memancar keluar dari mulutnya. Iya, Merlion. Monas-nya Singapura. Ada orang yang bilang, belum sah rasanya ke Singapura jika belum ke Orchard dan belum mengambil foto-foto di Merlion.

Di Palm Beach Seafood, kami sudah ditunggu oleh staff STB, Kendra Wong–yang masih seusia juga dengan kami. Udara siang itu agak mendung, angin bertiup pelan, dan cuacanya memang sangat menyenangkan untuk menyantap seafood di luar. Iya, meja kami terletak di luar, di bawah tenda putih, menghadap langsung ke Singapore River yang bersih.

picture-3

Continue reading “:: liburan gila di singapura (4. jadi turis sehari)”

:: liburan gila di singapura (3. we’re here!)

Akhirnya, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Changi Airport.

Hal pertama yang kami lakukan begitu keluar dari pesawat adalah foto-foto. Saking asyiknya foto-foto, jaring-jaring tas Dimas tersangkut dengan tali tas seorang perempuan–orang Indonesia juga. Maka mereka saling tarik-menarik sebentar sebelum akhirnya saling mendekatkan diri untuk melepaskan “jeratan” cinta.

Teman Mbak yang tersangkut itu kemudian nyeletuk:

“Jodoh, mungkin!”

Hihihi. Ehem. Sayang momen jeratan cinta ini luput dari jepretan kamera karena kami terlalu sibuk tertawa. Jadi tak mengapa jika cerita yang ini kemudian dianggap hoax.

picture-19
mbak-mbak yang berjaga di konter UOB di Changi Airport tertawa terkikik-kikik melihat Dimas berpose seperti di atas. mereka berusaha menahan tawa, padahal sebetulnya tak apa tertawa. Dimas sudah biasa ditertawakan ketika tengah berpose 😀 hehehe

Setelah mampir ke money changer untuk menukarkan uang yang tak jadi melayang untuk membayar fiskal, kami pun keluar dari bandara, mencari-cari penjemput kami. Kabarnya, kami akan dijemput oleh tour guide yang disediakan oleh Singapore Tourism Board (STB), namanya Mr. Basir. Setelah celingukan, kami pun terdampar di bandara, dan saya memberikan nomor telepon Mr. Basir kepada Nia–yang kemudian meneleponnya untuk menanyakan di manakah gerangan ia berada. Continue reading “:: liburan gila di singapura (3. we’re here!)”

:: liburan gila di singapura (2. tragedi dan hantu fiskal)

Dengan tiket dan jadwal perjalanan ke Singapura di tangan (walau masih tak percaya karena menang kontes), saya pun melingkari tanggal di kalender. Ya, tanggal 6-8 Februari, saya akan berada di Singapura bersama kawan-kawan saya untuk menikmati liburan gila kami.

picture-12

Pesawat yang kami tumpangi adalah Sriwijaya Air, yang akan berangkat pukul 9:20. Maka kami sudah bersiap-siap untuk bertemu di bandara sekitar pukul 7 pagi. Oh ya, penerbangan Sriwijaya Air dengan rute Jakarta-Singapura ini sudah dibuka pada Desember lalu. Harganya? Kalau tidak salah sekitar US$150-160, sudah termasuk pajak.

Pagi itu, sekitar pukul setengah 7, saya sudah tiba di bandara dan langsung mencari Dimas di KFC. Dimas sudah duduk manis di sana dengan latop terbuka di atas meja. Rupanya Dimas sudah berada di sana sejak pukul setengah 6 pagi, dan sudah menghabiskan sarapan KFC-nya. Tak lama kemudian, Hawe datang dengan wajah sedikit tegang.

Ya, bukannya apa-apa, beberapa hari sebelum keberangkatan, baik Dimas maupun Hawe memang sudah berniat mengurus NPWP alias Nomor Pokok Wajib Pajak. Karena mulai tahun 2009, bagi mereka yang telah memiliki NPWP akan dibebaskan dari kewajiban membayar fiskal jika hendak pergi ke luar negeri. Dulu biaya fiskal ini adalah 1 juta rupiah, namun kini bagi yang tak memiliki NPWP, biayanya memuncak menjadi 2.5 juta rupiah.

Malam sebelumnya, Hawe sudah ketar-ketir, karena mendengar isu bahwa hanya mereka yang sudah mengurus NPWP sebulan sebelum tanggal keberangkatan-lah yang bisa dibebaskan dari kewajiban membayar fiskal. Dimas pun nampaknya sudah mendengar desas-desus serupa, sehingga kedua lelaki itu sempat nampak gundah. Yah, 2.5 juta rupiah memang bukan jumlah yang sedikit. Continue reading “:: liburan gila di singapura (2. tragedi dan hantu fiskal)”