Nada.

Dia adalah nada-nada dalam hidupku. Kadang kuat, kadang samar. Tapi pada setiap langkah yang tersesat, aku selalu bisa mendengar nada-nada itu, bahkan dengan mata terpejam. Seperti pasir yang basah, seperti ombak, air dingin yang merendam mata kakiku dan dermaga yang hangat; nada-nada itu menyelimutiku seperti matahari, lautan, dan lengkingan burung-burung pantai di musim panas.

- @beradadisini for Lelakiku -

Belakangan aku tahu, namamu berarti nada-nada, irama, musik. Begitulah aku akan mengingatmu.

Kamu seperti nada-nada yang diterbangkan angin dari tempat yang sangat jauh. Aku menangkap nada-nada itu ketika sunyi jatuh. Seperti sihir. Aku memejamkan mataku dan mereguk suara-suara yang mengelilingi kepalaku, melingkupi hatiku, merambati jari-jemariku. Seperti Freddie dalam adegan-adegan awal August Rush, aku mendengar musik pada setiap degup jantung, denting sendok dan piring, hela napas, angin, rintik hujan, dekuk burung hantu.

Ada sesuatu dalam nada-nada itu yang membuatku ringan. Aku tidak berjalan, aku melayang.

Kuikuti nada-nada itu (tidak mudah, karena terkadang nada-nada itu memelan dan menghilang ketika suara-suara lain menelan), lalu…

aku menemukanmu.

Tetapi kamu tidak sedang menyanyi. Kamu sedang berdoa. Sesungguhnya, kamu sedang memanggilku.

You are too sweet to be true.

Raat din gardish mein hai saat asmaan. Ho rahega kuch na kuch ghabrayen kya.
Day and night the planets are in motion. Something will work out, why worry ourselves.
- Ghalib -

A wanderer told me once:

You can’t fill a glass that’s already full of water to the brim with wine. The wine will just continue to spill out. You need to emptied the glass first. The emptier the glass, the more wine can be contained. The more wine can be contained, the more wine can be poured in. The more wine can be poured in, the more wine can be sipped. It’s actually quite similar to your heart. When it’s full of past memories or future expectations, it just can’t contain the present love that is coming your way. This new love will continue to spill out. You need to emptied your heart first, ensuring that you have let go of the past and stop worrying about the future. Let your heart be vacant for a while and give a chance for the present love to fill you in.

The wanderer is right. I emptied my heart last week, and you came like a downpour. You are too sweet to be true, and I find it hard to refrain myself from being addicted to you.

I am lost in you.

I am lost in you.

The gravitational pull of your thoughts draws me in. It envelopes me in such a dreamlike mood: the world seen from a lover’s eyes. Everything’s amazing when you’re around. The sky is pink and purple. The clouds are watermelon marshmallows. Everywhere I turn, I see beauty. Everywhere I go, I see you.

I am lost in you.

Lost in thoughts. Lost in the spiraling current that is drowning us to the core of each other’s hearts. Both are lifeboats, floating in a deserted ocean, somewhere in the midst of solitude. The sweet-scent of the mist delivers our longings, wafting through the stormy seas, bursting at the tip of our lips: May the universe be with you. May all beings be free from suffering.

I am lost in you.

A distant world where things are inaudible and invisible, where every touch is sunlight and every kiss is raindrops. I might have resided within you, you might have breathed me in. In quietude, we caress the divine countenance of midnight. We are the whispers of the winds on drizzling evenings. We are the silence that breaks at dawn, saluting the rose-tinted sun. We see shrines of gold colors lining up, showing an uninterrupted path from here to there, from me to you: Hi, handsome…

Nothing good gets away.

Tahun 1958.

Novelis John Steinbeck membalas sebuah surat yang dikirimkan anak lelakinya, Thom. Saat itu, Thom tengah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Susan—yang ditemuinya di sebuah sekolah berasrama. Steinbeck menulis, “Don’t worry about losing. If it is right, it happens. The main thing is not to hurry. Nothing good gets away.

Tadi Malam.

Pada akhirnya kita bertemu juga, di sebuah rumah pantai dengan pintu-pintu besar. Aku bisa melihat laut dan pasir dari ranjang besar tempatku berbaring tertelungkup, membaca sebuah buku. Kamu berdiri di dekat jendela. Sosokmu bermandikan matahari. Semua putih. Kemeja dan celanamu, gaun pantaiku, sofa, pintu, dinding, seprai, dan bantal-bantal. Segalanya seperti terang dan berkilauan, seperti warna-warna yang biasa kau lihat dengan mata terpejam di bawah sinar terang.

Man.

If the man is known to you, then seeing a man in your dream may reflect your feelings and concerns you have about him.

Pada yang sekejap itu, aku melihatmu dan tidak ingin berpaling lagi. Aku bertanya padamu, di mana kita. Sebuah pulau di Filipina, katamu. Di sini, arus dari tiga tempat bertemu. Belakangan aku mencarinya, hampir yakin bahwa tempat itu sungguh-sungguh ada. Kemudian aku menemukan El Nido, pulau dengan pasir putih dan gua-gua, laguna dan batu karang, 238 kilometer di barat laut Puerto Princessa, ibukota Palawan, Filipina—dibatasi Semenanjung Linapacan di Utara, Laut Sulu di Timur dan Laut Cina Selatan di Barat. Inikah yang kamu maksudkan dengan arus dari tiga tempat?

Beach.

To see the beach in your dream symbolizes the meeting between your two states of mind. The sand is symbolic of the rational and mental processes while the water signifies the irrational, unsteady, and emotional aspects of yourself. It is a place of transition between the physical/material and the spiritual.

Aku mendengarkanmu mengutip puisi-puisi dari masa yang jauh. Kamu mengingatkanku pada Gibran. Rumi. Neruda. Yeats. Dan The Falling of The Leaves pecah di atas bibirmu:

Autumn is over the long leaves that love us,
And over the mice in the barley sheaves;
Yellow the leaves of the rowan above us,
And yellow the wet wild-strawberry leaves.

The hour of the waning of love has beset us,
And weary and worn are our sad souls now;
Let us part, ere the season of passion forget us,
With a kiss and a tear on thy drooping brow.

Bed.

If you are waking up in a different and/or unknown bed in your dreams, then it represents the consequences of the decisions you have made. The dream may also be a pun on the completion of a project and “putting it to bed.” If the bed is made, then it symbolizes security.

Kita bicara hingga langit gelap. Kelak, kamu akan bertanya mengapa kita hanya bicara hari itu. Aku akan menjawab, that’s the sheer beauty of it. Bagaimana kita bisa berbincang tanpa henti selama 12 jam, sambil memandangi pasir dan lautan. Kamu tidak akan menemukan kesenangan semacam ini dalam diri sembarang orang. Temanku bilang, you’ve got to be on the same wavelength. Mungkin demikian. Seperti laut yang berdebur di sana itu. Kita menemukan tanpa pernah saling mencari. Bukankah tak ada yang bisa lebih romantis lagi daripada itu?

Sand.

To see sand in your dream signifies a shift in perspective or a change in your attitude. Consider the familiar phrase, “the sands of time”—in which it may be suggesting that you are wasting your time or letting time pass you by.

Aku memberikanmu kutipan Steinbeck itu, ketika kamu mempertanyakan perihal waktu. Bahwa kita tak perlu terburu-buru. Nothing good gets away. Kamu bilang kita berbicara bahkan ketika kita sedang tidak mengatakan apa-apa. Kita bercakap pada setiap langkah yang tergesa di pagi hari, pada secangkir air putih ketika kita terbangun menjelang dini hari, pada hujan, panas matahari, kerikil dan bunga-bunga ungu yang bergantung rendah dari cabang-cabang pohon di depan rumah seseorang, pada kubah-kubah di angkasa yang menebar kala senja: pada baris-baris kata yang kugoreskan di atas lidahku seusai berdoa.

Sea.

To see the sea in your dream represents your unconscious and the transition between your unconscious and conscious. As with all water symbols, it also represents your emotions. It brings about hope, a new perspective and a positive outlook on life no matter how difficult your current problems may be.

Aku seperti melihat upakara-upakara di sepanjang jalan menujumu. Pada saat-saat seperti ini, sebagaimana pemeluk ritual yang taat, aku hanya bisa percaya. Kita tidak pernah bisa yakin. Tidak ada yang pasti, bahkan untuk sesuatu seperti perasaanmu sendiri. Hingga pagi itu, ketika rangkaian huruf-huruf memecah di udara, turun ke atas dirimu, ke atas diriku, menyesap ke dalam benak kita yang bermain-main di antara jarak ribuan kilometer, menyelimuti kita. Hangat.

Sun.

To see the sun in your dream symbolizes peace of mind, enlightenment, tranquility, fortune, goodwill, and insight. It also represents radiant energy and divine power. Generally, the sun is a good omen, especially if the sun is shining in your dream.

Kita bermandikan cahaya matahari di El Nido waktu itu. Pulau dengan pasir putih dan gua-gua, laguna dan batu karang, 238 kilometer di barat laut Puerto Princessa, ibukota Palawan, Filipina—dibatasi Semenanjung Linapacan di Utara, Laut Sulu di Timur dan Laut Cina Selatan di Barat. Tempat tiga arus bertemu, demikian katamu. Seperti sesuatu yang telah dirajahkan di hatiku pada kehidupan-kehidupan sebelumnya, seperti pengetahuan purba yang sudah tersimpan dalam 4 pasangan basa A, C, G, T dalam DNA-ku jauh sebelum diriku: aku tahu, di sinilah, pada saatnya nanti, kita akan bertemu.

Sampai waktunya tiba,

H.

There’s always only one reality.

Mungkin ia memang melewatkanmu ketika kalian pertama kali bertemu. Yang dilihatnya dari dirimu saat itu adalah kamera yang menggantung di lehermu. Ia bertanya: apa yang biasa kau potret, mengapa kau memilih untuk memotret semua itu, apa yang menarik hatimu ketika kau menjepretkan kameramu, apa yang kau lihat dari foto-foto yang kau hasilkan itu?

Kau tidak siap. Seharusnya kalian bicara tentang hal-hal lain. Bukankah pertemuan pertama kali selayaknya dimulai dengan basa-basi? Tetapi, lambat-laun, kau menemukan dirimu sendiri menikmati interogasi yang tiba-tiba itu. Kau mulai memikirkan jawaban atas sekian hal yang tak pernah kau pertanyakan. Dan selagi kau berpikir, ia terus menghujanimu dengan pertanyaan-pertanyaan lain.

Untuk pertama kalinya dalam hidupmu, kau menemukan dirimu tak bisa berhenti berbicara. Ia tak memperbolehkanmu diam barang sejenak.

***

Di malam tahun baru, kau berbaring tertelungkup di tempat tidurmu. Ada secangkir kopi dan hardcover 900 halaman 1Q84-nya Murakami. Kau letakkan kameramu di atas meja di samping tempat tidurmu—agar berada dalam jarak pandangmu setiap kali kau hendak meraih bantal.

Dan kau… ya, mungkin kau juga melewatkannya ketika kalian pertama kali bertemu. Mungkin kau tidak pernah sungguh-sungguh melihatnya. Yang kau lihat dari dirinya saat itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan kepada kamera yang tergantung di lehermu.

“Don’t let appearances fool you. There’s always only one reality,” kata supir taksi di Tokyo Expressway pada Aomame. Sinfonietta gubahan Janacek bermain di latar belakang.

Hentakan yang cukup kuat pada bab pertama. Kau tutup novel yang tengah kau baca itu. Suara petasan membuatmu gusar dan ingin berteriak. Sering kau bertanya pada dirimu sendiri: apakah segalanya akan nampak berbeda ketika dilihat langsung dengan lensa mata, dan bukan dari balik lensa kamera?

Quisiera Que Estuvieras Aquí – 2. Sevilla

We build a bridge of hope from memories. It stretches from here to there—connecting you and me, the structure’s as still as our faith.

Ada beberapa jembatan di Sevilla, yang dibangun menjelang La Seville de la Exposición Universal de 1992. Yang paling terkenal di antaranya adalah Quinto Centenario (mereka bilang banyak kecelakaan yang terjadi di sini), juga jembatan Barqueta dan Alamillo—yang dirancang oleh arsitek kenamaan, Santiago Calatrava. Jembatan-jembatan itu mengingatkanku pada jarak di antara kita. Jarak yang terentang di antara dua hati. Mereka memberikan harapan—jembatan-jembatan itu, seperti mengatakan bahwa jarak selalu bisa diseberangi.

Sevilla, good! Good! Dance! Flamenco! Very good! Barcelona, flamenco, not good!” kata Salvador bersemangat. Dengan bahasa Inggris yang patah-patah, Salva—demikian ia biasa dipanggil, memperagakan tarian flamenco di atas trotoar yang ramai sebelum menutup pintu taksinya.

Tetapi aku tidak menonton flamenco selama berada di Sevilla, juga tidak mengunjungi Plaza de Toros yang terkenal itu (kamu tahu, kan, aku tak terlalu suka membayangkan ratusan banteng yang sudah mati di arena di dalam sana itu, dalam sebuah pertarungan yang menurutku tak seimbang). Aku menghabiskan dua hari di Sevilla untuk pergi ke kebun raya,

mencelupkan churros ke dalam cokelat,

lalu berjalan-jalan berkeliling kota ketika semua orang tengah siesta. Rasanya seperti berjalan-jalan di kota mati, tanpa penghuni.



Matahari di bagian selatan Spanyol menyorot panas—merambat pelan dari dataran sepanjang sungai Guadalquivir yang melintasi kota dari Utara ke Selatan.  Kulitku mulai terasa perih. Sunglasses-ku berembun. Tapi tak mengapa. Aku merasa puas karena bisa memotret dengan bebas: rumah-rumah, gang, gereja, jalanan, juga atap-atap tanah liat, tanpa harus menghindari kepala orang-orang yang tiba-tiba saja lewat.

Kemudian, begitu saja, aku menemukan Basilica de la Macarena, yang menyimpan patung The Virgin of Hope (Nuestra Señora de la Esperanza). Orang-orang lokal menyebutnya La Macarena, imaji pelindung para matador dan kesayangan kaum gipsi.

Matador kelahiran Sevilla, Joselito, menghabiskan sebagian besar harta kekayaannya untuk membelikan empat butir batu permata bagi sosok Sang Perawan yang dipahat Pedro Roldán pada abad ke-17 itu. Ketika Joselito tewas di atas ring pada tahun 1920, La Macarena—dengan lima butir air mata yang bergulir di pipinya, didandani sebagai “janda” selama sebulan.

Aku melangkahkan kaki ke dalam gereja yang gelap itu, duduk di sana, dan berdoa. Ya, aku memang bukan Katolik, tetapi bukankah—seperti Hafiz, kita percaya bahwa kita selalu bisa berdoa di mana saja? Karena bukankah Tuhan, seperti cinta, ada di mana-mana, selama kita percaya?

Dan begitulah.

Apa yang mengada di antara kita akan tetap ada, selama kita percaya. Selama hati kita berkelip dalam jeda-jeda terang-gelap, seperti kode Morse yang disampaikan lewat cahaya senter di malam hari:

..   .– .. … ….   -.– — ..-   .– . .-.. .-..

.- -. -..   ..   .– .. … ….   -.– — ..-   .– . .-. .   …. . .-. .

Quisiera que estuvieras aquí,

H.

11 views that remind me of you.

1. The beach. Don’t you just love going to the beach? This one is the view of Natsepa beach in Ambon, Molucca. We can sit side by side on the sand, enjoying a plate of the famous fruit ‘rujak’ and spend the rest of the day island-hopping on a speedboat.

2. A cup of coffee. This one is a cup of hot Balinese coffee, with its delicate sweetness and gentle acidity.

3. Pastries. A great company for a cup of coffee (or we can substitute the pastry with… #you, and that would be as sweet!). This one is taken in a small restaurant in La Rambla, Barcelona.

4. An old typewriter. Probably because you’re good with words—or your daily ‘proximity’ with words. And somehow I have always pictured you as an ‘old soul’: someone with such maturity beyond your years, as if you’ve lived for more than 100 years. This one is a vintage typewriter I came across in Triwindu Antique Market, Solo.

5. Artworks, paintings, and galleries. You have a love of art, and it shows in the way you view the world, the way you appreciate beauty unconventionally. This is a picture of a wonderful mess in Hector Fernández’s gallery at Double Beates, Barcelona.

6. Rain. From the black low-hanging clouds to the smell of the wet soil, from gazing at the droplets and listening to the calming sound of it. This one is taken from behind my working desk. The rain had just subsided.

7. Sunset. Because we share the love of capturing it. This one is taken in Telunas, Sugi Island, Batam.

8. Clouds. You know you’re happy at heart when you’re gazing at the funny-looking clouds and a smile appear on your lips. This one is taken in Lagos, from the balcony of the beach house. Do you see the huge cat-head below?

9. The sky. It makes me feel close to you. At times, we probably are looking at the same sky, at the same time, without actually realizing it. This one is taken in Sevilla (and–oh, look at those birds!)

10. A small café or restaurant. This one is taken in Lisboa. Look closely and you’ll see a man and a woman inside. One day, there will be you and me, meeting up for a late lunch and enjoying a small talk over our meals, discussing the most trivial things.

11. Beautiful light patterns. This one is taken in a winery in Jerez. The sunlight peers through the ‘grapevined’ roof, making those beautiful light patterns along the walls. Or maybe you simply reminded me of anything bright and beautiful.

————
*) a posting to celebrate 11.11.11

glow.

Hold me, you shall never ever see me
Blankets will not hesitate me
Flowers shant even wake*

Jika hidup adalah pertaruhan, aku akan mempertaruhkan semuanya untuk kita. Kamu bilang aku bodoh. Aku bilang aku jatuh cinta. Orang-orang yang jatuh cinta seperti anak burung yang baru belajar terbang. Mereka tak tahu apakah sayap mereka sanggup mengangkat mereka di udara dan bisa mengepak sempurna. Mereka tak tahu apakah sayap berupa berkah atau kutuk—apakah terbang jauh dari rumah akan mengantarkan mereka menyaksikan pemandangan indah dari tempat-tempat yang jauh, atau membuat mereka rawan diketapel. Lalu, ketika jatuh, mereka juga tak tahu apakah ada ranting dan dedaunan yang akan menangkap mereka, atau akankah mereka tewas terhempas ke tanah keras.

Semua ini adalah tentang rasa percaya.

Jadi bahkan ketika aku meninggalkanmu hari itu, aku percaya. If it’s meant to be, it will happen.

Semua orang bicara tentang takdir: bahwa jika dua orang ditakdirkan untuk bersama, mereka akan bersatu juga pada akhirnya. Tetapi takdir—seperti semua hal yang ada di dunia ini, bisa jadi hanya sementara. Kita perlu bertanya dan mempersiapkan diri: seberapa lama kita ditakdirkan untuk bersama?

Takdir, juga bisa menjelma jadi serangkaian pelajaran berharga. Bersama belum tentu membawa bahagia. Mungkin kebersamaan membawa air mata atau sakit hati. Tetapi setidaknya kita belajar. Bahwa kita ditakdirkan untuk belajar dari satu sama lain. Mungkin kita ditakdirkan untuk bersatu lalu berpisah lagi, ketika masing-masing sudah cukup belajar dan bisa berdiri sendiri-sendiri.

Kiss me, this the last time you may see me
This the last time light shall harm me
I shall cry myself to death*

Karena itulah kukatakan, bahwa jatuh cinta adalah pertaruhan demi pertaruhan. Ketika kita bertemu, aku mempertaruhkan hatiku untuk kutinggalkan bersamamu. Ketika kita berpisah, aku mempertaruhkan kemungkinan bahwa kita tak akan pernah bertemu lagi. Tetapi begitulah, dalam setiap pertaruhan, kita harus mengambil keputusan. Karena kita tidak punya banyak waktu. Dan sebesar apapun keinginan kita untuk menunggu, waktu tetap bergegas lewat. Sepertinya tidak bijaksana jika kita sekadar menunggu terlalu lama. Membiarkan momen-momen yang seharusnya mengada terbuang percuma.

Karena bukankah kita bisa menunggu sambil melakukan sesuatu: membaca buku, menanam bunga, mengupas apel, memotret sayuran segar di pasar, membuat istana pasir di tepi pantai, berbelanja di supermarket, minum kopi bersama sahabat, menonton film-film festival…

… jatuh cinta.

Funny, how you never showed your love to me
Lovely, oh the lights I can see
It is gleaming in my eyes like when you*

Ya, bukankah sementara menunggu itu kita masih bisa saling jatuh cinta?

Aku masih bisa memikirkanmu setiap saat. Mengunjungi tempat-tempat yang suatu hari nanti akan kutunjukkan kepadamu ["Di kedai kopi ini, mereka menyeduh Illy. Biasanya aku ke sini sendirian dan duduk di pojok sana itu, membaca Yoshimoto sambil mendengarkan denting piano," aku berkisah sambil menggenggam tanganmu]. Merancang kata-kata cantik yang akan kukirimkan ke awan dan kutiupkan di atas kotamu, membasuhmu dalam guyuran hujan. Mengirimkan kartu-kartu pos dari tempat yang jauh [supaya kamu tahu bahwa di manapun aku berada, aku selalu mengingatmu]. Mencari-cari bintang yang tengah kau pandangi di kegelapan. Mendengarkan musik-musik yang sedang kau putar di tempatmu lewat tengah malam. Menuliskan surat-surat untukmu yang suatu hari nanti [mungkin] akan kukirimkan.

Burned me, tear my skin off and leave me
This the last time you may hold me
This the last time I shall say goodbye*

Jadi biarkanlah kita menikmati jeda kala menunggu itu. Sendiri-sendiri. Sampai suatu hari nanti kita bertemu lagi. Bersama. Berpisah lagi. Dan demikian seterusnya. Karena aku sadar, tidak akan pernah ada seseorang yang bisa memiliki yang lain seutuhnya. Demikian pula, selalu ada rentang waktu untuk setiap ‘selamanya’. Tetapi kita masih bisa menyimpan kenangan selama jeda menunggu itu. Dia akan tersimpan selama ingatan kita masih baik-baik saja.

Dan kalau memang hanya setumpuk kenangan ini yang bisa kumiliki di akhir hari, itupun tak mengapa.

*) diiringi dentingan Glow dari Frau.

kita memang sedang tidak hendak beranjak ke mana-mana.

Mungkin kita memang sedang tidak hendak beranjak ke mana-mana.

Kita hanya sedang duduk-duduk di sini, menikmati waktu yang pelan-pelan menyelinap lewat kata-kata yang bermain di tepian jemari. Kita tidak sedang terburu-buru. Kita tidak sedang terlambat. Kita tidak sedang mengejar waktu. Tidak sedang bergegas menuju ke suatu tempat. Sesekali salah satu dari kita akan beranjak pergi. Yang lain tidak akan mempertanyakan, tidak akan mencegah, tidak akan mengejar. Cukup satu kedipan dan lambaian tangan, serta pesan: hati-hati di jalan.

Tak ada janji yang diucapkan. Ia yang pergi tak pernah berkata bahwa ia akan kembali. Ia yang tinggal tak pernah berkata bahwa ia akan menunggu hingga yang pergi kembali. Ini bukan tentang rasa percaya. Ini semacam rasa pasrah. Bahwa semua yang memang untukmu, pada akhirnya akan kembali padamu. Dan semua yang bukan untukmu tak akan menjadi milikmu, tak peduli sekuat apapun kamu mencoba.

Mungkin kita memang hanya saling menemukan, meski tak pernah saling kehilangan. Kita adalah dua orang yang kebetulan tengah duduk bersisian: lalu berbagi matahari, laut, langit, kapuk yang beterbangan, cahaya, ilalang, bebatuan, jejak bintang…

Aku akan sesekali pergi. Kamu akan sesekali pergi. Suatu hari nanti, kita mungkin akan pulang. Entah ke mana. Mungkin ke tempat ini lagi. Atau ke tempat lain. Mungkin aku kembali. Mungkin kamu kembali. Mungkin juga tidak. Tetapi semua itu bukan masalah. Karena saat ini kita memang sedang tidak hendak beranjak ke mana-mana.

the little things.

Let the lover be disgraceful, crazy, absentminded. Someone sober will worry about things going badly. Let the lover be | Rumi.

Kebahagiaan buatmu adalah konsep yang sederhana. Biskuit kesukaanmu. Langit yang jernih dan penuh bintang. Secangkir cokelat panas. Awan tebal. Matahari terbenam di pinggir pantai. Berjalan telanjang kaki di atas rumput yang basah oleh embun. Menunggui matahari terbit. Memandangi hujan. Berbagi tawa.

Kamu adalah seseorang yang bisa menjawab pertanyaan saya dengan lekas dan tanpa jeda: jika kamu diberi kesempatan untuk terlahir kembali, apa yang ingin kamu lakukan saat ini? Kamu tersenyum dan bilang, “Persis seperti yang tengah saya lakukan saat ini.”

Saat itulah saya tahu, bahwa kamu adalah jiwa yang bahagia. Kamu tak punya harapan yang muluk-muluk. Kamu tak mau mengikatkan diri pada mimpi-mimpi. Kamu mengerti bahwa segala sesuatu datang dan pergi, berganti-ganti. Hidup buat kamu adalah saat ini, yang dijalani dengan hati riang. Kamu tak butuh syarat untuk merasa senang. Dunia ini penuh keajaiban yang cukup untuk membuatmu terkagum-kagum setiap hari.

Dan kamu, kamu adalah semacam keajaiban kecil yang juga masih saja membuat saya terkagum-kagum, setiap hari, berkali-kali.

a secretly sad story.

When he told me that he’s going to tell me a very sad story, I said: bring it on. Here you go, he said. It’s a story about something you’ve left behind…

***

They met in an unlikely circumstance. She was tired of having too high of an expectation. He was still trying to recover from a recent heartbreak. She glanced at him, trying to catch his solemn eyes. He glanced at her, trying to catch her halcyon eyes. As the gap between them grew smaller by the minute, she realized that she wanted to know more about him and he realized that he wanted to know more about her. And that was exactly when (just like in any other sad stories you knew) their time was up. And they had to part.

She didn’t realize it until she left. As she sat there waiting for the plane to take off, she realized that she had left something behind. He didn’t realize it until she left. As he sat there looking at his computer screen, he realized that she had taken something away from him. Both were not looking, both were not searching—which explained why, when they met, they didn’t realize the fact that they had actually found each other.

But life had taken its toll, and there was nothing they can do except to move forward, secretly finding ways to meet each other again, and kept missing each other until the day they meet again.

***

The saddest part is, he said, when they parted that day they didn’t realize that they would spend the rest of their lives, trying to find each other again. Don’t you think it’s sad?

It is sad, I answered. But I think things like this happen all the time in all parts of the world. It makes you feel like we’re all actually longing for something. And when you’re missing someone, thousands of other missing souls reverberate with you, creating a wave that is so big, so loud, so strong, it will somehow rub off on the person you’re thinking about.

On a cloudy morning, when you’re missing that someone so much, just remember that the thought alone will rub off on him. He might have just woken up, feeling bad, sitting at the kitchen table, sipping a cup of hot coffee to start the day and suddenly he would feel this immense warmth blanketed him, filling him in with a lovely nostalgia like a carefree memories of distant summer days, and before he realized it, he would have found himself smiling.

Of course he couldn’t explain the reason of this sudden lift of mood, but don’t we all know the reason?

Nevertheless, let’s just keep it a secret.

– A sunny afternoon in Jakarta, headphones on, Mera Bichra Yaar from Strings playing on repeat.

letters.

A moment of happiness,
you and I sitting on the verandah,
apparently two, but one in soul, you and I
.

Ada surat-surat yang kutuliskan untukmu. Dalam perjalanan kereta cepat dari Jerez ke Sevilla. Waktu itu aku duduk sendirian di sisi kanan, di dekat jendela. Ada padang-padang kering, ladang jagung dan rumah-rumah terakota, traktor, kuda-kuda dan sekawanan banteng. Semua berkilasan cepat, sedikit buram, seperti gambar dalam mimpi-mimpi.

We feel the flowing water of life here,
you and I, with the garden’s beauty
and the birds singing.

Terkadang aku bertanya ke mana hidup akan membawaku—membawa kita. Apakah kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Ataukah kamu tetap akan menjadi satu di antara orang-orang itu: yang hanya kutemui sekali saja seumur hidupku, tapi mengubah hidupku selamanya. Lalu kukeluarkan spidol dan buku catatan kecilku dari dalam tas. Lalu aku menulis. Menulis kepadamu. Semacam surat-surat dalam dua puluh halaman. Surat-surat yang tidak pernah kukirimkan.

The stars will be watching us,
and we will show them
what it is to be a thin crescent moon.

Di sana, aku bicara padamu tentang pertemuan, juga tentang kehilangan. Aku bilang, aku siap mengikuti ke mana pun hidup akan membawaku: menujumu atau meninggalkanmu. Aku juga bilang, seandainya kamu ada di sini, kita akan bisa melakukan banyak hal. Hal-hal yang tidak penting, sebenarnya. Misalnya memandangi langit atau hujan, yang dari dulu sampai sekarang sebenarnya masih akan begitu-begitu saja. Menikmati bercangkir-cangkir kopi hangat yang ditaburi bubuk cokelat. Pergi ke dermaga dan mencelupkan kaki ke dalam air sambil bercerita. Berputar-putar di museum melihat-lihat karya seni yang tidak kita mengerti. Menonton pertandingan bola di televisi. Jajan di pinggir jalan, lalu berbagi semangkok es krim berdua.

You and I unselfed, will be together,
indifferent to idle speculation, you and I.

Mungkin kita akan pergi ke pantai. Aku dengan gaun musim panas, bertelanjang kaki, keranjang piknik di tangan. Kamu dengan celana pendek dan sandal jepit, kamera tergantung di leher. Atau kita akan duduk di suatu beranda, pada suatu malam, mengobrol lama sampai ketiduran. Lalu di pagi hari aku akan terbangun dengan dua kemungkinan. Menemukanmu di sana, tersenyum dan berkata: selamat pagi. Atau menyadari bahwa kamu sudah menghilang.

The parrots of heaven will be cracking sugar
as we laugh together, you and I.

Ada surat-surat yang kutuliskan untukmu. Dalam penerbangan 12 jam dari Frankfurt ke Jakarta. Waktu itu, aku duduk sendirian di sisi kanan, di dekat lorong. Bangku sebelahku kosong. Seperti hatiku, yang merasa tengah kehilangan sesuatu. Lalu aku menumpahkan rasa kehilangan itu. Dalam tiga puluh halaman surat lagi untukmu. Surat-surat yang masih tersimpan rapi di dalam buku catatan kecilku. Surat-surat yang masih kubaca ulang setiap kali aku teringat kamu.

In one form upon this earth,
and in another form in a timeless sweet land.

Suatu hari nanti, di sebuah masa depan yang jauh, kamu mungkin akan menerima surat-surat itu. Surat-surat yang dituliskan untukmu belasan tahun yang lalu. Tak ada namaku di sana. Aku tak akan bilang bahwa akulah yang menuliskan surat-surat itu untukmu, dulu.

——

A moment of happiness,
you and I sitting on the verandah,
apparently two, but one in soul, you and I.
We feel the flowing water of life here,
you and I, with the garden’s beauty
and the birds singing.
The stars will be watching us,
and we will show them
what it is to be a thin crescent moon.
You and I unselfed, will be together,
indifferent to idle speculation, you and I.
The parrots of heaven will be cracking sugar
as we laugh together, you and I.
In one form upon this earth,
and in another form in a timeless sweet land.
—Rumi

kangen.

Seseorang pernah berkata kepada saya. Bahwa rasa kangen adalah manifestasi dari kehilangan. Dan kehilangan adalah sesuatu yang sangat familiar.

Kehilangan selalu menyergapmu pada saat-saat di mana kamu sedang paling tidak siap. Ia selalu mengejutkanmu, secara tiba-tiba. Terkadang pelan dan diam-diam seperti pencopet ulung di dalam bis kota. Kali lain kejam dan menarik perhatian seperti tabrak lari di jalanan ramai pada siang hari.

Rasa terkejut, sedih, kaget, kesal, marah, dan terluka akan memudar seiring berlalunya waktu. Hanya satu rasa itu yang kemudian membuatmu sadar. Bahwa kamu telah sungguh-sungguh kehilangan: rasa kangen. Yang masih tertinggal, bahkan lama setelah rasa yang lain tertelan di latar belakang.

Kamu mungkin marah, terkejut, dan kesal ketika telepon genggammu dicuri orang. Tetapi adalah rasa kangen yang masih akan menghampirimu bertahun-tahun kemudian. Bukan karena telepon genggam yang dicuri orang itu, tetapi karena kamu merasa kehilangan pesan-pesan pendek yang pernah ia kirimkan kepadamu. Foto-foto kalian berdua yang belum sempat kamu transfer ke komputer portabelmu. Juga kenyataan bahwa telepon genggam itu adalah hadiah darinya untukmu: satu-satunya tanda mata yang masih tersisa dari kalian berdua.

Rasa sedih akan lenyap perlahan, seiring mengeringnya air matamu yang jatuh di atas bantal. Tetapi esok hari, dan sampai berbulan-bulan setelahnya, rasa kangen masih akan menghampirimu tiba-tiba. Lalu kamu sadar. Bahwa sesungguhnya, kamu telah kehilangan. Kamu kehilangan hal-hal yang membuat kamu menangis. Hal-hal yang pernah kamu cintai. Hal-hal yang pernah kamu sayangi. Hal-hal yang pernah kamu pedulikan.

Kemudian kamu mengerti. Bahwa rasa kangen ternyata bukan mengenai segala yang “pernah”. Rasa kangen bukanlah mengenai hal-hal yang pernah kamu cintai. Hal-hal yang pernah kamu sayangi. Hal-hal yang pernah kamu pedulikan. Ternyata rasa kangen juga menandakan segala yang “masih”. Bahwa kamu masih cinta. Masih sayang. Masih peduli.

Di sisi sebaliknya, rasa kangen juga memberikan tanda lain kepadamu. Ia menjelma isyarat. Bahwa mungkin, tanpa kamu sadari, sebenarnya kamu terlanjur “sudah”. Ya, ketika kamu kangen, mungkin itu tandanya kamu sudah cinta. Sudah sayang. Sudah peduli. Walau kamu masih saja bilang there’s-nothing-between-us, diam-diam kamu tahu. Bahwa di antara kamu dan dia, ada satu rasa itu. Yang tak pernah bisa membohongi hatimu.

Rasa kangen.

strangers waiting.

Sesungguhnya, kamu cukup menjenguk aku sekali-sekali. Menengok dari balik jendela yang terbuka, atau melompat-lompat di sepanjang dock komputer portabelku. Kamu cukup bilang hai satu kali—diikuti tanda titik dua dan kurung tutup, dan aku sudah punya cukup energi untuk bisa tersenyum seharian. Nggak peduli seberat apapun hari yang barusan aku lalui, ketika kamu bertanya how’s-your-day, aku jujur waktu menjawab: it’s wonderful!

Kalaupun kamu sedang sibuk-sibuknya sehingga nggak sempat menjengukku, aku sudah cukup merasa senang, kok, kalau bisa melihat kamu bermain-main di sisi sebelah sana. Mendengarkan kamu bicara dengan orang-orang di sekelilingmu. Melihatmu pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi. Memandangi kamu diam-diam. Menunggui kamu bekerja semalaman. Aku selalu bilang, kebahagiaanku biasanya datang dari hal-hal paling sederhana. Dan kesederhanaan itu nggak pernah meminta apa-apa.

Aku nggak akan gangguin kamu kalau kamu lagi sibuk. Aku nggak akan menarik-narik lengan bajumu dan bilang, dengerin-aku ketika kamu lagi kepingin sendirian. Aku nggak akan melompat-lompat di depanmu setiap saat cuma supaya kamu sadar bahwa aku ada. Aku nggak minta apa-apa. Nggak menuntut apa-apa. Nggak berharap apa-apa.

Kalau saatnya tiba, mungkin kita akan bertemu lagi—atau berpisah lagi. Bagaimanapun, hidup terus berjalan. Aku percaya, kita akan menemukan kebahagiaan yang sempurna di ujung sana. Bisa jadi kita bahagia berdua, bisa jadi kita akan bahagia sendiri-sendiri. Dua-duanya nggak masalah. Karena kita sama-sama tahu, hidup ini selalu penuh kejutan di setiap kelokannya.

Jadi, aku cuma mau bilang, sebetulnya aku ada di sini kalau kamu butuh. Nggak ada terms atau conditions. Sampai berapa lama… aku sendiri juga nggak bisa menjanjikan. Mungkin suatu hari kamu datang dan aku sudah keburu pergi; bisa juga sebaliknya. Tapi kalau dilihat-lihat, sepertinya aku masih akan cukup lama berada di sini. Aku masih cukup senang duduk-duduk santai dengan segelas minuman dingin di tangan, membaca Murakami sambil mengayun-ayunkan kaki, memandangi kamu sambil mendengarkan lagu-lagu dari iPod-ku.

So, take your time.

Terus, kalau kamu tanya kamu harus ngapain, aku akan bilang: nggak usah ngapa-ngapain. Menulis tentang kamu aja, seperti sekarang ini, sudah cukup bikin aku senang selama beberapa jam ke depan.

love, too, shall pass.

There were times in life when love took off, leaving you behind. No matter how careful you’ve been, it seems like there’s always something that manages to slip through the cracks. All of a sudden, love—the love you think you’ve known so well, had gone. And there, you were left alone: sad, depressed, confused, angry, disappointed, brokenhearted…

You kept on questioning what went wrong, when things started to crumble, how come you didn’t notice the signs earlier. And there were moments when you felt as if this was the end of it. That you won’t be able to forget the one who left, that you won’t be able to love again, that you would never feel the same way about someone new ever again, that you won’t be able to move on.

But the truth is: love (like everything else), too, shall pass. It might take an excruciating 6 months, a year, five years, or even fifteen to fifty years, but it’ll pass. Either you’re moving on because you feel like the time has come, or because it’s the only thing you can do to survive, it really doesn’t matter. It. Will. Pass. At one time gently, leaving lovely memories; other times painfully, leaving scars you’ll bring along with you through life.

But life is always full of endings and beginnings.

One day, you’ll wake up in the morning realizing that your pillow is no longer damp from last night’s tears; understanding that this is it. This is the day when you’ve let love pass through you, to let it transform and give life to something new. Something fresh. Something yet unknown—some love that is still waiting for you at the other side of hope.

hujan semalam.

Probably bokeh gives you a mellowy feeling because it represents the blurry sight you get when you see things through teary eyes | @beradadisini

Saya ingin mengirimi kamu hujan. Hujan yang sangat lebat jika saya sedang terlalu kangen. Hujan rintik-rintik untuk menyapa kamu dari balik jendela ketika kamu penat. Saya ingin meniup awan hitam ke atas kotamu. Meninggalkan bayang-bayang gelap di atas pucuk kepalamu ketika kamu berjalan pulang; lalu membasuh wajahmu dengan rintik pertama ketika kamu sampai di ambang pintu.

Saya ingin mengajakmu memandangi hujan. Melihat tetes-tetesnya dekat-dekat dari balik kaca yang berembun, berlomba menggambari jendela dengan jari-jemari kita yang tak pernah berhenti bergerak selagi kita berbicara. Lalu ketika tetes-tetesnya semakin menderas, saya ingin menyeretmu ke jalanan yang basah. Kita akan berlarian di bawah hujan—tertawa-tawa ketika pada beberapa kesempatan kita nyaris terpeleset di sisi-sisi jalan yang licin. Kita akan bermain: menjejakkan kaki kuat-kuat di atas kubangan agar bisa menciprati satu sama lain.

Ketika dingin sudah merayapi kita lambat-lambat, saya akan mengajakmu menepi sebentar di sebuah kedai kopi yang buka 24 jam. Ada dua cangkir kopi hangat di atas meja, kertas-kertas tisu, serta suara kita mengisi celah-celah di udara. Malam berganti pagi—dan kita bahkan tak menyadari bahwa sejak lama, hujan sudah berhenti.

Tentang Ceroboh.

Saya memang terkadang ceroboh. Meletakkan barang-barang secara sembarangan, kemudian melupakannya selama beberapa waktu, hingga suatu hari panik mencari-cari sesuatu yang tak ada di tempat semula. Ada kalanya, saya pulang naik taksi dan duduk di jok belakang, memandangi lampu-lampu gedung yang menyala dari balik jendela, lalu menyadari bahwa saya masih meninggalkan tas di kantor dan hanya membawa telepon genggam. Kali lain, saya bangkit terburu-buru dari tempat duduk hingga roda kursi melindas jempol sendiri.

Seseorang pernah bilang: The past is a nice place to visit, but certainly not a good place to stay. Tetapi saya sering ceroboh menyimpan masa lalu. Membiarkannya tercecer berantakan, sehingga saya sering tersandung dan jatuh ke atasnya ketika sedang tidak hati-hati. Saya juga suka ceroboh dalam memutar ulang kenangan. Ketika ia berputar, terkadang saya meninggalkannya sebentar ke belakang untuk membuat secangkir kopi. Lalu pergi melihat-lihat buku Murakami. Dan begitu saja, saya lupa. Tanpa sadar, kenangan itu terus berputar di latar belakang selagi saya melanjutkan hidup: mandi, tidur di bis, makan, membeli bunga, bekerja, melamun, cuci kaki.

Saya juga sering ceroboh meletakkan hati saya di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Terkadang saya menitipkannya di suatu tempat, lalu lupa mengambilnya kembali ketika saya sedang membutuhkannya. Terkadang saya meninggalkannya begitu saja ketika tengah merasa terbebani, kemudian sibuk mencarinya ketika sedang merasa terlalu sendiri. Kali lain, saya sedang begitu terburu-buru; lekas-lekas memasukkan hati saya ke dalam koper dan berbalik pulang, kemudian baru menyadari bahwa saya lupa meninggalkan separuh hati saya di tempat yang baru saya tinggal pergi.

between hello and goodbye.

I wasn’t looking for anything at all—let alone anything spectacular, but then I met you.  It wasn’t like in a Hollywood movie, not at all. The moment you walked in, things didn’t move in slow motion. You didn’t shine in a heavenly way. No romantic songs in the background, no violin, no piano, no acoustic guitar, and no butterflies in my stomach.

We spent the day talking about the most trivial things. I wasn’t much of a talker, but you got me going. I realized that it was one of those rare moments, when I could talk freely about the most unimportant stuff and feel absolutely fine with it. It was those kind of moments when you wished you had more time…

When we parted that day, I wasn’t expecting for anything at all—let alone anything spectacular, but then I found myself, missing you.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 476 other followers