Hong Kong in Black & White

I always love Hong Kong—either for strolling around, shopping, writing and sketching, taking pictures, or simply lazying in an open-air coffee shop, reading a good book—the city never fails me. The people, the weather, the smell of seafood grilled over charcoal, the bustling sound of the crossings, the tramways, the light bulbs… somehow all feels…

Read More

Lost in HongKong (2): Kuliner

Dari pengamatan saya, sebenarnya kuliner HongKong bisa dibagi menjadi 4; dan semuanya wajib dicicipi: 1.) Dimsum 2.) Soupy food (termasuk wonton soup dan noodle soup) 3.) Congee–alias bubur Kanton yang terkenal gurih itu 4.) Nasi–baik nasi bebek panggang, nasi ayam hainan, maupun nasi goreng Kanton Salah satu hal yang menarik: makanan paling lezat di HongKong…

Read More

Lost in HongKong (1): Transportasi

Sebenarnya memang tak mudah untuk ‘tersesat’ di HongKong. Berhubung moda transportasi di negara ini sangat baik, akan sangat mudah bagi turis maupun pendatang untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Mau cepat-cepat meluncur dari bandara menuju kota? Tak masalah. Anda tinggal melompat naik ke atas Airport Express yang datang setiap 10 menit sekali. Membawa…

Read More

HongKong in February #5

I just love Kowloon! Ini adalah bagian dari HongKong yang selalu kubayangkan dalam angan-anganku: lampu-lampu yang berwarna-warni di atas restoran-restoran yang berasap, bangunan yang rapat, orang-orang yang memenuhi jalanan dan menyeberang beramai-ramai. Kota ini hidup, berdenyut, berkelip, dan pemandangan itu membuatku sedikit merasa hangat di atas bis. Pemandangan pasangan manula Kaukasia di depanku yang saling…

Read More

HongKong in February #4

Meninggalkan The Peak di siang hari yang masih kelabu dan berkabut, aku kembali pada udara dingin dan angin yang bertiup semakin kencang di Central Pier. Star Ferry Terminus–menyeberang menuju Kowloon untuk menjelajahi Tsim Sha Tsui. Kurapatkan overcoat-ku, tapi dingin itu masih enggan pergi. I want you here. Merapat di pelabuhan; aku melompat turun dan menyusuri…

Read More

HongKong in February #3

Ada pagi yang dingin dan detak langkah kakiku di atas aspal, menyusuri Central Pier yang masih sepi dan tersaput kabut. Segelas caramel machiato terpaksa menjadi substitusi jemarimu untuk menghangatkan telapak tanganku. Tentu, rasanya tidak sama. Kamu tidak akan pernah bisa terganti oleh segelas kopi. Karena jemarimu bukan hanya melingkupi jemariku, tetapi juga hatiku, dan semua…

Read More

HongKong in February #2

Merah itu menghangatkan. Menceriakan pukul delapan pagi di HongKong yang masih berkabut dan bersabut ungu-kelabu. Mengusir dingin pada suhu udara yang nampaknya jatuh ke titik lebih rendah selagi aku melewati Victoria Park menuju The Excelsior Hotel di Causeway Bay. Membuat kamu terasa dekat. Selepas makan siang, aku akan menyeberang beberapa langkah melewati pintu belakang hotel…

Read More

HongKong in February #1

Hong Kong (้ฆ™ๆธฏ). Tanpa kamu. Koper merahku nampak mencolok di atas MTR Airport Express yang nyaris kosong itu. Aku menempelkan hidung di jendela yang dingin, memandang ke luar dengan sedikit bosan, mengabaikan peta yang tergeletak di atas pangkuan. Sampai sebuah pemandangan yang agak kekanak-kanakan membuat mataku berbinar. Rasanya aku ingin menjawilmu dan berteriak “Lihat! Lihat!”…

Read More