Traveling companion.

A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving | Lao Tzu

Ada rencana-rencana yang sudah kita bicarakan. Rencana-rencana yang kemudian berantakan di tengah jalan. Lalu kita menyusun rencana-rencana baru. Daftar yang panjang mengenai apa-apa yang akan dilakukan. Dan rencana itu pun berantakan sebelum sempat diwujudkan. Kali ini, tidak seperti yang pertama, aku agak kecewa. Dan menurutku, tidak mengapa, karena bukankah merasa kecewa itu menujukkan bahwa aku memang manusia biasa. Tidak selamanya aku harus bahagia dan baik-baik saja. Dan mengakui bahwa aku kecewa itu lebih baik daripada harus berpura-pura. Jadi. Aku. Kecewa. Titik. Oh, masih ada koma: dan juga sedikit sedih.

(Aku tidak tahu apakah kamu juga)

Tetapi, malam tadi, sahabatku datang, membawakan dirinya, juga sekantong benda-benda lucu: mulai dari pernak-pernik burung hantu, untaian kalung-kalung lucu, mouse pad yang katanya mirip aku, dan sebuah buku. Jurnal perjalanan dengan gambar kota Bangkok di sampul depan. Tebalnya satu ruas ibu jariku. Entah mengapa yang bisa kupikirkan saat melihat travel journal itu hanya kamu. Aku ingat perjalanan di atas kereta dari Jerez ke Sevilla tahun lalu, ketika aku menuliskan berlembar-lembar surat untukmu. Ya, surat-surat yang tak pernah kukirimkan itu. Lalu aku berpikir tentang rencana-rencana kita yang berantakan, yang kemudian memaksaku untuk mencari tempat lain untuk didatangi. Perjalanan panjang yang akan kutempuh, menyeberangi garis-garis waktu ke tempat di mana tidak ada kamu.

Tiba-tiba meledak gambaran dalam benakku. Aku yang mengisi lembar-lembar travel journal itu dengan sketsa, surat-surat, kutipan-kutipan, puisi dan ingatan-ingatanku tentang kita, guntingan koran dalam bahasa yang tidak kumengerti, ah, dan mungkin peta (aku mudah tersesat dan kehilangan arah), atau nomor telepon orang-orang dan tempat-tempat yang kudatangi. Satu-satunya yang ada dalam benakku adalah memenuhinya dengan cerita-cerita perjalananku. Lalu sebelum pulang, mungkin aku akan memotret semua halamannya dan menyimpannya di dalam folder komputerku, sementara travel journal yang sebenarnya akan kukirimkan kepadamu melalui pos.

Begitu?

Kemudian aku kembali senang. Kembali bahagia. Kembali bersemangat dengan rencana-rencana baru. Siapa bilang di tempat yang kutuju tidak ada kamu? Kamu akan selalu ada di sana: di langit pagiku, pemandangan kaldera di luar kamarku, halaman-halaman buku, batu-batu di sepanjang pantai yang katanya berpasir hitam itu…

Lalu, siang ini, aku menemukan kutipan dari Lao Tzu. A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving. Aku ingin melihat hidup (baca: kita) dan cinta (baca: kamu) dari sudut pandang seorang traveler. Untuk mengerti bahwa rencana-rencana—bahkan yang disusun dengan sangat hati-hati sekalipun, bisa berantakan kapan saja. Tujuan akhir kita bukanlah untuk sampai di satu titik, tapi terus berjalan dan mencari petualangan-petualangan baru. Bukankah kita juga pernah berteriak lantang, “We don’t plan! We do things!

Dan kurasa itulah yang akan kulakukan mulai saat ini.

Pagi-pagi, kamu mengatakan bahwa kamu sempat tidak baik-baik saja. Jadi kuhabiskan seharian itu untuk menghiburmu dengan hal-hal lucu yang kutangkap dari balik lensa kameraku. Sampai kamu bisa tertawa lagi dan bisa merasa baik-baik lagi. Lalu kusadari sesuatu. Yang membuatku bahagia ternyata bukan tercapainya impian-impian itu: tetapi mendengar kamu bisa tertawa lagi karena sesuatu yang kukatakan. Yang terpenting buatku ternyata bukan terwujudnya rencana-rencana itu: tetapi kamu.

Iya, kamu.


I write because.

I write because I want to remember you.

I write because I don’t want to forget the pleasant feeling of seeing you for the very first time. I write because I want to bring back the butterflies. I write because I can still remember the way you casually said hello and how mesmerized I was with the way you kept your cool. I write because I want to reread our conversation and flip the pages to see how far we’ve come. I write because I want to greet you in the morning and spend time with you in the evening.

I write because I know that my words can fit inside your jacket’s pocket where your palms are resting. I write because I miss you. I write because I want to talk to you at times when you are not around. I write because I want to comfort you and cheer you up, but I can’t fly to where you are. I write because I want to share the highlights of my life with you. I write because I know there are fifty percent chance that you’ll come across it and another fifty percent chance that you’ll actually care.

I write because I want you to know that I’m thinking of you. I write because I want to hug you but I can’t. I write because I see all these beautiful things and all those things remind me of you. I write because it makes me feel closer to you. I write because words are all I have. I write because I can’t get you out of my mind. I write because I can’t get you out of my heart.

I write because you can keep these words even long after I’m gone. I write because one day—whether things will work out between us or not, I’ll put these words underneath your door. I write because when that day comes, I want to show you how much you are loved.


Flow.

Dear H,

On Friday, I met a dear friend, and I told her how good things seemed to flow into my direction very easily lately. I am thankful for that, of course, because a year ago (and the years before that), I found myself struggling to get the things that I want, working real hard to make my dreams come true. Everything came to me with lots of hard work, and at the end of the day I found myself drenched in tears and felt really tired. I told her that since last year, I have been feeling… really light.

Now, I can see myself, realizing that I am not working ‘hard’, not struggling, not fighting—yet things are coming my way, one by one: the things I’ve always wanted, the things I’ve always desired. These things flow into my direction as if someone’s swinging a magic wand. At times it feels effortless, without me even trying to grab them.

My friend told me that maybe that’s the rule of life. That you just have to let things flow and not fighting or struggling with it. The more you let things flow, the more you ‘surrender’ yourself to Life and accept things as they are, the easier life would feel and would be to you. I found this answer both calming and beautiful.

I remember that we said this all the time: if it’s meant to be, it will happen. And I can see how it echoes with the conversation I was having with my friend.

Later, when I got home, I opened my Taoism book and found a quote from Lao Tse: “Life is a series of natural and spontaneous changes. Don’t resist them. That only creates sorrow. Let reality be reality. Let things flow naturally forward in whatever way they like.”

Somehow, with no particular reason, I looked up the word “Islam” and realized that the word itself (though it was derived from the word “salaam“: peace and safety), in Arabic, “Islam” itself means “surrender“. There are many ways in which people try to interpret the word “surrender”, but I found this one suits me best: (surrender to) abandon oneself entirely to (a powerful emotion or influence); give in to.

In Islam, I believe this could mean “abandon oneself entirely to God” or “give in to Allah“. From a more universal point of view, I see it as “abandoning oneself entirely to Love” and “giving in to Life“.

Tao and Islam. It’s amazing, our ability to find similarities when we’re looking for one, and our ability to spot differences when we’re aiming to spot one.

Love, #me.


Starlit Sky.

I find happiness in simple things. Like living in a small town with an 80-hectare botanical garden at its city centre—a sanctuary for more than 15,000 species of trees and plants. It’s a small town with the highest number of rainy days (320 out of 365 days) in Java (or maybe in the world?), hence the title “Rain City” (though for the sake of romanticism I prefer to call it “The City of the Falling Rain”).

But what I love the most from a small town is the absence of tall buildings and skyscrapers, as well as 24-hour  brightly-lit billboards and LCD screens that contribute to light pollution. I love it when the night is pitch dark (as it should be) and the sky is clear; so you can sit down on an open field (or in my case, the empty parking lot in front of my housing complex’s swimming pool) and gazing at the stars.

I could spend hours just sitting there, looking up into the sky, sipping a cup of hot chocolate. My heart twinkles.

A few days ago, going back home at around 11 pm, I entertained myself with the view of the starlit sky from behind my taxi’s window. It was on the highway, the last few kilometers home, with open fields on my left. The sky seemed closer. At the time, I wished I could mail that amazing starlit sky to you, so you could see it in your sky, too.

***

Around midnight, a girl arrived at her home. She dashed in, threw her bags, sipped a cup of hot tea her father had prepared, then snatched her camera and ran to the front door hurriedly, yelling: “Am out to shoot the stars!”—and off she ran to an empty parking lot in front of her housing complex’s swimming pool; still inside her working outfit with blazer and all; then she directed her camera to the sky. She fluttered around the open space, trying her best to capture the twinkling stars. Someone who happened to see her from afar might think she was dancing while looking up to the sky.

***

A few days later, somewhere far away, a guy opened his mailbox and found a tiny card with a handwritten note on it. It said:

Dear you,

I haven’t mastered the skills to capture those stars vividly, yet
(not to mention my improper handling of the camera)—but I hope,
you can still catch the beauty of  those twinkling tiny dots,
if only you’re willing to see this with just a little bit of extra love.

H.


Jatuh cinta itu seperti Polaroid.

Falling in love should be like Polaroids. Instant,” begitu kata teman saya di WhatsApp. Mungkin dia benar. (Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya saya juga sudah tahu bahwa saya akan jatuh cinta sama kamu setelah kita ngobrol selama sekitar 10 menit. Well, mungkin nggak seinstan Polaroid, tapi buat saya, 10 menit itu rasanya cukup cepat.)

Tetapi bahkan foto yang keluar dengan suara lucu dari kamera Polaroid pun butuh waktu untuk dinikmati benar-benar. Didiamkan dan diangin-anginkan sebentar hingga warnanya keluar. Setelah itu, kamu bisa senang karena warnanya bagus, atau kecewa karena hasilnya “bocor”. Objek yang nggak ingin kamu foto juga bisa terabadikan di sana secara nggak sengaja.

Bisa jadi jatuh cinta juga begitu. Instan. Tetapi seiring dengan waktu, ada dua pilihan. Kamu bisa semakin jatuh cinta, atau sebaliknya.

Teliti sewaktu memotret dan teliti sewaktu jatuh cinta mungkin jadi sama pentingnya. Mencari cahaya yang bagus dan latar yang sesuai juga menentukan hasil foto Polaroid-mu di akhir hari. Mungkin ini sama dengan mengenal pasangan. Mencari tahu apa yang ia suka dan apa yang ia nggak suka. Melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama. Mengobrol berjam-jam dan masih saja nggak kehabisan bahan pembicaraan.

Dan bahkan memotret dengan Polaroid pun nggak bisa menjamin hasil yang menjanjikan kalau pemotretnya “mata keranjang”. Hendak memotret objek di titik A, tetapi malah mengarahkan kamera ke titik B.

Jadi mungkin benar kata teman saya itu. Jatuh cinta memang seperti Polaroid.


Fragrance of Love: Catatan dari Kedai Teh Lare Solo.

Semuanya nampak seperti serangkaian “kebetulan”.

Seorang sahabat dari luar kota mengajak saya ‘sowan’ ke sebuah kedai teh mungil di kota tempat saya tinggal. Kedai teh yang belum pernah saya dengar namanya, dan belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Di kedai teh ini, kami berbincang tentang banyak hal, seperti biasa. Dan selagi kami berbincang tentang kamu, pemilik kedai teh itu—seorang lelaki bertubuh kecil dan berwajah ramah, datang menyapa. Ia kemudian menyodorkan sebungkus teh hasil racikannya sendiri, yang disimpannya di dalam sebuah kaleng.

Saya menghirup wangi teh dalam bungkusan itu. Segar; seperti wangi laut dan musim panas.

Lantas, jika kamu percaya bahwa tidak ada hal yang bernama ‘kebetulan’ di dunia ini, maka bukan kebetulan pula jika teh racikan di dalam kaleng itu bernama Fragrance of Love. Campuran dari berbagai jenis teh asli Indonesia dengan chammomile, peppermint, kulit jeruk, dan serai (lemongrass).

***

Nama kedai teh itu Lare Solo.

Kedainya kecil saja, seperti warung-warung teh yang biasa kamu temui di perjalanan menuju Puncak. Letaknya di kawasan Agripark, Taman Kencana, Bogor. Nama pemiliknya Pak Bambang.

“Awalnya saya membuka kedai teh ini karena blog juga. Saya bercerita tentang teh di sana, dan banyak orang yang suka. Jadilah kemudian saya berkenalan dengan kawan-kawan pecinta teh lainnya, dan mendirikan kedai teh ini, kecil-kecil saja,” ujar Pak Bambang sambil menyeduhkan teh untuk kami.

Oh ya, apakah kamu tahu mengenai ‘Jayeng’? Jayeng adalah jabatan non-formal yang diberikan kepada pembuat teh untuk warga. Di setiap hajatan, Jayeng akan menyiapkan puluhan gelas teh untuk para tamu. Mulai dari merebus air, menyeduh teh, menuangkannya ke dalam gelas, memberi gula, dan mengaduknya satu per satu. Jayeng menjadi semacam profesi yang memadukan tradisi, pengabdian, kesungguhan, dan kecintaan akan teh. Ada banyak lagi kisah-kisah menarik seputar teh yang bisa kamu temukan lewat halaman-halaman blog Pak Bambang, atau lewat percakapan santai dengan beliau di Lare Solo.

Dari dapur kecil ini, berbagai macam teh diseduh dan dihidangkan. Ada empat macam teh yang kami coba hari itu: teh tarik, mango sencha, fragrance of love, dan racikan teh peppermint dari Pak Bambang. “Cukup banyak varian teh, bunga-bungaan, dan bahkan peppermint ini masih impor,” Pak Bambang menjelaskan. “Tanah dan cuaca sangat mempengaruhi rasa, jadi walaupun satu varian teh atau bunga-bungaan bisa ditanam di Indonesia, rasa dan aromanya entah mengapa tidak bisa ‘pas’. Misalnya untuk peppermint ini, saya sudah coba daun mint dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi rasa dan aromanya kok beda.”

Menghirup aroma dari bungkusan demi bungkusan teh yang disodorkan Pak Bambang ternyata begitu mengasyikkan. Wangi ‘rumput laut’ yang tercium pada berbagai bungkusan teh hijau pun membuat saya ingin membawanya pulang dan meletakkannya di samping tempat tidur.

Untuk 1 teh tarik dan 3 poci teh yang kami pesan, ditambah dua porsi risoles keju dan daging asap, percaya atau tidak—kami hanya membayar 40ribu rupiah. Surga yang luar biasa bagi para pecinta teh, terutama bagi mereka yang terbiasa membayar 40ribu rupiah hanya untuk sepoci teh di Jakarta. Belum lagi percakapan dengan Pak Bambang, yang nilainya melebihi nominal tersebut. Mulai dari mengenal berbagai jenis teh, upacara minum teh di Jepang, racikan-racikan teh yang pernah dibuat, sampai perjalanan beliau mendirikan kedai teh mungil ini, semuanya menjadi teman minum teh yang sangat menyenangkan.

Suatu hari, saya akan mengajakmu ke sini dan memperkenalkanmu dengan sesuatu yang bukan kebetulan itu. Sepoci Fragrance of Love. Diminum hangat-hangat. Kalau kamu bertanya seperti apa rasanya? Aku akan menjawab bahwa rasanya…

seperti kita.

Care for a cup of tea and me? ;)


liturgi | liturgy

~ liturgi ~

suatu senja, ada upacara kecil pecah di atas mejaku. upacara-upacara sepatutnya sunyi. seperti doa-doa yang ditasbihkan dalam hati. kata-kata merinai di jendela. aku teringat akan candi-candi. perayaan tanpa suara. mantra-mantra yang mengalun diam di antara nyala ribuan lilin. mengingatkanku pada masa-masa yang jauh. sesuatu yang nyaris purba. orang-orang yang menengadah ke langit. merunduk ke bumi. lalu berdoa. karena mereka ingin. karena mereka ingat. upacara di mejaku adalah serupa pengingat tentang dirimu. juga untuk aku yang menginginkan kamu. namamu berjatuhan di atas kepalaku. ribuan keheningan. seperti doa-doa yang sampai ke tujuan. demi kemudian-kemudian dan kemungkinan-kemungkinan di masa yang akan datang, mataku terpejam. bibirku terkatup. hatiku terbuka.

~ liturgy ~

one evening, a small ceremony takes place on my desk. ceremonies are supposed to be still. like prayers, recited at heart. words are pouring down the window. my mind goes to the temples. soundless celebrations. silent chants, flowing among thousands of candlelights. reminding me of faraway moments. something that is almost ancient. people who look up to the sky. bow down to the earth. then pray. because they want to. because they remember. the ceremony on my desk is a kind of commemoration for you. and for myself, who longs for you. your name is falling on my head. thousands of quietudes. like prayers arriving at their destinations. in the name of upcomings and possibilities in the future, my eyes are closed. my lips are sealed. my heart is unlocked.


Wish You Were Here.

The Jakarta sky was shining above my head. It was 2 pm, a Sunday, some time in late December. The weather was hot and humid, as always. I stepped into the outdoors with my shirt, short pants, and flip-flops. I instantly fell in love with the potted plants and frangipanis. The unlit candles, floating silently on top of coconut oil inside transparent glasses. The wooden floor. And the rooftop pool overlooking the city’s tall buildings. I dipped my toes in there. The cold water felt calming, relaxing, and… a bit jellyish, like the feeling you got when you dipped your hands into a bowl full of marshmallows. Therapeutic in a way, that soothing kind of vibe that enveloped you every time you’re thinking of those lovely memories you’ve shared with someone so dear to your heart.

This morning, I stumbled upon a beautiful song called Wish You Were Here by Blackmore’s Night, posted by a friend. It brought back all the sweet thoughts I had that day, one Sunday afternoon, when I was dipping my toes in the cold water, secretly thinking about you and wondering how perfect it would be if you were here with me. To my surprise, I found more songs with the title Wish You Were Here, and they are all so bewitching, I couldn’t help but share it here. From the sweetest tones to the rockin’ style, old and new, upbeat and classic, you’ll be amazed by these:

1. Wish You Were Here by Blackmore’s Night

2. Wish You Were Here by Endah & Rhesa

3. Wish You Were Here by Avril Lavigne

4. Wish You Were Here by The Sounds

5. Wish You Were Here by Ryan Adams

6. Wish You Were Here by Incubus

7. Wish You Were Here – Pink Floyd

8. Wish You Were Here – Bliss [Buddha Bar version]

9. Wish You Were Here – Mark Wills

10. Wish You Were Here – Eddie Fisher

11. Wish You Were Here by Fleetwood Mac

12. Wish You Were Here by Stefani Germanotta


[And these are for you. One song for each passing month. Wish you were here.]


The place I like best in the world is beside you.

Setiap kali ingatan tentangnya berlompatan dalam benakmu, kamu ingin meraih buku sketsa yang diberikan kawan baikmu itu. Isi kepalamu tumpah ke atas kertas dalam berbagai bentuk, tekstur, dan warna. Kata-kata yang berpusar di sekelilingnya: rahasia. Kamu berharap suatu hari nanti kamu bisa menggambar seperti Anna Laitinen, atau Oliver Jeffers. Tetapi sementara ini kamu sudah cukup berpuas diri dengan sebatang pensil arang, tiga macam kuas, dan cat air delapan warna dari sebuah supermarket Jepang.

“The place I like best in the world is beside you.”

Kamu selalu jatuh cinta pada goresan pensil di atas kertas. Kamu berharap ia juga. Temanmu bertanya apa yang kamu lihat dalam dirinya. Kamu bilang kamu suka karena ia selalu bersentuhan dengan dunia. Ia melihat; bukannya menutup mata. Kata temanmu, apa pentingnya bersentuhan dengan dunia. Kamu bilang kamu ingin bersama seseorang yang impiannya menyentuh bintang-bintang, namun kakinya tetap menjejak tanah.

Apa pentingnya menjejak tanah, temanmu kembali bertanya.

Agar kamu mengerti, jawabmu. Ada perbedaan yang besar antara tidak tahu dan tidak mau tahu. Menjejak tanah akan membuatmu merasa lebih rendah hati. Dari para petugas berseragam yang naik-turun seharian dalam lift transparan di sebuah pusat perbelanjaan, selamanya bertanya: “Lantai berapa?” sampai petugas kebersihan di toilet klub malam yang harus menunggui perempuan-perempuan cantik yang terlalu mabuk untuk menyiram bekas-bekas muntahan dari dudukan kloset. Atau petugas pengantar makanan cepat saji yang menembus kemacetan Jakarta dengan motornya di tengah badai, untuk meletakkan sepiring makanan hangat di kubikelmu yang kering dan nyaman.

Kamu menyukainya karena ia juga melihat hal-hal yang dilewatkan banyak orang. Kamu bisa berbincang dengannya tentang nelayan-nelayan di Gaza yang diserang tentara Israel ketika mencoba pergi melaut, juga tentang pencari suaka asal Afghanistan yang disiksa hingga tewas di Pontianak oleh petugas imigrasi. Kamu juga tahu kalian akan selalu bisa berbincang tentang secangkir kopi, buku-buku puisi, lukisan abstrak, film-film festival, juga perjalanan untuk menandai peta ke tempat-tempat yang belum pernah kalian datangi sebelumnya.

Demikianlah. Maka kamu telah menahbiskan rasa sukamu atas dirinya.

____________________________________

:: Jakarta, dari balik jendela. Suatu sore setelah hujan reda.


The Door.

I left my broken heart
somewhere under the sky
You stepped on it
accidentally
carried it home,
crushed
under the sole of your shoes
left it on the entrance rugs

Getting soaked under the rain,
the sun,
cat piss,
and poppy seeds

My broken heart’s been knocking
on your door
since then

 Let me in.

———–

:: Vietopia, March 5, 2012. Cloudy with a little bit of sunshine | Image is taken from here.


The Art of Looking Sideways.

I thought I had forgotten. But it all came back again.
Tonight with the first spring thunder. In a rush of rain.
— Sara Teasdale, Spring Rain

#1.

Kau sudah nyaris melupakan sesuatu yang tercecer dalam sebuah perjalanan. Kau nyaris percaya bahwa kau sudah sungguh-sungguh kehilangan. Tentu saja, kau merasa sedih—tetapi kau melepaskannya pada semesta, membiarkan segala sesuatu berjalan apa adanya. Karena bukankah segala sesuatu akan jatuh tepat pada tempatnya, ketika waktunya tiba?

Lalu kemarin semesta mengantarkannya ke hadapanmu: sesuatu yang sempat tercecer dalam sebuah perjalanan, tetapi tidak pernah hilang. Sesungguhnya ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali padamu.

#2.

Ya, tepat dua ratus tiga puluh hari, atau tiga puluh dua minggu, atau lima ribu lima ratus dua puluh jam, atau tiga ratus tiga puluh satu ribu dua ratus menit, atau sembilan belas juta delapan ratus tujuh puluh dua ribu detik kemudian, semesta mengantarkannya ke hadapanmu, begitu saja. Dia, yang kau kira telah hilang tercecer dalam sebuah perjalanan. Yang kau pikir takkan pernah bisa kau lihat lagi seumur hidupmu.

Kau terkejut ketika membuka pintu malam itu, dan menemukannya berdiri di hadapanmu. Kau pun bertanya mengapa tiba-tiba saja dia berada di situ.

“Aku sudah selalu berada di sini sejak semula,” katanya. “Tetapi baru malam ini, pintumu terbuka.”

#3.

Ia bilang, kau sudah menyimpan hatinya sejak dulu. Sejak pertama kali ia melihatmu. Kau tak tahu apakah ia bersungguh-sungguh; tetapi kau senang mendengarnya. Kau bertanya, mengapa kali pertama kalian bertemu itu, ia tidak mengajakmu keluar untuk minum kopi. Ia bilang, ia pikir kau tidak tertarik. Karenanya, ada jeda waktu sedemikian lama hingga ia kemudian memberanikan diri dengan mencoba menghubungimu lagi.

Ia tak tahu bahwa selama ini, ia juga sering melintas dalam benakmu.

Lalu, kau menyadari satu hal. Di dunia ini, pastilah ada begitu banyak orang yang kehilangan kesempatan untuk jatuh cinta (atau sekadar ngobrol-ngobrol sambil menyesap secangkir kopi) hanya karena terlalu lekas hanyut dalam pemikiran-pemikiran dan prasangka-prasangka mereka sendiri.

#4.

Kau meninggalkan pintu dalam keadaan terbuka. Orang-orang bilang kau ceroboh, tetapi kau tahu sebaliknya: kau justru sangat berhati-hati. Kau sudah sering terluka. Kau sedang tak ingin terikat pada apapun, pada siapapun. Dia bisa tetap tinggal jika dia ingin, tetapi kau tidak akan menjanjikan apa-apa. Dia bisa pergi jika dia ragu, dan kau tak akan kehilangan apa-apa.

#5.

Kau adalah cermin baginya, dia adalah cermin bagimu. Di dalam dirinya, kau melihat dirimu. Kau bertanya, jika kau adalah cermin baginya, dan ia berdiri di hadapanmu, refleksi macam apa yang akan dilihatnya dalam dirimu?

Ia tidak menjawab.

Tetapi kau pun tak memerlukan jawaban atas pertanyaanmu itu.

#6.

Kau meletakkan namanya di atas lidahmu, menggulungnya dalam sesesap kopi hangat. Lalu kau memainkannya berulang-ulang, mengucapkannya tanpa rasa bosan hingga nama-nama itu melebur dengan detak jantungmu. Kau merasa seperti seseorang yang tengah bertasbih atau berdoa rosario. Sepanjang hari, namanya masih selalu meninggalkan aroma mint dalam rongga mulutmu dan hangat cengkeh di tepian bibirmu.

#7.

Kau melingkari namanya dengan pucuk-pucuk teh. Carnation. Menyeduhnya dengan air mendidih. Kau membiarkannya mendingin di dekat jendela. Jendela tempat kau sering memandangi hujan itu. Ketika wangi teh meruap di udara dan membuat jendela berembun, kau menyesapnya dengan khidmat. Carnation. Aromanya yang kuat akan menghilangkan after-taste mint dan cengkeh yang ditinggalkannya padamu. Kau ingin membasuh dirimu hingga luruh.

#8.

Kau melihatnya sebagai kawan dalam sebuah perjalanan. Kalian memang tak berjalan beriringan, tetapi kau selalu membayangkan sebuah dunia paralel dalam benakmu. Ada kau di sisi sini, ia di sisi sana, dan seperti adegan dalam sebuah film, kalian sesungguhnya tengah berjalan dalam sebuah lingkaran. Tak berawal. Tak berakhir.

Ketika kalian menengadah ke langit malam dan melihat bintang, kalian tengah melihat ke dalam jiwa satu sama lain.

#9.

Pagi ini, kau ingin mengantarkan kata-kata ke depan pintu rumahnya. Kau ingin menjejali kotak posnya dengan huruf-huruf yang akan beterbangan keluar ketika tutupnya dibuka. Kau ingin memenuhi kamarnya dengan aksara-aksara dalam berbagai bentuk dan warna. Lalu diam-diam kau melumatkan beberapa kalimat ke atas bibirnya: sebuah doa. Agar kalian bahagia, berdua; ataupun sendiri-sendiri.

——————————————

*) The Art of Looking Sideways is the title of designer Alan Fletcher’s book that was posted by my friend, Astrid Schwarz. The picture is modified from here.


Minggu Pagi.

Pada hujan dan lagu-lagu yang berputar dari iPod-ku, juga kilasan tentangmu di balik pelupuk mata yang terpejam: kamu adalah jawaban dari doa-doa yang bahkan belum menyelinap keluar dari perantaraan bibirku.

The journey is my destination. Pada sekian perjalanan yang sudah, akan, dan tidak pernah usai, sesungguhnya setiap perjalanan menujumu adalah perjalanan untuk mengenal diriku.


Umbrella

Darling, there’s one thing I’d like you to know, and I am going to say this once. Only once. Why? Simply because I don’t believe in repetitions. Repetitions are dull, boring, and unnecessary. Thus, I am going to say this once. Yes, only once.

My dear, I have been so used to be an umbrella.

You want an umbrella only when it’s raining hard or when it’s blazing hot. When the weather is perfect, you’ll only see an umbrella as a burden; something that will only add extra weights to your backpack or a pointless hassle since you have to make sure that you hadn’t left it on a park-bench somewhere. It may seem that the slightly unfair fact about this situation is such that you can choose whether you’d like to carry an umbrella around or not; but the umbrella can’t choose to be anything else but itself: an umbrella, that will shelter you when you need it.

However, sometimes people missed this tiny bit of something so essential: the umbrella can shelter you only if you have one ready near you, or if you have stored one inside your bag this whole time.

My love, I have been an umbrella all my life, and I have learned a lot about being one. I have learned not to hate myself (like I used to) for being an umbrella, but to embrace this role as something sacred. Something precious. I am now carrying this role with serenity, knowing that being an umbrella is not something hopeless. The truth is that I’m here for a cause. I am supposed to be here, at this particular phase of my life, for you. And everything will take care of itself when the time comes.

However, my darling, I can’t be ready to shelter you all the time if you don’t carry me with you all the time. One day, when it rains so darn hard and you’re about to take me out from your bag, you’ll remember that you have left me on a bench at a train station somewhere when the weather was perfect. Will you regret your carelessness by then? Maybe. Maybe not. Came to think about it, you can always get yourself a new umbrella. But… hey, the rain is pouring now, my dear! It’s pouring even harder and harder, and by the time you get a new umbrella you’re already soaking wet.

Life is fair in many ways, dear, even for an umbrella that cannot choose to be anything but itself: an umbrella. At times, things may seem difficult to comprehend, but I just want you to know all this, my love, and I will only say this once. Because I don’t believe in repetitions. Repetitions are dull, boring, and unnecessary.

Don’t you think?


Blue Point.

Not a single day pass without the thoughts of you.
A scenery of beauty is everything you say or do.

Run to the shores—and find me when things got blue.
But bear with me, and my chattery ways of loving, too.

I see the world through you and everything seems new.
Give your dreams a chance, you said, and they will come true.

- Menjelang senja di Blue Point, Uluwatu -


Nada.

Dia adalah nada-nada dalam hidupku. Kadang kuat, kadang samar. Tapi pada setiap langkah yang tersesat, aku selalu bisa mendengar nada-nada itu, bahkan dengan mata terpejam. Seperti pasir yang basah, seperti ombak, air dingin yang merendam mata kakiku dan dermaga yang hangat; nada-nada itu menyelimutiku seperti matahari, lautan, dan lengkingan burung-burung pantai di musim panas.

- @beradadisini for Lelakiku -

Belakangan aku tahu, namamu berarti nada-nada, irama, musik. Begitulah aku akan mengingatmu.

Kamu seperti nada-nada yang diterbangkan angin dari tempat yang sangat jauh. Aku menangkap nada-nada itu ketika sunyi jatuh. Seperti sihir. Aku memejamkan mataku dan mereguk suara-suara yang mengelilingi kepalaku, melingkupi hatiku, merambati jari-jemariku. Seperti Freddie dalam adegan-adegan awal August Rush, aku mendengar musik pada setiap degup jantung, denting sendok dan piring, hela napas, angin, rintik hujan, dekuk burung hantu.

Ada sesuatu dalam nada-nada itu yang membuatku ringan. Aku tidak berjalan, aku melayang.

Kuikuti nada-nada itu (tidak mudah, karena terkadang nada-nada itu memelan dan menghilang ketika suara-suara lain menelan), lalu…

aku menemukanmu.

Tetapi kamu tidak sedang menyanyi. Kamu sedang berdoa. Sesungguhnya, kamu sedang memanggilku.


You are too sweet to be true.

Raat din gardish mein hai saat asmaan. Ho rahega kuch na kuch ghabrayen kya.
Day and night the planets are in motion. Something will work out, why worry ourselves.
- Ghalib -

A wanderer told me once:

You can’t fill a glass that’s already full of water to the brim with wine. The wine will just continue to spill out. You need to emptied the glass first. The emptier the glass, the more wine can be contained. The more wine can be contained, the more wine can be poured in. The more wine can be poured in, the more wine can be sipped. It’s actually quite similar to your heart. When it’s full of past memories or future expectations, it just can’t contain the present love that is coming your way. This new love will continue to spill out. You need to emptied your heart first, ensuring that you have let go of the past and stop worrying about the future. Let your heart be vacant for a while and give a chance for the present love to fill you in.

The wanderer is right. I emptied my heart last week, and you came like a downpour. You are too sweet to be true, and I find it hard to refrain myself from being addicted to you.


I am lost in you.

I am lost in you.

The gravitational pull of your thoughts draws me in. It envelopes me in such a dreamlike mood: the world seen from a lover’s eyes. Everything’s amazing when you’re around. The sky is pink and purple. The clouds are watermelon marshmallows. Everywhere I turn, I see beauty. Everywhere I go, I see you.

I am lost in you.

Lost in thoughts. Lost in the spiraling current that is drowning us to the core of each other’s hearts. Both are lifeboats, floating in a deserted ocean, somewhere in the midst of solitude. The sweet-scent of the mist delivers our longings, wafting through the stormy seas, bursting at the tip of our lips: May the universe be with you. May all beings be free from suffering.

I am lost in you.

A distant world where things are inaudible and invisible, where every touch is sunlight and every kiss is raindrops. I might have resided within you, you might have breathed me in. In quietude, we caress the divine countenance of midnight. We are the whispers of the winds on drizzling evenings. We are the silence that breaks at dawn, saluting the rose-tinted sun. We see shrines of gold colors lining up, showing an uninterrupted path from here to there, from me to you: Hi, handsome…


Nothing good gets away.

Tahun 1958.

Novelis John Steinbeck membalas sebuah surat yang dikirimkan anak lelakinya, Thom. Saat itu, Thom tengah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Susan—yang ditemuinya di sebuah sekolah berasrama. Steinbeck menulis, “Don’t worry about losing. If it is right, it happens. The main thing is not to hurry. Nothing good gets away.

Tadi Malam.

Pada akhirnya kita bertemu juga, di sebuah rumah pantai dengan pintu-pintu besar. Aku bisa melihat laut dan pasir dari ranjang besar tempatku berbaring tertelungkup, membaca sebuah buku. Kamu berdiri di dekat jendela. Sosokmu bermandikan matahari. Semua putih. Kemeja dan celanamu, gaun pantaiku, sofa, pintu, dinding, seprai, dan bantal-bantal. Segalanya seperti terang dan berkilauan, seperti warna-warna yang biasa kau lihat dengan mata terpejam di bawah sinar terang.

Man.

If the man is known to you, then seeing a man in your dream may reflect your feelings and concerns you have about him.

Pada yang sekejap itu, aku melihatmu dan tidak ingin berpaling lagi. Aku bertanya padamu, di mana kita. Sebuah pulau di Filipina, katamu. Di sini, arus dari tiga tempat bertemu. Belakangan aku mencarinya, hampir yakin bahwa tempat itu sungguh-sungguh ada. Kemudian aku menemukan El Nido, pulau dengan pasir putih dan gua-gua, laguna dan batu karang, 238 kilometer di barat laut Puerto Princessa, ibukota Palawan, Filipina—dibatasi Semenanjung Linapacan di Utara, Laut Sulu di Timur dan Laut Cina Selatan di Barat. Inikah yang kamu maksudkan dengan arus dari tiga tempat?

Beach.

To see the beach in your dream symbolizes the meeting between your two states of mind. The sand is symbolic of the rational and mental processes while the water signifies the irrational, unsteady, and emotional aspects of yourself. It is a place of transition between the physical/material and the spiritual.

Aku mendengarkanmu mengutip puisi-puisi dari masa yang jauh. Kamu mengingatkanku pada Gibran. Rumi. Neruda. Yeats. Dan The Falling of The Leaves pecah di atas bibirmu:

Autumn is over the long leaves that love us,
And over the mice in the barley sheaves;
Yellow the leaves of the rowan above us,
And yellow the wet wild-strawberry leaves.

The hour of the waning of love has beset us,
And weary and worn are our sad souls now;
Let us part, ere the season of passion forget us,
With a kiss and a tear on thy drooping brow.

Bed.

If you are waking up in a different and/or unknown bed in your dreams, then it represents the consequences of the decisions you have made. The dream may also be a pun on the completion of a project and “putting it to bed.” If the bed is made, then it symbolizes security.

Kita bicara hingga langit gelap. Kelak, kamu akan bertanya mengapa kita hanya bicara hari itu. Aku akan menjawab, that’s the sheer beauty of it. Bagaimana kita bisa berbincang tanpa henti selama 12 jam, sambil memandangi pasir dan lautan. Kamu tidak akan menemukan kesenangan semacam ini dalam diri sembarang orang. Temanku bilang, you’ve got to be on the same wavelength. Mungkin demikian. Seperti laut yang berdebur di sana itu. Kita menemukan tanpa pernah saling mencari. Bukankah tak ada yang bisa lebih romantis lagi daripada itu?

Sand.

To see sand in your dream signifies a shift in perspective or a change in your attitude. Consider the familiar phrase, “the sands of time”—in which it may be suggesting that you are wasting your time or letting time pass you by.

Aku memberikanmu kutipan Steinbeck itu, ketika kamu mempertanyakan perihal waktu. Bahwa kita tak perlu terburu-buru. Nothing good gets away. Kamu bilang kita berbicara bahkan ketika kita sedang tidak mengatakan apa-apa. Kita bercakap pada setiap langkah yang tergesa di pagi hari, pada secangkir air putih ketika kita terbangun menjelang dini hari, pada hujan, panas matahari, kerikil dan bunga-bunga ungu yang bergantung rendah dari cabang-cabang pohon di depan rumah seseorang, pada kubah-kubah di angkasa yang menebar kala senja: pada baris-baris kata yang kugoreskan di atas lidahku seusai berdoa.

Sea.

To see the sea in your dream represents your unconscious and the transition between your unconscious and conscious. As with all water symbols, it also represents your emotions. It brings about hope, a new perspective and a positive outlook on life no matter how difficult your current problems may be.

Aku seperti melihat upakara-upakara di sepanjang jalan menujumu. Pada saat-saat seperti ini, sebagaimana pemeluk ritual yang taat, aku hanya bisa percaya. Kita tidak pernah bisa yakin. Tidak ada yang pasti, bahkan untuk sesuatu seperti perasaanmu sendiri. Hingga pagi itu, ketika rangkaian huruf-huruf memecah di udara, turun ke atas dirimu, ke atas diriku, menyesap ke dalam benak kita yang bermain-main di antara jarak ribuan kilometer, menyelimuti kita. Hangat.

Sun.

To see the sun in your dream symbolizes peace of mind, enlightenment, tranquility, fortune, goodwill, and insight. It also represents radiant energy and divine power. Generally, the sun is a good omen, especially if the sun is shining in your dream.

Kita bermandikan cahaya matahari di El Nido waktu itu. Pulau dengan pasir putih dan gua-gua, laguna dan batu karang, 238 kilometer di barat laut Puerto Princessa, ibukota Palawan, Filipina—dibatasi Semenanjung Linapacan di Utara, Laut Sulu di Timur dan Laut Cina Selatan di Barat. Tempat tiga arus bertemu, demikian katamu. Seperti sesuatu yang telah dirajahkan di hatiku pada kehidupan-kehidupan sebelumnya, seperti pengetahuan purba yang sudah tersimpan dalam 4 pasangan basa A, C, G, T dalam DNA-ku jauh sebelum diriku: aku tahu, di sinilah, pada saatnya nanti, kita akan bertemu.

Sampai waktunya tiba,

H.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 934 other followers