Quisiera Que Estuvieras Aquí – 5. Lisboa

I have found that the hour of separation does not prevail against the joining of our unearthly selves, as I have known with the first meeting that my spirit was your companion for countless ages | Kahlil Gibran

Lisboa seperti kamu: yang mengejutkan pagiku dengan hal-hal lucu. Kota ini, seperti kamu, juga menyimpan ketertarikan pada seni dan sejarah. Kubayangkan kamu (tepatnya: kita) berkeliling kota dengan kamera di tangan, menyusuri jalan-jalan dan monumen bersejarah mulai dari Avenida de Liberdade  sampai Avenida Almirante Reis: mengabadikan arsitektur-arsitektur Romanesque, Gothic, Manueline, Baroque, juga konstruksi-konstruksi Modern dan Post-Modern yang nampak terlalu terang di bawah terik matahari.

Di bawah Jembatan 25 de Abril yang menghubungkan Lisboa dan Almada, aku akan berkata bahwa jembatan ini mengingatkanku pada gambar-gambar kartu pos dari San Fransisco, dan kamu akan memberitahuku bahwa jembatan ini dibangun oleh American Bridge Company, perusahaan yang sama yang mengkonstruksi Jembatan San Fransisco-Oakland Bay. “Hingga tahun 1974, jembatan ini masih dinamakan Jembatan Salazar atau Ponte Salazar,” kamu akan menambahkan, menunjukkan bahwa kamu sudah melakukan risetmu.

Pada akhirnya, mungkin kamu masih akan terus memilih untuk memotret dan mencatat di notes kecilmu seharian. Sementara aku akan memilih untuk berteduh di sebuah restoran kecil, memotret botol-botol minyak zaitun seraya membaca buku atau menulis surat-surat untukmu (ya, benar, surat-surat itu; surat-surat yang tak pernah kukirimkan).

Kita tak perlu bersama sepanjang waktu. Di akhir hari, pada saatnya, kita toh akan saling mencari dan menemukan: mungkin dalam sepiring salmon yang dibakar, atau di antara helai-helai parutan wortel berwarna oranye segar.

Selepas makan siang, aku berlari-lari menghindari panas matahari dan mendaki menuju Feira da Ladra atau “Thieve’s Market”, pasar loak di Sao Vicente de Fora, dekat Alfama, tak jauh dari the National Pantheon, Gereja Santa Engracia.

Pasar ini buka setiap Selasa dan Sabtu, dari subuh hingga matahari terbenam. Orang-orang menggelar dagangan mereka di atas koper-koper tua, meja-meja kecil, di atas tikar, juga di dalam mobil: asesoris kuno, CD-CD lama, buku-buku antik, baju, sepatu, lukisan, keramik… ah, kamu akan suka pemandangan ini!


Di sinilah aku bertemu anak lelaki kecil itu; yang tengah menemani ibunya berjualan lukisan-lukisan di atas keramik. Ia sendiri tengah melukis. Tangannya mengoleskan kuas di atas lembaran sebuah buku sketsa. Ia tersenyum lebar ketika melihatku berjongkok memilih-milih keramik. Dengan tangannya, ia menunjuk kamera yang tergantung di leherku, menunjuk dirinya sendiri, kemudian menirukan gaya orang memotret.

“Me? Taking pictures of you?” saya bertanya sambil membalas senyum lebarnya.

Ia mengangguk, lalu melihat ke arah kamera dengan percaya diri: matanya besar dan berbinar-binar.

Ia mengingatkanku padamu: seseorang yang meruntuhkan dinding di sekelilingnya, kemudian mengejutkanku dengan segala sesuatu yang tiba-tiba. Seperti pertanyaan-pertanyaanmu yang tak bisa diduga arahnya, seakan kita sudah pernah saling mengenal jauh sebelumnya, seperti teman lama: seakan-akan kita memang bukan dua orang yang baru pertama kali ini bertemu muka. Tetapi begitulah, ada kejutan dan keramahan itu, juga sedikit kepolosan dan ketidakpedulian pada diri anak lelaki itu—yang membuatku teringat padamu.

Tiba-tiba aku rindu saat-saat terakhir kita bersama itu…

Aku mengingatnya seperti aroma gula, mentega, dan kayu manis yang menguar dari Pasteis de Belem (ah, dan kamu juga selalu suka pastries semacam ini)—manis, hangat, lekat.

Angin sore meniup rambutku ketika aku berjalan melewati lift Santa Justa di Chiado, sebelah tenggara Praca Dom Pedro IV Square, yang dibangun arsitek Perancis kelahiran Portugal, Raoul de Mesnier du Ponsard—murid Gustave Eiffel (tak heran kalau struktur bangunan ini mirip dengan Menara Eiffel). Kalau saja kamu ada di sini, kita akan naik ke atas sana, ke restoran Italia di puncaknya, Bella Lisa Elevador—menyesap secangkir kopi pelan-pelan sambil mengabadikan pemandangan indah itu: Rossio Square, kastil, sungai…

dan kamu.

Quisiera que estuvieras aquí,

H.


Quisiera Que Estuvieras Aquí – 4. Lagos

Aku jatuh cinta pada Lagos, kota pantai kecil di mulut Sungai Bensafrim—membentang sepanjang Lautan Atlantik di Algarve, Portugal Selatan.

Dari terminal bis, aku sudah bisa melihat jembatan yang membentang menuju pantai, serta jalan menanjak ke perbukitan, tempat rumah-rumah musim panas dengan dinding-dinding putih dipenuhi wisatawan selama musim liburan. Aku jatuh cinta pada warna-warni terang di jalan-jalan yang kulewati: spanduk, lapak-lapak penjual baju, atap-atap rumah, jemuran, juga langit yang berawan.

Lagos adalah kota yang lucu. Kamu bisa mengitarinya berkali-kali dan selalu menemukan sesuatu yang baru: restoran, toko es krim, penjual sepatu, juga seorang ibu yang membuatkanku tato ‘Om’ di pergelangan kaki dengan henna.

Are you a Buddhist?” tanyanya.
Aku menggeleng, “I just like it,” jawabku sambil tersenyum.
Where are you from?”
“Indonesia,” jawabku.

Ia nampak terkejut, kemudian ia mengisahkan perjalanannya semasa muda dulu: betapa ia dan suaminya sudah mengelilingi pantai-pantai di Indonesia dan menyelam di sana. Bali, Lombok, Bunaken, Flores. “Itu dulu sekali,” katanya. “Indonesia sangat indah. Saya ingin kembali, tetapi sekarang mungkin harga tiket sudah mahal. Saya juga sempat mendengar kerusuhan di sana, semoga Indonesia sudah damai, ya.”

Ini adalah kota yang ingin kutinggali selama beberapa bulan. Aku akan pergi ke pusat kota, berbelanja buah dan sayur, mengunjungi toko buku. Ini adalah kota di mana aku bisa membeli es krim di toko kecil, lalu duduk di taman, di bawah pohon, di depan air mancur, pemandangan laut di sisi kananku; sambil membaca The Wind-Up Bird Chronicle-nya Murakami.

Ini adalah kota di mana penjaga toko yang sempat melihatmu kemarin akan tersenyum, dan pengemudi taksi yang sempat mengantarmu tadi pagi melambai dan berseru padamu dari depan alun-alun. Ini adalah kota di mana orang-orang tidak berbicara bahasa Inggris, tetapi mereka bercakap dengan mata, tangan, juga bibir yang bergerak naik membentuk lengkungan menyenangkan. Ini adalah kota di mana aku bisa pergi ke benteng-benteng tua setelah selesai membaca, duduk di taman yang teduh, memandangi burung-burung laut yang sesekali turun dan menulis di sana sampai jenuh.

Untuk menghilangkan penat setelah mengitari kota seharian, aku bisa berlari ke pantai dengan kaki telanjang, lalu menceburkan diri di air yang dingin.

Menjelang pukul delapan malam, aku akan kembali ke rumah musim panas di atas bukit, memandangi senja yang turun, lalu bercakap denganmu lewat tombol-tombol telepon genggamku.

Quisiera que estuvieras aqui,

H


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,666 other followers