Yogyakarta, Lagi.

Kali ini diawali pesta kejutan tengah malam buat si pacar yang berulang tahun. Lantas karena saya dan kawan-kawan pemberi kejutan tiba-tiba saja lapar :D, maka pesta dilanjutkan dengan traktiran dimsum di Hotel Quality, Yogyakarta. Nggak jauh dari Bandara Adisucipto. Di sini ternyata restoran dimsum-nya buka 24 jam *amazed*.

Pesanan kami datengnya lama-ajah-to-the-max. Entah karena memang kami yang kalap mesen dimsum sampai nyaris 30 kukusan :D atau karena chef-nya yang lagi tidur pulas harus dibangunin dulu. Yang jelas, kami makan dimsum di situ selama 4 jam. Heh? Iya, 4 jam. Dari jam 1 sampai jam 5 pagi. Berasa sahur -____-

Terus sambil ngantuk-ngantuk saya balik lagi ke penginapan d’Omah di Jl. Parangtritis di Desa Tembi (dasar geek, pas pertama kali ngeliat website-nya yang paling bikin excited malah: wow, webnya W3C compliant!!! LOL). Penginapan ini letaknya beneran di tengah-tengah desa, lho, jadi kalo jalan sedikit ke belakang… blar! Sawah semuanya :D Penginapan berkonsep resort ini juga menyatu banget sama rumah-rumah penduduk sekitar karena modelnya memang model rumah-rumah Jawa. Joglo. Jadi nggak merusak pemandangan desa sekitar yang asri, tapi malah seperti jadi bagian di dalamnya.

Orang-orang desa sekitar nggak tau kalo tempat saya nginep itu namanya d’Omah. Mereka taunya, “Rumah Pak Worwik…” dan yang dimaksud adalah Warwick Purser–eksportir dan desainer kerajinan Indonesia yang punya butik furnitur di Kemang situ. ‘Rumah Pak Worwik’ sendiri ada di tengah-tengah komplek d’Omah, dan Warwick Purser–yang tadinya warga negara Australia tapi sudah pindah jadi WNI, sehari-harinya tinggal di situ.

Kamar di d’Omah gede banget, buat ukuran kamar seharga 500ribu. Kamar mandinya beratap terbuka *ehem*. Terus dari kamar mandi ada pintu kecil yang kalau dibuka… ta-da… langsung kolam renang :D Begitu keluar dari teras ada kolam teratai dan tempat fitness, terus jalan ke belakang dikit ada spa dengan sauna dan jacuzzi, menghadap ke rerumputan dan pepohonan. Mau sauna plus jacuzzi selama satu jam? Ih, cukup bayar 50ribu saja :D

Ada tiga ‘rumah’ di komplek penginapan d’Omah. Satu rumah rata-rata cuma terdiri dari 4 kamar tamu, jadi cukup private. Nginep di sini berasa kayak nginep di rumah nenek, soalnya suasananya kayak di rumah sendiri, dengan mas-mas dan mbak-mbak yang ramah-ramah, nanya-nanya butuh apa; banyak nyamuk nggak, tidurnya enak nggak, butuh mobil buat jalan-jalan nggak :D

Dari d’Omah ke kota Yogyakarta makan waktu sekitar 30 menit. Ya, ngapain lagi ke kota kalau bukan… cari makanan :D

Di hari ulang tahun pacar, setelah makan siang di kantin UGM, terus nonton Despicable Me, akhirnya kami ber-Meditteranean dinner di restoran Italia yang namanya Nanamia Pizzeria, deket Jogja Plaza Hotel. Restorannya kecil mungil, paling muat 20-25 orang, dan meja satu dan meja lain deket-deket, jadi kalo pelayan atau tamu lewat suka agak senggol-senggolan. Kelihatannya restoran ini penuh terus, dan orang-orang rela ngantri sambil duduk-duduk di luaran. Interiornya Mediterania banget, sih, dengan kayu-kayu kasar dan warna oranye, merah dan kuning di dinding.

Denger-denger sih yang punya restoran ini dulunya pacaran sama chef Italia yang jago bikin pasta dan pizza, terus diajarin, deh, dan akhirnya buka restoran sendiri. Rasanya? Ih, enak banget! Pizza-nya pizza Italia yang tipis gitu. Terus saladnya juga segar dan gurih!

Dulu itu taunya restoran ‘bagus’ yang sering didatengin cuma Bale Raos dan Gadjah Wong, ternyata di deket keraton ada yang namanya Royal Garden. Awalnya ke sini karena katanya kepiting soka telur asinnya enak. Nggak taunya, pas udah mesen macem-macem, ternyata semua makanannya enak!!! :D Sampai kailannya aja gurih dan berbumbu walau dimakan tanpa nasi!

Habis makan di sini langsung pindah lagi dong ke Coklat Cafe di Jalan Cik Di Tiro Yogyakarta, janjian ketemu sama temen-temen, juga sama fashion blogger favorit saya Clara Devi :D Baru pertama kali ketemuan! Coklat Cafe menyenangkan. Saya suka suasananya yang terang dan tenang, dengan sofa-sofa empuk, free wi-fi, dan AC-nya dingin (daripada nongkrong di Ohlala Saphir Square mending mendamparkan diri di sini)! Banyak mahasiswa-mahasiswa asing yang nongkrong di sini sambil mengetik di laptopnya. Minumannya juga enak, yang saya coba coffee caramel. Rasa kopinya cukup kental di lidah, dan rasa manis dari karamelnya juga pas. Jadi masih terasa pahit, tapi ada sentuhan manisnya sedikit. Nice!

Eh tapi sempat ada insiden kecil di sini antara si pacar dan pelayan:

Pacar: Mas saya pesan iced lemon tea.

Pelayan: Iced lemon tea-nya dingin atau hangat…

Pacar, saya dan semua orang: … (zziiiing)

Habis itu malamnya masih makan lagi di ayam bakar SukaSuka–yang ayam bakarnya enak banget karena bumbunya meresap sampai ke daging. Tapi nggak sempat motret karena gelap dan lapar sekali, jadi langsung santap :D

Pagi-paginya, setelah ngopi-ngopi dan brunch di pinggir kolam renang d’Omah (bareng teman saya dari TK yang sekarang tinggal di Yogya), jadwal berikutnya adalah menyambangi toko roti Hani’s Bakery (yang namanya sama dengan nama saya, hihihi). Di sini jual roti buatan sendiri, buatan rumah gitu, dan rasanya enak banget. Yang punya toko roti ini mengambil ‘resep’ bikin rotinya dari Belgia, jadi ala Eropa gitu. Yang sempat saya beli roti gandum biji bunga matahari sama rempah. Enaknya! Dan rotinya tahan tiga hari. Teman saya dari TK itu bilang, teman-teman ekspatnya langganan beli roti di sini (foto roti di bawah pinjam dari Flickr! pacar).

Udah gitu makan siang di Mix’n'Match di Karang Gayam (sebelah salon Kimi), yang biasa jadi tempat makan si pacar dan kawan-kawannya. Makanannya enak dan banyak dan murah! Astaga -___- pengen nangis rasanya karena nggak bisa pesan semua! Hihihi. Akhirnya yang dipesan adalah nasi goreng hijau cumi asin (pakai irisan cabe rawit!) dan nasi goreng rendang :D

Dari situ berlanjut nongkrong di wine lounge-nya Sheraton yang menghadap ke Merapi :D Soalnya dari Sheraton ini sudah dekat ke bandara, jadi enak nunggu penerbangan sambil ngadem di sini. Pesanan termasuk capucinno dan screwdriver (campuran jus jeruk dan vodka). Screwdriver di sini rasa vodka-nya tipis banget, nyaris nggak terlacak di lidah, jadi kalo nggak inget bahwa ada vodka-nya, rasanya pingin nenggak habis minumannya langsung karena berasa kayak lagi minum jus jeruk :D

Yak, dan begitulah! Lalu pulang dengan pesawat tapi nggak bisa tidur nyenyak karena turbulence gila-gilaan dan kilat menyambar-nyambar di luar :D Habis ini foto-foto makanan dari jalan-jalan ke mana lagi yaaa ;)

—–

*)makasih buat kawan-kawan CahAndong yang sudah mengasuhku selama di Yogya :D *pelukpeluk*

Makan-makan di Jogja

Berhubung ini akhir minggu, dan siapa tahu ada yang mau jalan-jalan; kalau kamu akan bertandang ke Yogyakarta akhir minggu ini, saya akan menyarankan kamu mencoba dua makanan berikut ini:

1. GUDEG MERCON

Perjuangan mendapatkan gudeg mercon yang katanya enak dan luar biasa pedas itu memang luar biasa. Warung gudeg ini baru buka sekitar pukul setengah dua pagi. Ya, benar. Pukul setengah dua pagi.

Dijajakan oleh seorang ibu dari balik meja penuh baskom-baskom, kita bisa memilih mau diisi dengan apa saja nasi gudeg kita: sate, suwiran ayam, telur… semua ada. Dan tentunya, mau dikasih mercon atau tidak, alias bumbu campuran tempe dan cabe dan kerecek yang PEDAS nian.

Bikin keringetan, pastinya, tapi pasti jadi pengalaman seru buat pecinta masakan pedas! (Mohon dimaklumi kalau fotonya jelek, kombinasi lapar dan ngantuk sangat memang nggak mendukung, hehehe)

2. NASI LANGGI BU CHANDRA

Kalau untuk yang satu ini, sambangilah toko kecil Bu Chandra pagi-pagi, sekitar pukul tujuh hingga setengah delapan. Kita juga bisa memilih isi nasi langgi: telur, empal, ayam… wah, macam-macam!

Nasi langginya enak banget, rasanya gurih, dan semua lauk-pauknya empuk. Sambelnya pas pedas, manis dan asin. Terus ada juga keripik cabe-nya yang bikin rasa nasi langgi ini makin sulit dilupakan :D

*nulisnya aja bikin pingin balik lagi dan pesan gudeg mercon dan nasi langgi, yang memperkenalkan saya pada kedua makanan ini tolong tanggung jawab!* T_T

Selamat jalan-jalan dan makan-makan! :D

HongKong in February #5

I just love Kowloon!

Ini adalah bagian dari HongKong yang selalu kubayangkan dalam angan-anganku: lampu-lampu yang berwarna-warni di atas restoran-restoran yang berasap, bangunan yang rapat, orang-orang yang memenuhi jalanan dan menyeberang beramai-ramai.

Kota ini hidup, berdenyut, berkelip, dan pemandangan itu membuatku sedikit merasa hangat di atas bis. Pemandangan pasangan manula Kaukasia di depanku yang saling berangkulan juga menghangatkan; sekaligus membuatku iri :)

Tsim Sha Tsui juga nampak cantik sore itu.

Mengitari Kowloon di tengah suhu udara yang terus menukik tajam; ladies market yang luar biasa padat, jalan-jalan yang dipenuhi lampu-lampu kafe, bar, dan harum dim sum, yang terlintas dalam benakku hanyalah kenyamanan di dalam kamar hotelku ditambah segelas cokelat panas!

Turun dari bis di Avenue of Stars, aku kembali menentang dingin menyusuri jalan yang penuh dengan pemusik jalanan menuju pelabuhan. Sampai sebuah aroma yang membuatku meneteskan air liur menghentikan langkahku di depan sebuah ‘warung’ kecil berbentuk lucu dengan antrian luar biasa panjang:

cumi bakar!

Sambil mencuil cumi bakar, aku setengah berlari menuju pelabuhan; berhenti sebentar di sebuah kios kecil untuk membeli koran (kamu selalu membeli koran ketika kita bepergian ke luar).

Koran HongKong (dan siaran televisi HongKong) baru-baru ini dipenuhi berita mengenai hendak ditebangnya sebuah pohon pinus berusia 71 tahun di dekat sekolah Maryknoll–didasari kekhawatiran bahwa pohon tua itu dapat tumbang dan mencelakai murid-murid atau orang yang lewat. Namun alumni Maryknoll dan para siswa habis-habisan menentang rencana ditebangnya Ghost Pine mereka ini. Personally, I think this news is cute and touching.

Terombang-ambing dingin di atas air ketika senja mulai turun dan langit gelap menebar di atas HongKong, aku memandang keluar dari feri dan berpikir bahwa semua ini akan menjadi ratusan kali lebih indah jika kamu ada di sini.

Karena keindahan itu akan memberikan makna ketika kamu memiliki seseorang untuk membaginya.

HongKong in February #4

Meninggalkan The Peak di siang hari yang masih kelabu dan berkabut, aku kembali pada udara dingin dan angin yang bertiup semakin kencang di Central Pier. Star Ferry Terminus–menyeberang menuju Kowloon untuk menjelajahi Tsim Sha Tsui.

Kurapatkan overcoat-ku, tapi dingin itu masih enggan pergi. I want you here.

Merapat di pelabuhan; aku melompat turun dan menyusuri Avenue of Stars (dan aku hanya mengenal Jackie Chan dan Andy Lau di antara barisan nama-nama itu).

Aku lebih tertarik pada pemandangan kota HongKong yang menakjubkan dari sini. Aku ingin berdiri di sana, merapat pada pagar pembatas itu, bersamamu–menentang dingin yang semakin menusuk dan membuat telingaku nyaris kebas.

Dan tahukah kamu? Yang paling kuinginkan saat ini adalah berbagi pemandangan ini denganmu. Dan pemandangan lainnya yang masih berupa ‘akan’. Sebagaimana sore itu, di sebuah kota, aku memotret senja yang cantik dari jendela kamar hotelku dan membaginya denganmu.

Karena semua keindahan selalu mengingatkanku akan kamu.

HongKong in February #3

Ada pagi yang dingin dan detak langkah kakiku di atas aspal, menyusuri Central Pier yang masih sepi dan tersaput kabut. Segelas caramel machiato terpaksa menjadi substitusi jemarimu untuk menghangatkan telapak tanganku.

Tentu, rasanya tidak sama. Kamu tidak akan pernah bisa terganti oleh segelas kopi. Karena jemarimu bukan hanya melingkupi jemariku, tetapi juga hatiku, dan semua kenangan tentang perjalanan kita: yang telah lalu, dan yang akan datang.

Jadi terkutuklah aku, yang berjalan pelan-pelan dengan gigi gemeletuk kedinginan, menatap punggung pasangan-pasangan yang saling berangkulan dan berciuman diam-diam seraya menaiki trem menuju The Peak, mendengarkan lagu-lagumu yang berputar dari iPod-ku.

Nada-nada itu malah semakin membuatku kangen kamu.

Turun dari trem menuju The Peak, dan terdampar di Museum Lilin Madame Tussaud juga tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Aku merasa jadi satu-satunya orang yang datang ke situ sendirian. Jadi aku mendahului rombongan orang-orang dan berlari ke level lainnya yang masih cenderung sepi. Satu-satunya penghiburanku adalah mengetahui bahwa aku harus memotret semua ini untuk kuperlihatkan padamu ketika kita bertemu nanti.

Lalu kabut turun siang itu. Di The Pearl on The Peak. Semuanya putih. Aku setengah berharap di dalam kabut itu, kamu akan mengejutkanku, memelukku dari belakang, lalu aku akan memekik, memelukmu erat, dan berlari bersamamu menuju pagar pembatas dan berteriak pada dunia yang terbentang luas di bawah kita.

Tetapi ketika kuulurkan tanganku, jemariku hanya menepis selapis udara tipis.

HongKong in February #2

Merah itu menghangatkan.

Menceriakan pukul delapan pagi di HongKong yang masih berkabut dan bersabut ungu-kelabu. Mengusir dingin pada suhu udara yang nampaknya jatuh ke titik lebih rendah selagi aku melewati Victoria Park menuju The Excelsior Hotel di Causeway Bay.

Membuat kamu terasa dekat.

Selepas makan siang, aku akan menyeberang beberapa langkah melewati pintu belakang hotel dan mendamparkan diri di Starbucks.

Makes me feel at home. Secangkir kopi, peta HongKong di atas meja, dan wi-fi gratisan untuk meraihmu. Dunia kecil yang termampatkan dalam layar telepon genggam berukuran 2.4 inci.

I wanna fall from the stars / straight into your arms / I, I feel you / I hope you comprehend / – Simply Red

Malam harinya, menembus udara dingin dan sosok-sosok modis di trotoar, aku akan berlari-lari kecil menuju 7-11, mengisi ulang pulsa telepon genggamku, membeli mie instan dan susu kotak, cemilan, dan puding tofu yang kamu suka itu.

Lalu memilih jalan memutar memasuki gang-gang sempit yang dipadati penjual mie rebus, obat-obatan herbal Cina dari akar-akaran kering, serta dendeng babi dan cumi. Stand penjaja koran. Toko Ramayana.

Deretan restoran yang mengepulkan asap, dengan bebek-bebek tergantung di jendela; dan pasangan muda-mudi dengan mata-mata mereka yang tertawa dari balik mangkuk dan sumpit.

Lalu aku akan memilih untuk kembali pada kehangatan tempat tidurku di Empire. Bicara denganmu. Dan menghabiskan malam itu memimpikan kamu.

HongKong in February #1

Hong Kong (香港). Tanpa kamu.

Koper merahku nampak mencolok di atas MTR Airport Express yang nyaris kosong itu. Aku menempelkan hidung di jendela yang dingin, memandang ke luar dengan sedikit bosan, mengabaikan peta yang tergeletak di atas pangkuan. Sampai sebuah pemandangan yang agak kekanak-kanakan membuat mataku berbinar.

Rasanya aku ingin menjawilmu dan berteriak “Lihat! Lihat!” (dengan suara yang akan membuat telingamu pekak) ketika melewati MTR menuju Disneyland Hong Kong di Lantau dengan jendela-jendelanya yang berbentuk kepala Mickey Mouse.

Tapi nggak ada kamu di sampingku.

Bersama ratusan komuter yang tumpah-ruah dari pintu-pintu geser otomatis dan membanjiri Central Station di City, kusentuhkan kartu Octopus-ku di pintu detektor, kemudian melangkah pada 14oC.

Kurapatkan overcoatku dalam antrian di balik palang-palang besi. Tujuan berikutnya, Wing Hing Street di dekat Tin Hau station. Betapa keberadaan kamu di sini akan sedikit menghangatkan telapak tanganku.

(Dan hatiku).

The Lemongrass Journey (Epilogue)

I don’t need a lot of things
I can get by with nothing
Of all the blessings life can bring
I’ve always needed something
But I’ve got all I want
When it comes to loving you
You’re my only reason
You’re my only truth

(I Need You, LeAnn Rimes)

Jika kamu ingin mengenal seseorang dengan baik, bepergianlah dengannya.

Saya lupa di mana saya mendengar perkataan ini, tetapi saya rasa setiap perjalanan–terutama ke negeri-negeri yang sama sekali asing, memang memiliki keajaibannya sendiri-sendiri.

Saya ingat bahwa siang itu, sepulangnya dari Hanoi, kita tiba di Ho Chi Minh City dan menelusuri pasar Ben Thanh untuk mencari suvenir, kopi Vietnam, serta mencicipi pho bo vien,

(atau semacam mie bakso) di tengah pasar yang terlihat menggoda selera. Kemudian kita berpisah sebentar, kamu mengitari pasar untuk membeli buah longan dan minuman, sementara saya duduk memesan makanan; atau saat-saat kita memindai toko demi toko untuk mencari buah tangan dan memasukkan semuanya ke dalam satu tas hitam besar…

Kemudian, bagaimana dengan saat-saat ketika kita menghindari sepeda motor yang seperti tidak ada hentinya membanjiri jalan raya? (Jangan berlari, berjalanlah pelan-pelan, selangkah demi selangkah, agar para pengendara motor dapat mengantisipasi gerakan kita dan menghindar ketika kita menyeberang jalan).

We made a great team, don’t you think?

Dan dunia ini masih menyisakan banyak tempat untuk kita jelajahi, makanan-makanan lezat untuk kita abadikan dari balik lensa kamera, serta petualangan lain yang akan memancing tawa kita kembali ketika diceritakan bertahun-tahun kemudian.

So, if I gave you my hand to hold, would you walk with me to welcome our future journeys?

The Lemongrass Journey (6): Hanoi

Hanoi di malam hari begitu menyenangkan. Trotoar sepanjang Old Quarter yang penuh dengan muda-mudi yang modis, lampu-lampu yang berkelap-kelip dan berpendar-pendar, bangunan-bangunan bergaya kolonial, suara musik dan percakapan orang-orang…

semuanya membuat kota ini begitu hidup dan hangat; mengingatkan kita pada kota Bandung.

Dari penginapan kita di Especen, kita berjalan kaki beberapa menit saja menuju Old Quarter yang ramai dan bermandikan cahaya lampu.

Dari St. Joseph Cathedral, kita memutari taman di seputar Hoan Kiem Lake menuju Thang Long Water Puppet Theater.

Water Puppet sendiri merupakan kesenian tradisional Vietnam; seperti wayang golek, sebenarnya, yang dimainkan di atas air. ‘Wayang’ digerakkan dengan bambu-bambu panjang dari dalam air–sehingga para pemain Water Puppet ini juga memainkan ‘wayang’ mereka dari dalam air, terendam hingga setengah badan.

Keluar dari pertunjukan Water Puppet ini, kita pun mengikuti indera penciuman kita dan perut yang mulai keroncongan, kemudian mendamparkan diri di semacam angkringan yang rupanya cukup mudah ditemukan di sepanjang trotoar di Old Quarter Hanoi. Alih-alih lesehan di atas tikar, kita duduk di bangku-bangku plastik pendek yang dipasangkan dengan meja-meja mungil.

Menu bakar-bakaran tersedia di atas sebuah meja, dan kita bebas memilih lauk-pauk apa yang hendak dibakar: mulai dari sosis, seafood, daging, enoki, hingga salmon…

Semuanya disajikan panas-panas dengan baguette yang dibakar dengan madu dan sambal yang sangat pedas dan sedikit manis.

Malam itu berlanjut dengan penelusuran kota Hanoi di malam hari. Kita menyusuri Hoan Kiem Lake dan taman yang mengelilinginya di bawah cahaya rembulan.

Taman ini begitu menyenangkan, dengan jalan setapak yang lapang, pohon-pohon yang rindang, bangku-bangku taman yang nyaman dan digunakan muda-mudi Hanoi untuk berpacaran — sementara para manula berolahraga ringan di sekitar mereka.

Seperti layaknya tempat-tempat lain di mana muda-mudi berpacaran, di taman sekitaran Hoan Kiem Lake terdapat sebuah gerbang kecil yang cantik — dan ketika kita lewat di bawahnya, kita bisa melihat nama-nama pasangan muda-mudi dan ikrar cinta mereka tertulis dengan pena atau tip-ex di bagian dalam dinding-dindingnya.

Hanoi has the best morning.

Pagi itu kita terbangun pada sinar matahari yang hangat, kemudian kembali menyusuri Old Quarter dan memandangi St. Joseph Cathedral yang baru nampak keagungannya di bawah cahaya pagi.

Dari sana, kita berjalan kaki menuju Highlands Coffee (tidak terlihat Starbucks di Vietnam; yang bertebaran di kota adalah gerai kopi Gloria Jean’s dan Highlands Coffee) dan memesan kopi dalam gelas-gelas karton,

untuk dinikmati dari bangku taman di pinggir Hoan Kiem Lake,

seraya bertanya-tanya mengapa waktu begitu cepat berlalu. Kita masih menginginkan lebih banyak waktu hanya untuk duduk diam di sini. Tetapi segala sesuatu yang indah memang selalu terasa lebih cepat usai, and Hanoi has the best morning, afterall.

The Lemongrass Journey (5): Lan Ha Bay

Terbangun menjelang pukul setengah enam pagi, kita beranjak ke beranda untuk memandangi kabut dan perbukitan di sekitar Cat Ba Town.

Suara sayup-sayup lagu kebangsaan Vietnam dari pengeras suara; suhu udara yang berkisar antara 17-18 derajat Celcius; langit yang ungu-kelabu; angin lembap dan rinai gerimis yang menyapu wajah kita… semuanya berbaur dengan kehangatan secangkir kopi dan teh yang dinikmati berdua saja.

Setelah menikmati sarapan ala Western di hotel, kita keluar terbungkus pakaian hangat dan scarf; berjalan kaki beberapa langkah menuju kantor penyedia tur kecil di dekat situ. Sebuah bis sudah menanti; yang akan membawa kita ke pelabuhan untuk menelusuri keindahan Lan Ha Bay di pagi hari — yang ditetapkan sebagai World Heritage-nya UNESCO di tahun 1994.

Perahu Cina yang kita sewa telah menunggu di sana. Melewati pasir yang basah dan menghiraukan rinai gerimis, kita naik ke atas kapal. Awak kapal kemudian menaikkan matras ke dek atas yang terbuka, sehingga kita bisa duduk-duduk di sana memandangi keindahan gugusan batuan kapur di sekeliling kita. Hanya ada suara pagi: sepi, kapal motor di kejauhan, riak air, dan kita.

Pemandangan batu-batu kapur, kabut yang dingin,  pantai tersembunyi di antara dua batu kapur yang tinggi, langit yang tidak berbatas, gerimis yang datang dan pergi sesuka hati, keberadaan kamu dan lagu-lagu di dalam iPod yang kita kumpulkan selama beberapa hari sebelumnya; jauh sebelum ini…

semuanya menandai perjalanan yang hening dan mengagumkan.

Menjelang pukul sepuluh, kita mendarat di Monkey Island — yang juga merupakan bagian dari Taman Nasional Cat Ba.

Pasir putih dan air yang tenang serta bening; koral-koral yang indah, dan monyet-monyet jinak yang duduk-duduk di atas pasir membuat kita betah diam saja di sana dan memandangi.

Menjelang pukul sebelas siang, kita melambai pada kapal sewaan kita yang tertambat tak jauh dari situ, memberi isyarat bahwa sudah saatnya kita kembali ke Cat Ba Town.

Duoy–dan mobil sewaan kita sudah menunggu. Perjalanan selama sekitar 5 jam menuju Hanoi akan ditempuh dengan ransum berupa kacang wasabi, keripik ubi, dan aneka cemilan, serta minuman ringan macam WinterMelon. Penyeberangan kita dengan feri terasa lebih menyenangkan, karena di siang hari kita menaiki feri besar dengan dek bertingkat.

Kita tak lagi perlu bersesakan dengan sepeda-sepeda motor, dan dapat naik ke dek teratas yang lapang, menikmati panasnya matahari dan angin dingin yang masih bertiup dari Cat Ba Town.

Sambil menunggu feri berikutnya di Hai Phong, kita duduk-duduk di tepi pelabuhan, memandangi perempuan-perempuan Vietnam mencari kerang-kerangan di lumpur,

seraya memandangi perahu-perahu dan menyodorkan Lonely Planet kita pada Duoy — yang dengan senang hati memberitahukan kita cara pengucapan kata-kata tertentu dalam bahasa Vietnam.

Dari pelabuhan, perjalanan menuju Hanoi yang panjang dimulai. Teriknya matahari membuat kita tertidur di jok belakang; namun kita tak melewatkan senja di Hanoi sore itu. Melewati lalu-lintas yang padat, jembatan-jembatan, serta billboard yang berpendar dalam cahaya matahari.

Sebentar lagi perjalanan ini usai. Tetapi kita masih memiliki sebuah malam dan sebuah pagi di Hanoi. Jadi, mari kita simpan sebanyaknya kenangan di kota yang dikenal romantis ini.

The Lemongrass Journey (4): Cat Ba Island

Pagi itu, kita meninggalkan Hồ Chí Minh City dan bergegas menuju pelabuhan udara.

Tujuan kita berikutnya: Cat Ba Island di Utara Vietnam. Pulau kecil inilah salah satu akses menuju gugusan batuan kapur yang mengagumkan di Ha Long Bay; dan dapat ditempuh lewat ibukota Vietnam, Hanoi.

Berjejal dalam penerbangan domestik JetStar bersama para penduduk lokal dan delapan anak balita yang menangis dan menjerit-jerit selama satu jam, saya merasa baik-baik saja. Karena kamu ada. Suara-suara dunia seperti teredam ketika kita tertawa.

Sudah hampir tengah hari ketika kita mendarat di Noi Bai International Airport, di Soc Son Distric. Pengemudi mobil sewaan kita, Duoy, sudah siap menanti di pintu keluar. Perjalanan ini akan menjadi sangat panjang dan agak tergesa, sehingga kita bahkan tidak dapat berhenti untuk makan siang.

Dari pelabuhan udara, kita masih harus menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam menuju pelabuhan — kemudian mengejar feri menuju Hai Phong (yang kabarnya hanya beroperasi hingga pukul 5 sore). Dari sana kita akan menempuh perjalanan darat lagi sekitar 1 jam sebelum menyeberang dengan feri menuju Cat Ba Island, diteruskan dengan sekitar 1 jam perjalanan lagi menuju Cat Ba Town.

Selama 6-8 jam ke depan, kita akan terkurung berdua di jok belakang mobil sewaan ini. Jika kita bisa melewati perjalanan ini tanpa saling membunuh, segalanya akan baik-baik saja, bukan begitu? :D

Perjalanan dari Hanoi menuju pelabuhan memakan waktu lama dan tergolong tidak nyaman (tetapi baik-baik saja ketika dilalui bersamamu, dan mobil sewaan kita begitu menyenangkan). Pemandangan di kiri-kanan kita hanyalah pabrik-pabrik dan hotel-hotel kumuh; serta warung-warung kecil. Sementara jalanan yang kita lalui berlubang dan berdebu.

Sekitar setengah jam terakhir menuju pelabuhan, menjelang pukul lima sore, barulah kiri-kanan kita ditingkahi hijau persawahan dan rawa-rawa.

Di pelabuhan, menjelang senja, kita naik ke atas feri bersama orang-orang Vietnam yang juga hendak menyeberang dengan motor-motor mereka. Berdiri bersesakan di sana; kita memandangi cakrawala di kejauhan dan pasangan-pasangan yang saling berpelukan dalam balutan jaket-jaket mereka.

Kita memang tidak menyiapkan diri untuk udara dingin dan angin laut seperti ini. Lupakan jaket, sweater, atau scarf. Tetapi bersama kamu, saya merasa hangat selama sekitar 45 menit ke depan. Dan kita berdiri di sana, bersisian, memandangi senja serta terbenamnya matahari di atas lautan. Saya tidak bisa meminta lebih.

Langit sudah gelap ketika feri kita merapat di Hai Phong. Terperangkap lagi di jok belakang mobil, kita menggunakan waktu yang sebentar itu untuk menghangatkan diri; sebelum kembali turun mencium asinnya lautan di pelabuhan berikut, yang akan membawa kita ke Cat Ba Island.

Malam itu, secara ajaib, angkasa menuangkan kelip bintang-bintangnya di permukaan laut. Saya melompat kegirangan dan menarik-narik lengan bajumu, “Lihat!” — seraya menunjuk ke permukaan laut yang berpendar dengan kelap-kelip menakjubkan.

Kamu bertanya apa itu.

Bioluminescence.

Bioluminescence or water shining flashes of light, which is a chemical form of light and glowing, is caused in a daily occurrence by the group dinoflagellates. After using up carbon dioxide from the atmosphere in their bodily processes the spent algal residue falls to the ocean bottom in the form of carbon. In the process as carbon fixing organisms they turn water and carbon dioxide (a greenhouse gas) into sugar using sunlight and also produce chemicals that affect the formation of clouds.

Untuk pertama kalinya, malam itu, kamu menyaksikan fenomena alam yang selalu nampak indah bagi saya itu. Bahwa kita berbagi bintang di atas permukaan laut, pada malam itu, juga akan selalu terasa indah buat saya, bahkan lama setelah perjalanan itu berlalu dan tersimpan dalam kotak kenangan saya.

Sekali lagi, malam yang dingin dan berangin itu kita habiskan dengan berjejal bersama sepeda-sepeda motor dan penduduk lokal menuju Cat Ba Island. Langit malam ditingkahi bintang-bintang yang muncul dan berkelip sesekali, serta lampu-lampu kapal dan rumah apung di kejauhan.

Hampir pukul setengah delapan malam ketika kita melewati daerah gelap menuju Cat Ba Town. Dari balik jendela mobil, kita bisa melihat batu-batu kapur yang tinggi menjulang dari gugusan Lan Ha Bay–terusan dari Ha Long Bay di sekitar Cat Ba Island; yang relatif lebih terisolasi dari aktivitas pariwisata dibandingkan Ha Long Bay (di dekat Ha Long City).

Setelah meletakkan koper-koper dan menyegarkan diri di Holiday View Hotel, kita berjalan kaki melawan udara dingin (dengan jaket dan scarf) menyusuri Cat Ba Town yang mungil. Pemandangan di sekitar kita–lautan dan angin dingin; jalanan yang lengang, lampu-lampu jalan yang seadanya, deretan penginapan kecil, toko suvenir, restoran, dan penyewaan kapal, anjing-anjing yang berkeliaran… semuanya membuat saya merasa tengah terdampar dalam novel Goodbye, Tsugumi-nya Banana Yoshimoto.

Setelah menyewa sebuah kapal Cina untuk mengarungi Lan Ha Bay keesokan paginya, malam itu kita memutuskan untuk menikmati makanan hangat di dua restoran yang direkomendasikan Lonely Planet: Bamboo Cafe (fried spring rolls dan seafood pho);

dan Huong Y (tumis bayam yang lezat dan buah-buahan dengan yogurt), yang terletak bersebelahan.

Berjalan pelan-pelan menentang angin dingin dengan perut penuh dan hangat; kita memandang gugusan batu kapur di atas lautan–tempat kita akan menghabiskan esok pagi dengan cerita yang lain.

The Lemongrass Journey (3): Ho Chi Minh City at Night

I’ve been watching but the stars refuse to shine
I’ve been searching but I just don’t see the signs
I know that it’s out there
There’s gotta be something for my soul somewhere

Lagu Way Back into Love-nya Hugh Grant & Haley Bennett bermain-main dalam benak saya ketika kita kembali menyusuri gang sempit menuju jalan besar di Phạm Ngũ Lão; melompat ke dalam taksi, dan menelusuri Hồ Chí Minh City di waktu malam. Dari balik jendela, kota berpendar dalam titik-titik cahaya yang hangat dan menyenangkan (ataukah itu karena kamu?). [Read more...]

The Lemongrass Journey (2): Ho Chi Minh City

Do wishes really come true?

Pagi hari di Hồ Chí Minh City diawali dengan sarapan pagi berupa baguette dan kopi Vietnam di atas atap Ngoc Minh Guest House; dan semangkuk phở untuk berdua di Pho Quynh.

Dan perjalanan kita pun resmi dimulai. Menempuh jarak 5 kilometer dengan berjalan kaki, dan akan menghabiskan waktu selama 6 jam. [Read more...]

The Lemongrass Journey (1): Saigon

Saya cemas.

Hampir pukul sembilan malam; dan pemandangan kota Saigon sudah mulai terlihat dari ketinggian; menyerupai jalinan jaring laba-laba dengan titik-titik cahaya yang terjalin rapi. Pesawat yang kita tumpangi hampir mendarat di bandara internasional Tân Sơn Nhất di kota Saigon / Sài Gòn (SGN); atau yang kini lebih dikenal dengan Hồ Chí Minh City (HCMC).

Tetapi, bagaimana jika perjalanan ini tidak sesuai dengan yang kamu inginkan?

Saya masih memendam cemas ketika kita berada di atas mobil menuju Ngoc Minh Guest House di Phạm Ngũ Lão.

Dari balik jendela, terhampar pemandangan jalan raya kota Saigon yang lengang. Sesekali ditingkahi pendar cahaya lampu dari sepeda-sepeda motor yang kebetulan melintas; serta jajaran gedung-gedung tua yang mengingatkan kita pada Jakarta-Kota di tahun delapanpuluhan. Bayangan kita, duduk bersisian, terpantul di sana; seperti adegan pembuka dalam sebuah film tua yang belum lagi bisa ditebak jalan ceritanya. [Read more...]

The Lemongrass Journey (Prologue)

Tak ada garis, tak ada batas. Semua terhampar seperti masa depan.

Penerbangan kita ditunda selama 1 jam. Sore itu, pukul 4.35, kita masih duduk-duduk di ruang tunggu dengan Lonely Planet terbuka di pangkuan.

Seharusnya saat ini kita sudah berada di dalam pesawat menuju 1.880 kilometer jauhnya. [Read more...]

Vietnam: Lemongrass Footprints

:: bangkok’s minutes (7)

~ Sabtu, 14 Maret 2009. Menikmati Bangkok hingga senja hari ~

D,

Menyantap sayap ayam goreng ala Thai ditemani salad mangga dan tom yam, juga segelas Thai Iced Tea (“with milk!”), inilah yang terlintas dalam benak saya: saya tidak pernah tahu apakah kamu menyukai Thai cuisine.

Di Som Tam Nua, restoran sederhana bertingkat dua di Siam Square Soi 5 yang dikenal akan kelezatan dan keontetikan masakan Thai-nya, saya pun menyadari bahwa ada begitu banyak hal tentangmu yang tidak saya ketahui (menu sarapan favoritmu, merk jam tangan yang kamu pakai saat ini, ukuran sepatumu, pukul berapa kamu tidur malam tadi, dan apa yang kamu pikirkan tentang semua ini—menit-menit yang berlalu ini…)

picture-102

Kebanyakan pelayan di sini adalah waria, D. Dan di Bangkok pemandangan akan mereka memang menjadi hal yang biasa. Sungguh menyenangkan melihat mereka bisa bekerja dengan nyaman di berbagai restoran, hotel, pusat informasi, sampai menunggui toko-toko dan konter perhiasan. Tidak ada telunjuk yang menuduh atau cibiran yang menghina, karena ini adalah kota di mana kita semua adalah manusia. Betapa menyenangkan ketika menjadi berbeda merupakan hal yang biasa.

Selepas makan siang saya berjalan menyusuri trotoar, D, menuju pusat-pusat perbelanjaan yang terletak tak jauh dari sana. Saya lebih tertarik melebur dengan ratusan manusia di MBK (jelmaan Tanah Abang di Bangkok) daripada menyusuri lantai mengilat Siam Paragon. Karena bukankah semua mall sama saja? Mereka menancapkan kultur yang sama di setiap kota di bawah pancangan betonnya.

Menyenangkan, D. Berjalan kaki di siang menjelang sore, sekitar pukul setengah tiga, dengan sandal jepit, kaos putih, dan celana pendek, siap untuk menawar dengan bahasa universal; bergerak cepat untuk merebut baju serta sepatu paling lucu yang berharga luar biasa miring. Strateginya adalah berjalan lurus di satu lorong dan memindai cepat benda-benda yang menarik hati, kemudian menentukan pilihan, berbalik menuju konter-konter yang terpilih, dan melakukan tawar-menawar. Transaksi selesai. Kantong belanja di tangan. Lorong selanjutnya menanti.

Senja semakin turun, dan dengan kantong-kantong belanjaan di tangan saya berlari keluar, menyambut trotoar yang disesaki pemuda-pemudi Bangkok. Gaya mereka berpakaian begitu berkarakter; tidak seragam seperti anak-anak muda di Jakarta. Trend diadopsi tanpa meninggalkan preferensi pribadi. Mereka bukan sekawanan beo yang membuka halaman majalah; kemudian memutuskan untuk menjadi imitasi modelnya.

Menyenangkan, D. Menghibur mata. Dan tak ada orang bermulut atau bermata lancang yang mengganggu hak pribadimu, seminim apa pun celana pendek yang kau kenakan. Kamu tahu kan, saya sangat menikmati berjalan di trotoar? Jadi ini adalah surga kecil, D! Trotoar yang bisa kau gunakan untuk berlari, dengan tas-tas belanjaan berkibar di tangan kanan dan kiri. Tinggal tambahkan kawanan merpati yang mengepakkan sayap dengan berisik dan membubarkan diri dengan beterbangan ke angkasa ketika saya lewat—dan semua ini akan nampak seperti adegan klasik di film-film Amerika berlatar kota New York.

Kapan-kapan, saya akan mengajakmu berjalan menyusuri trotoar, D. Dengan es krim di tangan dan iPod yang menyenandungkan lagu-lagu John Mayer dalam volume maksimum, kita akan membungkam para pengendara mobil itu, yang meracuni udara dengan melacurkan klakson mereka demi menyakiti telinga.

duay khwaam rak lae khit theung kha*,
H.
—————–

Thai for “with love, and missing you”

:: bangkok’s minutes (6)

~ Sabtu, 14 Maret 2009. Wat Benchamabophit ~

D,

Saya tidak yakin apakah kamu pernah mendengar Follow You Down-nya Gin Blossoms [ataukah waktu kita hanya termampatkan dalam kaset-kaset usang Oasis, Mr. Big, dan Guns'N'Roses?]. Bersama Robin Wilson, saya menyanyikan lagu itu keras-keras dalam benak saya. Can you hear me, D?

Di hadapan saya kini terbentang Wat Benchamabophit Dusitvanaram (Thai: วัดเบญจมบพิตรดุสิตวนารามราชวรวิหาร)—dikenal juga sebagai Kuil Pualam, atau The Marble Temple. Kuil Budha ini dibangun pada tahun 1899; dirancang oleh Pangeran Naris, saudara tiri Raja Chulalongkorn, dan terbuat dari pualam Italia.

Bagian luar bangunan tengah direkonstruksi, D. Jadi saya tak tahu persis keindahan apa yang disembunyikan di bawah palang-palang kayu dan terpal itu; tetapi tak mengapa. Saya masih bisa mengapresiasi keindahan dan kesakralan yang terasa ketika berada di dalamnya.

picture-7

Ini seperti menemukanmu tengah duduk-duduk sambil merokok dan memetik gitar di hati saya pada suatu Sabtu pagi yang mendung dan sedikit gerimis. Saya terkejut, bertanya mengapa kamu bisa terdampar di situ, atau mengapa kamu memilih diam di sana, dan bukan di hati perempuan lain saja.

Ketika saya mempertanyakan keberadaanmu di sana, kamu hanya mengangkat bahu, “Tadi tempat ini kosong, dan pintunya terbuka, jadi saya putuskan duduk-duduk di sini. Kamu keberatan?”

picture-8

Saya menggeleng. “Kamu boleh duduk di sini selama yang kamu mau. Anggap saja rumah sendiri.”

Saya pikir kamu akan tinggal selama satu-dua hari, satu-dua bulan, satu-dua tahun, kemudian pergi. Tetapi ternyata kamu tidak pernah angkat kaki dari sana selama belasan tahun lamanya, meski sesekali tersembunyi di balik kepulan asap rokokmu, sehingga saya kesulitan mengetahui di mana kamu tengah berada.

Ah, di sini, saya jadi ingin berdoa untukmu, D. Tahukah kamu, bahwa di sini, di bawah patung Budha bergaya Sukhothai, terkubur abu Raja Chulalongkorn—yang mengingatkan saya akan dirimu, yang tengah duduk diam di hati saya itu. Terkubur dalam ribuan kelopak lili putih.

picture-91

Ya, you’ve got the everlasting ticket, D. Kamu boleh diam di sana selama yang kamu inginkan. Make yourself at home. Saya tak akan berbagi tempat dengan yang lain selagi kamu masih ada di sana. Saya tahu kamu tak suka ketika tempatmu menyendiri diinvasi oleh orang asing yang tak dikenal [maaf karena saya pernah memberimu teman sekamar].

Jadi, tinggallah di sana selama yang kamu mau, selama yang kamu perlu. Saya masih akan berdoa untukmu, agar kamu berbahagia selalu. Bahkan saya juga masih akan berdoa untuk kebahagiaanmu ketika suatu hari nanti kamu pergi dan menemukan hati lain yang lebih nyaman untuk ditinggali selamanya.

Tetapi ruang ini masih akan selalu ada, D. Ada satu bilik khusus yang sudah saya jadikan kamar tamu. Untukmu. Dan kamu bisa mampir kapan saja kamu mau.

duay khwaam rak lae khit theung kha*,
H.
—————–

Thai for “with love, and missing you”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 476 other followers